[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.
"Apa yang menurutmu sangat lucu, Elisa?" tanya Ibu Iris, sang pengasuh panti yang berwajah teduh, sembari menutup buku cerita tua bersampul usang di pangkuannya.
Elisa menyeka sebutir air mata di sudut matanya akibat terlalu banyak tertawa. "Cerita dongeng itu, Bu. Kenapa monster penghisap memori di dongeng itu namanya harus sama persis denganku? Benar-benar kebetulan yang sangat lucu dan absurd."
"Ini bukan kebetulan, Kak Elisa," potong Kylie, anak laki-laki terkecil di panti yang tiba-tiba muncul dari ambang pintu gudang bawah tanah yang berdebu.
"Aku baru saja menemukan buku ini di bawah tumpukan barang-barang lama milik pendiri panti terdahulu. Dan tebak apa? Buku dongeng kuno ini sudah ada di sini bahkan jauh sebelum Kak Elisa pertama kali dititipkan ke panti ini."
Tawa Elisa terhenti seketika. Kalimat Kylie seolah memicu sesuatu di dalam kepalanya. Rasa pening yang luar biasa tajam mendadak menghantam pelipisnya, membuat pandangannya mengabur sesaat dan dunianya berputar.
Rasa dingin ekstrem yang tadi ia rasakan dalam mimpi buruknya seolah merayap kembali ke dunia nyata. Rasa dingin itu merambat ke permukaan kulitnya, menyentuh tengkuknya dengan ujung-ujung jari tak kasat mata yang membekukan darah. Sial, kenapa rasanya begitu nyata?
"Ada apa, El? Wajahmu mendadak pucat sekali," Ibu Iris bergegas mendekat. Raut cemas terukir jelas di wajah tuanya yang digaris oleh kelelahan bertahun-tahun.
Elisa menggelengkan kepala dengan cepat, mencoba mengusir sisa-sisa bayangan halte bus, koper tua, dan wujud monster keriput yang terasa terlalu nyata untuk sekadar disebut bunga tidur.
"Tidak apa-apa, Bu. Hanya... sedikit pusing."
"Apa kepalamu sakit lagi? Migrainmu kambuh?" tanya Ibu Iris lembut. Jemarinya yang kasar dan pecah-pecah akibat terlalu sering mencuci pakaian tanpa sarung tangan mengusap bahu Elisa dengan penuh kasih sayang seorang ibu.
"Iya, sepertinya begitu. Aku hanya butuh istirahat sebentar di kamar sebelum berangkat kerja nanti sore."
Ibu Iris menghela napas panjang dan berat. Tatapannya pada Elisa selalu dipenuhi oleh rasa iba yang mendalam. "Baiklah, masuklah ke kamar dan istirahat. Terima kasih ya, El, karena sudah bekerja keras membantu Ibu mencari uang untuk menghidupi adik-adikmu. Jika bukan karena uang tambahan darimu, Ibu benar-benar tidak tahu lagi harus mencari pinjaman ke mana untuk membeli beras."
Ibu Iris tahu betul betapa besarnya beban hidup yang dipikul oleh gadis delapan belas tahun itu. Setiap hari sepulang sekolah, di saat remaja seusianya menikmati waktu luang untuk bermain atau berkencan, Elisa harus bergelut dengan tumpukan piring kotor dan lantai berminyak di sebuah restoran pinggiran kota yang kumuh.
Ibu Iris sendiri, di usianya yang sudah senja dan digerogoti penyakit, hanya mampu mengambil pekerjaan serabutan sebagai tukang cuci pakaian atau pembersih rumah tetangga. Panti asuhan reyot ini menampung enam belas nyawa anak terlantar, termasuk Elisa.
Gadis itu sudah kenyang dengan kepahitan dunia sejak kecil. Ia telah berpindah-pindah panti asuhan sebanyak empat kali semenjak ingatannya berjalan.
Alasannya selalu klise dan berulang: kalau panti lamanya tidak bangkrut karena kehabisan dana, ya tanahnya digusur oleh pengembang kaya. Dan sekarang, kutukan pengusuran itu seolah kembali datang mengintai tempat bernaung mereka yang terakhir.
"Iya, Bu. Aku ke kamar dulu," pamit Elisa, memaksakan seulas senyum agar wanita tua itu tidak semakin cemas.
Meski hari ini adalah hari Minggu, tidak ada kamus kata libur dalam hidup Elisa. Pukul lima sore nanti, ia harus sudah mengenakan celemek restorannya hingga menjelang tengah malam, mengorbankan waktu tidurnya demi beberapa lembar dolar.
Ibu Iris menatap punggung tegap Elisa yang menjauh dengan dada yang sesak oleh rasa bersalah. Wanita tua itu merasa telah gagal menjadi pelindung.
Di panti ini, listrik mereka sering kali diputus secara sepihak oleh petugas karena telat membayar tagihan berbulan-bulan. Air bersih pun kadang harus mereka timba secara manual dari sumur tua di halaman belakang jika tagihan air membengkak tak terbayar.
Uang yang mereka miliki setiap bulannya hanya berputar untuk mengisi perut lima belas anak yang kelaparan.
"Maafkan aku, Elisa. Di usia semuda ini, aku justru sudah banyak merepotkanmu," gumam Iris lirih.
****
Di dalam kamarnya yang sempit, Elisa menjatuhkan tubuhnya yang lelah di atas kasur kapuk tipis yang sudah mengeras. Ia telentang, menatap nanar ke arah langit-langit tripleks yang sudah mengelupas dan menyisakan noda-noda hitam akibat kebocoran air hujan.
Bau lembap dari kayu yang melapuk memenuhi indra penciumannya, menambah kesan suram yang mencekik.
"Sebentar lagi tempat ini juga akan digusur," bisik Elisa pada keheningan kamar. Suaranya bergetar oleh keputusasaan yang tertahan.
"Aku harus membawa Ibu Iris dan adik-adik kecilku ke mana jika malam itu tiba? Aku tidak punya cukup uang untuk menyewa rumah, bahkan untuk sekadar tenda."
Elisa mengusap wajahnya kasar. Ia bersyukur ia dikaruniai otak yang cukup pintar untuk mempertahankan beasiswa akademisnya di sekolah elit kota, jika tidak, mungkin masa depannya sudah hancur sejak lama. Namun, kepintaran saja tidak bisa membeli tanah.
Ia bangkit duduk, mengambil dompet kulit lusuhnya yang jahitannya sudah mulai lepas dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia mulai mengeluarkan dan menghitung kepingan serta lembaran uang di dalamnya.
"Satu, dua, tiga... ah, sialan."
Elisa menggeram frustrasi, melempar dompet itu ke sudut kasur. "Hanya tersisa lima belas dolar. Uang sekerat ini mana cukup untuk membayar uang muka sewa tempat baru?"
Brummmm...
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang berat, bertenaga besar, dan mahal memecah keheningan jalanan depan panti yang biasanya sepi dari kendaraan mewah.
Elisa tersentak di tempatnya. Bulu kuduknya mendadak meremang. Ia sangat hafal karakteristik suara mesin V8 itu. Suara yang selama beberapa bulan terakhir menjadi penanda datangnya malaikat maut bagi ketenangan panti mereka.
Louis. Sang lintah darat, pemilik tanah arogan yang dingin dan terkenal tak kenal ampun di distrik ini.
Elisa buru-buru bangkit dari kasur. Dengan gerakan seringan kucing, ia menyibak sedikit gorden kumal, mengintip dari celah kaca jendela yang mengarah langsung ke halaman depan.
Sebuah mobil sedan mewah hitam mengkilap yang tampak sangat kontras dengan bangunan panti yang reyot kini telah terparkir gagah di sana.
"Pria tua bangka itu lagi," desis Elisa, rahangnya mengatup rapat sementara jantungnya mulai berdegup kencang karena amarah yang berbaur ketakutan.
"Pasti dia datang untuk menagih sisa utang tanah dan mengancam akan membawa buldozer untuk mengusir kami sekarang juga. Bagaimana ini? Aku tidak boleh membiarkan Ibu Iris menemuinya sendirian. Penyakit asma kronis Ibu bisa kambuh seketika jika dia ditekan dan diintimidasi lagi oleh pria itu."