**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.
Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.
Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.
Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**
Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*
Dan itu baru permukaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Perjanjian Berdua
"Mau ke mana?"
Keira mencengkeram gagang pintu. "Ke sebelah."
"Kenapa jalannya seperti pencuri?"
"Aku nggak mau membangunkanmu."
"Kamu mengenakan kaosku terbalik."
Keira melihat pakaiannya dan ingin menghilang. Sebelum ia sempat membuka pintu, langkah Reynard mendekat dari belakang. Dua lengan melingkari pinggangnya dan menahan tubuhnya dengan hangat.
"Aku nggak sedang kabur," katanya cepat.
"Aku belum menuduh."
"Aku cuma perlu mandi dan berpikir."
"Kamu boleh berpikir di sini."
"Aku nggak bisa berpikir kalau kamu memelukku seperti ini."
Reynard tertawa pelan di dekat telinganya. "Itu tujuan utamanya."
Ia memutar tubuh Keira hingga mereka berhadapan. Rambut Reynard masih berantakan, tetapi matanya sudah sepenuhnya terjaga. Di balik senyum tipisnya ada kecemasan yang tidak berhasil disembunyikan.
"Kamu menyesal?" tanyanya.
Keira menarik napas. "Nggak. Tapi semuanya terjadi cepat. Aku butuh aturan."
"Aturan?"
"Dua saja."
Reynard melepaskan pelukan dan memberi jalan ke ruang tamu. "Baik. Kita rapat resmi setelah sarapan."
"Kenapa harus sarapan?"
"Karena keputusan penting nggak boleh dibuat saat lapar."
Lima belas menit kemudian, Keira duduk di sofa dengan kaos yang sudah dibalik benar. Reynard membuat roti panggang dan telur, lalu duduk di hadapannya seperti sedang mengikuti negosiasi bisnis.
"Silakan, Bu Keira."
Keira mengabaikan nada mengejeknya. "Aturan pertama, hubungan ini sementara dirahasiakan."
Senyum Reynard hilang sedikit. "Dari siapa?"
"Semua orang. Vanessa, keluarga kita, teman-teman. Aku perlu waktu untuk terbiasa dengan kenyataan bahwa pacarku adalah adik sahabatku."
"Nana dan Fely sudah hampir pasti tahu."
"Menduga bukan berarti tahu."
"Teman satu ruangan melihat kita bergandengan tangan."
"Kita bilang kamu menyeretku karena emosi."
"Itu terdengar lebih buruk."
Keira memijat pelipis. "Intinya, jangan mengumumkan apa pun dulu. Di kampus kita tetap seperti biasa."
Reynard mengetuk meja dengan jari. Ia jelas tidak menyukai gagasan itu. "Sampai kapan?"
"Aku belum tahu."
"Satu bulan?"
"Jangan memberiku tenggat."
"Aku hanya ingin tahu apakah aku harus bersembunyi selamanya."
Nada suaranya membuat Keira melunak. Ia meraih tangan Reynard di atas meja.
"Bukan karena aku malu kepadamu," katanya. "Aku hanya ingin punya waktu untuk memahami hubungan kita sebelum semua orang ikut memberi pendapat."
"Aku paham soal keluargamu," kata Reynard. "Tapi Vanessa seharusnya tahu lebih dulu."
"Justru Vanessa yang paling membuatku gugup. Dia menitipkan adiknya kepadaku."
"Aku bukan anak yang dititipkan."
"Kamu datang membawa koper dan dia menyuruhku memastikan kamu makan. Itu definisi dititipkan."
"Aku sudah delapan belas tahun, punya KTP, dan bisa memilih siapa yang kucintai."
Keira langsung terdiam mendengar kata terakhir. Reynard menyadari ucapannya, tetapi tidak menariknya kembali.
"Kamu nggak perlu menjawab bagian itu sekarang," katanya lebih lembut. "Aku akan mengikuti waktumu. Hanya jangan menyangkal aku kalau ada orang yang bertanya langsung."
"Aku nggak akan mengatakan kamu bukan siapa-siapa."
"Lalu aku siapa?"
Keira memelototinya. Reynard menunggu dengan sabar dan sengaja, sampai Keira akhirnya menggumam, "Pacarku."
Senyum laki-laki itu muncul begitu cerah hingga Keira terpaksa menunduk ke piring.
Reynard membalik tangannya dan menggenggam jemari Keira. "Baik. Aku setuju, untuk sementara. Tapi aku tetap pacarmu meski nggak boleh mengatakannya."
"Itu jelas."
"Aku ingin mendengar."
Keira menatap langit-langit. "Kamu pacarku. Puas?"
"Sangat. Aturan kedua?"
Keira menarik tangannya, lalu duduk lebih tegak. "Kamu harus berpakaian rapi di rumah."
Reynard mengerjap. "Apa?"
"Jangan berjalan tanpa baju. Jangan keluar kamar hanya pakai celana pendek. Pakai kaos."
"Kenapa?"
"Karena aku punya sindrom haus kulit ringan. Melihat orang dekat berkeliaran setengah telanjang bisa memicu reaksiku. Kita harus mencegah... kesalahan."
"Aku ingin memastikan aku mengerti," kata Reynard, kali ini sungguh-sungguh. "Kalau sindrommu kambuh dan kamu menyentuhku, aku tetap harus bertanya apakah kamu memang ingin dekat, kan?"
Keira mengangguk. "Reaksi tubuh bukan izin."
"Baik. Dan kalau kamu cuma butuh dipeluk?"
"Aku akan bilang."
"Kalau kamu sulit bilang?"
"Tanya. Seperti tadi malam."
Reynard mengangguk perlahan. Percakapan itu membuat Keira merasa sedikit malu, tetapi juga aman. Mereka bukan sekadar menutupi ketakutan dengan candaan. Reynard benar-benar mendengarkan batas yang ia butuhkan.
"Aturan pakaian tetap berlaku," tambah Keira.
"Aku kira kita baru membuat aturan persetujuan yang lebih masuk akal."
"Keduanya berlaku."
"Kejam."
"Kalau nggak setuju, rapat selesai dan aku pulang."
Reynard cepat meraih tangannya. "Aku setuju. Bahkan kalau kamu menyuruhku pakai jas di ruang tamu."
"Kaos cukup. Jangan berlebihan."
Reynard menatapnya lama. Lalu sudut bibirnya naik perlahan.
"Kesalahan seperti tadi malam?"
"Aku nggak mengatakan itu kesalahan."
"Kamu baru saja bilang mencegah kesalahan."
"Maksudku kejadian spontan."
"Jadi tadi malam bukan kesalahan, hanya spontan?"
Wajah Keira memanas. "Fokus pada aturannya."
Reynard berdiri dan membungkuk mendekati telinganya. "Kalau aku pakai kaos, apakah kamu yakin nggak akan menyentuhku? Waktu hujan, aku juga pakai kaos."
Keira memukul lengannya dengan bantal sofa. "Reynard!"
Ia tertawa sambil menangkis serangan berikutnya. "Baik, baik. Aku akan pakai baju."
"Yang benar."
"Aku selalu patuh kepada pacarku."
"Kamu baru menjadi pacarku kurang dari sehari dan sudah tiga kali membuatku kesal."
"Berarti hubungan kita sehat. Komunikasinya aktif."
Keira melempar bantal sekali lagi. Reynard menangkapnya, lalu menarik tangan Keira sampai perempuan itu jatuh duduk di sampingnya. Ia mencium kening Keira dengan cepat.
"Itu melanggar aturan?"
"Belum ada aturan soal ciuman."
"Bagus."
Sebelum Keira sempat bereaksi, Reynard mengecup ujung hidungnya, lalu pipi kanan dan kiri. Keira menahan wajahnya dengan kedua tangan.
"Berhenti. Sarapanmu gosong."
Aroma roti hangus membuat mereka menoleh ke dapur. Reynard berlari mematikan pemanggang, sementara Keira tertawa sampai perutnya sakit. Kecemasan pagi tadi perlahan luruh, digantikan rasa ringan yang baru.
Roti pertama tak bisa diselamatkan. Mereka membuat adonan baru bersama. Keira mengoles mentega, Reynard mengatur wajan, dan setiap kali bahu mereka bersentuhan, keduanya saling tersenyum seperti orang bodoh.
"Kalau di kampus kita harus menjaga jarak," kata Keira sambil membalik roti.
"Seberapa jauh?"
"Normal."
"Definisi normalmu?"
"Jangan menatapku terus."
"Sulit."
"Jangan mengantar sampai depan kelas."
"Bisa dinegosiasikan."
"Dan jangan panggil aku pacar di depan orang."
Reynard mencuri potongan roti dari piring. "Kalau kita sendirian, boleh seratus kali?"
Keira menepuk tangannya, tetapi senyumnya membocorkan jawaban.
Setelah sarapan, Keira kembali ke unit 8B. Dari pintu, ia melihat Reynard merapikan piring sambil bersenandung. Laki-laki itu mengangkat dua jari.
"Dua aturan. Rahasia dan berpakaian rapi. Aku ingat."
"Jangan dilanggar."
"Tentu saja."
Reynard tersenyum manis sampai pintu tertutup. Baru setelah sendirian, ia memandang kaosnya, lalu ke arah kamar mandi, dan senyum penuh rencana muncul di wajahnya.
Ia memang menerima dua aturan itu.
Tidak berarti ia berniat membuat keduanya mudah dipertahankan.