Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raka Yang Baru
Pagi pertama Laras bekerja dimulai dengan kekacauan kecil yang tidak pernah ia duga. Alarm ponselnya yang baru rupanya tidak berbunyi sesuai pengaturan, membuatnya terbangun dengan panik hanya empat puluh menit sebelum jam masuk kerja.
"Astaga," gumamnya, buru-buru bangkit dari tempat tidur di kamar kos sementara yang baru ia sewa dekat kantor. Ia berlari ke kamar mandi, mempersiapkan diri secepat mungkin sambil terus melirik jam dinding yang seolah berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ketika akhirnya sampai di lobi gedung, napasnya masih terengah-engah. Gedung itu jauh lebih megah dari yang ia bayangkan sebelumnya—lantai marmer mengkilap, langit-langit tinggi dengan lampu gantung besar, dan suasana profesional yang terasa di setiap sudutnya.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" sapa petugas keamanan di meja resepsionis.
"Selamat pagi, saya Larasati, staf baru di divisi pemasaran. Hari ini hari pertama saya."
"Baik, silakan tunggu sebentar, saya hubungi HRD untuk menjemput Anda."
Laras berdiri menunggu dengan gugup, matanya menjelajahi lobi yang begitu megah, sesekali melirik jam tangannya yang menunjukkan bahwa ia hampir terlambat lima menit dari waktu yang dijanjikan. Tidak lama kemudian, seorang wanita muda dari HRD menghampirinya dengan senyum ramah.
"Larasati, kan? Saya Dini dari HRD. Ayo, saya antar ke divisi pemasaran."
Mereka berjalan menuju lift, dan Dini mulai menjelaskan berbagai hal mengenai perusahaan sambil sesekali melirik jam tangannya sendiri, tampak sedikit terburu-buru.
"Divisi pemasaran ada di lantai lima belas," jelas Dini. "Tapi sebelum itu, ada briefing singkat dulu di lantai dua puluh tiga. Kebetulan Direktur Utama minta semua staf baru diperkenalkan langsung, biar beliau tau wajah-wajah baru di perusahaan."
Jantung Laras berdegup sedikit lebih cepat mendengar kata "Direktur Utama", meski ia tidak tahu persis alasan di balik rasa gugup yang tiba-tiba muncul itu. Mereka masuk ke dalam lift, dan Dini menekan tombol lantai dua puluh tiga.
"Direkturnya orangnya gimana?" tanya Laras, mencoba mencairkan suasana.
Dini tertawa kecil, namun ada nada hati-hati dalam suaranya. "Pak Raka orangnya tegas. Sangat tegas, malah. Tapi kalau kamu kerja dengan baik, harusnya nggak akan ada masalah."
Nama itu—Raka—membuat Laras terdiam sesaat, jantungnya berdegup semakin kencang tanpa alasan yang bisa ia pahami sepenuhnya. Pasti cuma kebetulan nama, pikirnya, mencoba menepis kekhawatiran yang tiba-tiba muncul. Raka itu nama umum. Nggak mungkin dia orangnya.
Pintu lift terbuka di lantai dua puluh tiga, menampilkan ruangan yang jauh lebih formal dan elegan dibandingkan lantai-lantai lain yang sempat ia lewati. Beberapa staf baru lainnya sudah berkumpul di ruang tunggu, tampak sama gugupnya dengan Laras.
"Tunggu di sini sebentar," kata Dini. "Pak Raka akan keluar sebentar lagi untuk briefing singkat."
Laras mengangguk, duduk di salah satu kursi yang tersedia sambil mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum kembali normal. Ia menatap sekeliling ruangan, memperhatikan interior yang begitu mewah dan profesional, jauh berbeda dari lingkungan kerja sederhana yang selama ini ia kenal di kota kecilnya.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja di ujung lorong terbuka, dan seorang pria berjalan keluar dengan langkah tegas, mengenakan setelan jas formal berwarna gelap yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya serius, hampir tanpa ekspresi, matanya menatap lurus ke depan tanpa memedulikan staf-staf yang segera berdiri memberi hormat saat ia lewat.
Laras ikut berdiri bersama yang lain, namun begitu pria itu semakin dekat dan wajahnya semakin jelas terlihat, dunia Laras seketika berhenti berputar.
Raka.
Wajah itu—meski lebih tegas, lebih dingin, dengan sorot mata yang jauh berbeda dari yang ia ingat—tidak mungkin salah lagi. Itu benar-benar Raka, orang yang selama lima tahun terakhir selalu ia coba lupakan, kini berdiri hanya beberapa meter di hadapannya, dalam balutan kesuksesan dan wibawa yang begitu berbeda dari sosok yang dulu pernah menggenggam tangannya dengan penuh kehangatan.
Raka melangkah semakin dekat, matanya menyapu wajah-wajah staf baru yang berdiri berjejer memberi hormat, hingga akhirnya tatapannya berhenti tepat di wajah Laras.
Waktu seolah membeku. Ekspresi Raka yang tadinya datar berubah seketika—matanya membeliak, rahangnya mengeras, dan untuk sesaat, topeng dingin yang selama ini ia bangun dengan susah payah nyaris runtuh seluruhnya.
"Laras?" gumamnya, hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Seluruh ruangan menjadi hening. Staf-staf lain saling berpandangan bingung, tidak mengerti apa yang sedang terjadi antara Direktur Utama mereka dengan salah satu staf baru yang tampak begitu terkejut dan pucat pasi.
Laras tidak bisa berkata apa-apa. Tenggorokannya seperti tercekat, kata-kata yang ingin ia ucapkan tertahan begitu saja melihat sorot mata Raka yang begitu asing, begitu dingin, jauh berbeda dari kehangatan yang dulu selalu ia rindukan.
"Bapak kenal dengan staf baru ini?" tanya Dini, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba menegang.
Raka menatap Laras lebih lama, seolah sedang mencerna kenyataan yang berada di hadapannya. Kemudian, dengan cepat, ia mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi dingin dan datar seperti semula, seolah topeng yang sempat runtuh tadi kembali terpasang dengan sempurna.
"Tidak," jawabnya singkat, dingin, tanpa emosi. "Saya cuma... teringat seseorang."
Jawaban itu terasa seperti tamparan bagi Laras, meski ia tahu, dalam situasi seperti ini, mengakui hubungan masa lalu mereka di depan umum bukanlah pilihan yang bijak. Namun cara Raka mengatakannya—begitu dingin, begitu menyangkal—membuat dadanya terasa sesak, seolah lima tahun kepergiannya sama sekali tidak berarti apa-apa bagi pria yang dulu begitu ia cintai.
Raka melanjutkan briefingnya dengan nada formal, menjelaskan berbagai kebijakan perusahaan, target kerja, dan ekspektasi yang harus dipenuhi oleh seluruh staf baru. Namun sepanjang briefing itu, sesekali matanya melirik ke arah Laras dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kemarahan yang tertahan, kebingungan, dan sesuatu yang lebih dalam yang enggan ia akui bahkan pada dirinya sendiri.
Begitu briefing selesai, Raka segera berbalik dan kembali ke ruang kerjanya tanpa berkata apa-apa lagi, meninggalkan Laras yang masih berdiri mematung, jantungnya berdebar kencang antara syok, sedih, dan kebingungan yang teramat sangat.
"Kamu kenal Pak Raka?" bisik salah satu staf baru lainnya, penasaran.
"Nggak," jawab Laras cepat, mencoba menyembunyikan gejolak emosi yang masih membuncah di dadanya. "Kayaknya dia salah orang."
Namun jauh di dalam hatinya, Laras tahu bahwa kebohongan kecil itu tidak akan bisa menyembunyikan kenyataan untuk waktu yang lama. Karena mulai hari itu, ia akan bekerja di bawah kepemimpinan langsung seseorang yang dulu adalah bagian paling berharga dalam hidupnya—seseorang yang kini menatapnya dengan mata yang dipenuhi luka dan kemarahan yang tidak pernah sepenuhnya sembuh, luka yang, tanpa Laras ketahui alasannya, akan segera ia rasakan dampaknya dalam bentuk yang jauh lebih menyakitkan dari yang pernah ia bayangkan.
Di dalam ruang kerjanya, Raka duduk terdiam di balik meja, tangannya mengepal erat menahan gejolak emosi yang tiba-tiba menyerang tanpa ampun. Lima tahun ia habiskan untuk membangun tembok pertahanan yang kokoh, lima tahun ia yakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah move on sepenuhnya—namun hanya dengan satu kali tatapan, semua pertahanan itu nyaris runtuh dalam sekejap.
Kenapa harus di sini? batinnya, rahangnya mengeras menahan amarah yang mulai bercampur dengan perasaan lain yang jauh lebih rumit untuk ia definisikan. Kenapa harus sekarang, setelah aku berhasil melupakan semuanya?
Ia menatap ke luar jendela, pikirannya dipenuhi kenangan-kenangan yang selama ini berhasil ia kubur dalam-dalam, kini kembali muncul ke permukaan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari yang pernah ia duga—membawa serta pertanyaan yang selama lima tahun tidak pernah terjawab, dan kemarahan yang, tanpa ia sadari, akan segera ia lampiaskan kepada orang yang sebenarnya paling tidak pantas menerimanya