Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.
Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.
Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Kembalinya Sang Angsa Hitam dan Bisik-Bisik Berbisa
Terminal VVIP Bandara Internasional Soekarno-Hatta pagi itu dipenuhi oleh kesibukan para staf maskapai yang berlarian melayani kedatangan seorang tamu istimewa dari penerbangan kelas satu asal Paris.
Seorang wanita bertubuh semampai melangkah keluar dari garbarata layaknya seorang supermodel yang sedang berjalan di atas catwalk. Sepatu hak tinggi Christian Louboutin berhak merah berderak angkuh beradu dengan lantai marmer. Tubuhnya dibalut trench coat keluaran terbaru Burberry, kacamata hitam Gucci bertengger menutupi separuh wajahnya, dan tangan lentiknya yang dihiasi cat kuku merah marun menenteng tas Hermes Birkin kulit buaya seharga miliaran rupiah.
Ia adalah Natasha.
Wanita yang tujuh tahun lalu menorehkan luka paling berdarah di hati Arga Danendra. Wanita yang mencampakkan pria itu di tengah guyuran hujan lebat karena Arga tidak mampu membelikannya tas desainer, lalu pergi menaiki mobil sport milik seorang pengusaha tua yang kaya raya.
Kini, tujuh tahun telah berlalu. Pengusaha tua yang dulu menjadi 'dompet berjalan' bagi Natasha baru saja dinyatakan bangkrut dan tersangkut kasus hukum di Eropa. Tanpa uang dan kemewahan, Natasha menceraikan pria itu tanpa ragu, lalu terbang kembali ke Tanah Air dengan satu misi utama: mengklaim kembali 'properti' lamanya yang kini telah berubah menjadi raja penguasa ibu kota.
"Selamat datang kembali di Jakarta, Nyonya Natasha," sapa seorang wanita sosialita yang sudah menunggu di area lounge kedatangan. Itu adalah Cindy, salah satu sahabat lama Natasha di lingkaran elit.
Natasha melepaskan kacamata hitamnya, memamerkan sepasang mata tajam yang dibingkai riasan sempurna dan bibir merah menyala yang tersenyum angkuh.
"Berhenti memanggilku Nyonya, Cindy. Aku sudah muak dengan pria tua bangka itu," dengus Natasha seraya memberikan isyarat pada porter bandara untuk mengurus sepuluh koper raksasanya. Ia menjatuhkan diri ke sofa kulit yang empuk. "Beri aku espresso. Kepalaku pusing membayangkan harus menghirup udara kotor kota ini lagi."
Cindy terkekeh pelan sambil memberikan isyarat pada pelayan lounge. "Lalu, untuk apa kau kembali ke kota kotor ini, Nat? Bukankah kau bersumpah tidak akan pernah pulang dari Eropa?"
Senyum sinis tersungging di bibir Natasha. Ia menyilangkan kaki jenjangnya.
"Aku pulang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal," jawab Natasha penuh percaya diri. "Bagaimana kabar Arga Danendra? Kudengar dari berita bisnis di Paris, dia baru saja meratakan Wijaya Group dalam seminggu dan kini menjadi orang nomor satu di Asia Tenggara. Ckck, siapa sangka kurir miskin dan petarung jalanan yang dulu mengemis cintaku, kini memiliki gedung pencakar langit?"
Cindy menelan ludah. Ia menatap Natasha dengan raut wajah ragu dan setengah berbisik.
"Arga memang sangat sukses, Nat. Hartanya tidak berseri. Dia adalah pria yang paling diincar oleh semua wanita di negara ini. Tapi..." Cindy mencondongkan tubuhnya ke depan, merendahkan suaranya seolah sedang membagikan rahasia negara. "...aku sarankan kau berhati-hati jika ingin mendekatinya sekarang. Dia bukan lagi Arga yang kau kenal."
Natasha menaikkan sebelah alisnya. "Oh? Maksudmu dia menjadi kejam? Aku suka pria yang memiliki taring."
"Bukan sekadar kejam, Nat!" potong Cindy cepat. "Satu bulan ini, dia seperti iblis yang kehilangan kewarasan. Kau tahu keluarga Clarissa dan Nyonya Vina? Mereka dihancurkan dalam satu malam! Dan kau tahu apa alasannya?"
Natasha menyesap espresso-nya dengan gaya elegan. "Pasti karena sengketa bisnis saham. Begitulah cara orang kaya bermain."
"Salah!" Cindy membelalakkan matanya. "Mereka dihancurkan karena seorang wanita! Ada rumor yang beredar kencang di kalangan sosialita bawah tanah. Arga Danendra menyembunyikan seorang wanita misterius."
Gerakan tangan Natasha terhenti. Gelas kopinya menggantung di udara. Matanya menyipit berbahaya. "Wanita? Siapa? Anak konglomerat mana yang berani menempel padanya?"
"Itulah masalahnya, Nat!" desis Cindy tak percaya. "Dia bukan anak konglomerat. Dia bukan supermodel. Berdasarkan gosip dari mantan mandor katering yang mulutnya sempat bocor sebelum dipenjara... wanita itu adalah seorang gadis miskin! Seorang pelayan katering kumuh dari distrik selatan!"
Clak.
Natasha meletakkan cangkir kopinya ke atas meja kaca dengan kasar hingga isinya sedikit tumpah. Wajah cantiknya seketika mengeras.
"Pelayan katering? Gadis miskin?" ulang Natasha, suaranya naik satu oktaf karena merasa sangat terhina. "Kau sedang bercanda? Arga Danendra, pria yang memiliki segalanya, menyukai gadis gembel?"
"Aku tidak bercanda! Malam di mana Clarissa dan Vina dihancurkan, mereka mengatakan gadis itu memakai seragam lusuh, rambutnya diikat asal, dan dia bahkan tidak memakai sepatu! Dan Arga secara terang-terangan menyebut gadis itu sebagai 'miliknya' di depan umum!"
Natasha terdiam selama beberapa detik. Otaknya yang manipulatif mencerna informasi tersebut. Tiba-tiba, bukannya marah, Natasha justru tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang.
"Astaga, Cindy. Kau membuatku panik sesaat," Natasha mengibaskan tangannya meremehkan, kembali bersandar di sofa dengan senyum merendahkan. "Aku tahu persis kenapa Arga melakukan itu."
"Kenapa?"
"Karena dia sedang mencoba memancing kecemburuanku, tentu saja!" jawab Natasha dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat delusif.
"Dengar, Cindy. Tujuh tahun lalu, aku meninggalkannya karena dia miskin dan tidak punya kelas. Kehadiran gadis katering kumuh itu hanyalah sebuah pelampiasan. Arga sengaja mencari wanita yang paling menyedihkan, paling murah, dan paling tidak selevel denganku, hanya untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia bisa menjadi pahlawan bagi seseorang, karena dulu dia gagal menjadi pahlawan untukku."
Cindy mengerutkan kening, tidak sepenuhnya yakin dengan logika bengkok temannya itu. "Tapi, Nat... cara Arga menghancurkan orang demi gadis itu sangat mengerikan. Kelihatannya dia sangat terobsesi pada pelayan itu."
"Itu bukan obsesi pada gadis itu," potong Natasha tajam, aura kecemburuan yang beracun memancar dari matanya. "Itu adalah obsesi dari sisa-sisa lukanya padaku. Pria seperti Arga tidak akan pernah bisa melupakan wanita pertama yang menghancurkan hatinya. Cinta pertamanya adalah aku. Dan aku akan membuktikan pada gadis gembel itu, bahwa mainan murah akan selalu dibuang ketika ratu yang sesungguhnya kembali."
Natasha berdiri, merapikan mantel mahalnya. "Siapkan jadwal pertemuanku ke Danendra Group besok pagi. Sudah saatnya Sang CEO menyambut kepulangan masa lalunya."
[Pesan Author:]
(Ada sebuah penyakit psikologis yang sangat sering menjangkiti manusia-manusia arogan di dunia ini: Penyakit Delusi Kelayakan.
Orang-orang seperti Natasha merasa bahwa dunia dan orang-orang di masa lalu akan selalu berputar di sekitar mereka. Mereka mencampakkan seseorang saat sedang berada di titik terendah, namun menuntut posisi tertinggi saat orang tersebut berhasil meraih kesuksesan. Mereka mengira bahwa karena mereka adalah 'cinta pertama' yang menorehkan luka, maka mereka memiliki hak milik abadi atas hati orang tersebut.
Namun mereka lupa akan satu hukum alam yang mutlak: Besi yang telah ditempa oleh api pengkhianatan dan didinginkan oleh air mata kesendirian, tidak akan pernah bisa dibengkokkan oleh tangan yang sama. Natasha mengira kembalinya dirinya akan menjadi badai yang menaklukkan Arga, tanpa menyadari bahwa bagi Arga, Natasha hanyalah sebuah halaman usang dari buku berdebu yang telah lama ia bakar. Cinta sejati tidak diukur dari siapa yang datang pertama, melainkan dari siapa yang datang di saat kau hancur lebur, dan menolak pergi saat kau menawarinya dunia.)
Sementara itu, di lantai enam puluh Gedung Danendra Group.
Raka Narendra melangkah cepat menyusuri lorong marmer menuju ruang kerja VVIP Arga. Di tangannya, ia menggenggam sebuah tablet dengan layar yang menampilkan dokumen intelijen terbaru.
Tanpa mengetuk, Raka membuka pintu ruang kerja itu.
Arga Danendra sedang berdiri memunggungi pintu, menatap kota Jakarta melalui dinding kaca raksasanya. Tangan kanan Arga memegang sebuah kemeja biru kotak-kotak murahan—kemeja yang ditinggalkannya di kontrakan Senja, yang kemudian diam-diam ia ambil kembali melalui agen bayangannya. Kemeja itu tidak pernah ia cuci, seolah ia ingin mempertahankan sisa-sisa aroma rumah kecil mereka.
"Bos," panggil Raka, nadanya terdengar sangat serius.
Arga tidak menoleh. "Katakan."
"Ada dua laporan. Satu buruk, satu lagi... berpotensi sangat buruk."
Arga memutar tubuhnya perlahan. Mata elangnya menatap Raka dengan kelelahan yang luar biasa, namun ketajamannya tidak pernah tumpul. "Mulai dari yang terburuk."
"Natasha baru saja mendarat di Jakarta pagi ini," Raka langsung melempar bom tanpa basa-basi, meletakkan tablet itu di atas meja marmer. Di layar itu, terpampang foto Natasha yang sedang tersenyum angkuh di bandara.
"Dia baru saja resmi bercerai dengan suami Eropanya karena kebangkrutan. Intelijen kita meretas percakapannya dengan temannya di lounge bandara. Natasha berniat datang menemuimu besok, dan sepertinya... dia sudah mendengar rumor tentang kau dan 'pelayan katering' yang menghancurkan keluarga Vina."
Mendengar nama Natasha disebut, ekspresi Arga tidak berubah sedikit pun. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada kilatan kemarahan masa lalu. Yang ada hanyalah sebuah kebosanan yang sangat dalam dan rasa jijik yang luar biasa dingin.
Tujuh tahun yang lalu, nama wanita ini bisa membuat Arga tidak tidur berhari-hari. Namun hari ini, melihat wajah cantik yang dipenuhi riasan itu, hati Arga sama matinya seperti melihat selembar kertas koran bekas.
"Aku tidak peduli," jawab Arga datar, meletakkan kemeja biru itu dengan sangat hati-hati di atas kursinya. "Jika wanita itu berani menginjakkan satu kakinya saja di lobi gedung ini, suruh sekuriti menyeretnya keluar. Jika dia menyebut nama Senja dari mulut berbisanya itu, potong lidahnya."
Jawaban Arga yang sangat kejam dan tanpa ragu itu membuat Raka tersenyum tipis. Syukurlah, bosnya sudah benar-benar imun dari hantu masa lalu.
"Baik, Bos. Aku akan pastikan wanita ular itu tidak akan pernah bisa mendekat sejengkal pun dari kehidupanmu atau Senja," jawab Raka lega. "Tapi... ada masalah kedua yang jauh lebih rumit."
Arga menaikkan sebelah alisnya. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Satu-satunya hal di dunia ini yang bisa membuat Arga merasa panik sekarang hanyalah satu nama.
"Ini tentang Senja," lanjut Raka, suaranya merendah.
Seketika, aura Arga berubah menjadi sangat gelap dan menekan. Ia melangkah mendekati meja kerjanya. "Ada apa dengan dia? Apakah agen bayanganku ketahuan? Ada yang menyakitinya?!"
Raka menggeleng pelan. "Tidak ada yang menyakitinya. Tapi... Nyonya Senja sepertinya sudah menyadari keberadaan agen-agen kita."
Arga mengertakkan rahangnya. Ia sudah menduga ini. Senja terlalu pintar dan sensitif untuk tidak menyadari perubahan drastis di lingkungannya.
"Tadi malam, laporan dari agen yang menyamar sebagai ibu kos menyebutkan sesuatu yang tidak beres," Raka menggeser layar tablet-nya, menampilkan rekaman CCTV tersembunyi dari lorong kos Senja. "Nyonya Senja tidak keluar kamar sama sekali, bahkan untuk makan. Namun, malam tadi, agen kita mendengar suara aktivitas yang sangat pelan dari dalam kamarnya. Suara kertas dirobek, dan suara... pengepakan barang."
Dada Arga serasa dihantam palu beton. Napasnya tertahan. "Pengepakan?"
"Ya. Dan pagi ini, saat Nyonya Senja akhirnya keluar untuk membuang sampah, agen kita sempat memotret dari celah jendela yang terbuka. Kosan itu sudah bersih. Baju-bajunya sudah masuk ke dalam tas ransel. Sepertinya... dia berencana untuk melarikan diri, Ga. Melarikan diri dari pengawasan kita."
Arga membeku.
Rencana nekat Senja yang tergambar di kepalanya terasa sangat nyata dan mematikan. Gadis itu lebih memilih untuk menjadi pelarian, berpindah-pindah bagaikan buronan, daripada harus hidup di bawah perlindungan tak kasat mata dari Arga. Harga diri Senja yang terluka menolak segala bentuk campur tangan sang miliarder.
"Dia tidak akan bisa pergi jauh," gumam Arga dengan suara bergetar, mencoba meyakinkan dirinya sendiri meski kepanikan absolut telah menguasai otaknya. "Kita punya mata di setiap stasiun, terminal, dan bandara."
"Itu jika dia menggunakan transportasi resmi, Ga," balas Raka memperingatkan. "Gadis itu tumbuh di jalanan. Jika dia memutuskan untuk menumpang truk sayur, atau naik bus antar provinsi lewat terminal gelap di pinggiran kota... kita bisa kehilangannya. Sekali dia keluar dari radar Jakarta, mencarinya akan sama sulitnya dengan mencari jarum di tumpukan jerami."
Kepanikan Arga mencapai puncaknya. Bayangan Senja menghilang, sendirian di kota antah berantah, tanpa uang yang cukup, dan menolak menerima bantuan siapa pun... itu adalah skenario mimpi buruk yang jauh lebih mengerikan dari kematian.
Arga menggebrak meja marmernya hingga menimbulkan suara retakan halus.
"Tarik semua pertemuan hari ini! Siapkan mobilku sekarang juga!" perintah Arga, meraih jas hitamnya dan memakainya dengan tergesa-gesa.
"Kau mau ke mana, Bos? Kita tidak bisa asal sergap, itu akan membuatnya semakin takut!" Raka mencoba mencegah.
"Aku akan mengawasinya sendiri!" desis Arga, matanya berkilat penuh obsesi yang mematikan. "Jika dia mencoba menaiki kendaraan apa pun untuk keluar dari kota ini hari ini, aku sendiri yang akan memblokir jalan raya itu. Tidak peduli jika aku harus meratakan terminal itu dengan tanah. Dia tidak akan pergi ke mana-mana!"
Arga berlari keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan Raka yang hanya bisa menghela napas panjang menatap kepergian bosnya yang sedang dimabuk kegilaan.
Di saat Arga sedang meluncur dengan kecepatan gila membelah kemacetan Jakarta, Senja Kirana tengah berdiri di depan cermin retak di kamar kosnya.
Gadis itu sudah mengenakan jaket usang, topi yang ditarik rendah menutupi wajahnya, dan sebuah tas ransel berat di punggungnya. Mata bulatnya menatap pantulan dirinya sendiri dengan tekad yang menyala, meski lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat jelas.
Arga Danendra, batin Senja, menyebut nama itu dengan perih yang menyayat. Kau pikir kau bisa mengurungku dengan pasukan bayanganmu di kota ini? Kau mungkin memiliki uang untuk membeli semua orang di sini, tapi aku masih memiliki kakiku untuk berlari.
Senja telah merencanakan pelariannya dengan sangat matang. Ia tahu agen-agen Arga terus mengawasinya. Oleh karena itu, siang ini, di jam yang paling sibuk, Senja berencana keluar lewat pintu belakang kos yang berbatasan langsung dengan pasar tradisional yang padat merayap. Ia akan menyelinap di antara kerumunan pedagang, menumpang mobil bak terbuka milik pedagang sayur langganannya yang akan pulang ke Jawa Tengah sore ini.
Tanpa tiket, tanpa jejak digital.
Senja menarik napas panjang. Ia mengambil sebuah amplop cokelat kecil dari sakunya, dan meletakkannya di atas lantai kos yang bersih. Di dalam amplop itu, terdapat sejumlah uang—seluruh sisa uang tunai yang diam-diam dimasukkan Arga ke dalam rekeningnya selama ini. Senja telah menariknya habis kemarin, dan kini ia tinggalkan semuanya di kamar ini. Ia tidak membawa sepeser pun uang dari sang Iblis.
"Selamat tinggal, Kak Arga," bisik Senja pelan, air mata menetes satu kali sebelum ia segera menghapusnya dengan kasar.
Ia memutar gagang pintu belakang, melangkah keluar, dan langsung menyelam ke dalam lautan manusia di pasar tradisional yang sumpek dan riuh.
Pertarungan antara kebebasan sang burung kecil dan jaring emas sang predator baru saja memasuki babak yang paling mendebarkan. Dan di tengah-tengah badai pelarian ini, Natasha yang penuh tipu muslihat sedang bergerak mendekat, tanpa sadar bahwa ia sedang melangkah masuk ke dalam zona perang yang bisa menghancurkan nyawanya.