TAKDIR CINTA SANG CEO DINGIN
Hujan turun bagai tirai kelabu yang menyelimuti seluruh kota, menghapus rona warna dari jalanan aspal yang basah. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip redup, Arga Danendra berdiri mematung. Pakaiannya yang sederhana—kemeja flanel usang dan jaket kanvas yang sudah memudar warnanya—basah kuyup, menempel dingin di kulitnya. Namun, rasa dingin yang menusuk tulang itu tidak sebanding dengan hancurnya hati yang kini berdetak gontai di dalam dadanya.
Di tangannya yang gemetar, Arga menggenggam sebuah kotak beludru merah berukuran kecil. Isinya hanyalah sebuah cincin perak sederhana, dibeli dari hasil kerja kerasnya mencuci piring di restoran dan menjadi kurir paruh waktu selama berbulan-bulan.
Di hadapannya, berdiri Natasha. Wanita yang selama tiga tahun terakhir menjadi pusat dunianya, alasan di balik setiap tetes keringatnya. Namun malam ini, Natasha menatapnya bukan dengan sorot cinta, melainkan dengan tatapan iba yang merendahkan. Wanita itu berlindung di bawah payung transparan yang mahal, mengenakan gaun sutra yang membungkus tubuhnya dengan sempurna—pakaian yang Arga tahu pasti, tidak akan pernah mampu ia belikan.
"Sudahlah, Arga. Berhenti bersikap menyedihkan seperti ini," suara Natasha memecah derai hujan, tajam dan tanpa belas kasihan.
"Nat, kita sudah berjanji," suara Arga parau, nyaris tenggelam oleh suara guntur yang bergemuruh di kejauhan. Matanya yang merah menatap wanita itu dengan permohonan yang menyayat hati. "Aku memang belum punya apa-apa sekarang, tapi aku berjanji padamu, Nat. Beri aku waktu. Aku akan bekerja lebih keras. Aku akan memberikan dunia padamu."
Natasha tertawa pelan, sebuah tawa sinis yang terasa seperti ribuan jarum yang ditusukkan ke gendang telinga Arga. "Dunia? Arga, lihat dirimu sendiri. Kamu bahkan tidak bisa membelikan dirimu jaket yang layak untuk menahan hujan. Cinta tidak bisa dimakan, Arga. Janji manismu tidak bisa membayar cicilan rumah mewah atau liburan ke luar negeri."
"Apakah semua ini hanya tentang uang, Nat? Tiga tahun kita bersama... apakah tidak ada artinya bagimu?" rahang Arga mengeras, berusaha menahan air mata yang mulai bercampur dengan tetesan air hujan di wajahnya.
"Maaf, Arga. Aku butuh kepastian, bukan harapan kosong seorang pemimpi miskin."
Suara klakson mobil menyela pembicaraan mereka. Sebuah Mercedes-Benz hitam mengilap melaju perlahan dan berhenti tepat di samping Natasha. Kaca jendelanya turun perlahan, menampilkan sosok pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan jam tangan Rolex yang berkilau di pergelangan tangannya. Pria itu menatap Arga dengan senyum mengejek sebelum beralih menatap Natasha.
"Sudah selesai dengan urusan masa lalumu, Sayang?" tanya pria itu.
Natasha mengangguk tanpa ragu. Ia menoleh untuk terakhir kalinya kepada Arga. "Selamat tinggal, Arga. Hiduplah dalam duniamu sendiri. Jangan pernah mencariku lagi."
Tanpa sedikit pun penyesalan, Natasha masuk ke dalam mobil mewah itu. Pintu ditutup dengan suara debuman pelan, namun efeknya bagi Arga seperti pintu besi yang mengunci hatinya selamanya. Mobil itu melaju pergi, menyipratkan air genangan kotor ke celana Arga, meninggalkannya sendirian di tengah badai.
Kotak beludru di tangan Arga terjatuh ke tanah. Cincin perak itu menggelinding, masuk ke dalam genangan air yang gelap. Arga tidak memungutnya. Ia hanya berdiri di sana, menatap nanar ke arah hilangnya mobil tersebut. Pada detik itu, sesuatu di dalam diri Arga mati. Pemuda yang hangat, penuh senyum, dan percaya pada ketulusan cinta telah hancur lebur.
Bersama dengan derasnya hujan malam itu, hati Arga membeku menjadi es yang tak tertembus. Ia bersumpah di bawah langit yang menangis, bahwa suatu hari nanti, ia akan berdiri di puncak dunia. Ia akan membuat semua orang yang merendahkannya bertekuk lutut. Dan ia tidak akan pernah, sampai kapan pun, memberikan hatinya lagi kepada makhluk manipulatif bernama wanita.
Tujuh tahun yang lalu, di belahan kota yang berbeda, hujan juga turun dengan sama derasnya, membasahi sebuah kompleks pemakaman umum yang sunyi.
Gundukan tanah merah itu masih basah, bertabur bunga melati dan mawar yang mulai layu terpukul tetesan air hujan. Di depan dua nisan kayu yang baru saja ditancapkan, berdiri seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun. Tubuhnya yang kurus dibalut gaun hitam sederhana yang kebesaran. Namanya Senja Kirana.
Senja tidak menangis meraung-raung. Matanya yang bulat dan bening hanya terus meneteskan air mata dalam diam, mengalir turun membasahi pipinya yang pucat. Tangannya yang mungil meremas erat ujung gaunnya yang basah, berusaha mencari kehangatan yang tak lagi bisa ia temukan di dunia ini.
Di belakang Senja, beberapa kerabat berdiri di bawah payung-payung besar. Bukannya merangkul gadis kecil yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan bus yang tragis itu, mereka justru sibuk berbisik-bisik, menghitung sisa harta yang ditinggalkan.
"Rumah peninggalan mereka masih berstatus kredit. Tidak ada tabungan yang tersisa untuk melunasinya," bisik seorang paman dengan wajah masam.
"Lalu anak ini bagaimana? Aku tidak punya uang lebih untuk menghidupi mulut tambahan. Anak-anakku saja masih butuh banyak biaya sekolah," sahut bibinya dengan nada dingin, melirik punggung kecil Senja dengan tatapan terbebani.
"Bawa saja ke Panti Asuhan Kasih Bunda di ujung kota. Itu jalan terbaik. Kita sudah cukup direpotkan dengan biaya pemakaman ini."
Senja mendengar semuanya. Setiap kata yang keluar dari mulut orang-orang yang memiliki pertalian darah dengannya itu terasa seperti belati yang menyayat hati kecilnya. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata-kata penenang. Setelah urusan tanah dan sisa asuransi jiwa orang tuanya habis dibagi-bagi, kerabat-kerabat itu berbalik pergi meninggalkannya perlahan.
Satu per satu suara langkah kaki menjauh, meninggalkan Senja sendirian berbekal sebuah payung hitam usang peninggalan ayahnya.
Senja perlahan berjongkok. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh nisan kayu bertuliskan nama ibunya. Bayangan senyum ibunya, pelukan hangat ayahnya, dan tawa mereka setiap kali berkumpul di meja makan sederhana kini hanya menjadi kepingan kenangan yang tidak akan pernah kembali.
"Ibu... Ayah..." bisik Senja parau. Suaranya pecah, tidak mampu lagi menahan rasa sesak di dadanya. "Kenapa kalian meninggalkan Senja sendirian? Senja takut..."
Isak tangis gadis kecil itu akhirnya pecah, bergema pilu di tengah area pemakaman yang kosong. Ia memeluk nisan tersebut, membiarkan tubuhnya kotor oleh lumpur merah. Dunia terasa sangat besar, kejam, dan menakutkan bagi seorang anak yang kini tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk bernaung.
Namun, di tengah ratapannya, Senja teringat pada pesan terakhir ibunya saat ia sedang sakit demam beberapa bulan yang lalu. Ibunya selalu mengusap kepalanya dan berkata, "Senja, putri Ibu yang cantik. Apapun yang terjadi di dunia ini, seberat apa pun hidupmu nanti, berjanjilah pada Ibu untuk tidak pernah membenci dunia. Tetaplah tersenyum, jadilah gadis yang baik dan bercahaya, seperti namamu yang selalu memberikan keindahan sebelum malam tiba."
Mengingat kata-kata itu, Senja perlahan mengusap air matanya dengan punggung tangannya yang kotor. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan bahunya yang berguncang hebat.
Meski dunia telah membuangnya, meski keluarga darah dagingnya sendiri menolaknya, Senja menolak untuk membiarkan hatinya dipenuhi kegelapan. Di depan makam kedua orang tuanya, gadis kecil itu membuat sebuah janji yang akan mengubah jalan hidupnya. Ia tidak akan menyerah. Ia akan bertahan hidup dengan kerja kerasnya sendiri, dan ia akan memastikan bahwa senyumnya tidak akan pernah pudar, agar orang tuanya di surga bisa melihatnya dengan bangga.
Dua hati di masa lalu yang dihancurkan oleh waktu dan keadaan yang berbeda. Yang satu memilih untuk membekukan diri, membangun tembok es yang kejam untuk melindungi kelemahannya. Sementara yang lain memilih untuk merengkuh kepedihan itu dan mengubahnya menjadi kehangatan yang tulus.
Kini, bertahun-tahun telah berlalu.
Di lantai enam puluh sebuah gedung pencakar langit, Arga Danendra berdiri menatap gemerlap kota dari balik jendela kaca raksasa kantornya. Ia bukan lagi pemuda miskin yang dibuang di tengah hujan. Ia adalah sang penguasa, CEO termuda dan paling kejam yang ditakuti di dunia bisnis. Hatinya telah lama mati, tak tersentuh oleh emosi manusiawi.
Sementara itu, di sebuah kedai kopi kecil di pinggiran kota yang padat, Senja Kirana tengah mengelap meja dengan lincah. Keringat membasahi pelipisnya, namun senyum manis yang ceria tak pernah lepas dari bibirnya, menyapa setiap pelanggan dengan kehangatan tulus yang mampu mencerahkan hari siapa saja.
Takdir tengah menyusun rencananya. Dua garis hidup yang bertolak belakang ini, tanpa disadari, akan segera berpotongan dalam sebuah insiden berdarah di suatu malam yang pekat, membawa cahaya menuju kegelapan yang paling dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments
𝐀⃝🥀Weny
aku sudah mampir thor.. pembukaan yang sangat bagus 😊
2026-09-02
1