Maya dikhianati, difitnah, dan dibunuh oleh anak angkat yang direbut kasih sayang serta hartanya. Saat keluarganya sadar dan meminta maaf, semuanya sudah terlambat.
Namun Maya terbangun sebagai Chelsea putri kesayangan seorang penguasa yang ditakuti. Di kehidupan baru ini, ia dicintai dan dilindungi sepenuh hati. Musuh masih mengancam, tapi Maya tidak lagi lemah. Dengan pengalaman masa lalu dan kekuatan yang baru, ia bangkit untuk melawan kejahatan dan melindungi keluarga barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Yang Semakin Mendekat Dan Tekad Yang Semakin Kuat
Bab 34
Sejak kedatangan tamu tamu yang tidak diinginkan itu suasana di dalam rumah berubah menjadi lebih tegang dan penuh kewaspadaan. Penjagaan di sekeliling rumah diperketat berkali kali lipat. Setiap orang yang masuk maupun keluar diperiksa dengan teliti. Pintu pintu dan jendela selalu dikunci rapat dan dijaga oleh orang orang kepercayaan ayahku yang setia dan tangguh. Ayahku juga berpesan kepadaku agar tidak sembarangan keluar rumah tanpa ditemani orang yang dipercayainya dan jangan pernah berbicara kepada siapa pun yang tidak dikenalinya. Ia tidak ingin mengambil risiko sedikit pun mengingat niat buruk kerabat kerabatnya itu yang ternyata semakin menjadi menjadi sejak mengetahui keberadaanku di rumah ini.
Suatu sore ayahku pulang dengan wajah yang tampak lebih lelah dan serius dari biasanya. Ia langsung menemuiku di ruang tengah dan mengajakku duduk berdua di ruang kerja pribadinya yang tenang dan tertutup rapat. Di sana ia bercerita kepadaku dengan suara yang berat namun jujur tentang segala hal yang sebenarnya terjadi. Ia bercerita bahwa kerabat kerabatnya itu menginginkan kekuasaan dan harta yang ditinggalkan oleh leluhur keluarganya. Karena ayahku adalah pewaris tunggal yang sah dan memiliki kekuatan yang mereka takuti mereka tidak berdaya selama ia masih berdiri tegak memegang kendali. Namun sejak kehadiranku mereka merasa memiliki celah yang bisa mereka gunakan untuk menekan dan melukai ayahku. Mereka tahu betul bahwa aku adalah kelemahan terbesar ayahku sekaligus harta yang paling berharga baginya. Karena itulah mereka berencana menyakitiku untuk memaksa ayahku menyerahkan segala kekuasaannya kepada mereka.
Mendengar penjelasan itu hatiku terasa perih sekali. Aku tidak menyangka bahwa kehadiranku yang baru saja dimulai di dunia ini justru menjadi alasan bagi orang orang berniat jahat untuk datang menyakiti ayahku. Aku merasa bersalah seolah olah akulah yang membawa masalah dan bahaya ke dalam kehidupan ayahku yang selama ini mungkin sudah cukup berat dengan segala urusannya. Namun seketika itu juga ayahku menggenggam tanganku erat dan menatapku lekat lekat dengan mata yang penuh kasih sayang dan ketegasan. Jangan pernah menyalahkan dirimu atas apa pun yang terjadi Maya. Dengarkan baik baik. Ancaman mereka itu bukan karena kau ada di sini. Ancaman itu sudah ada sejak lama sekali bahkan sebelum kau datang ke dalam hidupku. Mereka hanya mencari alasan dan celah untuk berbuat jahat. Kehadiranmu justru menjadi kekuatan terbesar yang membuat Ayah semakin kuat dan teguh menghadapi mereka. Karena sekarang Ayah tidak lagi berjuang untuk diri sendiri semata. Ayah berjuang demi masa depanmu demi keselamatanmu dan demi kehidupan yang bahagia untukmu. Jadi jangan pernah merasa menjadi beban bagi Ayah. Kau adalah alasan mengapa Ayah tetap berdiri dan tidak pernah menyerah kepada mereka.
Kata kata itu menembus hatiku begitu dalam hingga air mataku jatuh tanpa bisa kutahan lagi. Aku menyadari bahwa aku tidak boleh merasa lemah atau bersalah. Aku harus menjadi kuat. Jika ayahku berjuang sekuat tenaganya demi keselamatanku maka aku pun harus berjuang demi ketenangannya. Aku menghapus air mataku lalu menatap matanya dengan tegas dan penuh tekad. Baiklah Ayah. Aku mengerti. Mulai hari ini aku tidak akan lagi bersembunyi di belakang punggung Ayah. Aku akan belajar menjaga diriku sendiri agar Ayah tidak perlu khawatir dan membagi fokus perjuangan Ayah kepadaku. Aku akan menjadi putri yang kuat dan bijaksana. Dan aku berjanji tidak akan membiarkan siapa pun menyakitiku atau menggunakan diriku untuk menekan Ayah.
Ayahku tersenyum bangga mendengar ucapanku. Ia menarikku ke dalam pelukannya yang hangat dan berkata dengan suara yang penuh harapan Ayah percaya padamu putriku. Ayah tahu kau adalah anak yang luar biasa kuat hatinya. Namun untuk sementara waktu Ayah memintamu tetap waspada dan tidak pergi ke mana mana tanpa pengawalan. Mereka adalah orang orang yang tidak segan melakukan hal hal licik dan kejam. Mereka bisa menyamar menjadi orang baik atau memanfaatkan kelemahan orang lain untuk mendekatimu. Karena itu kau harus selalu berhati hati dan jangan mudah percaya kepada siapa pun yang belum Ayah percayai. Janjilah kepada Ayah kau akan selalu menjaga dirimu dengan baik. Aku mengangguk mantap dan berjanji akan selalu berhati hati dan mematuhi segala pesan pesannya.
Beberapa hari setelah pembicaraan itu suasana menjadi semakin tegang. Kabar buruk terus datang satu demi satu. Kerabat kerabat ayahku itu mulai menyebarkan berita berita bohong yang merusak nama baik ayahku di luar sana. Mereka juga mulai mengganggu urusan urusan yang dikelola oleh orang orang kepercayaan ayahku seolah olah ingin membuat ayahku sibuk dan terpecah fokusnya. Namun ayahku tetap tenang dan teguh. Ia tidak terpancing emosi dan tetap menyelesaikan segala urusannya dengan kepala dingin serta ketegasan yang luar biasa. Setiap kali pulang ke rumah ia selalu menyembunyikan kelelahan dan kemarahannya agar aku tidak ikut merasa cemas atau takut. Ia selalu tersenyum menyambutku dan menemaniku berbicara hal hal yang menyenangkan seolah olah tidak ada beban berat yang sedang ia pikul di pundaknya.
Suatu sore saat aku sedang berjalan di halaman belakang rumah ditemani oleh dua orang pelayan yang selalu menjagaku aku melihat seseorang yang tampak asing berdiri di balik semak semak tinggi di sudut taman yang jarang dikunjungi. Sosok itu hanya terlihat sekejap mata namun aku sempat menangkap pandangan matanya yang tajam dan dingin menatap lurus ke arahku seolah olah sedang mengawasi setiap gerak gerikku. Saat aku hendak melangkah mendekat untuk melihat lebih jelas sosok itu segera menghilang dan tidak terlihat lagi. Aku segera menyuruh pelayan melaporkan hal itu kepada ayahku. Saat mendengar laporan itu wajah ayahku berubah menjadi sangat serius dan tegas. Ia segera memerintahkan agar seluruh penjuru rumah dan taman diperiksa dengan teliti. Malam itu ia memanggil semua orang yang bekerja di rumah dan memperingatkan mereka agar tidak ada yang melalaikan tugas penjagaan sedikit pun.
Setelah semuanya tertib kembali ayahku mendatangi kamarku malam itu. Ia duduk di tepi tempat tidurku dengan wajah yang masih tampak serius namun tetap lembut saat menatapku. Ia menggenggam tanganku erat lalu berkata dengan suara yang penuh peringatan sekaligus kasih sayang. Mereka sudah mulai berani mengawasimu dari dekat Maya. Ini tandanya mereka semakin putus asa dan semakin berani mengambil risiko. Karena itu mulai sekarang kau harus lebih waspada dari sebelumnya. Jangan pernah berjalan sendirian dan jangan pernah berbicara kepada orang yang tidak dikenalimu. Jika kau melihat sesuatu yang mencurigakan atau merasa ada yang tidak beres segera beritahu orang penjaga atau Ayah. Jangan pernah mencoba menghadapi mereka sendirian ya. Ayah tidak akan sanggup menanggung apa pun yang terjadi kepadamu.
Aku mengangguk dengan hati yang tenang namun tekad yang semakin membara. Aku mengerti Ayah. Aku tidak akan nekat dan tidak akan ceroboh. Namun biarlah mereka datang. Aku tidak akan takut. Selama aku tetap waspada dan selama kita saling menjaga mereka tidak akan pernah bisa menyakiti kita. Ayahku menatapku lama sekali seolah olah ingin memastikan bahwa aku benar benar memahami bahaya yang mengancam. Kemudian ia tersenyum lemah dan mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang. Kau memang anak yang berani dan teguh hati. Itulah yang membuat Ayah bangga sekaligus khawatir. Namun ingatlah satu hal. Kekuatan terbesar kita bukanlah terletak pada keberanian menghadapi bahaya sendirian melainkan pada kebersamaan dan kehati hatian. Selama kita tetap bersatu dan saling melindungi tidak ada kekuatan apa pun yang bisa mengalahkan kita. Percayalah pada Ayah dan percayalah pada kekuatan kebersamaan kita.
Malam itu setelah ayahku pergi aku berdiri di depan jendela kamarku menatap ke arah taman yang gelap dan sunyi. Angin malam berhembus kencang menerpa dedaunan menimbulkan suara berdesir yang halus namun terdengar menakutkan. Aku tahu bahwa bahaya itu benar benar ada dan semakin mendekat. Aku tahu bahwa orang orang berniat jahat itu sedang mengintai menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan mereka. Namun hatiku tidak lagi merasa takut seperti dulu. Di dadaku kini tumbuh tekad yang kuat dan teguh. Aku tidak akan lari dan tidak akan bersembunyi. Aku akan berdiri tegak di samping ayahku. Aku akan menjaga diriku dengan sebaik baiknya agar ia tidak perlu khawatir. Dan jika bahaya itu benar benar datang aku siap menghadapinya bersama ayahku. Karena di dunia ini aku tidak lagi sendirian. Dan karena aku tahu bahwa kasih sayang tulus dan kebersamaan yang kuat adalah senjata paling ampuh yang mampu melindungi kita dari segala kejahatan dan kebencian siapa pun.
Bersambung...