Aku Assasin Terkuat yang tak terkalahkan, bahkan setelah menjadi seorang kakek tua, tidak ada yang bisa membunuh ku.
"Hidup ku bosan. aku harap... aku bisa bertemu dengan musuh yang lebih kuat dari ku..."
Tenyata keinginan ku Terkabul!
Setelah aku mati oleh serangan jantung, Aku di hidup kan kembali di dunia Murim... di dunia yang banyak sekali Petarung yang sangat kuat.
ini perjalanan ku sebagai Assasin Terkuat di dunia modern, sekarang hidup di dunia murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bonggiw01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sementara itu, Di ruangan yang pengap dan remang-remang, hanya nyala lilin yang bergetar di atas meja kayu.
Sang Komandan pasukan, Risman... duduk di kursi tinggi, bersandar santai dengan sorot matanya tajam.
Di hadapannya, Arga berdiri tegap, memegang lembaran catatan.
“Tuan Risman, dari dua ribu anak yang kita latih, setengahnya sudah tersingkir,” lapor Arga dengan nada hormat. “Seperti yang Anda perkirakan, Tuan, anak-anak dengan nomor 999 ke bawah mendominasi kemenangan.”
Risman mengangguk pelan. “Itu sudah jelas. Nomor yang kuberikan bukan angka sembarangan… Nomor satu hingga sembilan ratus sembilan puluh sembilan adalah mereka yang terkuat. Sisanya hanyalah daging segar yang akan menjadi korban.”
“Benar, Tuan” jawab Arga sambil menurunkan pandangannya ke daftar. “Di Nomor satu ada Leo, putra dari Clan Bulan Merah, dia menunjukkan bakat luar biasa, aku yakin dia menjadi harapan untuk Kultus kita. Di posisi nomor dua, ada Bella dari Clan Angin Hitam, anak yang juga sangat menjanjikan, dia akan menjadi senjata untuk Kultus kita”
Risman memutar cincin di jarinya. “Bagaimana dengan Barnett?”
Arga mengangguk cepat. “Nomor lima belas, Barnett dari Clan Lonceng Kematian. Dia sangat menonjol, Tuan. Kemampuannya brutal dan kecepatan reaksinya di atas rata-rata, dia akan menjadi pembunuh berdarah dingin”
Risman tersenyum tipis. “Aku memberinya nomor lima belas bukan karena dia lemah, tapi karena anak itu sulit dikendalikan. Seorang pembunuh yang tidak patuh adalah pedang bermata dua. Dia berbahaya, bahkan bagi kita.”
Arga menunduk dalam, mengerti maksud atasannya.
“Lalu…” Risman mencondongkan tubuh ke depan. “Dari anak-anak nomor seribu ke atas… ada berapa yang bertahan?”
Arga membalik beberapa halaman daftar. "Ada satu orang, Tuan… nomor 2000”
Risman menyipitkan mata. “Nomor 2000? Dia bertahan? Apa kau yakin?”
“Benar Tuan, dia berhasil selamat” jawab Arga. “Saya juga terkejut. Dia berhasil membunuh lawannya, Nomor 323 hanya dengan dua tusukan tepat di leher. Cepat dan bersih seolah dia sudah ahli dalam membunuh”
Risman mengetuk-ngetukkan jarinya di meja kayu. “Siapa nama nomor 2000 itu?”
“Ryan Foster” jawab Arga. “Asal-usulnya tidak jelas. Dari catatan yang kami punya, dia hanyalah anak biasa. Tidak ada riwayat keluarga istimewa… Tidak ada pelatihan tempur sebelumnya. Bahkan anak itu terlihat paling lemah di antara peserta lain”
“Ryan, ya…” Risman tersenyum tipis. “Baiklah. Anak itu berhasil menarik perhatianku. Kita lihat, apakah dia mampu bertahan di pelatihan berikutnya, atau akan mati seperti kebanyakan.”
Risman menatap Arga. "Arga, Perhatikan Bocah itu. Aku menduga ada yang salah. Nomor 2000 harus nya mati, tidak salah lagi. Namun jika dia memang berhasil bangkit, mungkin nomor nya harus di ganti" ucap Risman dengan penasaran.
"Laksanakan Tuan Risman!"
Di luar ruangan itu, dunia tidak tahu apa yang terjadi.
Mereka... komandan Risman, Arga, dan semua yang ada di tempat itu adalah bagian dari Kultus Iblis, organisasi gelap yang tumbuh di bawah bayang-bayang sejarah.
Dua ribu anak yang kini bertarung sampai mati, tidak ada satu pun yang datang ke sini dengan kemauan sendiri.
Mereka semua diculik untuk diproses, ditempa, dan dipaksa menjadi pembunuh dingin bagian dari mesin pembantaian bernama Kultus Iblis.
-----------
Keesokan paginya.
TREEENG! TREEENG!
Suara lonceng logam memekakkan telinga, bergema di seluruh ruangan batu.
Pintu-pintu besi berderit terbuka.
Satu per satu anak-anak keluar, kaki telanjang mereka menjejak lantai dingin, lalu membentuk barisan panjang di lapangan bawah tanah, sebuah ruang luas dengan dinding batu basah, diterangi obor di sudut-sudutnya.
Ryan, atau lebih tepatnya Joffrey yang kini mengendalikan tubuh bocah bernama Ryan, berjalan mengikuti arus manusia kecil itu.
Matanya mengamati setiap orang. 'Semua anak di sini rata-rata berusia sekitar dua belas tahun. Termasuk bocah ini. Tapi kenapa anak-anak seusia ini saling membunuh di tempat gelap seperti ini? Siapa yang membuat mereka saling membunuh?" pikir Ryan, alisnya berkerut.
Suara berat memotong pikirannya.
“Semua, dengarkan aku!” teriak Arga, berdiri di depan dengan tatapan tajam.
“Kalian mungkin telah selamat dari penyingkiran massal,” suaranya bergema, “tapi jangan senang dulu. Mulai sekarang, kalian akan menghadapi latihan yang lebih keras… jauh lebih keras. Dan, ya... akan ada banyak yang mati dalam prosesnya. Namun Yang bertahan… akan menjadi anggota Kultus Iblis, kalian akan mendapatkan kekuatan dan kekuasaan."
Hening. Tidak ada yang terkejut. Sebagian besar dari mereka sudah tahu, sebagian lagi memilih diam karena ketakutan.
'Kultus Iblis? Jadi semua anak ini dilatih untuk bergabung dengan organisasi itu? Di dunia asliku.... tidak ada kelompok seperti ini. Apa ini berada di dunia yang berbeda dari tempat dulu aku hidup?” Ryan mengerutkan dahi, mencoba menyatukan potongan informasi.
Arga melanjutkan, “Bertahanlah. Jadilah kuat. Singkirkan siapapun yang menghalangi. Tunjukkan bahwa kalian berguna. Itu satu-satunya cara untuk keluar dari tempat ini dan memperoleh kekuatan!”
Ryan mendengus pelan. 'Aku tak tahu di mana ini, atau siapa yang menjalankan semua ini. Tapi untuk sekarang, aku akan bermain mengikuti aturan mereka. Tubuh bocah ini sangat lemah, tapi aku bisa membentuknya menjadi kuat seperti tubuh ku dulu, dan ketika waktunya tiba, aku akan membantai semua bajingan di sini dan keluar dari tempat sialan ini”
“Baik! Kita mulai pelatihan lanjutan!” teriak Arga.
Hening sejenak.
Tiba-tiba, suara tawa pecah di tengah barisan.
“Hahaha! Aku suka ini! Apa aku harus membunuh lagi hari ini? Aku menyukai saat melihat anak itu berteriak kesakitan!” ucap Nomor 15, matanya berkilat gila.
“Orang gila. Kau benar-benar menikmati membunuh? Kau sudah tidak waras” sindir Nomor 10.
Nomor 15 menyeringai. “Jangan munafik, Goblok! Kau ada di sini bukti bahwa kau juga membunuh orang lain!.”
“Berisik. Sebaik nya kalian diam. Kalian berdua menggangguku,” suara datar Nomor 1 langsung memotong.
Dan seketika, mereka diam tidak melanjutkan.
Ryan memperhatikan dengan seksama. 'Sepertinya nomor di sini bukan sembarang angka. Semakin kecil nomornya, semakin kuat dan berpengaruh. Dan aku berada di tubuh anak bernomor 2000? Benar-benar sampah yang tak pernah dilatih. Aku harus memulai melatih tubuh ini dari awal.'
Namun senyum tipis muncul di wajahnya. 'Untuk ku yang telah berpengalaman. Membentuk energi awal bukan hal sulit. Aku bisa merasakan tubuh anak ini memiliki potensi lebih tinggi dari tubuh ku yang dulu'
TRENG! TRENG!
Lonceng berbunyi lagi.
Pelatihan keras pertama… akan segera dimulai.