Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror di Ruang Kuliah
Mata Xander melebar sempurna mendengar kata cerai dan ancaman pengadilan yang diucapkan Evita dengan begitu mantap tanpa keraguan sedikit pun.
Sebelum Xander sempat membuka mulutnya untuk membalas atau menahan wanita itu lagi, Evita sudah memutar tubuhnya dengan cepat. Tanpa menoleh ke belakang sedetik pun, Evita kembali melangkah anggun menyusuri koridor, meninggalkan Xander yang terpaku bagai disambar petir di tengah keramaian kampus.
Xander berdiri mematung, tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Udara di koridor mendadak terasa begitu panas dan menyesakkan. Ia sadar, Evita yang ada di hadapannya hari ini bukan lagi istri penurut yang selama ini ia kenal. Ini adalah perang, dan Evita baru saja menembakkan tembakan pertamanya dengan sangat telak.
****
Udara siang di area parkir basement Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pelita Bangsa terasa pengap. Sebuah sedan mewah berwarna hitam terparkir di sudut yang agak tersembunyi dari sorot matahari langsung. Di dalam mobil itu, Viola Sanustika duduk menyilang kaki dengan jemari lentiknya mengetuk-ngetuk setir kemudi. Sepasang mata tajamnya dibalik kacamata hitam bermerek terus mengawasi gerak-gerik Xander Wiryawan dari kejauhan.
Sejak pagi, Viola memang sengaja membuntuti kekasih gelapnya itu. Ia tahu betul kepanikan sedang melanda jiwa Xander. Dan sebagai wanita yang terobsesi penuh pada harta serta status sosial sang CEO, Viola tidak akan membiarkan Xander melunak pada istrinya. Ia ingin memastikan bahwa pria itu tidak jatuh iba atau kembali pada pelukan Evita Desniati.
Melihat Xander sudah pergi, sudut bibir Viola terangkat membentuk senyuman miring yang penuh tipu muslihat.
"Bodoh sekali kamu, Xander. Mau sampai kapan pun, dosen kaku itu tidak akan pernah bisa memaafkanmu," gumam Viola pelan dengan nada meremehkan.
Alih-alih ikut berbalik pulang, Viola justru merapikan riasan wajahnya di kaca spion tengah. Ia membuka pintu mobil, lalu melangkah keluar mengenakan pakaian yang amat kontras dengan atmosfer lingkungan kampus yang akademis dan menjunjung tinggi norma kesopanan. Viola tampil berani dalam balutan crop top ketat berwarna merah menyala yang mempertontonkan perut mulusnya, dipadu rok mini super pendek yang nyaris tak pantas dibawa ke area institusi pendidikan, serta sepatu hak tinggi setinggi dua belas sentimeter yang menghasilkan suara ketukan tajam di atas paving block.
Beberapa mahasiswa yang kebetulan melintas di area parkir sontak menghentikan langkah. Ada yang menatap dengan mata terbelalak kaget, ada pula yang berbisik-bisik sambil melirik sinis ke arah wanita asing berpenampilan vulgar tersebut. Namun, Viola sama sekali tidak peduli. Ia mendongakkan dagunya tinggi-tinggi, menebar aura permusuhan dan keangkuhan yang pekat, lalu berjalan pasti menerobos masuk ke dalam gedung utama fakultas.
Tujuan Viola hanya satu: mencari Evita Desniati. Ia ingin menuntaskan apa yang belum selesai, melabrak sang dosen di sarangnya sendiri, dan memastikan wanita itu tahu diri bahwa Xander kini adalah miliknya sepenuhnya.
Di lantai tiga, tepatnya di Ruang Kuliah 304, suasana perkuliahan tengah berlangsung khidmat. Sekitar empat puluh mahasiswa duduk rapi di kursi masing-masing, menyimak penjelasan materi manajemen bisnis internasional yang disampaikan langsung oleh Evita dengan suara tenang dan berwibawa. Evita berdiri di dekat papan tulis, mengenakan blazer abu-abunya yang rapi, tampak sangat profesional kendati malam sebelumnya ia habiskan dengan cucuran air mata kehancuran.
****
"Sampai di sini ada pertanyaan terkait strategi ekspansi pasar global?" tanya Evita lembut sambil menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan kelas.
Belum sempat ada mahasiswa yang mengangkat tangan untuk bertanya, suasana tenang di dalam ruangan itu mendadak terusik.
Brak!
Suara hantaman pintu utama ruang kuliah dibuka dengan paksa dari luar membuat seluruh seisi ruangan tersentak kaget. Pintu kayu berukuran besar itu membentur dinding dengan keras, menciptakan bunyi nyaring yang memecah konsentrasi.
Semua pasang mata, termasuk Evita, langsung menoleh ke arah pintu masuk.
Di ambang pintu, berdirilah Viola Sanustika dengan napas sedikit memburu namun menyunggingkan senyuman iblis di bibirnya. Penampilannya yang terlalu seksi dan mencolok di tengah lingkungan kampus langsung memancing kehebohan seketika. Bisik-bisik kaget langsung bergemuruh dari bangku para mahasiswa.
“Eh, itu siapa? Kok bajunya begitu amat kayak mau ke kelab malam?”
“Gila, berani banget masuk kelas Bu Evita dengan gaya kayak gitu!”
Evita menyipitkan matanya. Begitu ia mengenali wajah wanita di ambang pintu itu—wanita yang kemarin malam telanjang bergelut di atas ranjang suaminya—darah Evita mendadak mendidih seketika. Kepalan tangan Evita di atas meja dosen mengerat kuat, namun ia berusaha mempertahankan wibawanya di hadapan puluhan mahasiswanya.
"Maaf, Anda siapa? Ini adalah area perkuliahan tertutup. Anda tidak berhak masuk ke sini dengan pakaian seperti itu," tegur Evita dengan suara tegas, dingin, dan penuh wibawa seorang dosen senior.
****
Alih-alih meminta maaf atau merasa canggung, Viola justru terkekeh kecil. Suara tawanya terdengar sumbang dan menyebalkan di dalam ruangan kelas yang hening. Dengan langkah angkuh bergaya model landasan pacu, Viola berjalan masuk menerobos barisan bangku mahasiswa, mengabaikan tatapan risih dari para pemuda-pemudi di sana.
"Wah, wah... Hebat sekali ya dosen terhormat ini," ucap Viola dengan nada suara sinis yang sengaja dikeraskan, berhenti tepat di tengah-tengah lorong kelas. "Di depan mahasiswanya pasang muka sok suci, sok profesional, tapi di belakang... cih! Ternyata cuma wanita lemah yang tidak becus memuaskan suaminya sendiri!"
Suasana kelas langsung gaduh seketika. Para mahasiswa terperangah mendengar ucapan frontal dan kasar dari wanita asing tersebut. Beberapa mahasiswa pria langsung bergeser duduk gelisah, sementara mahasiswi lainnya membelalakkan mata tidak percaya.
"Jaga mulutmu!" bentak salah seorang ketua tingkat bernama Rama, berdiri dari bangkunya dengan wajah memerah karena marah. "Jangan berani-beraninya menghina dosen kami di sini! Keluar atau kami panggilkan petugas keamanan kampus!"
Viola menoleh tajam ke arah Rama. Alih-alih takut, ia justru mendengus meremehkan sambil melipat tangan di dada. "Diam kamu, anak kecil! Urusan orang dewasa jangan ikut campur!" maki Viola galak.
****
Ia kembali memalingkan tatapannya, menatap lurus ke arah meja dosen tempat Evita berdiri tegak menatapnya dengan sorot mata setajam pisau belati. Evita tidak langsung berteriak atau menangis seperti kemarin. Kali ini, ketenangan di wajah Evita justru memancarkan bahaya yang jauh lebih mematikan.
"Viola Sanustika," panggil Evita dengan suara pelan namun terdengar sangat jelas di seluruh penjuru kelas yang sunyi. "Rupanya urat malu di tubuhmu sudah putus sepenuhnya ya? Datang ke tempat kerjaku, mengenakan pakaian murahan, dan membuat keributan di hadapan mahasiswaku. Apa tujuannya? Ingin pamer kalau kamu adalah wanita simpanan suamiku?"
Mendengar sindiran telak itu, wajah cantik Viola seketika memerah karena tersulut emosi. Topeng keanggunannya runtuh, digantikan oleh ekspresi sadis nan bengis.
"Kau...!" geram Viola penuh kebencian.
Tanpa diduga, Viola melangkah cepat menerjang ke arah meja depan tempat Evita berdiri. Sebelum siapa pun di dalam kelas sempat mencegahnya, Viola mencengkeram tepian meja kerja dosen berbahan kayu jati itu dengan kedua tangannya, lalu dengan mengerahkan seluruh tenaganya...
Brakkk!
Viola membalikkan meja dosen itu hingga terjungkal ke depan! Laptop, setumpuk berkas materi perkuliahan, gelas air mineral, dan spidol berserakan jatuh menghantam lantai dengan suara gemerincing yang memekakkan telinga.