Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Tengah Badai Salju
Mobil SUV hitam milik Jungkook melaju pelan menembus jalanan Paris yang memutih. Salju turun kian lebat, membatasi jarak pandang dan memaksa wiper kaca depan bekerja ekstra keras. Di dalam kabin mobil yang hangat, Jungkook beberapa kali melirik jam di dasbor.
"Aish, Taehyung... rapat macam apa yang menahanmu di hari kedatangan adikmu sendiri?" gumam Jungkook seraya memutar kemudi menuju area kedatangan Bandara Charles de Gaulle.
Setelah memarkirkan mobilnya, Jungkook segera merapatkan mantel hitam tebalnya, membelitkan syal wol di leher, lalu melangkah cepat menembus terpaan angin malam yang menusuk tulang. Matanya menyapu sekeliling area luar bandara yang dipenuhi lalu lalang orang dengan payung dan koper.
Memori Jungkook tentang Mira hanyalah sosok anak SD berkuncir dua yang cengeng, atau gadis SMA berambut acak-acakan yang pernah memarahi Taehyung lewat panggilan video tiga tahun lalu.
"Di mana bocah itu menunggu?" gumam Jungkook bingung. Dari kejauhan, ia hanya melihat beberapa kerumunan orang yang berdiri menggigil di dekat antrean taksi.
Tanpa membuang waktu, Jungkook merogoh ponsel dari saku mantelnya dan menggeser layar untuk menelepon nomor Mira yang diberikan Taehyung. Ponselnya ditempelkan ke telinga, menanti nada sambung seraya matanya terus berputar menerka-nerka sosok adik sahabatnya itu.
Tut... Tut...
Hanya beberapa meter di depannya, di balik pilar beton yang agak terlindung dari terpaan angin, seorang wanita muda tampak merogoh tasnya.
Jungkook memperhatikan wanita itu. Ia mengenakan trench coat warna krem yang elegan, berpadu sempurna dengan syal berwarna pastel. Rambut hitam panjangnya yang sedikit bergelombang diterbangkan angin malam, beberapa kepingan salju tersangkut cantik di atasnya. Saat wanita itu mengangkat ponsel ke telinganya, nada sambung di telepon Jungkook seketika terputus dan berganti dengan suara napas yang terengah halus.
"Yeoboseyo? Apa ini Jungkook Oppa?" suara jernih dari balik telepon terdengar bersamaan dengan bibir wanita di hadapannya yang bergerak mengucapkan kalimat tersebut.
Jungkook membeku di tempatnya. Langkah kakinya terhenti seketika.
Ponsel di tangannya perlahan perlahan teratur perlahan turun dari telinga, namun matanya terkunci rapat pada figur di hadapannya.
Gadis kecil berkuncir dua yang dulu suka menangis karena berebut es krim... kini telah menghilang sepenuhnya. Di hadapannya kini berdiri seorang wanita muda yang anggun, dewasa, dan sangat cantik. Ujung hidungnya yang sedikit memerah akibat udara dingin serta pendar cahaya lampu bandara yang memantul di manik matanya yang jernih membuat pemandangan itu seolah melambat di mata Jungkook.
DEG.
Dada Jungkook berdesir hebat. Sebuah getaran asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mendadak menyeruak mendominasi dadanya, bahkan mengalahkan hawa dingin Paris yang membekukan malam itu.
Gadis di hadapannya itu ikut menurunkan ponselnya, menatap Jungkook yang berdiri terpaku tak jauh darinya. Senyum tipis yang sangat manis perlahan terbit di bibir gadis itu.
"Jungkook... Oppa?" bisik Mira pelan, melangkah mendekat seraya menatap pria tinggi dan menawan yang kini berdiri di hadapannya.
Jungkook menelan ludah, berusaha menguasai detak jantungnya yang mendadak berpacu tidak karuan. Pertemuan di tengah badai salju Paris malam itu resmi mengubah segalanya.
Jungkook menarik napas panjang, mencoba menguasai detak jantungnya yang mendadak berpacu liar. Ia melangkah mendekati Mira, memangkas jarak di antara mereka di tengah terpaan bulir-bulir salju yang kian lebat.
"Mira-ya?" suara Jungkook terdengar dalam dan hangat, memecah kesunyian di antara mereka. "Ini aku... Jungkook. Taehyung tertahan rapat investor yang tidak bisa ditinggal, jadi dia memintaku untuk menjemputmu."
Saat pria di hadapannya menyebutkan nama itu, giliran Mira yang seketika mematung.
Napas Mira tertahan di tenggorokan. Kedua mata bulatnya membelalak pelan, menatap sosok pria yang berdiri tepat di depannya. Sosok 'Jungkook Oppa' yang selama ini hanya ia ingat sebagai remaja jangkung penyuka game, kini telah bertransformasi juga.
Pria di hadapannya ini sangat tampan. Wajah tegas dengan rahang yang terpahat sempurna, balutan trench coat hitam yang membalut tubuh tinggi, tegap, dan atletis, memancarkan karisma pria dewasa yang begitu kuat dan dominan. Aura Jungkook malam itu sungguh berbeda, begitu menawan hingga membuat dada Mira berdebar hebat untuk pertama kalinya.
"J-Jungkook Oppa?" bisik Mira penuh keraguan, suaranya hampir tenggelam oleh deru angin malam.
Jungkook menatap wajah Mira yang sedikit pucat karena kedinginan. Bukannya menjawab dengan kata-kata, senyum kelinci yang khas dan sangat ramah perlahan terbit di bibir Jungkook, mencairkan seluruh kecanggungan dan ketegangan di antara mereka.
"Kau... benar-benar sudah tumbuh dewasa ya, Kim Mira?" ujar Jungkook lembut seraya tertawa kecil. "Sampai-sampai tidak mengenali orang yang dulu sering membela dan memanjakanmu?"
Pipi Mira seketika merona merah mendapati senyuman dan tatapan hangat itu. Rasa malu mendadak menyergapnya, membuat gadis itu refleks menunduk kecil seraya merapatkan syalnya.
Melihat bibir dan jemari Mira yang gemetaran menahan dinginnya badai salju, Jungkook tanpa ragu merenggangkan syal wol tebal berwarna abu-abu yang melingkar di lehernya sendiri. Dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, Jungkook melangkah satu pijakan lebih dekat, lalu mengalungkan syal wol hangat itu ke leher Mira.
Aroma maskulin yang lembut khas Jungkook seketika menyusup indra penciuman Mira saat jemari pria itu mengusap pelan bagian tepi syal di dekat lehernya.
"Di luar sangat dingin," kata Jungkook seraya menatap tepat ke dalam manik mata Mira dengan binar mata yang begitu hangat. "Taehyung pasti akan memotong leherku kalau adik kesayangannya sampai sakit di hari pertama mendarat di Paris."
Jungkook kemudian meraih gagang troli berisi tumpukan koper milik Mira tanpa ragu, mengambil alih beban itu dari tangan adiknya sahabatnya.
"Ayo kita ke mobil. Aku sudah menyalakan pemanas ruangan di dalam," lanjut Jungkook seraya menyunggingkan senyum manisnya sekali lagi. "Selamat datang kembali di hidup kami, Mira-ya."
Mira berdiri terpaku beberapa detik, menatap punggung tegap Jungkook yang kini berjalan mendahuluinya seraya menyeret kopernya. Menyentuh syal hangat yang melingkar di lehernya, Mira merasakan kehangatan yang menjalar hingga ke dadanya, menandai bahwa kepindahannya ke Paris akan membawa alur cerita yang jauh berbeda dari yang pernah ia bayangkan.