"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Gigitan di Leher dan Cokelat yang Penyok
Suasana di dalam ruangan kerja yang terkunci itu kian memanas. Ciuman menuntut Askara perlahan terlepas dari bibir Nadira, lalu merambat turun menyusuri rahang hingga ke leher jenjang wanita itu.
Ngap!
"Aww! Sakit, Ka!" jerit Nadira melengking saat merasakan sensasi gigitan kecil namun tegas di leher kirinya, meninggalkan jejak merah berona keunguan di kulit mulusnya.
Dengan sisa tenaga dan kepanikan yang membuncah, Nadira mengangkat kedua kakinya yang menggantung di tepi meja dan menendang dada Askara kuat-kuat.
BUGH!
Askara terdorong mundur dua langkah. Pria itu mengelus dadanya yang agak kesakitan sambil terkekeh renyah. "Kaki lo kenceng juga ya kalau nendang, Nad."
"LO GILA YA, ASKARA?!" jerit Nadira histeris, melompat turun dari meja. Tangannya gemetar menutupi lehernya yang terasa panas. "Gue ditandain begini?! Lo pikir gue sapi perahan hah?! Muka gue mau ditaruh di mana di depan anak-anak kantor?!"
Askara justru tersenyum goda dan melangkah maju lagi mendekati Nadira.
"Jangan deket-deket!" teriak Nadira refleks memasang kuda-kuda, kedua tangannya menahan dada bidang Askara agar tidak maju lebih jauh.
Askara menghentikan langkahnya, menatap mata sembap Nadira dengan binar jenaka namun sarat kehangatan. "Makanya, lo gak usah pamer cemburu yang berlebihan gitu. Kalau lo cemburu dan marah-marah gemes kayak tadi, gue malah makin gak bisa nahan diri buat melumat bibir lo lagi kayak tadi. Mau lagi?"
"GAK MAU! GA SUDI BANGET!" bentak Nadira dengan wajah yang sudah merah padam sampai ke telinga.
Raut wajah Askara perlahan berubah menajam. Bercandaannya menguap, berganti dengan sorot mata tegas yang tidak menerima bantahan. Tangannya meraih jemari Nadira yang menahan dadanya, menggenggamnya erat.
"Dengerin gue baik-baik, Nadira," ujar Askara dengan suara rendah dan mantap. "Bulan depan umur lo resmi tiga puluh tahun. Gue gak akan biarin lo lari atau main-main lagi. Gue beneran bakal menagih janji pernikahan itu. Udah cukup lima tahun kemarin lo kelayapan sama cowok-cowok gak jelas yang cuma bisa bikin lo nangis."
Nadira menahan napasnya, lidahnya mendadak kelu melihat keseriusan mutlak dari mata sahabatnya itu.
"Gak ada toleransi lagi," tegas Askara tanpa ampun. "Lo milik gue, bulan depan."
Askara lalu memajukan wajahnya, berbisik tepat di samping telinga Nadira dengan nada menggodanya yang khas. "Satu lagi... hati-hati sama Gara. Anak magang berondong kesayangan lo itu cuma boneka yang dimainin sama Rebecca. Gara itu adik kandungnya Rebecca."
Mata Nadira membelalak lebar. "A-apa?! Gara adiknya Mbak Rebecca?!"
"Iya, Sayang," sahut Askara santai. "Rebecca itu dari dulu iri dan cemburu setengah mati sama lo. Dia sengaja numpangin adiknya di kantor lo cuma buat bikin lo dan gue makin kacau."
Nadira tertegun sejenak mencerna fakta tersebut, namun kepalanya yang cerdik dan penuh gengsi langsung mengalihkan fokus pada hal lain.
"Tunggu dulu!" tembak Nadira sambil menunjuk dada Askara sengit. "Gak usah ngalihin pembicaraan ya! Terus soal pertemuan lo sama Mbak Rebecca di restoran tadi gimana?! Pake pegang-pegang tangan segala! Gue lihat pake mata kepala gue sendiri!"
"Siapa yang pegang-pegangan?" sangkal Askara menyilangkan tangan. "Gue bahkan tarik tangan gue sebelum jari dia nyentuh kulit gue, Nad. Mata lo salah lihat."
"Gak! Gue gak salah lihat!" cerca Nadira manja, ngeyel, dan selalu merasa benar sendiri. "Pokoknya tadi pegang-pegangan! Tangan lo nempel sama tangan dia! Dasar cowok kegatelan!"
"Astaga, Nadira... tuduhan lo gak berdasar banget," ringis Askara memutar bola matanya pasrah, tahu betul jika Nadira sudah kumat mode ngeyelnya, logika tidak akan pernah menang.
Saat sedang menggebu-gebu meluapkan kejengkelannya, pandangan Nadira mendadak jatuh pada kotak cokelat di atas meja. Kotak kemasan elegan itu kini tampak penyok parah di bagian sudutnya akibat dipakai memukuli bahu Askara secara brutal tadi.
"Tuh kan! Tuh kan!" rengek Nadira mendadak berubah arah, menunjuk kotak cokelat itu dengan bibir cemberut maksimal. "Cokelat gue jadi penyok begini! Ini gara-gara lo ya, Ka! Cokelat mahal gue jadi gak estetik lagi!"
Askara melongo. "Lah? Yang pake kotak itu buat gebukin gue kan lo sendiri, Nadira! Kenapa jadi salah gue?!"
"Ya salah lo lah! Kenapa lo bikin gue emosi sampai gue gebuk pake cokelat?!" tuduh Nadira tanpa rasa dosa sedikit pun. "Pokoknya lo harus ganti rugi! Beliin gue yang baru dua kotak! Terus lo harus bayar ganti rugi atas ciuman paksa lo yang bikin bibir gue dower ini!"
Askara terkekeh geli, menatap wanita di hadapannya dengan tatapan luar biasa gemas. Ia memajukan tubuhnya, menatap bibir Nadira yang agak bengkak.
"Bayar ganti rugi?" ledek Askara dengan senyuman miring yang sangat menyebalkan. "Perasaan tadi pas ciuman kedua, ada yang nurut banget pas gue suruh buka mulut... Bahkan ada yang sempet ngebalas ciuman gue sebentar. Masih mau minta ganti rugi?"
DEG!
Ingatan saat dirinya patuh membuka mulut dan menikmati pagutan Askara mendadak melintas di kepala Nadira. Wajahnya membakar seketika.
"A-APAAN?! GAK ADA YA! GUE GAK BALAS!" jerit Nadira histeris untuk menutupi rasa malu yang luar biasa. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, hendak memukul dada Askara lagi. "GUE PUKUL LO YA—"
Sebelum pukulan itu mendarat, Askara bergerak lebih cepat. Tangannya melingkar sempurna di pinggang Nadira, menarik tubuh wanita itu mendekat dan memeluknya dengan sangat erat.
Wajah Nadira tenggelam di dada bidang Askara. Aroma parfum kayu dan mint khas Askara menyergap seluruh inderanya, menebarkan rasa aman dan hangat yang sangat ia rindukan.
"Lepas gak..." cicit Nadira pelan, memukul pelan punggung Askara tanpa tenaga.
"Gak mau," bisik Askara di atas kepala Nadira, mengelus rambut gelombang wanita itu dengan penuh kasih sayang. "Nangisnya udah kan? Cemburunya udah? Sekarang diem, biar gue peluk sebentar."
Nadira terdiam. Tangan yang tadinya hendak memukul perlahan merambat naik, menyentuh pinggang Askara dan membalas pelukan itu tipis-tipis. Di dalam dekapan hangat sahabatnya—calon suaminya—Nadira akhirnya menyerah pada perasaannya sendiri.
semangat terus thor...
/Heart/