Seorang gadis berusia menjelang 16 tahun, tinggal dan tumbuh di gunung sejak usianya 3 tahun. Tinggal bersama sng kakek, setelah kedua orang tua nya meninggal karena kecelakaan.
Qaisara Aulia Syahrizky, gadis yang memiliki 2 sahabat makhluk tak kasat mata. Memiliki banyak keahlian, menyembunyikan identitasnya.
Happy Reading All🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan tak Sengaja
"Gimana dok? Ibu saya sakit apa?" tanya Aulia, dengan wajah cemasnya
"Ibu nona hanya flu, mungkin karena belum terbiasa dengan perubahan cuaca di sini. Saya akan meresepkan vitamin, cukup jaga pola makan dan asupan saja." jawab dokter, Aulia menghembuskan nafas lega.
"Ibu kan sudah bilang, ibu ga papa. Kamu aja yang cemasnya berlebihan, nak." ucap bu Ulfa
"Ibu... namanya juga khawatir." balas Aulia
Meski dia bisa mengobati ibu Ulfa, tapi karena waktu yang mepet tadi pagi. Belum lagi, tadinya ia mau lihat-lihat ke sekolah. Makanya ia memutuskan untuk periksa ke dokter. Siapa sangka, ia juga tetap harus menunda rencana ke sekolahnya. Karena teman satu kelasnya, ingin belajar bersama di rumah.
Ga papalah ya ke dokter...
"Kalo gitu, terima kasih dok. Saya pamit.." ucap Aulia, sembari memeluk lengan bu Ulfa.
.
.
"Lah? Dhira ngilang kemana itu anak?" tanya Aulia, saat ia keluar ruang dokter
"Kantin mungkin nak" jawab bu Ulfa
"Bisa jadi sih bu, ya udah kita tebus obat dulu." bu Ulfa mengangguk, Aulia mengambil ponselnya. Ia melangkahkan kaki, sembari menghubungi Dhira.
"Dimana? Gue keluar, lu malah ngilang." tanya Aulia
'Hehehe... gue ada di depan rumah sakit Li, gue liat ada kang batagor di mari.' jawab Dhira
"Jangan jauh-jauh lu, takut ilang gue. Ntar si Arkan tantrum jadi maung gimana?" terdengar suara cekikikan dari sebrang
'Ngaco ih kamu mah, masa suami aku jadi maung. Ya udah, aku tunggu di sini aja ya. Masih setengah lagi ini..'
"Iya iya, gue mau ambil obat ibu dulu. Inget!!! Jangan kemana-mana!!!"
'Iyaaaaaa.' panggilan terputus
"Dimana?" tanya bu Ulfa
"Makan batagor bu di depan" bu Ulfa tertawa
"Ibu duduk di sini dulu, biar Aulia yang ke depan." bu Ulfa mengangguk, Aulia mengambil no antrian. Lalu kembali berjalan ke arah ibu Ulfa, ia duduk di samping bu Ulfa.
Saat Ulfa duduk, ternyata ada yang memperhatikan dia dari pintu masuk.
'Dia... gadis itu...' ucap seorang pria dalam hati
"Kenapa lu berenti di sini, Fis?" tanya Dzaki
"Gue liat penolong gue, waktu gue luka di hutan dulu." jawab Hafis
"Benarkah? Mana?" tanya Dzaki celingukan
"Itu, yang duduk sama... ibunya mungkin." jawab Hafis, seraya menunjuk Aulia. Aulia yang merasa sedang di perhatikan, langsung menatap ke arah Hafis.
GLEK
Keduanya terkejut, tak menyangka bila gadis itu sangat peka. Susah payah, mereka menelan salivanya. Aulia mengerutkan dahi, karena tak mengenal dua pria itu. Karena di tempat umum, ia pun tak peduli.
'Mungkin memang pernah bertemu' ucap Aulia dalam hati
Nomor antrian dia di panggil, Aulia segera berdiri dan mengambil obat ibu Ulfa. Aulia mengajak bu Ulfa untuk pulang, saat melewati kedua pria yang tengah memperhatikannya. Aulia menatap mereka, dengan tatapan tajam.
DEG
Begitu Aulia lewat, Dzaki menghembuskan nafas lega.
"Gilaaa... auranya kek lu, Fis. Aura mau bunuh orang, sadisss." ucap Dzaki, seraya melihat ke belakang.
"Bagaimana hasil penelitian obat, yang gue kasih ke lu? Apa mereka bisa memproduksi obat baru?" tanya Hafis, Dzaki menggelengkan kepalanya
"Bahan obat yang terdapat dalam obat itu, termasuk langka. Sulit untuk mendapatkan beberapa tanaman herbal, yang terkandung dalam obat tersebut." jawab Dzaki, Hafis menghembuskan nafas pelan.
Sepertinya, ia memang harus meminta tolong pada gadis itu. Tak lama senyuman Hafis terbit, membuat Dzaki merasa merinding.
'Akhirnya aku punya alasan, untuk bertemu kembali dengannya.' ucap Hafis dalam hati
"Cari informasi mengenai gadis tadi" titah Hafis
"Baik" mereka pun melanjutkan langkahnya
Tanpa mereka tau, takkan semudah itu mendapatkan informasi tentang Aulia.
.
"Waaahhh... rumah lu adem banget ya Li" ucap Arunika, Aulia hanya mengangguk dan tersenyum.
"Masuk yuk, maaf ya kalo agak sempit tempatnya." ucap Aulia
"Kenapa ga di luar aja Li, tempatnya luas itu. Gelar karpet aja di sana, pasti seru." saran Emir
"Kalo yang lain setuju, ya ayo." jawab Aulia
"BOLEH LI" jawab yang lain, Aulia mengangguk. Dia pun ke belakang menemui bapak Amir, untuk di bawakan karpet. Karena akan belajar di halaman depan, kalo di pikir iya juga sih. Sirkulasi udara di luar, lebih baik dari pada di dalam karena sempit.
Setelah gelar karpet, teman sekelas Aulia mencari tempat yang nyaman. Dan..
BRUGH
BRUGH
BRUGH
"WHAT?!" teriak Aulia kaget
"Kalian mau belajar, apa mau piknik?" tanya nya, karena teman-temannya mengeluarkan segala cemilan dan minuman di tengah.
"Yaaa... sambil menyelam minum kopi susu, Li." jawab Faiz
"Bercanda kalian, becanda banget kalian." ucap Aulia tertawa, ia mengambil salah satu bungkusan. Teman sekelasnya ikut tertawa, mereka mengeluarkan buku masing-masing.
"Ya udah kita mulai, di antara materi yang udah di pelajari. Mana yang ga kalian paham?" tanya Aulia, mereka pun bertanya satu per satu. Dengan pelan dan ringkas, Aulia menjelaskan pada teman-temannya. Cara Aulia menjelaskan, juga memberi contoh soal. Lebih ringkas dan lebih mudah di pahami, membuat mereka cepat mengerti. Gegas mereka mengerjakan soal-soal, yang di buat oleh Aulia.
Satu jam terasa hening, karena mereka sibuk dengan soal mereka masing-masing. Setelah selesai, mereka menunjukkan nya pada Aulia.
"Bagus, kalian cepet paham. Kalo udah gini, besok ga usah kali belajar di jam istirahat am pulang." ucap Aulia
"Ga bisa gitu dong Li, enak aja." protes Danish
"Kalo bisa mah, tiap pulang sekolah. Kita bahas ulang, materi yang udah di pelajari." sambung Alwi
"Enak banget lu pada, bukannya kalian juga les kan?" ucap Aulia
"Les sih les, Li. Tapi lebih masuk lu yang jelasin, di banding guru privat gue. Kalo perlu, lu aja yang gue bayar jadi guru les. Gimana?" jawab Iqbal
"SETUJUUUU" jawab yang lain
"Eiii... eh, tapi boleh juga. Tapi gue ga minta di bayar duit ke gue, gue cuma mau lu pada donasi ma program gue." balas Aulia
"Program apaan?" tanya Celine
"Jadi gue tuh rencana mau adain Food truck, bla bla bla...." Aulia menjelaskan rencananya, yang pernah ia ceritakan pada Danish. Daripada duit anak-anak orang kaya di sekitarnya, habis buat hal yang ga guna. Ia rasa, ga ada salahnya mengajak mereka buat donasi di program yang ia rencanakan.
Lebih bermanfaat, dapat pahala juga.
"Wahh... boleh tuh, gue setuju ma usulan lu." ucap Alwi
"Perusahaan bokap gue produksi mobil, gue bisa sediain beberapa truck Li. Lu butuh berapa?" ucap Zeora
"Wiiihhh bandar mobil nih, boleh.. buat pertama gue butuh 2 atau 3 aja dulu, kalo lancar. Baru deh nambah, gimana?" Zeora mengangguk, ia langsung menghubungi sang ayah.
"Nyokap gue punya perkebunan Li, sayuran dan buah. Bahan pokok bisa dari gue" ucap Celine
"Bokap gue ada peternakan sapi ma kambing, gue bisa kirim daging nya." sambung Iqbal
"Bokap gue juragan ayam ma bebek"
"Gue ga mau gratisan juga, butuh pemasok dan diskon. Nanti gue bikin kontraknya, biar jelas tuh ke depannya kek mana." ucap Aulia
"OKE LI"
"Huft..."
"Ngapa lu?"
...****************...
Jangan lupa jadiin favorit, kasih like, komen, gift dan vote nya yaaaaa....
Akhrnyaaa....kjhtn mreka trbongkar jg...siap2 msuk pnjra,abs tu mngkn bkln pndh alam
...😡😡😡
obu Yumi Narendra
ibu Laras Bintang
Zara
neng Aulia siapa nih pasangannya ..ditunggu ya teh
wahh si Aul jadi pujaan banyak orang inimahh 🤭
paman mana paman thor😄😄
tambah thor🤭💪😄