Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Aldo meletakkan mangkuk itu dengan gerakan penuh hormat di depan ketiga juri lalu mundur satu langkah ke belakang.
"Ini Pindang Serani Bandeng Cabut Duri ala pesisir Jawa, Chef," ucap Aldo memperkenalkan hidangannya dengan singkat dan sangat jelas.
Ketiga juri langsung menatap lekat ke arah potongan fillet bandeng utuh yang berendam damai di dalam kuah kuning bening tersebut.
"Daging ikanmu sangat utuh dan bentuknya melengkung indah saat direbus, ini pertanda kau mefilletnya dengan sayatan yang sangat tepat," puji Chef Renata di awal penjurian.
Chef Arya mengambil garpu dan sendok bebek lalu mulai membedah daging putih bandeng milik Aldo tanpa ragu.
Dia menekan setiap daging lembut tersebut dari ujung ekor hingga ke bagian perut yang dipenuhi lemak tebal.
Semua peserta di belakang menahan nafas mereka menanti bunyi benturan duri mematikan seperti yang dialami Kevin dan Leo tadi.
Namun setelah membedah seluruh bagian ikan secara brutal selama satu menit penuh, Chef Arya sama sekali tidak menemukan satu duri pun.
"Tidak ada satu pun duri yang tertinggal di sini, baik yang utuh bercabang maupun yang patah setengah," ucap Chef Arya memecah keheningan galeri yang mencekam.
Mendengar hal itu Rina yang berdiri di belakang langsung menghela nafas lega dan tersenyum bangga menatap punggung tegap Aldo.
Chef Bram ikut maju satu langkah dan mulai menyuapkan kuah pindang bening beserta sepotong daging bandeng itu ke dalam mulutnya.
Slurp.
Chef Bram mengunyahnya secara perlahan dengan mata terpejam untuk menikmati setiap lapisan bumbu yang meledak di permukaan lidahnya.
Glek.
"Kuahnya sangat brilian Aldo, rasa asam tajam dari belimbing wuluh dan sensasi pedas dari cabai rawitnya benar benar menyegarkan kerongkongan."
"Lalu bau tanah khas ikan bandeng yang biasanya sangat menyebalkan itu hilang tak bersisa dibilas oleh kuah pindang emas ini," puji Chef Bram membuka matanya kembali.
Chef Renata menyendok bagian perut ikan bandeng yang merupakan bagian paling gurih namun berisiko sangat rapuh.
Nyam.
"Tekstur lemak perutnya lumer di mulut tanpa ada gangguan tusukan duri sama sekali, ini persis seperti memakan mentega leleh yang gurih."
"Kau benar benar berhasil mengangkat derajat ikan murah ini menjadi hidangan kelas atas tanpa merusak identitas tradisional aslinya," tambah Chef Renata tersenyum sangat manis kepada Aldo.
Kini tibalah giliran Chef Arya yang mencicipi mahakarya buatan sang koki jalanan tersebut dengan wajah datarnya yang tidak bisa ditebak.
Dia memakan potongan daging yang paling tebal dan mengunyahnya dengan gerakan rahang yang sangat konstan dan perlahan.
Tidak ada komentar apapun yang keluar dari mulut Chef Arya selama beberapa saat yang terasa seperti selamanya bagi para peserta.
Dia akhirnya meletakkan sendoknya kembali ke dalam mangkok dan menatap tajam langsung ke dalam kornea mata Aldo.
"Saat kau memilih ikan bandeng di ruang pantry tadi, aku tahu kau sedang merencanakan sebuah jebakan pembantaian massal untuk peserta lain."
"Kau sengaja menggunakan ikan penuh duri ini sebagai senjata tajam untuk menyingkirkan mereka yang lemah dalam teknik pisau dasar dan kesabaran."
Mendengar ucapan blak blakan dari Chef Arya tersebut, Kevin langsung menatap Aldo dengan mata melotot karena baru menyadari dia masuk ke dalam perangkap kotor.
"Tapi aku sama sekali tidak menyangka kau bisa mengeksekusi senjata makan tuanmu sendiri dengan sesempurna ini Aldo," lanjut Chef Arya memecah ketegangan.
"Kau menguasai teknik mencabut duri halus dengan mata tertutup seolah kau sudah melakukannya ribuan kali di dapur yang gelap."
"Dan kedalaman rasa masakanmu ini adalah rasa sejati dari seorang koki kepala yang sudah memimpin dapur restoran selama puluhan tahun."
"Aldo Raditya, hidangan Pindang Serani ini adalah hidangan paling sempurna tanpa cela yang pernah kucicipi di galeri musim ini."
Pujian tertinggi dan terpanjang dari juri paling kejam itu membuat seluruh sudut galeri terdiam dalam rasa kagum yang absolut.
Beberapa peserta amatir yang tadinya meremehkan Aldo bahkan spontan bertepuk tangan pelan mengakui kekalahan telak mereka hari ini.
Aldo menundukkan kepalanya dalam dalam menyembunyikan rasa haru dan bangga luar biasa yang membuncah keras di rongga dadanya.
"Terima kasih banyak atas pujiannya para Chef, saya hanya menerapkan dan menghormati ilmu yang diajarkan almarhum ibu saya sejak kecil," jawab Aldo tulus dan rendah hati.
"Ibumu pasti menangis bahagia melihatmu berdiri tegap di podium ini hari ini Aldo," ucap Chef Renata dengan suara yang sedikit bergetar lembut.
"Silakan naik ke atas balkon keselamatan sekarang juga, posisimu sangat amat aman untuk hari ini," perintah Chef Bram menunjuk ke arah tangga atas.
Aldo membungkukkan badannya sekali lagi untuk memberikan hormat lalu berbalik berjalan santai menuju tangga balkon.
Saat dia berjalan melewati Kevin yang sedang tertunduk memalukan memakai celemek hitam, Aldo menoleh sedikit ke arah kiri.
Dia memberikan sebuah senyum tipis yang sangat meremehkan ke arah wajah pemuda yang hancur gengsinya tersebut.
"Selamat bersenang senang memasak di neraka nanti malam Tuan Muda," bisik Aldo sangat pelan tepat saat tubuh mereka berpapasan di lorong.
Kevin menggeretakkan giginya hingga terdengar bunyi gemeletuk kencang namun dia tidak bisa membalas ucapan itu dengan sepatah kata pun.
Harga dirinya sebagai koki elit sudah hancur lebur diremukkan oleh taktik brilian pemuda miskin yang selama ini dia panggil gembel jalanan.
Aldo menaiki anak tangga dan berdiri tegak di atas balkon keselamatan menatap ke bawah seperti seorang jenderal yang baru saja memenangkan peperangan besar.
Tidak lama kemudian, Rina juga dipanggil ke depan karena ternyata dia berhasil mencabut duri dengan sangat bersih meski tekstur dagingnya agak sedikit hancur.
Rina dinyatakan lolos dari eliminasi dan langsung berlari riang menyusul Aldo ke atas balkon dengan senyum yang mengembang sangat lebar.
"Kau memang jenius yang mengerikan Aldo, strategi licik bandengmu benar benar menyapu bersih orang orang sombong di bawah sana," bisik Rina tertawa kecil saat berdiri di sebelah Aldo.
"Itu hanya pelajaran kecil yang keras agar mereka tahu cara menghargai bahan makanan lokal kita Rina," jawab Aldo santai sambil bersandar di pagar besi.
Di bawah sana Chef Arya kembali berbicara menggunakan pengeras suara untuk mengakhiri sesi siang yang penuh air mata itu.
"Delapan orang dari kalian yang memakai celemek hitam akan bertarung dalam Pressure Test mematikan malam ini juga."
"Siapkan mental baja dan fisik terbaik kalian, karena tantangan malam ini akan jauh lebih mematikan dari sekadar mencabut duri ikan bandeng."
Galeri pun ditutup sementara dan para peserta dipersilakan kembali ke ruang tunggu asrama untuk makan dan beristirahat sejenak.
Pertarungan sesungguhnya belumlah usai, dan Aldo tahu pasti bahwa Kevin akan bertarung mati matian seperti hewan buas yang terluka pada malam nanti.
makasi crazy up nya