Alina Putri Jayashree merupakan seorang anak perempuan yang berasal dari kota Bogor. Saat ini, ia berusia 23 tahun. Ia berhasil mencapai mimpinya untuk memiliki sebuah toko buku.
Bayu Rafardhan adalah seorang anak laki laki berusia 26 tahun ini sangat menyayangi keluarganya. Ayahnya bernama Lukman baru saja meninggal dan sekarang ia tinggal bersama Bunda yang bernama Indri di Jakarta. Sebelumnya, merantau di Bandung karena pekerjaan. Namun, ia memutuskan untuk resign dan mencari pekerjaan di Jakarta agar bisa menjaga dan merawat Bunda.
Siapa sangka, niat Bayu untuk bekerja di Jakarta membuatnya dekat dengan kembali dengan masa lalu tetapi dengan versi yang berbeda. Kisah cinta tak terduga pun terjadi tidak sesuai ekspektasi, inilah yang di alami Bayu dan Alina beserta para sahabatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
"Eh, Alina maaf ya, aku nggak bisa ikutan makan malam bersama. Karena ada urusan mendadak" kata Farhan.
"Oh iya, nggak apa - apa. Terima kasih ya, sudah nolongin aku"
"Oke, titip salam buat Ibu. Bay, saya pulang duluan ya" Kata Farhan menoleh ke arah Alina, lalu beralih menatap Bayu.
"Oke, Bro" Kata Bayu seraya menepuk pundak Farhan.
"Alina, aku boleh nanya sesuatu nggak?"
"Boleh, mau tanya apa?"
"Bagaimana perasaan kamu terhadap Farhan?"
Deg
"Rahasia dong" Jawab Alina sambil tersenyum. "Itu teh nya, silakan di minum"
"Terima kasih ya, kamu tadi sudah melindungi aku dari amarah warga" ucap Alina, Bayu pun mengangguk dan tersenyum.
"Mengenai yang semalam..." Bayu berhenti berbicara ketika melihat raut wajah Alina berubah menjadi datar. Lalu, Bayu memutuskan untuk tetap melanjutkan ucapannya, ia khawatir tidak akan memiliki kesempatan kembali. Sebelumnya, ia menoleh ke sana ke mari memastikan tidak ada orang lain. "Maaf, kalau aku melewati batasan. Bahkan, karena sikap aku ini, kamu harus mengalami banyak masalah" ucap Bayu melihat sekilas ke arah Alina. Belum juga Alina menjawab, tiba - tiba Ibu datang menghampiri mereka untuk mengajak pindah ke meja makan.
"Kamu kok bisa ada di rumah Alina, Bay? Kamu nyusul ke sana?" kata Bunda.
"Aku nyusul Bun, itu pun dadakan."
"Yah, kamu. Kok Bunda nggak di ajak, pokoknya kapan - kapan kamu harus ajak Bunda ke sana"
"Hehehe... Iya, Bunda"
"Mana, coba Bunda pengen ngobrol sama Alina."
"Nanti aja Bun" Jawab Bayu, ia menoleh ke arah Alina begitu pun sebaliknya.
"Ih, emang kenapa? Ada yang kamu sembunyikan ya?" tanya Bunda curiga. Alina pun memberikan isyarat kepada Bayu untuk memberikan handphone-nya.
"Ini, Bun. Aku kasih handphone-nya ke Alina"
"Kamu nggak di apa - apain kan, sama Bayu?"
"Nggak, Tante. Aman kok"
"Nggak apa - apa sayang, jangan takut bilang aja sama Tante"
"Benar kok, Tan"
"Bayu, kamu ngapain Alina!"
"Aku nggak melakukan hal yang menyakiti dia kok, Bun"
"Bohong, itu kenapa mata Alina pada bengkak gitu? Dia nangis karena kamu ya? Ish, Awas aja kamu, kalau ngapa - ngapain bestie Bunda!" Bunda pun ngomong dengan panjang lebar, hingga Bayu pun tidak memiliki kesempatan untuk menjawab. Akhirnya, Alina menjelaskan kepada Bunda, bahwa ia sedang ada masalah justru Bayu adalah orang yang menyelamatkan Alina. Bunda pun tersenyum senang ketika mendengar bahwa Bayu telah melindungi Alina, yaitu sosok wanita yang sangat ia dambakan suatu hari nanti akan menjadi menantunya. Bunda juga mengobrol dengan Ibunya Alina, "baru bertemu secara virtual melalui panggilan video saja sudah akrab begini, berasa lihat duo calon besan" ucap Bayu dalam batinnya, tanpa Bayu sadari ia tersenyum lebar. Semakin lama semakin serius, Ibu membawa handphone Bayu pergi menjauh karena obrolan antara Ibu dan Bunda sangat privasi. Alina yang melihat kepergian Ibunya pun, seketika menoleh ke Bayu. "Maaf ya, Ibu kayaknya bawa handphone kamu ke kamar. Sebentar ya, aku ambil dulu" kata Alina mulai beranjak dari tempat duduknya. Bayu berkata, "Jangan, biarkan saja, sepertinya Bunda sangat ingin mengobrol mengenai banyak hal dengan Ibu"
"Oke, kalau gitu kita makan duluan aja"
"setuju, kok dikit banget, tambah lagi dong"
"Eh iya, boleh" Alina akan menambahkan nasi goreng ke piring Bayu tetapi justru Bayu berkata, "Buat kamu, bukan aku" jawab Bayu sambil tersenyum.
"Ups, hehehe.... Aku nggak makan sebanyak ini Bayu"
"Anggap saja itu tambahan makan siang tadi yang terlewat"
Alina menghela nafas dengan panjang "Huft, astaghfirullah...." Alina pun menurut begitu saja agar tidak berdebat dengan Bayu. Sebetulnya, nasi goreng yang ada piring Alina ditambah dengan yang akan dia tuangkan ke piringnya itu masih pas dan tidak berlebihan. Hanya saja, porsi makan Alina memang sedikit. Di tambah lagi ada masalah, makin nggak mood untuk makan.
Ibu sedang berada di kamar karena Bunda masih asyik membicarakan mengenai Alina dengan Bayu. Bunda merasa Bayu dan Alina telah menyembunyikan sesuatu darinya. Ibu awalnya ragu, apakah harus memberitahukan hal ini atau tidak. Daripada disembunyikan lebih baik kasih tahu saja. Justru apabila informasi ini Bunda dapatkan dari orang lain itu akan sangat tidak baik, begitulah yang Ibu pikirkan. Lalu, Ibu mengatakan sebelumnya memang ada masalah, tapi sekarang masalah itu baru saja selesai. Ibu juga menjelaskan tentang kejadian yang mengalami Bayu dan Alina. Bunda sangat tidak menyangka, anaknya ternyata menyembunyikan masalah sebesar ini darinya. "Entah masalah apa lagi yang ia sembunyikan dariku" ucap Bunda dalam batinnya. Bunda pun mengucapkan terima kasih kepada Ibu, karena informasi ini sangat berarti baginya.
"Ibu!" Alina memanggil Ibu, panggilan video pun berakhir. Ibu bergegas menuju meja makan dan segera mengembalikan handphone Bayu. Ternyata, Alina memanggil Ibu karena Bayu akan pergi pulang. Ibu meminta maaf kepada Bayu karena terlalu lama menggunakan handphone-nya. Bayu pun mengatakan, bahwa ia tidak keberatan dengan hal ini. Justru ia sangat senang, jika Ibu bisa lebih dekat dengan Bunda. Bayu berpamitan dengan Ibu, ia juga berpesan kepada Ibu untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu. Sebelumnya, Bayu menoleh sekilas ke arah Alina yang sedang menunduk karena canggung, "tolong jaga diri kamu baik - baik" ucap Bayu dengan lemah lembut, lalu Ibu mengantarkan Bayu ke depan pintu rumah. Setelah itu, Ibu kembali menghampiri Alina yang sedang mencuci piring. Lalu, Ibu mengatakan kepada Alina bahwa Bayu adalah anak yang baik, suatu hari nanti ia ingin mendapatkan menantu seperti Bayu. Alina yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis, "tapi sayangnya, Bayu bukanlah calon suami idaman aku. Perasaan cinta ini sudah aku simpan untuk orang lain, Bu" ucap Alina dalam batinnya.
...----------------...
"Wah, kamu lucu banget sih!" Kata Fara sambil mencubit pelan pipi anak perempuan itu.
"Ish, jangan dong nanti dia nangis" Kata Sarina.
"Tenang aja kak, aku pake kasih sayang kok, hehehe...."
"Halah, kamu ini. Eh, terima kasih ya Fara, udah main ke sini. Nginep aja, nggak usah pulang. Aku cuma berdua sama Maira."
"Lah, emang suami kemana kak?"
"Hmm, katanya sih lembur malam ini, besok pagi baru pulang" kata Sarina.
Tiba - tiba handphone Sarina berdering, Fara yang melihat siapa pemilik nama di layar handphone itu pun berdehem beberapa kali untuk menggoda Sarina. Fara mendapatkan isyarat dari Sarina untuk diam sebentar dan tidak berisik.