Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suara dering nyaring dari ponsel Tiyas di atas meja nakas memecah keheningan kamar.
Narendra perlahan membuka matanya. Ia melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Tanpa membangunkan Tiyas yang masih tertidur pulas di balik guling pembatas, Narendra meraih ponsel tersebut dan melihat nama Imelda tertera di layarnya.
Ia menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai itu di telinganya.
"Halo, Tiyas!" sapa suara di seberang sana dengan riang.
"Halo, Imelda. Ini aku, Naren," balas Narendra dengan suara berat khas bangun tidur namun tetap tenang.
"Naren? Kok ponsel Tiyas di kamu?" tanya Imelda kaget.
"Tiyas sakit. Semalam setelah pulang dari rumah sakit, Tiyas pingsan lagi dan demam tinggi," jelas Narendra singkat namun jujur.
"A-apa?! Aduh, Naren, aku ke sana sekarang!" seru Imelda panik sebelum panggilan terputus.
Narendra menggelengkan kepala pelan lalu menutup ponsel Tiyas dan meletakkannya kembali.
Ia beralih menyentuh kain kompres di kening Tiyas yang sudah mengering.
Narendra menempelkan punggung tangannya dengan lembut di leher dan kening Tiyas. Suhu tubuh wanita itu kini sudah jauh lebih stabil.
"Alhamdulillah, demammu sudah turun," gumam Narendra berbisik lega.
Melihat Tiyas masih terlelap nyaman, Narendra bangkit dari tempat tidur perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Ia membawa mangkuk bekas kompres dan kainnya turun ke lantai bawah.
Narendra mencuci kain kompres hingga bersih di wastafel dapur.
Tak berhenti di situ, pria itu kemudian merapikan area ruang tamu dan dapur, menyapu sisa-sisa debu halus, serta memastikan kondisi rumah baru Tiyas bersih dan rapi.
Setelah menyelesaikan tugas-tugas kecil itu, Narendra mengambil pakaian ganti dari tas jalannya dan membersihkan diri di kamar mandi lantai bawah.
Narendra keluar dari kamar mandi lantai bawah dengan pakaian yang sudah segar dan rambut yang masih sedikit basah.
Tepat saat ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, bel pintu depan berbunyi.
Saat Narendra membukanya, berdiri Imelda di ambang pintu bersama kekasihnya, Robby.
Tangan Robby tampak penuh membawa beberapa kantong makanan.
"Di mana dia, Naren?" tanya Imelda cepat dengan raut wajah panik dan khawatir.
"Dia masih tidur di atas, Im. Demamnya baru turun tadi pagi," jawab Narendra tenang seraya memberi jalan bagi mereka untuk masuk.
Melihat meja makan kosong karena para pelayan memang sedang diliburkan oleh Tiyas, Imelda langsung mengambil alih.
"Rob, tolong taruh semua makanan ini di dapur ya. Ada pizza, bubur ayam, sama nasi kuning. Biar nanti Tiyas tinggal pilih mau makan apa pas bangun."
Robby mengangguk paham dan membawa belanjaan tersebut ke dapur.
Setelah itu, Imelda dan Narendra melangkah naik menaiki tangga menuju lantai atas.
Dengan perlahan, Imelda menggeser pintu kamar Tiyas yang sedikit terbuka.
Di atas peraduan, ia melihat sahabat baiknya itu masih tertidur pulas dengan wajah yang pucat, terbebas sejenak dari beban berat yang selama ini mengimpitnya.
Imelda menatap Tiyas dengan mata memerah menahan haru, lalu beralih menatap Narendra yang berdiri di sampingnya.
"Kasihan dia, Naren. Tubuhnya benar-benar tidak sanggup lagi menampung rasa sakit ini," bisik Imelda lirik.
Ia menghela napas panjang, menatap Narendra dengan tatapan penuh simpati mendalam.
"Dan jujur, aku juga sangat prihatin dengan kamu,"
Narendra menyandarkan bahunya di kuson pintu, menatap lurus ke arah Tiyas tanpa bersuara.
"Bagaimana bisa Mia dan Gio tega mengkhianati kalian berdua seperti ini?" lanjut Imelda dengan nada geram namun tertahan agar tidak membangunkan Tiyas.
"Kalian berdua orang-orang baik yang tulus. Tiyas membanting tulang mendukung Gio dari nol, dan kamu selalu memperlakukan Mia dengan sangat terhormat. Rencana mereka benar-benar biadab, Naren."
Narendra mengusap wajahnya kasar, lalu tersenyum tipis yang sarat akan ketegasan.
"Rasa sakitnya sudah lewat malam tadi, Im," sahut Narendra pelan namun mantap.
"Air mata kami sudah habis. Sekarang tinggal menunggu waktunya saja. Ketika Gio dan Mia pulang lima hari lagi, tidak ada lagi belas kasihan."
Kelopak mata Tiyas perlahan bergerak saat samar-samar pendengarannya menangkap suara bernada cemas yang sangat ia kenali.
Begitu matanya terbuka sempurna, sosok Imelda berdiri tak jauh di samping tempat tidurnya.
"Mel," bisik Tiyas lirih dengan suara serak khas bangun tidur.
Melihat Tiyas terbangun, Narendra dengan sigap mendekat.
Dengan cekatan dan lembut, ia menyusupkan tangannya ke belakang punggung Tiyas, membantunya untuk duduk bersandar pada kepala ranjang, lalu menyusun bantal di belakang tubuhnya agar terasa nyaman.
Tak lama kemudian, Robby melangkah masuk ke dalam kamar sambil membawa mangkuk berisi bubur ayam hangat yang masih beruap.
"Ini buburnya masih hangat," ucap Robby meletakkan mangkuk di atas meja nakas.
Imelda mengambil alih mangkuk tersebut, melirik ke arah Narendra yang tampak kelelahan setelah terjaga semalaman merawat Tiyas.
"Narendra, kamu juga harus sarapan. Di bawah ada nasi kuning sama pizza," tutur Imelda perhatian.
"Biar Tiyas aku yang suapin sekarang. Kamu butuh isi tenaga juga."
Narendra menatap Tiyas sejenak, memastikan kondisi wanita itu benar-benar aman bersama Imelda.
Tiyas menganggukkan kepala pelan sambil mengukir senyum tipis, memberi isyarat agar Narendra mengisi perutnya.
"Yuk, Ren, kita makan di bawah dulu," ajak Robby menepuk bahu Narendra.
Narendra mengangguk pasrah. "Baiklah, Im. Tolong titip Tiyas sebentar ya."
Robby dan Narendra pun melangkah keluar kamar menuju lantai bawah untuk sarapan, meninggalkan Imelda yang mulai menyuapkan sendok pertama bubur hangat ke mulut Tiyas dengan penuh kasih sayang seorang sahabat.
Imelda menghela napas pelan melihat sahabatnya menarik kepala menjauh dari sendok yang diulurkannya.
Tiyas menggelengkan kepalanya lemas dengan raut wajah menyerah.
"Pahit, Mel." bisik Tiyas lirih, menolak suapan kedua.
Imelda menurunkan mangkuk bubur ke pangkuannya.
Matanya menatap Tiyas tajam namun sarat akan rasa kasih dan keprihatinan yang mendalam. Ia meraih jemari Tiyas yang masih terasa dingin.
"Tiyas, dengarkan aku," tegas Imelda, suaranya tertahan namun penuh penekanan.
"Kamu harus makan. Sedikit demi sedikit yang penting ada makanan masuk. Bagaimana bisa kamu berdiri tegak menghadapi Gio dan meruntuhkan kesombongannya kalau tubuhmu sendiri rubuh seperti ini?"
Kalimat Imelda menembus kesadaran Tiyas. Mengingat wajah Gio dan Mia, Tiyas memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa kekuatan jiwanya, lalu mengangguk pelan.
Imelda tersenyum tipis dan kembali mengangkat sendoknya, menyuapi Tiyas dengan penuh kesabaran, suapan demi suapan pelan hingga beberapa sendok bubur hangat berhasil masuk ke perut Tiyas.
Sementara itu di lantai bawah, suasana terasa lebih tenang.
Di meja makan yang bersih, Narendra menikmati porsi nasi kuningnya bersama Robby.
Bau harum rempah dan gurihnya serundeng sedikit mengalihkan kepenatan yang menggelayuti pikiran Narendra sejak semalam.
Robby mengambil potongan telur iris ke piringnya lalu menatap Narendra.
"Bagaimana kondisi berkas dan bukti-bukti hukumnya, Ren? Semua sudah aman di tangan pengacara?"
Narendra mengunyah makanannya perlahan sebelum menjawab.
"Semua sudah terkumpul rapi, Rob. Mulai dari bukti transfer, rekaman pembicaraan di vila Lembang dari Wildan, sampai berkas kepemilikan aset Tiyas yang asli. Pengacara tinggal menunggu sinyal dari kami begitu Gio dan Mia tiba di rumah."
Robby mengangguk-angguk penuh kekaguman atas ketenangan dan perhitungan matang Narendra.
"Baguslah. Pria sialan seperti Gio dan perempuan tanpa tahu malu seperti Mia memang harus diberi pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup."
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘