Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Garis Baru dan Pertemuan Pertama
Waktu memiliki caranya sendiri untuk menyembuhkan luka dan mengubah kebiasaan. Enam bulan berlalu sejak sore berhias hujan di teras Masjid Besar kala itu.
Bagi Kiara, enam bulan kemarin adalah masa-masa di mana ia belajar mengeja kembali arti kenyamanan tanpa harus menggantungkan harapan pada siapa pun. Menata hatinya untuk membuka lembaran baru dan cerita baru d masa depan.,.
Pagi itu, di salah satu aula hotel kota tempat digelarnya "Pelatihan Manajemen Sumber Daya Manusia" tingkat regional, Kiara duduk di barisan tengah. Penampilannya rapi dengan blazer warna pastel dan jilbab yang tertata manis. Sebagai perwakilan dari perusahaannya, Kiara begitu fokus mencatat materi yang disampaikan di depan layar proyektor.
"Permisi, kursi di sebelah kamu kosong?"
Sebuah suara pria yang ramah dan berwibawa memecah konsentrasi Kiara. Gadis itu menoleh dan mendapati seorang pria berusia akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan —mengenakan kemeja batik lengan panjang yang rapi—sedang tersenyum hangat padanya.
"Oh, iya, kosong. Silakan," jawab Kiara ramah sambil menggeser tas laptopnya.
Pria itu mendudukkan diri dengan sopan.
"Terima kasih. Saya Dimas, perwakilan dari Dinas Pelayanan Publik," ucapnya memperkenalkan diri seraya menangkupkan kedua tangan di dada.
"Kiara...," balasnya singkat dengan senyuman tipis.
Interaksi sederhana itu menjadi awal dari perkenalan mereka. Selama sesi diskusi kelompok, Dimas menunjukkan karakter yang sangat komunikatif, menghargai pendapat Kiara, dan tidak ragu melemparkan pujian yang tulus saat Kiara menyampaikan gagasan.
Berbeda dengan pria pendiam yang biasa berada di sekitar Kiara dulu, Dimas adalah sosok yang terbuka, tahu apa yang ia inginkan, dan memiliki kepastian dalam setiap kata-katanya.
Saat jam istirahat makan siang, Dimas bahkan tanpa canggung mengambilkan minuman tambahan untuk Kiara.
"Saya perhatikan dari tadi kamu cuma minum air mineral. Ini ada teh hangat, biar nggak kedinginan kerena dari pagi ada d ruangan ber-AC..."
Kiara sempat tertegun. Perhatian kecil yang begitu langsung dan tanpa benteng "nggak enak" terasa begitu asing, namun sekaligus menghangatkan hatinya.
Sementara itu, di Kelurahan Damai, Arga sedang duduk di balik meja kerjanya. Di hadapannya, sebuah layar ponsel menampilkan ruang obrolan WhatsApp yang bersih.
Nama ‘Kiara’ terpampang di sana. Sudah puluhan kali Arga mengetik kalimat seperti: “Ra, akhir pekan ini ada waktu?” atau “Ra, ibu menanyakan kamu,” namun setiap kali itu pula tombol hapus menjadi pilihan akhirnya.
"Masih belum dikirim juga?"
Daffa menyandarkan badannya di pintu kubikel kerja Arga. Sahabatnya yang juga merupakan gitaris band mereka itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Susah, Daf," bisik Arga serak.
"Aku bingung harus mulai dari mana." ucap Arga sedikit frustasi
"Ya mulai dari menyapa lah, Ga....! Masak mau langsung ajak kencan anak orang" sembur Daffa gemas.
"Aina kemarin cerita ke aku, Kiara sekarang sibuk banget sama proyek baru dan sering ikut seminar di luar. Kalau kamu cuma diam natap layar HP kayak gitu, ya nggak bakal ada perubahan. Coba datengin atau ajak jalan santai." usul Daffa
Arga menghela napas panjang. Saran Daffa akhirnya menembus benteng rasa takutnya.
Sore harinya, Arga memberanikan diri mengendarai motornya menuju area perbatasan Sukamaju—tempat sebuah toko buku langganan yang biasanya dikunjungi Kiara setiap akhir bulan.
Arga berdiri di dekat deretan rak buku fiksi, memegang sebuah buku asal-asalan hanya untuk menyamarkan tujuannya. Matanya jelalatan mencari sosok perempuan berjilbab lembut yang selalu mengisi pikirannya.
Dan benar saja, di lorong buku biografi, Kiara sedang berdiri merapikan beberapa catatan di buku agendanya.
Jantung Arga berdebar kencang. Ia merapikan kerah kemejanya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah mendekat.
"Kiara?" panggil Arga, berusaha membuat suaranya terdengar sealami mungkin.
Kiara menoleh. Binar terkejut sempat melintas di matanya, namun dengan cepat berganti menjadi ketenangan yang ramah.
"Eh, Arga... Lagi cari buku juga?"
"I-iya... ini sekadar jalan-jalan," jawab Arga kaku. Ia memindahkan posisi berdirinya, melangkah satu tapak lebih dekat—sebuah keberanian besar bagi Arga.
"Kamu... sendirian ke sini?"
"Tadi sendirian, tapi ini lagi nunggu teman," jawab Kiara santai, menyunggingkan senyum sopan.
Arga menelan ludah. "Ra, kalau setelah ini kamu senggang... mau makan mie ayam langganan kita dulu di dekat stasiun? Sudah lama kita nggak—"
"duuuh....maaf banget, Ga," ucap Kiara halus, memotong kalimat Arga sebelum pria itu selesai berbicara. Namun tidak ada raut kemarahan di wajah Kiara, hanya ketegasan yang tertata.
"Hari ini aku udah ada janji sama Mas Dimas. Dia udah di jalan mau jemput."
Mas Dimas?
Nama itu menghantam pendengaran Arga bagaikan petir di siang bolong. Tenggorokan Arga mendadak mengering.
"Mas... Dimas?"
Belum sempat Arga mencerna situasi tersebut, sebuah mobil sedan hitam berhenti di tepi jalan depan kaca toko buku. Seorang pria berkemeja batik keluar dari pintu kemudi, melambaikan tangan pelan ke arah Kiara dari balik kaca transparan toko.
"Nah, itu dia udah sampai," tutur Kiara sambil merapikan tasnya. Ia menatap Arga dengan senyuman perpisahan yang ramah.
"Aku duluan ya, Ga. Salam buat Ibu kamu."
Kiara melangkah berlalu, melewati Arga yang membeku di tempatnya.
Dari dalam toko buku, Arga memperhatikan bagaimana pria bernama Dimas itu membukakan pintu mobil untuk Kiara dengan sikap yang begitu sopan dan penuh perhatian. Kiara tersenyum, mengangguk terima kasih, lalu masuk ke dalam mobil tersebut sebelum kendaraan itu perlahan melaju menghilang di antara lalu lintas sore.
Arga menyandarkan punggungnya di rak kayu toko buku. Tangannya yang memegang buku bergetar hebat. Rasa penyesalan yang selama bertahun-tahun ia pendam kini meledak menjadi rasa sakit yang nyata.
Pria pendiam itu baru menyadari.... jika pintu yang dulu selalu terbuka lebar untuknya kini telah tertutup rapat, dan kunci pintu itu kini berada di tangan orang lain...