Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.
Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.
Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.
Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Kutukan Tulang Hitam
Ki Darmo mengangguk puas, mengelus jenggot putihnya yang tipis.
"Bagus. Saat kau menghancurkan bocah itu, aku akan mengawasi dari jauh."
"Kalau dia memang pewaris ilmu Tabib Dewa, aku yang akan memenggal kepalanya sebagai penutup dendam masa laluku."
Dua sosok dengan niat membunuh yang sama itu tertawa kejam di dalam gudang gelap tersebut, bersiap membawa pertumpahan darah ke lingkungan sekolah yang damai.
Jumat malam, kawasan Jalan Sudirman terlihat lebih sibuk dari biasanya.
Di depan ruko tiga lantai yang baru direnovasi itu, berjejer rapi beberapa karangan bunga ucapan selamat.
Tidak ada papan nama besar yang mencolok, hanya sebuah plakat emas kecil bertuliskan Klinik Medis Nirwana di samping pintu kaca.
Bayu memilih nama yang sederhana, namun dia memastikan hanya orang-orang berstatus tinggi di dunia bisnis yang bisa masuk ke tempat ini.
Malam ini adalah malam peresmian tertutup yang hanya dihadiri oleh segelintir orang.
Di ruang tunggu VIP lantai satu, Siska berdiri menyambut tamu dengan gaun malam berwarna hitam elegan yang membalut tubuh sintalnya dengan sempurna.
Siska terlihat sangat profesional, meskipun di balik gaunnya, tubuhnya terus-menerus bereaksi setiap kali mencium aroma Bayu dari ruangan sebelah.
Ting.
Pintu kaca terbuka, Pak Herman melangkah masuk dengan setelan jas rapi, diantar oleh dua pengawal pribadinya.
Ketua Yayasan itu terlihat sangat bugar, penyakit jantung yang bertahun-tahun menyiksanya seolah tidak pernah ada.
"Selamat malam, Nona Siska. Tempat yang sangat luar biasa untuk sebuah klinik medis," sapa Pak Herman ramah.
"Terima kasih, Pak Herman. Silakan duduk, Tuan Muda Bayu sedang bersiap di ruangannya," jawab Siska dengan senyum profesional.
Tak lama setelah itu, sebuah mobil Maybach mewah berhenti di depan klinik.
Pak Surya, konglomerat perkapalan yang beberapa hari lalu nyaris mati, melangkah keluar dari mobil dengan senyum yang sangat lebar.
Postur tubuhnya kini tegap, wajahnya berseri-seri, dan auranya kembali memancarkan dominasi seorang pria paruh baya yang sehat secara fisik maupun biologis.
"Siska! Ini dia wanita penyelamat hidupku!" seru Pak Surya dengan suara lantang, langsung menjabat tangan Siska dengan antusias.
Pak Herman yang melihat kedatangan Pak Surya sedikit terkejut.
Keduanya adalah raksasa bisnis di kota ini dan sering bersaing, namun malam ini mereka berada di bawah atap yang sama demi seorang anak SMA.
"Surya? Kau terlihat sangat sehat. Kudengar kau sudah membagi-bagikan warisanmu minggu lalu?" sindir Pak Herman sambil terkekeh.
Pak Surya tertawa keras, menepuk perutnya sendiri dengan bangga.
"Itu minggu lalu, Herman! Sekarang, aku bahkan bisa membuat sepuluh anak lagi kalau aku mau!"
"Pil dari Tabib Dewa ini benar-benar sebuah mukjizat yang turun dari langit!"
Siska tersenyum mendengar obrolan dua pria berkuasa itu.
Cklek.
Pintu ruang konsultasi VIP terbuka, dan Bayu melangkah keluar.
Bayu tidak mengenakan seragam sekolahnya, melainkan kemeja hitam polos berlengan panjang yang lengannya digulung hingga siku.
Penampilannya sangat sederhana, namun aura kepemimpinan dan dominasi mutlak yang memancar dari matanya membuat dua konglomerat itu langsung terdiam dan menunduk hormat.
"Selamat datang di Klinik Nirwana," sapa Bayu dengan nada tenang dan berwibawa.
"Terima kasih sudah menyempatkan hadir, Pak Herman, Pak Surya."
Pak Surya langsung melangkah maju, membungkukkan badannya sembilan puluh derajat di hadapan Bayu, sebuah pemandangan yang tidak masuk akal bagi dunia luar.
"Tuan Bayu, saya benar-benar berutang nyawa dan harga diri pada Anda."
"Pil Vitalitas itu... benar-benar bekerja di luar nalar medis mana pun," ucap Pak Surya dengan suara bergetar penuh rasa syukur.
Bayu mengangguk pelan, berjalan menuju sofa utama dan duduk di sana layaknya seorang raja yang sedang menerima upeti.
"Duduklah. Saya tidak suka basa-basi."
"Malam ini, saya hanya mengundang kalian berdua sebagai saksi dimulainya operasi klinik ini."
Bayu menoleh ke arah Siska dan memberikan isyarat dengan matanya.
Siska yang sudah sangat paham dengan bahasa tubuh Bayu, langsung mengambil sebuah kotak kayu berukir indah dari meja resepsionis dan meletakkannya di atas meja marmer.
Kotak itu dibuka, memperlihatkan sepuluh butir Pil Vitalitas Pemulih Energi yang memancarkan aroma herbal tingkat tinggi.
Napas Pak Surya langsung tersengal melihat pil-pil ajaib tersebut, matanya berbinar penuh nafsu.
Pak Herman juga menatap pil itu dengan rasa kagum, karena dia tahu betul kemampuan medis pemuda di depannya ini.
"Saya memiliki sepuluh butir pil untuk bulan ini," ucap Bayu santai.
"Pak Surya, Anda sudah membuktikan khasiatnya. Saya tahu Anda pasti sudah membocorkan rahasia ini pada rekan-rekan bisnis Anda."
Pak Surya menggaruk kepalanya yang sedikit botak sambil tertawa canggung.
"Maafkan saya, Tuan Bayu. Saya terlalu bahagia hingga keceplosan di grup golf para pengusaha elit."
"Mereka semua... orang-orang tua yang memiliki penyakit sama seperti saya... sekarang sedang gila mencari tahu siapa tabib yang menyembuhkan saya."
Bayu tersenyum miring, rencananya berjalan dengan sangat sempurna.
"Bagus. Itu jadi mempermudah pekerjaanku."
"Pil ini tidak akan saya jual secara bebas."
"Saya menunjuk Anda, Pak Surya, dan Anda, Pak Herman, sebagai perantara resmi untuk menyeleksi siapa saja yang layak membeli pil ini."
Mata kedua konglomerat itu melebar sempurna.
Ini bukan sekadar urusan jual beli obat.
Menjadi perantara tunggal untuk obat yang bisa mengembalikan nyawa dan kejantanan para elit sama saja dengan memegang tali kekang seluruh pengusaha di kota ini.
Kekuasaan politik dan bisnis yang akan mereka dapatkan dari posisi ini tidak ternilai harganya.
"Saya... saya akan melakukannya dengan nyawa saya sebagai jaminan, Tuan Bayu!" janji Pak Surya dengan suara lantang, langsung berlutut dengan satu kaki.
Pak Herman juga ikut mengangguk tegas, menyadari bahwa mengabdi pada Bayu adalah investasi paling menguntungkan sepanjang hidupnya.
"Harga pil ini sekarang naik menjadi tiga ratus juta rupiah per butir," lanjut Bayu dengan nada dingin yang tidak bisa dibantah.
"Enam puluh persen masuk ke rekening klinik, sisanya silakan kalian bagi berdua sebagai biaya operasional."
"Dan satu aturan yang paling penting, tidak ada seorang pun yang boleh tahu bahwa Tabib Dewa ini adalah seorang murid SMA."
Kedua pria tua itu mengangguk patuh secara serempak.
Malam itu, di dalam klinik mewah yang baru berdiri tersebut, sebuah aliansi bayangan paling menakutkan di dunia bisnis telah lahir.
Di bawah kendali mutlak seorang pemuda berusia delapan belas tahun, uang dan kekuasaan tertinggi di kota itu mulai berputar mengikuti kehendaknya.
Setelah dua konglomerat itu pulang dengan membawa kotak kayu berisi pil, klinik kembali menjadi sepi dan hening.
Siska mengunci pintu utama dan menutup tirai kaca bagian depan rapat-rapat.
Wanita bergaun malam hitam itu berjalan perlahan mendekati Bayu yang masih duduk bersandar di sofa kulit.
Napas Siska kembali memburu, hawa panas yang dia tahan sejak ada Pak Herman dan Pak Surya kini tidak bisa dibendung lagi.
Siska duduk menyamping di pangkuan Bayu, mengalungkan kedua lengannya di leher pemuda itu.
"Tamu kita sudah pulang semua, Sayang," bisik Siska dengan suara yang sangat menggoda.
"Kerjamu bagus hari ini, Siska," balas Bayu sambil mengelus punggung mulus wanita itu dari balik gaunnya yang terbuka di bagian belakang.
Siska memejamkan mata, wajahnya merona merah padam menikmati sentuhan tangan Bayu yang menyalurkan energi hangat ke dalam tubuhnya.
"Aku sudah tidak tahan sejak melihatmu keluar dari ruangan tadi, Bayu."
"Tolong hukum aku dengan keras di atas sofa ini sekarang juga," rintih Siska, membuang seluruh citranya sebagai CEO yang dingin.
Bayu tersenyum menyeringai, matanya memancarkan gairah yang menuntut penaklukan penuh.
Bibir mereka kembali bertemu dalam ciuman panas yang liar, menjadi penutup malam peresmian yang sempurna bagi kerajaan bisnis medis Bayu.