Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Misi Pertama
Matahari siang menyengat terik di atas wilayah Kerajaan Molten. Di dalam bar, Zass baru saja selesai merapikan beberapa meja kayu yang retak akibat gejolak Petir Ungu kemarin. Tubuhnya masih terasa sedikit pegal, namun energi di dalam dirinya terasa jauh lebih stabil.
Kring!
Lonceng pintu bar berdenting nyaring. Dua sosok pria yang dinanti-nanti akhirnya melangkah masuk. Ryu dan Ken berjalan mengikis jarak menuju meja utama dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah mereka. Di tangan kanan Ryu, tergenggam selembar kertas perkamen tebal bersegel resmi dari kantor pemerintahan kerajaan.
"Kami pulang!" seru Ryu seraya menepuk kertas perkamen itu ke atas meja bar di hadapan Robert, Okta, Kayla, dan Zass.
Okta yang sedang mengelap gelas langsung mendekat dengan mata berbinar. "Gimana? Misi apa yang kalian dapat dari istana?"
"Misi resmi pertama kita setelah Zass bergabung!" sahut Ken dengan antusias. "Mengingat Kerajaan Molten sedang menghemat anggaran, kantor pemerintahan memberikan misi khusus yang hadiahnya cukup lumayan untuk memperbaiki dinding bar kita yang retak."
Zass melangkah mendekat, memperhatikan kertas perkamen berselubung stempel merah tersebut. "Misi seperti apa?"
Robert mengambil kertas itu, membukanya perlahan, lalu membaca deretan tulisan tangan yang tertera di sana. Pria tua itu berdehem pelan sebelum mengangkat pandangannya menatap seluruh anggota party.
"Misi Tingkat B: Pembersihan Lembah Jurang Merah," ucap Robert membaca judul misi tersebut. "Di batas selatan Kerajaan Molten, sekelompok monster batu berselimut kerak lahar mengganggu jalur perdagangan para pedagang lokal. Tugas kita adalah membersihkan area lembah agar jalur distribusi bahan makanan kembali aman."
Kayla menepuk tangannya girang. "Akhirnya ada kerjaan juga! Monster batu lahar ya? Pas banget buat pemanasan Zass!"
"Tepat sekali," Ryu mengangguk setuju. "Monster batu memiliki daya tahan fisik yang sangat keras terhadap serangan pedang biasa. Tapi, energi listrik bisa menembus celah-celah batuan mereka dengan sangat mudah. Ini kesempatan bagus buat Zass mencoba mengendalikan Petir Ungu dalam pertarungan nyata."
Zass menatap jemari tangannya sendiri. Rasa gugup sempat melintas tipis di pikirannya, mengingat kemarin ia hampir menghancurkan bar saat membangkitkan elemen tersebut. Namun, melihat tatapan percaya dari Robert dan teman-teman satu timnya, tekad pemuda 17 tahun itu kembali mengeras.
"Baiklah. Aku siap," jawab Zass mantap.
Setelah mempersiapkan perbekalan dan senjata, kelima anggota party—Zass, Ryu, Ken, Okta, dan Kayla—segera bergerak menuju Lembah Jurang Merah yang terletak beberapa mil di luar batas kota. Robert memilih tinggal untuk menjaga bar sekaligus memantau perkembangan mereka dari jauh.
Perjalanan menempuh waktu sekitar dua jam menyusuri bukit-bukit gersang berciri khas tanah Kerajaan Molten. Begitu memasuki wilayah Lembah Jurang Merah, hawa panas membakar langsung menyergap kulit. Di dasar lembah yang curam, tampak beberapa monster batu raksasa berkulit hitam pekat dengan retakan berwarna merah menyala sedang berkeliaran, memblokir jalan setapak para pedagang.
"Ada sekitar delapan ekor Lava Golem di bawah sana," bisik Ken seraya mengamati dari atas tebing batu. "Okta, kau masuk duluan sebagai tank untuk mengalihkan perhatian mereka!"
"Siap!" Okta melompat dari tepi tebing. Saat mendarat di tanah dasar lembah, percikan Petir Biru yang tebal menyelimuti tubuhnya, membentuk perisai energi yang kokoh.
Brakkk!
Okta menghantamkan tinjunya ke tanah, memicu gelombang kejutan listrik biru yang memancing perhatian seluruh monster batu. Monster-monster itu meraung keras dan langsung bergerak mendekati Okta secara bersamaan.
"Sekarang! Kayla, Ken, Ryu, bergerak!" perintah Ken.
Kayla melompat dengan lincah dari batu ke batu. Dari jemari tangannya, ledakan Petir Merah menyembur deras seperti tombak berapi, menghantam tubuh salah satu monster hingga hancur berkeping-keping. Sementara itu, Ken dengan Petir Kuning-nya melesat sangat cepat bagaikan kilat, menebas persendian kaki monster-monster lainnya demi membatasi pergerakan mereka. Ryu menyusul dengan Petir Oren, mengeksekusi titik-titik lemah monster batu tersebut dari bayangan.
Zass terpana menyaksikan kerja sama tim di hadapannya. Meski tanpa kehadiran support atau marksman, kecepatan, kekuatan, dan koordinasi mereka sangat rapi. Setiap anggota saling melengkapi celah serangan satu sama lain.
"Zass! Giliranmu!" teriak Ryu dari bawah, menunjuk seekor monster batu berukuran paling besar yang baru saja muncul dari balik tebing—sang pimpinan monster!
Monster batu raksasa itu meraung melengking, mengangkat kedua tangannya yang besar untuk menghantam Okta yang sedang menahan serangan monster lain.
Zass menarik pedang besi peninggalan ayahnya yang terikat di pinggang. Ia melompat turun dari tebing, melayang di udara menuju arah sang pimpinan monster.
Di tengah udara, Zass memejamkan matanya sejenak. Ia memegang liontin belah ketupat warna ungu di dadanya, bukan lagi dengan rasa takut atau panik, melainkan dengan fokus penuh. Ia mengingat latihan dan nasihat Robert: Rasakan energinya, dan panggil dia keluar.
Zzzzt! Bzzzz!
Seketika, percikan Petir Ungu Legendaris menyala pekat melingkupi bilah pedang besi Zass. Arus listrik ungu itu tidak lagi liar meledak-ledak seperti kemarin, melainkan terfokus tajam membungkus seluruh mata pedangnya, memancarkan tekanan energi yang sangat intimidatif.
"Haaaah!"
Zass menebaskan pedangnya dengan sangat cepat saat hinggap di pundak monster batu raksasa tersebut.
Crazzzsh!
Bilah pedang yang teraliri Petir Ungu itu memotong kulit batu keras sang monster tanpa hambatan sama sekali—bagaikan pisau panas yang memotong mentega! Energi listrik ungu menembus hingga ke inti tubuh monster, memicu reaksi berantai yang membuat seluruh tubuh batu raksasa itu retak bercahaya ungu, sebelum akhirnya hancur lebur menjadi debu di tanah.
Darrr!
Ledakan energi ungu menyapu sisa-sisa monster di sekitarnya. Suasana lembah mendadak kembali hening.
Zass mendarat dengan mulus di tanah, berlutut sejenak seraya menancapkan pedangnya untuk menopang tubuh. Napasnya sedikit terengah-engah, namun kali ini ia tidak pingsan atau merasa sakit luar biasa. Ia berhasil mengendalikan dan menyalurkan Petir Ungu pada senjatanya!
Ryu, Ken, Okta, dan Kayla berlari mendekati Zass dengan wajah takjub.
"Luar biasa!" seru Okta sambil menepuk pundak Zass keras-keras. "Kau memotong Lava Golem raksasa itu cuma dalam satu tebasan?!"
"Petir Ungu memang benar-benar gila..." gumam Ken seraya menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. "Ketajamannya benar-benar menembus pertahanan terkeras sekalipun."
Kayla tersenyum lebar, mengacungkan jempolnya pada Zass. "Kerja bagus, Anggota Kelima! Misi pertama kita sukses besar tanpa ada satu pun dari kita yang terluka!"
Zass menyarungkan kembali pedangnya ke dalam sarung kayu di pinggang. Ia menatap telapak tangannya yang masih menyisakan pendar ungu tipis sebelum akhirnya perlahan memudar. Sebuah senyuman tipis—senyuman tulus pertama yang muncul setelah bertahun-tahun tenggelam dalam dinginnya takdir—terukir di wajah pemuda itu.
Ia telah menemukan tempatnya. Bersama party petualang ini, langkah awalnya untuk tumbuh menjadi sosok yang lebih kuat dan membuktikan dirinya kepada dunia telah resmi dimulai.