Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Setelah taruhan disepakati, suasana yang sempat memanas akhirnya mereda. Satu per satu anggota kembali ke tugas masing-masing.
Namun, Nina tidak langsung pergi.
Dia justru menghampiri Revan, lalu menarik lengannya ke sudut ruangan.
“Kak Revan, kamu sebenarnya kenapa sih belakangan ini?”
Nina menatapnya dengan wajah kesal sekaligus khawatir.
“Otakmu lagi bermasalah, ya? Itu Kasus Tangan Hilang, lho! Kasus yang terkenal banget di Jakarta. Kok kamu bisa seenaknya pasang taruhan begitu?”
“Kasus Tangan Hilang?” Revan mengangkat alis. “Memangnya kenapa?”
Nina sampai terdiam.
“Kamu serius?”
Revan mengangguk santai.
Dia kemudian mencoba mengingat kembali informasi tentang kasus tersebut.
Ingatan Revan kembali ke sekitar satu tahun lalu.
Saat itu dia masih berstatus penyelidik magang. Alih-alih ikut menangani perkara besar, dia malah ditempatkan sementara di laboratorium forensik untuk membantu menata peralatan baru.
Karena itu, dia memang tidak terlalu mengikuti perkembangan Kasus Tangan Hilang.
“Memangnya kenapa?” Revan kembali bertanya.
Nina menghela napas panjang.
“Banyak orang sampai kena masalah gara-gara kasus ini. Ada penyelidik yang dipindahkan, ada yang dicopot dari jabatannya. Kalau kasus ini gampang diselesaikan, mana mungkin sampai sekarang masih menjadi pekerjaan rumah unit kita?”
Revan akhirnya terdiam.
Sedikit demi sedikit, ingatannya kembali.
Sekitar akhir April tahun lalu, Jakarta memang pernah diguncang dua kasus mutilasi dengan pola yang sangat aneh.
Kedua korban sama-sama perempuan.
Dan yang membuat kasus tersebut mendapat julukan Kasus Tangan Hilang, tangan kanan masing-masing korban dipotong secara brutal.
Penyelidikan berjalan berbulan-bulan tanpa hasil.
Keluarga salah satu korban bahkan berkali-kali datang ke kantor polisi untuk mempertanyakan perkembangan perkara. Ketika media mulai memberitakannya secara besar-besaran, tekanan terhadap kepolisian semakin kuat.
Nama unit mereka ikut terseret.
Ketua tim yang menangani kasus tersebut akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya. Beberapa anggota tim juga dipindahkan.
Setelah itu, Pak Dedi ditunjuk untuk mengambil alih unit tersebut.
Namun sampai sekarang...
Kasusnya masih buntu.
Pelaku belum ditemukan.
Bukti yang mengarah kepada tersangka juga hampir tidak ada.
“Sekarang kamu ngerti?” Nina menatap Revan.
Revan belum sempat menjawab ketika Nina tiba-tiba membelalakkan mata.
“Atau jangan-jangan kamu memang pura-pura tidak tahu?”
“Pura-pura?”
“Pagi ini, sekitar pukul setengah enam, ada kejadian baru!”
“Apa?”
Revan langsung menoleh.
“Kasus yang sama terjadi lagi?”
“Iya!”
Nina mengangguk cepat.
“Di sekitar Jalan Gajah Mada. Korbannya ditemukan dalam kondisi yang hampir sama dengan dua korban sebelumnya.”
Revan akhirnya mengerti alasan rapat darurat pagi tadi.
“Pantas saja.”
Dia teringat saat datang ke kantor tadi pagi.
Suasana ruangan memang jauh lebih sepi daripada biasanya.
“Tapi...” Revan mengerutkan kening. “Kalau kejadian terakhir tahun lalu, kenapa baru muncul lagi sekarang?”
“Makanya semua orang panik.”
Nina menurunkan suaranya.
“Pak Dedi tadi sudah menjelaskan semuanya. Memang ada jeda hampir satu tahun, tetapi modusnya hampir identik. Kalau tidak ada faktor lain yang memengaruhi, kemungkinan besar pelakunya masih orang yang sama.”
“Menarik.”
Revan mengambil berkas perkara dari meja.
Dia membukanya dan membaca halaman pertama.
Korban terbaru adalah perempuan berusia tiga puluh enam tahun.
Statusnya ibu rumah tangga.
Suaminya merupakan pengusaha bahan bangunan dan tergolong cukup berada.
Menurut keterangan awal, korban baru saja pulang dari sebuah pesta. Saat berjalan menuju mobilnya, dia diduga diserang dari belakang.
Korban baru sadar keesokan paginya setelah ditemukan dalam kondisi lemah.
Tangan kanannya telah terpotong.
Namun ada satu hal yang aneh.
Pelaku ternyata tidak membiarkan korban begitu saja.
Setelah memotong tangannya, pelaku justru memberikan pertolongan pertama sederhana untuk menghentikan pendarahan.
Itulah sebabnya korban masih berhasil bertahan hidup.
Revan membalik halaman berikutnya.
Dua korban sebelumnya ternyata memiliki pola yang hampir sama.
Keduanya perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun.
Keduanya berasal dari keluarga berada.
Dan keduanya kehilangan tangan kanan.
Revan menggaruk kepalanya.
“Serius belum ada titik terang?”
Dia menatap foto-foto dan laporan penyelidikan.
“Di Jakarta kamera pengawas ada di mana-mana. Masa pelakunya sama sekali tidak terekam?”
Nina tertawa hambar.
“Justru itu masalahnya.”
Dia menunjuk beberapa halaman laporan.
“Tidak ada rekaman yang benar-benar menunjukkan wajah atau identitas pelaku. Kamera di sekitar lokasi memang ada, tapi selalu ada celah. Ada yang sudutnya terhalang, ada yang kualitas gambarnya buruk, ada juga kamera yang mengarah ke tempat lain.”
Nina menghela napas.
“Orang ini seperti tahu persis posisi kamera.”
Revan terdiam.
“Kalau aku sih...” Nina menyilangkan tangan di dada. “Simpan saja uangmu. Jangan berharap menang taruhan sama Pak Budi. Kasus ini sudah setahun lebih tidak terpecahkan. Kamu mau menyelesaikannya dalam seminggu?”
“Cih.”
Revan melirik Nina.
“Jangan meremehkan orang, dong. Tidak seru.”
“Aku bukan meremehkan kasusnya!”
Nina terlihat semakin cemas.
“Aku justru takut kamu yang tidak bisa menyelesaikannya!”
“Maksudmu?”
“Tadi syarat taruhanmu dengan Pak Budi jelas, kan?”
Nina mengerutkan kening.
“Kamu harus menyelesaikan kasus ini. Bukan sekadar membantu. Kalau Pak Dedi atau penyelidik lain yang lebih dulu menemukan pelakunya, kamu tetap kalah.”
“Hmm...”
Revan terdiam sejenak.
Lalu dia teringat sesuatu.
Sistem Keajaiban.
Entah sistem itu masih ada atau tidak, dia belum tahu.
Namun Revan tetap tersenyum percaya diri.
“Tidak usah khawatir.”
Dia melempar berkas ke atas meja.
“Siapa tahu besok kasusnya sudah selesai.”
Nina memandangnya seperti melihat orang gila.
“Besok?”
“Iya.”
Revan mengusap dagunya.
“Kalau menurut dugaan awal, jangan-jangan suami korban?”
“Suaminya?”
“Bisa saja.”
Revan memasang wajah serius.
“Korban mungkin terlalu boros menghabiskan uang suaminya. Suaminya kesal, lalu...”
Dia mengangkat tangan kanannya.
“Potong tangan biar istrinya kapok belanja.”
Nina terdiam.
Dua detik.
Tiga detik.
“Ya ampun...”
Dia memegang keningnya.
“Kak Revan, tolong jangan ikut menyelidiki kalau otakmu isinya begini.”
Setelah itu Nina kembali ke mejanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Sementara Revan hanya tertawa kecil.
Malam harinya, setelah kembali ke tempat kos, Revan justru tidak bisa tidur.
Dia berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
Satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.
Apakah Sistem Keajaiban itu masih ada?
Selama ini sistem tersebut sudah berkali-kali membantunya.
Tapi belakangan dia belum pernah benar-benar menggunakannya.
Bagaimana kalau sistem itu tiba-tiba menghilang?
Bagaimana kalau besok dia mencoba mengaktifkannya, tetapi tidak terjadi apa-apa?
Kalau itu benar-benar terjadi...
Berarti dia harus mengandalkan kemampuannya sendiri.
Masalahnya, dia sudah terlanjur membuat taruhan.
Revan menghela napas.
“Kasus Tangan Hilang...”
Dia mengambil berkas yang dibawanya pulang.
“Kenapa harus tangan kanan?”
Dia kembali membaca laporan dari awal.
“Dan kenapa semuanya perempuan?”
Semakin dibaca, semakin banyak pertanyaan muncul.
Pelaku jelas sangat berhati-hati.
Dari tiga kejadian, tidak ada satu pun kamera yang berhasil menangkap identitasnya dengan jelas.
Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan orang sembarangan.
Kemudian ada metode pemotongan.
Tangan kanan korban dipisahkan dari tubuh menggunakan senjata tajam.
Awalnya polisi menduga pelakunya seorang pria muda dengan kekuatan fisik yang cukup besar.
Namun hasil pemeriksaan forensik menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Potongannya sangat presisi.
Pelaku memanfaatkan bagian pergelangan tangan yang secara anatomi relatif lebih mudah dipisahkan dibandingkan bagian tubuh lainnya.
Artinya, pelaku tidak harus memiliki kekuatan luar biasa.
Dengan senjata yang tepat dan pemahaman mengenai anatomi tubuh, perempuan pun secara fisik tidak bisa langsung dikesampingkan sebagai pelaku.
Revan membalik halaman.
Lalu muncul pertanyaan berikutnya.
Kenapa semua korban berasal dari keluarga berada?
Dua kasus pertama terjadi dalam rentang hanya lima hari.
Setelah itu pelaku menghilang selama hampir satu tahun.
Kenapa?
Apakah pelaku sengaja menunggu?
Atau ada pola tertentu yang belum diketahui polisi?
Dan kalau pola tahun lalu terulang...
Apakah akan ada korban keempat dalam beberapa hari ke depan?
Revan semakin mengernyit.
“Kenapa tangan kanan?”
Dia menutup mata.
“Kenapa perempuan?”
“Kenapa orang kaya?”
“Dan kenapa satu tahun sekali?”
Terlalu banyak pertanyaan.
Namun tidak ada jawaban.
Revan terus membaca sampai akhirnya matanya terasa berat.
Meski sifatnya sering sembrono dan mulutnya kadang asal bicara, ketika sudah berhadapan dengan pekerjaan, Revan sangat serius.
Dia bukan tipe orang yang bisa tidur nyenyak kalau masih ada masalah yang belum selesai.
Sikap keras kepala itulah yang dulu membuatnya bisa berkembang cepat dan dipercaya menangani berbagai perkara.
Malam semakin larut.
Setelah berkali-kali membaca seluruh laporan, Revan akhirnya hafal hampir setiap detail.
Dia meletakkan berkas di samping bantal.
“Besok kita lihat siapa yang lebih cepat.”
Kelopak matanya perlahan tertutup.
Tidak lama kemudian, Revan tertidur.
Keesokan harinya, pukul enam pagi.
Pak Jaya sudah bersiap hendak pergi ke pasar untuk mengambil kiriman buah segar.
Dia sedang menyikat gigi ketika tiba-tiba terdengar suara batuk keras dari lantai atas.
“Uhuk... Uhuk...”
Pak Jaya langsung mengenali suara itu.
“Dia lagi?”
Dia mendongak kesal.
“Pantas saja batuk. Kebanyakan begadang.”
Pak Jaya berkumur.
“Biarin saja. Orang sombong.”
Namun belum sempat dia melanjutkan kegiatannya...
“WAAAAH!”
Teriakan keras tiba-tiba menggema dari lantai atas.
Pak Jaya sampai terkejut.
Pasta gigi yang ada di mulutnya nyaris saja tertelan, sementara sikat giginya jatuh tepat ke atas sandal.
“Apa-apaan itu?!”
Dia buru-buru mendongak.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara Revan dari lantai atas.
Kali ini bukan suara orang kesakitan.
Melainkan suara penuh kegembiraan.
“Ketemu!”
Pak Jaya terdiam.
“Aku sudah menemukannya!”
Suara Revan semakin keras.
“Hahaha!”