Indonesia
NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:21.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6.Gelang Berinisial Z

Ketukan terdengar dua kali sebelum pintu ruang kerja Arvid terbuka.

"Permisi, Pak."

Lena, sekretaris Arvid, masuk membawa beberapa berkas. Ia berjalan menuju meja Arvid, lalu meletakkannya di hadapan atasannya.

"Ini laporan yang Bapak minta."

Arvid mengangguk. Namun sebelum mengambil berkas tersebut, pandangannya justru tertuju pada Lena. "Lena."

Lena mengangkat wajahnya. "Ya, Pak?"

"Kamu masih ingat malam di resort beberapa hari lalu?"

Gerakan Lena terhenti sesaat. "Yang waktu acara perjamuan itu?"

"Iya."

Lena mengangguk. "Ingat, Pak."

Arvid menyandarkan punggungnya pada kursi. Tatapannya tetap tertuju pada wajah perempuan itu. "Aku mau tanya sesuatu."

"Tentang malam itu?" tebak Lena.

Arvid mengangguk.

Lena tampak berpikir sebentar. "Apa ada masalah, Pak?"

Bukannya menjawab, Arvid malah balik bertanya, "Menurutmu, apa yang terjadi malam itu?"

Lena mengernyit. "Maksud Bapak?"

"Aku mau tau apa yang kamu lihat."

Tidak ada perubahan berarti pada wajah Lena. Ia tidak terlihat gugup, tidak pula buru-buru menjawab.

"Sebenarnya saya juga sempat bingung malam itu."

Alis Arvid naik sebelah. "Kenapa?"

"Karena Bapak tiba-tiba berubah."

Arvid menunggu penjelasan Lena.

"Awalnya Bapak masih biasa. Masih bisa ngikutin pembicaraan, masih sempat berdiskusi dengan beberapa orang. Tapi setelah minum itu..." Lena mengerutkan kening. "Bapak kelihatan kayak gak nyaman. Wajah Bapak memerah, napas juga kelihatan berat."

Arvid memerhatikannya tanpa berkedip.

"Saya sempat berpikir Bapak sakit."

"Terus?"

"Saya mau ngantar Bapak keluar. Tapi Bapak nolak." Lena mengembuskan napas pelan. "Makanya denger Bapak pergi ke pantai, saya juga khawatir. Saya sempat mikir jangan-jangan kondisi Bapak makin parah."

Arvid masih diam.

Lena kemudian menambahkan, "Apalagi Bapak waktu itu sendirian."

"Kamu tau aku pergi ke pantai?"

Lena mengangguk. "Setelah Bapak pergi, saya sempat nanya ke salah satu staf. Katanya Bapak pergi ke arah pantai."

Arvid mengetukkan ujung jarinya pada meja. "Menurutmu, ada seseorang yang sengaja melakukan sesuatu padaku?"

Lena menatapnya. "Saya gak tau, Pak."

Jawaban itu keluar tanpa jeda panjang.

"Kalo benar ada yang sengaja melakukannya," kata Arvid. "berarti orang itu harus punya kesempatan deketin minumanku."

Lena mengangguk perlahan. "Itu yang bikin saya khawatir."

Arvid mengangkat alis. "Kenapa?"

Lena tersenyum tipis. "Bapak ini masih muda, belum nikah, tampan, sukses, dan..." Ia mengangkat bahu kecil. "Banyak orang yang pengen dekat dengan Bapak."

Arvid terkekeh pelan. "Termasuk kamu?"

Lena langsung menggeleng. "Jangan bercanda, Pak."

"Kenapa?"

Lena tersenyum tipis. "Saya gak berani berharap."

Arvid memerhatikan wajah Lena.

"Saya dari keluarga biasa, Pak," lanjut Lena. "Kehidupan saya juga sederhana."

Ia terdiam sebentar sebelum kembali tersenyum. "Lagipula saya udah punya tunangan."

Arvid sedikit mengangkat alis. "Sudah punya?"

Lena mengangguk mantap. "Iya."

"Kapan nikah?"

"Rencananya tahun depan." Senyum masih belum pudar dari wajah Lena.

"Dia kerja di mana?"

"Dia punya kafe kecil." Kali ini senyum Lena terlihat berbeda. Lebih lembut dan tulus. "Memang bukan kehidupan mewah. Tapi saya rasa kami bisa membangun kehidupan yang cukup."

Arvid menatapnya beberapa detik. Tidak ada kegugupan yang aneh. Tidak ada perubahan sorot mata yang membuatnya merasa Lena sedang menyembunyikan sesuatu.

Namun Arvid tetap tidak ingin mengambil kesimpulan hanya dari ekspresi seseorang. Ia mengalihkan pandangan ke berkas di mejanya.

"Bagus."

Dahi Lena berkerut. "Pak?"

"Semoga pernikahan kalian lancar."

"Terima kasih, Pak," ucap Lena, kepalanya sedikit menunduk.

Arvid membuka berkas tersebut. Untuk saat ini, dia tidak melihat alasan untuk mencurigai Lena. Namun bukan berarti dia akan berhenti waspada.

Ia sudah belajar satu hal dari malam itu: seseorang tidak perlu terlihat mencurigakan untuk menyembunyikan sesuatu.

"Lena."

"Ya, Pak?"

"Ada seseorang yang kamu curigai?"

"Saya?" Lena menunjuk dirinya sendiri.

Arvid mengangguk.

Lena menggeleng pelan. "Nggak ada."

"Coba ingat lagi."

Lena memandang ke atas sejenak, berusaha mengingat kejadian malam itu. "Saya benar-benar gak tau siapa yang melakukannya, Pak."

"Kamu gak lihat siapa pun deketin minumanku?"

Lena mengerutkan kening. "Kalo deketin meja Bapak, ada beberapa orang. Tapi malam itu cukup ramai."

"Siapa aja?"

Lena berpikir. "Saya gak hafal semuanya."

"Yang kamu ingat."

Lena terdiam beberapa detik. "Setelah Bapak menerima minuman itu, ada salah satu tamu yang sempat datang menyapa. Saya gak ingat namanya."

"Laki-laki atau perempuan?"

"Laki-laki," jawab Lena.

"Dia melakukan apa?"

"Seingat saya cuma ngobrol sebentar," ujar Lena. "Setelah itu pergi."

"Apa dia nyentuh gelasku?"

Lena menggeleng. "Saya gak lihat Pak."

"Oke," kata Arvid. "Kalo ada hal lain yang kamu ingat, sekecil apa pun, kasih tau aku."

"Baik, Pak." Lena hendak mengambil kembali tablet yang tadi ia letakkan di meja, tetapi Arvid kembali bersuara.

"Satu lagi," tambah Arvid.

Lena menoleh.

"Untuk sementara, jangan ceritakan pada siapa pun kalo aku lagi menyelidiki kejadian malam itu."

Lena mengangguk serius. "Baik."

"Termasuk tunanganmu."

Lena tersenyum tipis. "Tenang aja, Pak. Dia bahkan gak terlalu tertarik dengan urusan perusahaan."

Lena kemudian keluar dari ruangan. Pintu tertutup.

Arvid kembali menatap berkas di hadapannya, tetapi pikirannya tidak lagi tertuju pada laporan perusahaan.

Ia mempercayai Lena. Setidaknya, sejauh ini. Namun dia tidak akan membiarkan rasa percaya membuatnya lengah.

Arvid mengambil ponselnya dan membuka pesan dari Juki.

Juki :

> Bos, saya masih cari data orang-orang yang ada di sekitar pantai malam itu.

Arvid mengetik singkat.

Arvid :

> Cari juga siapa saja yang punya akses ke minumanku sebelum aku pergi.

Pesan terkirim. Arvid meletakkan ponselnya. Satu hal semakin jelas. Perempuan di pantai bukan satu-satunya misteri yang harus ia pecahkan.

Seseorang telah membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dan Arvid ingin tahu siapa orang itu.

Ponsel Arvid kembali menyala. Satu pesan lagi dari Juki masuk.

Juki :

> Bos, dari sekitar lokasi kejadian yang Bos bilang, saya nemu gelang perak dengan bandul huruf Z.

Arvid terdiam sejenak, lalu ia membalas pesan itu.

Arvid :

> Bawa pulang.

Arvid menatap layar ponselnya lebih lama, sebelum akhirnya meletakkannya di atas meja.

"Z?" gumam Arvid pelan.

 

...🔸🔸🔸...

...“Ketika seseorang benar-benar ingin bertanggung jawab, ia tidak akan berhenti hanya karena jalan untuk menemukan jawabannya terasa sulit.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Ass Yfa
akhirnya uneg2 Zinnia dikeluarkan..meski dgn rssa takut..jujurlah Zinnn
tse
ya jujur aja Zinnia... jangan ada yang di sembunyiin lagi...
biar Arvid mencari jalan keluarnya...
kamu berhak bahagia Zinnia.....
semoga kalian berdua bahagia....
tapi hati2 ya sama nita.. nanti dia ngompprin mama kamu lagi...
abimasta
ketakutan zinnia sangat wajar
Anitha
Bagus degan sikap Arvid berbicara pada Zinnia....dan akhirnya Zinnia menanyakan yang selama ini ia takutkan....tuh Arvid tinggal jawab
Anitha
ayolah Zinnia jujur sama Arvid jangan di pendam sendiri,Arvid laki² yang baik dan bertanggung jawab
bumi rose
kutunggu lanjutannya... /Heart/
Siti Jumiati
syukurlah zinia sudah mau jujur...

penasaran kelanjutannya semoga kedua orang tua Arvid mau menerima zinia dengan senang hati.
Puji Hastuti
akhirnya 😍
Sastri Dalila
👍👍🥺🥺
Dek Sri
lanjut
Sastri Dalila
🤭🤣🤭💪💪💪
Hanima
👍👍
Hanima
👍👍👍
Eka Burjo
lanjut lagi, lagi-lagi 😁👍
abimasta
akui saja zinnia biar arvid bertanggung jawab
Eka Burjo
lanjut 👍
Sugiharti Rusli
meski Arvid belum tahu reaksi kedua ortunya dengan kabar ini, paling tidak dia bisa memberi jaminan kalo Zinnia tetap bersama calon anaknya kelak,,,
Sugiharti Rusli
dan pada akhirnya tentang ketakutannya kelak kalo keluarga Arvid hanya akan menerima anaknya, tapi dirinya dijauhkan
Sugiharti Rusli
meski Zinnia juga sudah mengkonfirmasi tentang kehamilannya pada Arvid sih,,,
Sugiharti Rusli
ďan pada akhirnya Arvid sudah menduga kalo Zinnia lha perempuan yang dia renggut kehormatannya malam itu akibat pengaruh obat yang sengaja dimasukan ke dalam minumannya buat menjebaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!