"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Di sudut teras, dua koper besar berwarna hitam sudah berjejer rapi di dekat pintu. Naya berdiri di sana, membetulkan lipatan jilbab pashmina marunnya dengan jemari yang tenang. Hari ini adalah garis batas—sebuah penanda tajam bahwa lembaran berdebu di Mojokerto telah benar-benar ditutup, dan kanvas baru di seberang lautan siap dilukis.
Matahari baru merayap naik ketika mobil hitam keluarga Malik meluncur perlahan membelah jalanan Jombang menuju Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Di dalam kabin, keheningan merayap perlahan, bukan keheningan yang canggung, melainkan sarat emosi yang sengaja ditahan agar tidak pecah menjadi tangisan.
Umma Mahera duduk di samping Naya, menggenggam erat jemari jemari putrinya yang terasa hangat. Wanita paruh baya itu tak henti-hentinya menatap wajah Naya, berusaha merekam setiap inci paras anggun itu ke dalam memorinya.
"Jaraknya jauh sekali, Naya..." bisik Umma Mahera, suaranya parau oleh keharuan yang mendalam. "Dubai itu bukan cuma beda pulau, Nak. Beda benua, beda budaya, beda waktu. Umma merasa berat sekali melepaskanmu sejauh itu."
Naya memutar badannya, mengusap lembut punggung tangan ibunya dengan ibu jari. Senyumnya terkembang tipis, memancarkan kedewasaan yang kian matang.
"Naya pasti baik-baik saja, Umma," sahut Naya lembut namun yakin. "Naya pergi bukan untuk melarikan diri, tapi untuk mengejar apa yang dulu sempat tertunda. Allah tidak akan menempatkan Naya di sana kalau Naya tidak sanggup. Umma tidak perlu khawatir, ya?"
Dari balik kemudi, Arsyaka melirik adik bungsunya lewat kaca spion tengah. Pria itu menyunggingkan senyum tipis, mencoba mengikis ketegangan.
"Umma tenang saja. Naya ini lulusan terbaik, otaknya encer. Di Dubai nanti yang pusing itu para profesornya, bukan Naya."
Abah Zaydan yang duduk di samping Arsyaka terkekeh pelan. Tawa renyah sang ayah berhasil mencairkan suasana. Pria paruh baya berwibawa itu memalingkan wajahnya ke belakang, menatap putri kesayangannya dengan binar kebanggaan yang tak terpatahkan.
Satu jam perjalanan melintasi jalan tol terasa begitu singkat. Ketika roda mobil akhirnya berhenti di area keberangkatan internasional Bandara Juanda, riak emosi kembali membumbung tinggi. Suara pengumuman penerbangan yang bergema bersahut-sahut dari pengeras suara bandara seolah menjadi alunan simfoni yang mempercepat perpisahan.
Arsyaka menurunkan koper-koper besar dari bagasi, lalu menyejajarkannya di dekat trotoar. Begitu seluruh barang tertata, Umma Mahera langsung berhambur merengkuh tubuh Naya. Pelukan itu begitu erat, seolah sang ibu ingin mentransfer seluruh doa dan pelindungnya ke dalam jiwa sang anak.
"Jaga diri baik-baik di sana, Sayang," bisik Umma Mahera di tepi telinga Naya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetas juga, membasahi kain jilbab Naya. "Jangan lupa sholat, jangan pernah merasa sendiri. Doa Umma selalu mengalir di setiap sujud Naya."
"Inggih, Umma. Matur nuwun sanget..." Naya membalas pelukan itu tak kalah erat, meresapi kehangatan murni seorang ibu yang selama ini menjadi benteng terkuatnya.
Setelah dekapan ibunya terurai, Abah Zaydan melangkah mendekat. Pria tua itu menatap Naya dengan pandangan teduh yang amat dalam. Ia merengkuh bahu Naya, lalu mengecup dahi putrinya cukup lama.
"Naya," tutur Abah Zaydan dengan suara bass yang tenang dan bijak. "Terbanglah yang tinggi. Jangan pernah menoleh ke belakang dengan rasa dendam atau penyesalan. Jadilah psikiater yang tidak hanya menyembuhkan otak manusia, tapi juga memberi ketenangan pada jiwa-jiwa yang terluka. Abah dan Umma selalu merestui setiap langkahmu."
Kata-kata sang ayah meresap sempurna ke dada Naya, melapisi hatinya dengan kekuatan baru. "Naya pegang janji dan nasehat Abah. Naya berangkat dengan hati yang lapang."
Kini Arsyaka melangkah mendekat. Sebagai seorang kakak laki-laki, ia menepuk bahu Naya dengan tegas sebelum menarik adiknya ke dalam pelukan singkat yang hangat.
"Kalau butuh apa-apa di sana, langsung hubungi Mas, paham?" kata Arsyaka seraya melepaskan pelukannya. "Mas sudah titip pesan ke teman dekat Mas yang kerja di Dubai. Namanya Mas Danang, dia arsitek di sana. Kalau ada keadaan darurat atau Naya butuh bantuan apa pun sebelum terbiasa dengan kota itu, langsung kontak dia. Kontak WhatsApp-nya sudah Mas kirim ke HP-mu."
Naya tersenyum tulus, mengangguk cepat. "Matur nuwun, Mas Arsyaka. Naya simpan kontaknya."
Petugas maskapai di area pintu masuk check-in sudah melambai, memberi isyarat bahwa antrean jalur internasional akan segera ditutup. Naya menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara tanah kelahirannya. Ia meraih gagang koper, memutar tubuhnya, lalu melambaikan tangan pada tiga orang paling berharga dalam hidupnya.
"Naya berangkat dulu. Assalamu’alaikum."
"Wa’alaikumsalam warahmatullah..."
Langkah kaki Naya mantap melintasi garis batas pemeriksaan. Di balik pintu kaca otomatis yang tergeser menutup, satu babak kehidupannya resmi berakhir, dan petualangan di negeri menara pencakar langit dimulai.
**
Rumah sederhana berbahan bata tua di ujung gang itu tampak memprihatinkan. Lampu teras berpendar temaram, mengalahkan sisa gelap yang belum sepenuhnya terangkat. Di sanalah, setahun lalu, Reyhan mengikat janji suci di bawah lambaian doa seorang pria tua yang terbaring lemah—ayah Rani, yang kini telah tiada.
Pria itu menghentikan langkahnya di depan pintu kayu bercat hijau kusam yang mulai mengelupas. Pakaian koko biru laut berpadu celana panjang hitam yang ia kenakan terasa agak tipis menahan dinginnya sisa gerimis semalam. Jemarinya terangkat, menggetok permukaan kayu tiga kali.
"Sinten?" suara pelan dari dalam menyapa, sarat akan rasa waspada.
"Rani... ini saya, Reyhan."
Derit engsel pintu terdengar nyaring di tengah keheningan pagi. Ketika daun pintu terbuka pelan, sosok Rani muncul dari balik kegelapan ruangan. Matanya yang membulat memancarkan keterkejutan luar biasa. Manik hitam itu menatap Reyhan tanpa berkedip, mengamati sosok pria yang selama sebulan terakhir menghilang tanpa kejelasan.
"Gus... Reyhan?" bisik Rani, tenggorokannya tercekat.
"Boleh saya masuk?" tanya Reyhan, suaranya tenang walau di dasar hatinya bergemuruh gumpalan rasa bersalah dan kebuntuan yang teramat sangat.
Rani mengangguk kaku, menggeser tubuhnya untuk memberi jalan. "Silakan, Gus."
Ruang tamu kecil itu tidak banyak berubah. Hanya ada seperangkat kursi penjalin tua yang jalurnya sudah agak lapuk di beberapa sisi. Di atas meja kayu, sebuah taplak renda kusam menjadi saksi bisu. Saat mendudukkan diri, ingatan Reyhan mendadak ditarik mundur ke masa lalu. Di ruangan sempit inilah ia memegang erat tangan almarhum ayah Rani, mengikrarkan ijab kabul siri yang kemudian menjadi awal dari kehancuran kehidupan rumah tangganya dengan Naya.
Rani bergegas ke belakang, lalu kembali membawa cangkir porselen berisi teh hangat yang uapnya membumbung halus. Ia meletakkannya di depan Reyhan sebelum mengambil posisi duduk di kursi penjalin berseberangan.
"Wonten dawuh apa Gus Reyhan jauh-jauh datang ke sini?" tanya Rani pelan. Jemarinya saling bertaut erat di pangkuan, mencoba menutupi kegugupan yang melingkupinya.
Reyhan menatap permukaan teh yang bergetar pelan. "Saya datang untuk membawa kamu kembali ke Al-Anwar."
Rani menahan napasnya sejenak. Sorot matanya yang rapuh berubah menjadi redup. "Untuk apa saya kembali ke sana, Gus? Di pesantren itu, saya cuma jadi benalu. Di sini, walau rumah ini sepi dan sederhana, hati saya jauh lebih tenang. Saya tidak perlu merasa bersalah setiap kali melihat Ning Naya..."
"Naya sudah resmi berpisah dengan saya, Rani," pangkas Reyhan, nadanya datar namun menyimpan kepahitan yang menusuk jiwanya sendiri. "Proses di Pengadilan Agama sudah selesai."
Rani tertegun. Berita itu seharusnya menjadi angin segar bagi posisinya, tetapi melihat raut wajah Reyhan yang kian tirus dan kehilangan binar kehidupannya, Rani justru merasa gundah.
"Tapi nyatanya Gus betah membiarkan saya di sini sendirian selama sebulan," gumam Rani, keberanian kecil muncul di sela kepasrahannya. "Kalau memang Gus butuh saya, kenapa baru sekarang datang?"
Reyhan menghela napas panjang. Udara dingin yang ia hirup tak mampu mendinginkan sesak di dadanya.
"Saya butuh waktu, Rani. Begitu juga kamu. Saya ingin memberi kita ruang untuk berpikir, menenangkan kepala setelah semua ledakan masalah kemarin. Bagaimanapun, kamu masih istri saya. Tidak baik kalau kita terus-menerus berjarak seperti ini."
"Saya takut, Gus..." cicit Rani seraya menunduk. "Kyai dan Bu Nyai pasti sangat membenci saya. Para santri juga pasti memandang saya rendah."
Reyhan bangkit dari duduknya. Langkah kakinya mendekat, lalu ia merendahkan tubuh di depan Rani. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata istrinya dengan raut memohon—sebuah gestur penyerahan diri dari seorang Gus yang dulu begitu diagungkan.
"Mereka tidak pernah membencimu," ucap Reyhan, suaranya parau. "Tolong, kembali bersama saya. Kita kemasi barang-barangmu sekarang. Kita harus memulai semuanya dari awal, Rani. Tolong bantu saya menata kembali apa yang tersisa."
Melihat kerendahan hati Reyhan dan ketulusan nada bicaranya, benteng pertahanan Rani meluluh. Ketakutannya perlahan terkikis oleh rasa ketergantungan yang selama ini mengikatnya pada sosok pria tersebut. Dengan anggukan pelan, Rani akhirnya mengalah.
***
apalah arti perasaan anak dara liat cowok ganteng pasti ada suka..tggl cowoknya aja ngeladeni atau cuekin..🤔
dibikin ruwett nyesal akhirnya 🤭😄
sepolos"nya org pasti masih punya hati dan akan berfikir sblm mengambil keputusan yg menyangkut org lain.
kalau kamukan ...begitu dah