Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

Lampu-lampu megacity perkotaan yang berjarak puluhan meter di bawah sana, memantulkan pendar neon yang membias di atas permukaan lantai marmer hitam yang dingin.

Penthouse milik Frederick Nicolas Vance bertempat di lingkungan paling eksklusif di pusat kota, menempati dua lantai teratas dari salah satu gedung pencakar langit.

Tempat itu bukan sekadar kediaman, itu adalah mahakarya arsitektur modern yang gersang dan hampa.

Jendela-jendela kaca setinggi langit-langit membingkai pemandangan malam kota yang spektakuler, namun tidak ada satu pun kehangatan yang terpancar dari dalam ruangan tersebut. Dinding-dinding berwarna beton mentah, furnitur minimalis bersudut tajam, dan keheningan yang begitu pekat hingga suara detak jarum jam tangan bisa terdengar jelas.

Pintu lift pribadi berdenting pelan saat terbuka langsung di dalam area foyer penthouse.

Nico melangkah keluar terlebih dahulu, melepaskan coat hitamnya yang basah oleh sisa gerimis malam dan melemparnya asal ke atas sofa kulit. Pria itu memutar tubuhnya, menatap Sienna yang masih berdiri kaku di dalam kabin lift, menggenggam tas pakaian kecilnya erat-erat di depan dada.

"Sampai kapan kau akan berdiri di sana?" tanya Nico. Suaranya bergema menembus ruangan yang luas dan sunyi. "Masuk."

Sienna menelan ludah. Kaki kirinya yang terluka saat tersandung di tangga mansion tadi pagi terasa semakin kaku dan berdenyut. Dengan langkah terseret yang perlahan, ia keluar dari lift. Sepatu kain murahan yang dikenakannya terasa sangat tidak cocok menapak di atas marmer mahal yang mengilap bagai cermin tersebut.

Di mansion Vance yang lama, masih ada Grace yang menyelipkan senyum hangat di dapur, atau Pak Vincent yang secara diam-diam menahan batas amarah Nico. Namun di sini, di sangkar kaca di atas awan ini, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada Sienna, Nico, dan sepasang pengawal bertubuh kekar yang berdiri diam bagai patung di dekat pintu akses servis.

Isolasi total yang ditakutinya kini telah menjadi kenyataan.

Nico berjalan menuju kitchen island yang terbuat dari batu granit hitam, menuangkan wiski pekat ke dalam gelas kristal. Es batu beradu pelan dengan dinding kaca, menciptakan denting yang memecah kesunyian.

"Di rumah ini, aturanmu sederhana," kata Nico seraya menyesap wiskinya, matanya yang berwarna kelabu dingin menatap Sienna dari balik gelas. "Kau tidak punya akses ke luar. Kau tidak punya ponsel. Kau tidak boleh menyentuh pintu lift atau tangga darurat tanpa izin langsung dariku."

Sienna menundukkan kepalanya dalam-dalam. "I-iya, Tuan Vance..."

"Kamarmu ada di ujung koridor bawah," lanjut Nico, menunjuk ke arah lorong remang-remang di sebelah kanan area dapur. "Itu bekas kamar penyimpanan linen. Tidak ada jendela luar, tidak ada kunci dari dalam. Kau akan tinggal di sana."

Sienna mengangguk pasrah. Di dalam hatinya, ia tidak lagi mengharapkan kamar yang layak. Kamar tanpa jendela justru terasa pas dengan kondisinya saat ini, sebuah tempat di mana dunia luar tidak bisa melihat betapa hancurnya hidup seorang Sienna Sinclair.

"Setiap pagi pukul lima, kau harus membersihkan seluruh area lantai bawah ini," tegas Nico, melangkah mendekat hingga bayangannya yang tinggi menjulang menutupi tubuh kurus Sienna. "Aku tidak ingin melihat ada satu helai rambut atau setitik debu pun di atas marmer ini. Kau paham?"

"Paham, Tuan Vance..." bisik Sienna serak.

Nico memicingkan matanya, memperhatikan helaan napas Sienna yang terasa agak berat dan memar kebiruan yang menjalar di sekitar leher dan pipi gadis itu. Untuk sekejap, kilatan aneh melintas di sepasang mata kelabunya, sebuah rasa tidak nyaman yang asing saat melihat betapa ringkihnya sosok di hadapannya. Namun, Nico dengan cepat menepis perasaan itu, menggantikannya dengan topeng kejam yang biasa.

"Pergilah ke kamarmu," perintah Nico dingin seraya membalikkan badan, berjalan menuju tangga melingkar yang menuju ke area kamar utamanya di lantai atas. "Jangan keluar sebelum jam lima pagi."

Sienna tidak mengulangi jawabannya. Ia hanya membungkuk tipis, lalu bergegas menyusuri lorong dingin menuju ruangan yang ditunjuk Nico.

Kamar penyimpanan linen itu jauh lebih kecil daripada kamarnya di basemen mansion. Hanya ada sebuah dipan kayu tanpa kasur tebal, hanya ditutupi selembar selimut tipis dan sebuah lampu bohlam kuning yang tergantung di langit-langit. Dindingnya terbuat dari beton tanpa pelapis cat, membawa hawa dingin pendingin sentral yang langsung meresap ke balik pakaian seragam Sienna yang lembap.

Sienna mendudukkan tubuhnya di tepi dipan kayu. Seluruh persendiannya serasa hendak lepas. Luka terbakar akibat detergen keras di jemarinya yang terbalut perban mulai berdenyut parah, memancar hingga ke siku. Rusuk kirinya yang menghantam anak tangga tadi siang terasa nyeri setiap kali ia menarik napas dalam-dalam.

Dengan jemari yang gemetar hebat, Sienna merogoh bagian dalam seragamnya. Ia mengeluarkan foto kecil ayahnya yang terlipat rapi, memastikan kertas tua itu tidak basah oleh air hujan.

Sienna menempelkan foto itu ke dadanya, merapatkan fisiknya yang bergetar ke dinding beton yang dingin.

"Ayah..." bisik Sienna serak, air mata yang disembunyikannya di depan Nico akhirnya pecah tanpa suara. "Anna takut... tempat ini sangat dingin, Ayah. Tidak ada siapa-siapa di sini..."

Isak tangisnya bergema pelan di dalam ruangan sempit tanpa jendela itu. Di balik jeruji besi penjara selama sebelas tahun, Sienna setidaknya memiliki waktu untuk bernapas dan memimpikan hari kebebasannya.

Namun di sini, di bawah cengkeraman obsesi dendam Nico, kebebasan itu terasa seperti ilusi yang telah mati. Nico tidak menginginkan keadilan, pria itu hanya menginginkan wadah untuk menampung seluruh kepahitan jiwanya sendiri.

Dan Sienna adalah wadah itu.

Pukul empat lewat empat puluh lima menit pagi.

Sienna sudah terbangun dari tidurnya yang tidak tenang. Rasa sakit di rusuk dan jemarinya membuatnya terbangun berulang kali sepanjang malam. Dengan tubuh yang lemah dan kepala yang terasa berat akibat demam tipis, ia melangkah keluar dari kamar penyimpanan linen.

Area utama penthouse masih gelap gulita, hanya disinari pendar pudar dari lampu-lampu jalanan kota di luar jendela kaca besar.

Sienna mengambil ember, kain lap, dan alat pel dari almari alat kebersihan di dekat koridor servis. Ia mulai berlutut di atas lantai marmer hitam, menyapu dan menyikat setiap jengkal permukaan marmer dengan gerakan teratur. Setiap kali tangannya menekan kain lap ke lantai, rasa terbakar di luka jemarinya berdenyut keras, namun Sienna memaksakan dirinya untuk terus bekerja.

Ia tahu betul, kesalahan sekecil apa pun di tempat ini akan berujung pada ancaman terhadap Nenek Elena.

Pukul lima lewat tiga puluh menit, suara langkah kaki yang tenang terdengar turun dari tangga melingkar lantai atas.

Nico telah rapi dengan pakaian olahraganya, kaus serap keringat warna abu-abu gelap dan celana training hitam. Pria itu memegang botol air minum, melangkah ke area ruang tamu utama.

Langkahnya terhenti saat melihat Sienna yang sedang berlutut di dekat meja kaca besar. Gadis itu tampak begitu pucat, napasnya terdengar pendek-pendek dan agak memburu, sementara tangannya yang terbalut perban memutih akibat menahan beban tubuhnya di atas lantai.

Nico berjalan mendekat, menyilangkan tangannya di depan dada seraya menatap Sienna dari atas.

"Kenapa gerakanmu lambat sekali?" tanya Nico datar.

Sienna tersentak, cepat-cepat menyeka keringat dingin di dahinya dengan lengan seragamnya. "M-maaf, Tuan Vance... saya akan mempercepatnya."

Nico tidak membalas. Ia melangkah melewati Sienna menuju area teras Balkon privat yang dibatasi oleh pintu kaca geser yang tebal.

Balkon penthouse itu berada di ketinggian lantai empat puluh lima. Udara pagi di luar sana sangat dingin, membawa hembusan angin kencang yang menusuk.

Nico membuka pintu kaca geser tersebut, membiarkan angin dingin kota masuk membanjiri ruang tamu.

"Bersihkan kaca luar balkon ini," perintah Nico mendadak, menunjuk ke arah railing kaca di tepi balkon yang menghadap langsung ke jurang kehampaan kota di bawah sana.

Sienna membeku. Matanya menatap pintu kaca yang terbuka dan angin kencang yang menyapu area balkon. Sienna memiliki rasa takut yang mendalam terhadap ketinggian, sebuah trauma kecil yang tidak pernah diketahui siapa pun sejak masa kecilnya. Berdiri di tepi balkon lantai empat puluh lima dengan tubuh yang gemetar dan pandangan yang berkabut akibat demam adalah sebuah mimpi buruk murni.

"T-Tuan Vance..." suara Sienna bergetar hebat. "Kaca balkon... apakah tidak bisa dibersihkan dari dalam?"

Nico memutar tubuhnya, menatap Sienna dengan pandangan menusuk. "Apakah aku memberimu pilihan untuk bertanya?"

Sienna menelan ludah, dadanya sesak oleh ketakutan. Ia melihat mata Nico yang dingin tanpa celah belas kasihan. Sienna tahu, membantah hanya akan membuat keadaan menjadi jauh lebih buruk.

Dengan jemari yang gemetar hebat, Sienna memegang ember dan kain lapnya, melangkah perlahan melewati pintu kaca geser menuju area balkon luar.

Angin dingin pagi langsung menerjang tubuhnya yang hanya terbalut seragam abu-abu tipis. Rambut cokelat keemasannya terurai berantakan tertiup angin. Sienna mendekati railing kaca di tepi balkon. Saat matanya secara tidak sengaja melirik ke bawah, ke arah jalanan kota yang tampak sekecil semut di bawah sana, kepalanya langsung berputar hebat.

Rasa mual dan pusing yang luar biasa menghantam otaknya. Lutut Sienna lemas. Ia menyandarkan sebelah tangannya yang terluka ke kaca balkon untuk menahan tubuhnya agar tidak roboh.

"Aaakh...!" Sienna meringis pelan saat luka di tangannya menekan permukaan kaca yang dingin dan kaku.

Dari dalam ruangan yang hangat, Nico berdiri bersandar di tepi pintu kaca, memperhatikan setiap gerakan Sienna. Ia melihat bagaimana tubuh gadis itu gemetar tak terkendali di bawah terpaan angin dingin. Ia melihat bagaimana bibir Sienna membiru dan matanya terpejam rapat oleh ketakutan murni.

Pemandangan itu memberikan kepuasan pada jiwa dendam Nico. Melihat anak dari pria yang menghancurkan keluarganya menderita di bawah telapak kakinya adalah apa yang diimpikannya selama belasan tahun ini.

Sienna mencoba menggerakkan kain lapnya di atas permukaan kaca luar. Namun pusing di kepalanya semakin parah. Bintik-bintik hitam yang menari di pandangannya berubah menjadi kegelapan yang meluas. Kesadarannya mulai mengabur akibat kombinasi demam tinggi, rasa sakit fisik, dan ketakutan akan ketinggian.

Jemari Sienna yang memegang railing kaca mendadak kehilangan cengkeramannya.

Tubuh kurus gadis itu terkulai ke samping, ambruk secara perlahan di atas lantai granit balkon yang dingin, tepat di dekat tepian kaca. Ember airnya terbalik, membasahi tubuhnya yang sudah tak sadarkan diri.

Nico membeku selama setengah detik.

"Sienna!"

Sebuah panggilan refleks terlepas dari mulut Nico, dengan nada suara yang dipenuhi kepanikan murni yang tak pernah dirasakannya selama belasan tahun ini.

Nico bergerak cepat melintasi pintu kaca, menerjang angin dingin balkon, dan berlutut di samping tubuh Sienna yang tergeletak kaku.

Nico menyambar bahu Sienna, membalikkan tubuh gadis itu. Wajah Sienna sangat pucat bagaikan mayat, bibirnya membiru, dan kulit tubuhnya terasa membakar oleh demam yang sangat tinggi. Kulit tangan dan leher Sienna teraba begitu panas namun bergetar pelan secara tidak sadar.

"Sienna! Buka matamu!" bentak Nico, suaranya tidak lagi dingin melainkan terdengar bergetar panik. Ia menepuk pipi Sienna pelan berulang kali, namun tidak ada respons sedikit pun dari gadis yang telah pingsan total itu.

Nico meraup tubuh Sienna ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, Nico merasakan betapa ringkih dan ringannya tubuh wanita muda ini. Penampilannya tidak seperti seorang kriminal kejam seperti yang selalu dibayangkannya dalam dendam malam-malam panjangnya. Yang ada hanya sosok wanita muda yang telah diperas habis tenaganya hingga tak bersisa.

Tanpa berpikir panjang, Nico mengangkat tubuh Sienna dalam dekapannya, membawa gadis itu masuk kembali ke dalam ruang tamu yang hangat dan menutup pintu kaca balkon rapat-rapat.

"Matteo, James!" teriak Nico keras menembus keheningan penthouse.

Dua pengawal bertubuh kekar yang berada di area servis langsung berlari terburu-buru menuju ruang tamu utama. Mata kedua pengawal itu melebar saat melihat tuan mereka yang biasanya dingin dan tak tersentuh kini memeluk erat tubuh pelayan yang pingsan dengan raut wajah penuh kepanikan yang liar.

"T-Tuan Nicolas!" panggil Matteo terkejut.

"Panggil dokter pribadi sekarang juga!" bentak Nico, matanya memerah oleh campuran amarah dan rasa takut yang tidak dipahaminya. "Suruh Dr. Leo datang ke sini dalam waktu lima belas menit. Jika dia terlambat satu detik pun, aku pastikan izin praktiknya dicabut!"

"B-baik, Tuan." James bergegas merogoh ponselnya dan berlari keluar.

Nico tidak membawa Sienna kembali ke kamar penyimpanan linen yang sempit di koridor bawah. Tanpa disadarinya sendiri, kaki Nico justru melangkah cepat menaiki tangga melingkar menuju lantai dua, menuju kamar tidur utamanya yang luas dan mewah.

Nico membaringkan tubuh rapuh Sienna di atas tempat tidur king-size pribadinya yang beralaskan sprei sutra hitam yang mahal.

Nico berlutut di samping tempat tidur. Tangannya yang besar menyapu helai-helai rambut cokelat keemasan Sienna yang basah dan menempel di dahinya.

"Kau tidak boleh mati dulu Sienna," bisik Nico serak pada kesunyian kamar mewahnya, matanya menatap jemari Sienna yang terbalut perban berdarah. "Kau belum sepenuhnya merasakan penderitaan yang bertahun-tahun ini aku rasakan setelah kehilangan ibuku. Dan kau harus menerima penderitaan itu lebih lama lagi."

Sienna tidak menjawab. Ia tetap tenggelam dalam ketidaksadarannya, terbaring rapuh di atas kasur mewah milik pria yang telah bersumpah untuk menghancurkan hidupnya.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!