Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.
"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.
Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.
"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Nilai Pas-pasan
Menjelang ujian kelulusan, Nadia berhenti membawa bekal bertingkat.
Ia datang dengan satu kotak kecil berisi nasi, sayur, dan telur. Rambutnya diikat rapi. Setiap pagi ia berjalan dua putaran mengelilingi lapangan sebelum masuk kelas.
"Mau kurus atau mau kabur dari pelajaran?" tanya Laras.
"Dua-duanya kalau bisa."
Perubahan itu tidak membuat gangguan berhenti. Di depan ruang ujian, Bima menghalangi jalan Nadia dan mengambil kartu pesertanya.
"Balikin," kata Nadia.
"Minta yang baik."
"Gue udah minta."
"Kurang manis."
Biasanya Nadia akan menunduk atau mencari Laras. Kali ini ia meraih botol minum Bima dan melemparkannya ke tong sampah.
"Kalau kartu gue nggak balik dalam lima detik, sepatu lo ikut masuk situ."
Bima terdiam. Teman-temannya menunggu ia marah, tetapi ia justru mengembalikan kartu itu.
"Galak juga sekarang."
"Belajar dari orang yang tepat."
Nadia melewatinya. Di ujung koridor, Laras mengangkat ibu jari. Bima memandangi punggung Nadia sedikit lebih lama dari seharusnya.
Di ruang ujian, Laras duduk dua bangku di belakang Galih. Lima menit pertama ia menatap lembar soal seperti membaca bahasa asing. Galih tidak bisa membantu. Pengawas berjalan mondar-mandir di antara meja, sepatu pantofelnya berbunyi teratur.
Laras memejamkan mata sesaat dan mengingat jadwal belajar buatan Rayhan. Bocah itu memaksanya mengulang pecahan sampai tengah malam, lalu membuat contoh soal dari harga kampas rem dan diskon onderdil supaya ia mau memperhatikan.
Sedikit demi sedikit, angka-angka di kertas mulai masuk akal.
Saat waktu habis, Galih menunggunya di luar.
"Nomor terakhir jawab apa?"
"Kalau gue bilang, nilai lo bisa turun."
"Berarti salah."
"Optimis dikit kenapa?"
Rayhan juga menunggu di pagar sambil membawa dua bungkus es lilin. Ia tidak menanyakan apakah Laras bisa mengerjakan. Ia hanya menyerahkan satu dan berkata, "Besok masih ada IPA. Jangan pulang malam."
"Lo lebih galak dari guru."
"Kalau gurunya galak, nilai kamu nggak begini."
Laras menepuk kepalanya dengan lembar kisi-kisi. Nadia tertawa di samping mereka. Bahkan di tengah tekanan ujian, tiga orang itu membuatnya merasa kegagalan bukan akhir dunia, hanya soal yang harus dikerjakan satu per satu.
Seusai ujian terakhir, Nadia mengajak Laras duduk di teras rumahnya. Suara televisi dari dalam bercampur dengan ibunya yang mengomentari porsi makan.
"Jangan pakai santan banyak-banyak. Kamu baru turun tiga kilo."
Nadia mengaduk es teh sampai es batunya beradu.
"Di rumah, apa pun yang gue lakukan salah," katanya. "Kalau makan dibilang rakus. Kalau olahraga dibilang sok cantik. Kalau melawan orang di sekolah, dibilang bikin malu keluarga."
Laras tidak buru-buru menyela.
"Kadang gue pengin jadi orang lain," lanjut Nadia. "Bukan karena gue benci badan gue. Gue capek semua orang merasa boleh menilai."
Laras mengambil kerupuk dari piringnya dan mematahkannya menjadi dua. "Berubah kalau lo mau. Bukan supaya mulut mereka puas. Mulut orang nggak pernah kenyang."
Nadia tertawa tipis. "Enak ya jadi lo. Nggak peduli apa-apa."
"Gue peduli. Cuma males kasih mereka tahu."
Pengumuman kelulusan keluar dua minggu kemudian. Nadia mendapat nilai cukup untuk SMA 12 Bekasi. Laras lulus dengan angka yang membuat wali kelas menghela napas lega sekaligus putus asa.
"Pas banget," kata Galih saat melihat lembar nilainya. "Turun satu angka saja, tamat."
"Yang penting lulus."
"Mau masuk mana?"
"SMA 12. Sama Nadia."
"Dengan nilai begini?"
"Makanya jangan didoain turun satu angka."
Di rumah, Pak Darto tidak ikut tertawa. Ia membentangkan brosur SMK otomotif di meja.
"Kalau masuk sini, kamu dapat dasar yang benar. Lulus bisa bantu bengkel atau kerja di tempat lain."
"Saya mau SMA."
"Buat apa? Nilaimu pas-pasan. Setelah SMA mau kuliah pakai biaya dari mana?"
"Nanti dipikirin."
"Hidup bukan baut yang bisa dikencangkan nanti kalau longgar."
Laras menaruh sendok. "Bapak cuma pengin saya cepat kerja di bengkel?"
"Bapak pengin kamu punya keahlian."
"Saya bisa belajar di bengkel. Saya juga mau sekolah sama Nadia."
"Sekolah bukan tempat menemani teman."
Nada mereka naik. Rayhan yang sedang mengerjakan soal di lantai memandang bergantian.
"Pak, mungkin Bang Laras bisa coba dulu," katanya.
Pak Darto menoleh. "Kamu masih kecil, Le. Jangan ikut campur."
Rayhan menutup mulut, tetapi tatapannya tetap pada Laras.
"Pokoknya saya daftar SMA 12," kata Laras.
"Kalau tidak diterima?"
"Saya urus sendiri."
"Jangan keras kepala, Nduk."
"Bapak juga."
Laras berdiri sampai kursinya tergeser keras. Ia mengambil sebungkus kretek dari laci dekat pintu, lalu naik ke atap datar belakang rumah.
Angin malam membawa bau oli dari bengkel dan bawang goreng dari warung Mbah Surti. Laras menyalakan satu batang. Hisapan pertama membuat tenggorokannya panas.
Pintu atap berderit. Rayhan muncul membawa segelas air.
"Ngapain?"
"Kasih minum."
"Turun. Nanti Mbah nyari."
Rayhan meletakkan gelas, lalu duduk cukup jauh dari asap. "Aku pengin kamu masuk sekolah yang kamu mau."
"Bapak nggak salah. Uang juga nggak tumbuh di pohon."
"Aku bisa bantu belajar."
Laras menatapnya. "Lo?"
"Nilai matematikaku lebih tinggi dari kamu."
"Sombong banget."
"Benar, kan?"
Laras hampir tertawa, tetapi dadanya masih penuh. Ia mematikan rokok setengah batang di kaleng bekas.
Pak Darto muncul beberapa menit kemudian. Ia tidak meminta maaf. Laras juga tidak. Lelaki itu hanya membawa map berisi formulir SMA 12.
"Besok isi. Kalau diterima, sekolah yang benar. Jangan cuma ikut-ikutan Nadia."
Laras menerima map itu. "Terus brosur SMK?"
"Disimpan. Bukan berarti pilihan Bapak paling benar."
"Pilihan saya juga belum tentu."
"Nah, akhirnya otakmu hidup."
Mereka saling mendengus. Rayhan tersenyum lega di belakang gelas airnya.
Beberapa hari kemudian, Laras dinyatakan diterima di SMA 12 pada batas bawah. Nadia memeluknya sampai hampir jatuh. Pak Darto membayar uang daftar sambil mengomel tentang buku dan seragam.
Bima ternyata masuk ke sekolah yang sama. Saat daftar ulang, ia berdiri di belakang Nadia dan sengaja berdeham.
"Jangan khawatir. Gue nggak bakal ambil kartu ujian lo lagi."
Nadia menatap lurus. "Bagus. Karena kali ini yang masuk tong sampah bukan botol."
Bima tertawa, benar-benar tertawa, bukan mengejek. "Sampai ketemu di kelas, Nad."
Nadia baru sadar ia dipanggil dengan nama pendek setelah Bima pergi. Telinganya memerah, tetapi ia menyangkal saat Laras mengangkat alis.
Malam sebelum masuk sekolah baru, Laras menemukan jadwal belajar tulisan tangan Rayhan ditempel di dinding kamarnya.
Di bagian paling bawah tertulis: Kalau nilaimu turun, aku yang malu.
Laras mencabut kertas itu, berniat membuangnya. Setelah membaca sekali lagi, ia justru menempelkannya kembali dengan selotip yang lebih kuat.
Tahun ajaran baru belum dimulai, tetapi hidup mereka sudah bergerak ke arah yang berbeda.