Indonesia
NovelToon NovelToon
Si Kembar Genius Putra Om Presdir

Si Kembar Genius Putra Om Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:48k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.

Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.

Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.

Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.

Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.

Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Setibanya di Jakarta, Edgar langsung disibukkan dengan tumpukan dokumen perbankan di ruang kerjanya yang megah. Namun, di sela-sela kesibukannya, pandangan mata pria itu tak pernah terlepas dari layar ponselnya. Ia terus memandangi foto-foto kebersamaan mereka saat berwisata ke Terasering Sitegong, mengusap lembut potret wajah Rayyan, Zayyan, dan Aruni yang tersenyum malu-malu.

"Aku selalu merindukan kalian..." bisik Edgar dengan binar mata teduh.

Tok! Tok! Tok!

Pintu ruangan terdorong pelan. Harry, sang asisten pribadi, melangkah masuk dengan raut wajah serius seraya membawa sebuah berkas tebal.

"Selamat pagi, Tuan Edgar. Saya membawa laporan penting... Paman David dan istrinya baru saja mendarat di Jakarta kemarin malam," lapor Harry lugas.

Sontak Edgar tersentak, tatapannya mendadak berubah dingin dan menajam. Rahangnya mengeras seketika, mengepalkan tangan di atas meja kaca mahoni.

‘Paman David... Tunggu saja pembalasanku!’ batin Edgar penuh dendam yang tertahan selama tujuh tahun.

Edgar berusaha meredam emosinya, lalu menyodorkan ponselnya pada sang asisten. "Harry, tolong kau cetak foto yang ada di galeri ini dan masukkan ke dalam bingkai foto untuk dipajang di meja kerjaku."

Harry menerima ponsel tersebut dan melirik gambarnya. Ulas senyum tulus mengembang di wajah asisten setia itu. "Wah, pasti Tuan bahagia sekali bisa berkumpul kembali bersama kedua putra Tuan dan juga Nona Aruni."

Edgar menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, menghembuskan napas panjang. "Sangat bahagia, Harry... Tujuh tahun aku menantikan momen seperti ini. Hanya saja... aku masih belum berani menyatakan perasaanku pada Aruni. Aku takut dia menolak ku!" ujar Edgar dengan raut frustrasi yang jarang ia perlihatkan.

Harry menahan tawanya agar tak meledak di depan sang atasan.

‘Aih, Tuan payah sekali! Urusan bisnis saja paling jago dan tak terkalahkan, tapi sayang... urusan percintaan Anda paling dangkal!’ celetuk Harry dalam hati.

"Oh iya, jangan sampai siapa pun tahu soal pertemuanku dengan kedua putraku. Tolong rahasiakan dulu masalah ini, dan saat mencetak foto ini kau harus ekstra hati-hati!" tegur Edgar mengingatkan.

"Tenang saja, Tuan. Saya bisa mengatasi semua ini, dan rahasia mengenai keberadaan si kembar dijamin tidak akan bocor ke tangan siapa pun selain saya," jawab Harry mantap.

Edgar terdiam sejenak, menopang dagunya seolah sedang memikirkan strategi perang terbesar dalam hidupnya. "Harry... apakah kau bisa memberiku saran bagaimana cara menyatakan perasaan pada wanita agar tidak ditolak?"

Harry menghembuskan napas berat.

"Soal diterima atau tidak... saya tidak bisa menjaminnya, Tuan. Perasaan wanita itu rumit."

"Ish! Pokoknya kau harus berikan aku tips bagaimana caranya agar cintaku diterima! Aku tidak mau sampai ditolak oleh Aruni!" tekan Edgar tak mau kalah, memoles ego khas pengusahanya.

Harry yang mendengarnya hanya bisa mendengus pasrah di dalam hati.

‘Ish... Ini nih yang paling menyebalkan dari Tuan Edgar! Dalam bisnis memang kita bisa menuntut segalanya sesuai target, tapi urusan hati itu lain cerita! Hati dan perasaan tidak bisa dipaksakan seperti transaksi saham!’ keluh Harry meratapi nasibnya yang mendadak jadi konsultan cinta sang CEO.

"Ehem... Begini, Tuan," ujar Harry mencoba merangkai kata sehati-hati mungkin agar tidak membuat boss nya mengamuk. "Memenangi hati Nona Aruni tidak bisa menggunakan metode negosiasi bisnis. Anda tidak bisa menyodorkan kontrak atau menekan beliau. Pendekatannya harus secara perlahan tapi pasti... slow release, Tuan."

Edgar mengernyitkan alisnya rapat-rapat. "Lantas? Apa yang harus kulakukan dulu? Mengiriminya bunga setiap hari? Mentransfer uang ke rekeningnya? Atau ku belikan ruko tempat usahanya sekalian?"

Harry hampir saja menepuk jidatnya sendiri mendengar solusi gila ala sultan dari atasannya itu. "Tolong jangan, Tuan! Kalau Anda melakukan itu, Nona Aruni justru akan semakin makin tersinggung dan merasa direndahkan. Wanita seperti Nona Aruni butuh pembuktian rasa aman dan perhatian kecil yang konsisten. Coba Tuan hubungi beliau nanti malam, sekadar menanyakan kabar atau menanyakan si kembar. Ingat Tuan, gunakan nada yang lembut, jangan seperti sedang memimpin rapat direksi!"

Edgar mengangguk-angguk pelan, menyerap nasihat asistennya bagaikan seorang murid yang sedang mendengarkan wejangan maha guru. "Baiklah, masuk akal juga caramu itu. Sekarang pergilah cetak foto itu dan pastikan bingkainya yang paling bagus!"

"Siap, Tuan," jawab Harry pamit mengundurkan diri seraya menarik napas lega karena bisa keluar dari ruangan sang CEO tanpa kena semprot.

*

*

Sementara itu, di sebuah restoran mewah berkonsep privat di kawasan Jakarta Selatan, David duduk bersama putranya, Aldo. Suasana di meja makan tersebut terasa tegang sejak awal.

"Bagaimana perkembangan di Ganendra Group selama Papah di luar negeri?" tanya David seraya memotong daging stiknya dengan gerakan tenang namun penuh intimidasi.

Aldo menelan ludah canggungnya sebelum menjawab. "Semua masih terkendali, Pah. Tapi... Edgar makin ketat menjaga akses informasi keuangan dan operasional internal. Sepertinya dia mulai curiga dengan pergerakan orang-orang kita di jajaran komisaris."

David mendesis sinis, meletakkan pisau dan garpunya hingga berdentang menyentuh piring porselen. "Edgar itu cuma menang beruntung karena dia anak tunggal Fernando. Tapi tanpa pewaris, kejayaannya cuma sampai di dia saja!"

David menatap tajam putra tunggalnya itu. "Bagaimana dengan wanita itu? Aruni? Apakah kau menemukan jejaknya atau anak haram yang mungkin dilahirkannya?"

Aldo menggeleng cepat. "Sama sekali tidak ada jejak, Pah. Terakhir kali kita melacaknya tujuh tahun yang lalu saat dia kabur bersama pembantu tua itu. Aku yakin wanita itu sudah mati kelaparan atau terpuruk di suatu tempat terpencil."

"Bagus kalau begitu," gumam David dengan senyum licik mengembang di bibirnya. "Jangan sampai Edgar punya celah untuk memiliki keturunan. Begitu Fernando tumbang, seluruh aset Ganendra Group harus jatuh ke tangan kita!"

Aldo mengangguk mantap, menutupi fakta bahwa di dalam pikirannya saat ini hanyalah Dona dan janji manis untuk bersenang-senang nanti malam, sama sekali tak menyadari bahwa bahaya besar sedang mengintai mereka berdua akibat kecerobohan masa lalu.

*

*

Malam harinya, hening menguasai ruang kerjanya Edgar di apartemennya. Jam dinding menunjukkan pukul delapan. Pria tegap itu duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel di genggamannya, ibu jarinya berulang kali mengusap nama Aruni di layar.

​Mengingat pesan dari Harry untuk tidak terdengar seperti sedang memimpin rapat direksi, Edgar menarik napas panjang, menata nada suaranya, lalu menekan tombol panggil.

​Tut... Tut... Tut...

​"Halo? selamat malam, Om Edgar?" suara lembut di ujung telepon menyapa.

​Jantung Edgar mendadak berdegup kencang, rona hangat menyapu pipinya hanya karena mendengar panggilan Om Edgar yang jujur saja mulai terasa manis di telinganya.

​"Selamat malam... Aruni," jawab Edgar selembut mungkin. "Maaf mengganggu malam-malam. Aku... cuma ingin menanyakan kabar kalian. Anak-anak sudah tidur?"

​"Belum, Om. Rayyan dan Zayyan sedang mewarnai di meja belajar. Tadi sore mereka terus mengobrolkan soal Negeri Sayur," jawab Aruni, ada nada renyah di balik suaranya yang membuat Edgar tersenyum lebar.

​"Baguslah kalau mereka senang. Kamu... bagaimana? Tidak terlalu lelah, kan?"

​Di seberang sana, Aruni sempat bergeming sejenak, tak menyangka pria kaku itu akan menanyakan keadaannya terlebih dahulu. "Aku baik, Om. Terima kasih sudah menanyakan."

​"Aruni... mmm, soal panggilan Om itu," Edgar berdeham canggung, mencoba melancarkan jurus slow release saran dari Harry. "Sebenarnya aku tidak keberatan kamu memanggilku apa saja, asal... kamu nyaman dan tidak merasa canggung lagi di dekatku."

​Aruni terkekeh pelan dari balik telepon, membuat dadanya Edgar semakin berdesir hangat. "Iya, Om Edgar. Aku mulai terbiasa, kok."

​"Baiklah. Jaga kesehatan kalian ya. Kalau butuh sesuatu, langsung kabari aku. Selamat malam, Aruni."

​"Selamat malam, Om Edgar."

​Sambungan terputus. Edgar melempar ponselnya ke kasur lalu merebahkan diri sambil menatap langit-langit kamar dengan senyum mengembang penuh kemenangan.

 'Harry benar... pendekatan ini jauh lebih menyenangkan.'

*

*

​Di tempat lain, di kawasan Sukamakmur, sebuah mobil sedan hitam terparkir samar di bawah rindang pohon, tak jauh dari rumahnya Bik Sumi.

​Di dalam mobil, Rama duduk memangku laptop dengan HT kepolisian yang terikat di bahunya. Bola matanya menatap tajam layar pengintai yang terhubung dengan kamera pengawas jalanan. Laporan intelijen baru saja masuk ke ponselnya, bahwa David Ganendra telah kembali ke Indonesia.

​"David sudah mendarat di Jakarta..." gumam Rama dengan rahang mengeras. Pria itu mencengkeram kemudi mobilnya kuat-kuat.

​Ia tahu betul, kembalinya serigala tua itu ke tanah air berarti keselamatan Aruni dan si kembar kini berada di garis merah.

​Rama melirik ke arah rumah Bik Sumi yang lampunya mulai dipadamkan satu per satu. "Aku tidak akan membiarkan bangsat itu menyentuhmu lagi, Aruni... Walaupun pada akhirnya, aku harus rela melihatmu tersenyum untuk pria lain."

Bersambung...

1
Sri Rahayu
nyesel pak Marwan....anak kandung mu kamu usir demi iblis.Mona dan Dona...lanjut Thorr 😘😘😘
Lisa
Puji Tuhan Aldo cs udh ditangkap..salut banget sama Aruni yg mau memaafkan papa kandungnya .
fatmawati (pipit)
aruni hati kamu seluas samudra walau sakit tapi tetap memaafkan kesalahan nya 😍😍😍😍
untuk aldo, dona, nova dan david beri hukuman siksa dan mati🤭🤭🤭
fatmawati (pipit): 😍😍😍😍😍😍
total 2 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Aldo dan duo pelacur murahan itu sudah tertangkap dan siap-siap jadi gembel 🤣🤣😂😂

puji Tuhan, hubungan Aruni dan papa kandungnya sudah membaik
Ilfa Yarni
ya iyalah aruni gitu lho
Nar Sih
mantapp👍😂😂 kejutan yg luarbiasa untuk mu aldo ,
Nar Sih
berkat si kmbr yg jenius juga kerja sama antara edgar dan rama pasti aldo juga dona pasti end
fatmawati (pipit)
aldo bentar lagi kebusukan kamu dengan ayah kamu serta dona dan nova akan trending dan disaat yang sama papa kandung aruni akan shock melihat kelakuan dari istri kedua nova dan dona
Lucy
lanjut Thor, nanggung 😃😃😃
Lucy
hahaha niat menjatuhkan Edgar dan Aruni,eh balik Aldo yg diserang ,Nova ditangakap polisi tinggal Dona 😂😂
Teh Euis Tea
rasain km Aldo niat hati mau merebut kekuasaan Edgar malah kena jebakkan sendiri, kasian ibumu Aldo tambah hancur hatinya liat suami sm anaknya di penjara karna gila harta
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak 😊
total 1 replies
Lisa
👍👍 Good job twins..Aldo ga bisa berkutik lg tuh 😊😊
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ilfa Yarni
mampoos kau also many enkmalah kejahatan kalian yg terbongkar ini mah kerja an sikembar
Ariany Sudjana
hahaha niat hati ingin menyingkirkan Edgar supaya bisa jadi konglomerat, ujungnya kamu yang ditangkap 🤣🤣😂😂 itulah hukum tabur tuai Aldo, tugas kamu sekarang ya menjalani hukuman dalam penjara, dengan pelacur murahan kesayangan kamu itu 🤣🤣😂😂
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
Patrick Khan
bahaya ni aldo dendam nya sm si kembar..rama si gitu aja ngomong..hadehhhh
Ilfa Yarni
duh twins kalian jenius banger sih Kalah ayah edgar sama paman Rama Oleh kalian pekerjaan Rama jadi mudah krn dibantu kalian yg super hebat
Lucy
Aldo jgn merasa menang dulu🤣ntar kau yg akn hancur🤣🤣🤣sama seperti ayahmu🤣
Sri Rahayu
Aldo pikir dia akan menang dari Edgar.dan bisa menjadi CEO di Ganendra Group...ngimpi kamu Aldo...kejahatan mu uda terbongkar oleh Rayyan dan Zayyan 🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Ariany Sudjana
kerjasama yang bagus antara Edgar, Rama dan duo detektif jenius ini. Aldo jangan bermimpi kamu sudah menang, tapi kamu akan menggali kuburan kamu sendiri, dengan duo pelacur murahan itu 🤣🤣😂😂
fatmawati (pipit)
aldo siap siap ya habis ini dapat kejutan lhooo yg sangat indah dari kedua bocah kembar ganendra🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!