Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pengejaran di Langit Senja
Belum sempat Xioutian menjawab, Tetua Pertama sudah membentuk segel tangan di belakang mereka. Dari telapak tangannya, keluar cahaya merah yang membentuk satu kuntum teratai utuh. Teratai itu mekar sempurna di udara, kelopak-kelopaknya tersusun rapat dan memancarkan kilau putih kemerahan.
"Teratai Awan: Kelopak Pembunuh!"
Begitu suara itu diucapkan, kelopak teratai mulai meluruh satu per satu dari bunganya. Setiap kelopak yang lepas langsung melesat dengan arah berbeda-beda, meninggalkan jejak cahaya tipis di udara.
"Tuan, yang lebih buruk, kelopak itu bisa mengejar target!"
"Kalau begitu cepat turun," jawab Su Yu.
Xioutian segera menukik ke kiri dengan tajam, menghindari tiga kelopak pertama yang menyapu dari arah kanan. Tiga kelopak itu meledak di udara kosong, menciptakan gelombang panas yang membuat bulu-bulu burung itu bergetar.
DUAR!
DUAR!
DUAR!
"Belum selesai!"
Xioutian berteriak lagi, lalu berbelok ke atas dengan sudut yang curam. Lima kelopak lainnya datang dari kiri, dan burung itu segera berbelok cepat ke kanan.
DUAR!
Ledakan terjadi lagi, dan kali ini kembali berhasil dihindari.
Xioutian segera melesat semakin cepat dari sebelumnya.
"Sial! Jika seperti ini terus... kita pasti mati."
Su Yu tidak memperdulikan keluhan burungnya, sebaliknya ia menoleh ke belakang dan melihat kelopak-kelopak itu terus bertambah. Kini jumlahnya sudah mencapai puluhan dan tersebar di udara seperti kawanan lebah yang membawa maut.
"Xioutian, ke arah tebing!"
Burung itu mengangguk cepat, lalu menukik ke bawah menuju tebing batu yang menjulang di sisi kiri. Kelopak-kelopak teratai itu ikut menukik, membuntuti dari belakang dengan kecepatan yang nyaris sama.
Su Yu menatap tebing yang semakin dekat, lalu berteriak keras.
"Belok kanan sekarang!"
Xioutian berbelok ke kanan dengan sangat tajam, hampir menabrak dinding batu. Tubuhnya melesat melewati celah sempit antara dua tebing, sementara kelopak-kelopak teratai yang mengejarnya tidak punya cukup waktu untuk berbelok tajam.
DUAR!
DUAR!
DUAR!
Puluhan kelopak itu menghantam dinding batu dan meledak bersamaan, menciptakan rentetan ledakan yang menggetarkan seluruh lembah. Batu-batu besar berjatuhan dari atas, menimbun jalan di belakang mereka.
Xioutian keluar dari celah itu dengan napas tersengal.
"Berhasil... kita berhasil melewatinya!"
Namun di saat yang sama, Tetua Kedua sudah muncul di sisi kanan atas, tongkatnya berkilat dengan energi spiritual berwarna hijau tua.
"Terlalu cepat merayakan, burung sialan!"
Tongkat itu diayunkan dari atas ke bawah, menciptakan gelombang energi berbentuk sabit yang meluncur cepat ke arah Xioutian.
WOOSSHH!
Xioutian tidak sempat berbicara. Ia langsung menukik ke bawah dengan sudut yang curam, tetapi sabit hijau itu tetap mengejar, meninggalkan jejak cahaya yang tidak memudar.
Su Yu yang masih duduk di punggung burung itu menggertakkan giginya. Ia merasakan tubuhnya semakin lemah, darah dari luka di dadanya terus mengalir tanpa henti.
"Xioutian, lebih cepat!"
"Baik tuan."
Burung itu mengepakkan sayapnya dengan putus asa, berusaha menambah jarak dari sabit hijau yang semakin dekat.
Tetapi sia sia. Beberapa napas kemudian, sabit itu akhirnya menyusul dan menghantam ujung sayap kanan Xioutian.
SREET!
"ARGH!"
Xioutian menjerit kesakitan, bulu-bulunya berhamburan terbakar. Sabit hijau itu lenyap setelah berhasil melukai sayapnya, tetapi serangan berikutnya sudah menunggu.
Tetua Ketiga muncul dari sisi kiri, telapak tangannya membentuk cakar merah raksasa yang menerjang lurus ke arah Su Yu.
"Matilah, sampah!"
Cakar merah itu meluncur cepat seperti kilat, meninggalkan jejak energi panas di udara.
Xioutian yang masih kesakitan berusaha menghindar dengan melesat ke atas, tetapi cakar merah itu terlalu cepat, hingga berhasil menggores punggung Su Yu.
SREET!
"Ugh!"
Su Yu tersentak, tubuhnya hampir terlempar dari punggung burung itu. Tangannya mencengkeram bulu Xioutian sekuat tenaga, sementara darah segar mengalir dari luka baru di punggungnya.
"Tuan! Kau terluka!"
"Jangan pedulikan aku! Terbang!"
Xioutian menggertakkan giginya, lalu mengepakkan sayapnya dengan sekuat tenaga, keatas, lalu segera menukik dengan kecepatan jatuh yang mengerikan. Di bawah mereka terlihat jurang besar terbentang, dan burung itu segera menuju tempat itu.
Tetua Keempat yang berhasil mengejar dan cukup dekat di sisi kanan Xioutian, langsung membentuk tombak hijau di telapak tangannya.
"Kalian tidak akan lolos!"
Tombak hijau itu dilepaskan dengan kekuatan penuh, meluncur lurus ke arah kepala sisi kanan Xioutian.
WUUSH!
Xioutian mendengar suara serangan datang, langsung terbang ke atas lagi dengan cepat. Hal itu membuat tombak hijau meleset kemudian menghantam dinding tebing di sisi kanan.
DUAR!
Ledakan itu membuat batu-batu besar berjatuhan.
"Sialan!"
Tetua Pertama yang kini tiba di samping tetua keempat mendengus dingin.
"Jangan biarkan mereka menghindar lagi! Serangan gabungan sekarang!"
Tetua kedua dan ketiga segera mendekat. Setelah sudah berkumpul, keempat tetua itu langsung membentuk formasi empat arah di udara, mengumpulkan energi spiritual secara bersamaan.
SSSTTT!
Empat warna energi berbeda menyatu di satu titik, membentuk bola cahaya raksasa yang berputar-putar dengan ganas. Setelah terbentuk maksimal, keempat tetua membentuk segel tangan, lalu berbicara hampir bersamaan.
"Pergilah. Bunuh musuhmu."
Mendapatkan perintah itu, bola itu meluncur dari belakang ke arah Xioutian dengan kecepatan luar biasa.
WOOSSHH!
Menyadari serangan gabungan datang dari belakang, Xioutian berteriak panik.
"Tuan, itu serangan gabungan!"
"Masuk ke dalam jurang! Sekarang!"
Burung itu langsung menukik ke bawah lagi memutuskan menuju mulut jurang yang gelap. Tetapi bola cahaya itu terus membuntuti dari belakang, dan jaraknya semakin dekat dan semakin dekat.
Hingga akhirnya... serangan tersebut tidak bisa dihindari, meledak tepat satu meter dari ekor Xioutian.
DUARRR!
Ledakan dahsyat mengguncang langit senja, menciptakan gelombang kejut yang menghantam seluruh tubuh Su Yu dan Xioutian.
Burung itu terpental ke dalam jurang seperti batu yang dilempar, tubuhnya berputar tak terkendali di udara tanpa mampu menyeimbangkan diri.
Sementara Su Yu terlempar jauh dari tubuh Xioutian, jatuh bebas di dalam kegelapan jurang dengan posisi menghadap ke atas langit.
"Xioutian," panggil Su Yu lemah.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara angin yang menderu di telinganya dan rasa dingin yang semakin menusuk. Beberapa tarikan napas kemudian, tubuhnya menembus kabut tipis jurang di kedalaman tertentu, sementara suasananya langsung berubah menjadi sunyi dan mencekam.
Tak berselang lama...
BYUR!
Air sungai menyambut tubuh Su Yu dengan kasar, menenggelamkannya ke dalam arus yang deras. Ia memejamkan matanya, sementara tubuhnya terus tenggelam.
Di tepi jurang, keempat tetua berhenti dan memandang ke bawah. Kabut tebal masih menyelimuti dasar jurang, sementara suara air yang mengalir deras memenuhi keheningan.
"Apakah mereka mati?" tanya Tetua Kedua.
Tetua Pertama menyipitkan matanya, mencoba menembus kabut dengan pandangannya.
"Kita harus memastikannya. Cari di sepanjang sungai. Jangan sampai ada yang lolos."
Tanpa banyak bicara, Keempat tetua itu mengangguk bersamaan lalu melesat turun.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔