Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.
keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tangan besar berbulu pekat itu terulur, mencengkeram kuat seolah hendak menyeret Theo kembali ke dalam cengkeraman masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam.
“Arghh…!” Theo meronta hebat di dalam tidurnya. Keringat dingin bercucuran deras membasahi seluruh tubuhnya, napasnya tersengal-sengal, hingga akhirnya ia terperanjat bangun dari tidurnya dengan mata terbelalak lebar, memburu oksigen di tengah keheningan kamar yang kembali sunyi.
Napas Theo masih memburu tak beraturan. Keringat dingin mengucur deras dari pelipis dan membasahi kemeja tidur yang ia kenakan. Bayangan mimpi buruk tentang genderuwo berbulu hitam lebat dengan sepasang mata merah menyala masih membekas jelas di benaknya, berpadu dengan teror nyata sosok kuntilanak di jendela kamar beberapa jam lalu.
Theo menoleh ke sisi tempat tidur, melirik jam dinding berukuran besar yang tergantung di sudut kamar. Jarum pendek menunjuk angka 4, sementara jarum panjang tepat di angka 12. Pukul 04.00 pagi. Waktu Subuh hampir menjelang.
Ia mengusap wajahnya yang tegang dengan kedua telapak tangan yang masih sedikit bergetar. Pandangannya kemudian beralih kepada Tiara. Istri tercintanya itu tampak tertidur lelap dalam posisi miring menghadap ke arahnya. Wajah Tiara masih menyisakan jejak kepenatan dan sisa air mata akibat ketakutan luar biasa semalam. Napasnya terdengar teratur, menunjukkan betapa kelelahan fisik dan mentalnya setelah menghadapi teror gaib yang mencekam.
Melihat ketenangan di wajah sang istri di tengah situasi yang begitu menakutkan membuat hati Theo terenyuh. Ia merapikan helai rambut Tiara yang sedikit menutupi dahi, lalu mengecupnya pelan penuh kelembutan.
Di tengah keheningan pagi buta itu, kumandang azan Subuh pertama mulai terdengar sayup-sayup dari surau desa di luar sana, memecah kesunyian malam dan membawa ketenangan baru bagi batin Theo yang sempat kacau.
Sambil membiarkan tatapannya tersesat dalam remang cahaya lampu kamar, Theo kembali terhanyut dalam lamunannya yang panjang. Pukul empat pagi itu terasa begitu sunyi, tetapi batinnya justru bergemuruh hebat.
Ia menatap nanar ke arah jendela kamar tempat penampakan semalam terjadi, lalu kembali membayangkan kengerian mimpi buruk tentang sang genderuwo hitam. Pikiran-pikiran liar berkecamuk di dalam kepalanya, membentuk pertanyaan-pertanyaan yang menyesakkan dada.
“Sebenarnya... apa yang sedang menunggu kami di rumah ini? Apakah keputusan untuk tinggal di sini benar-benar pilihan yang tepat untuk masa depan kami berdua?” bimbang Theo dalam hati.
Sebagai seorang suami, impian terbesarnya adalah membangun keluarga yang tenteram, damai, dan jauh dari marabahaya bersama Tiara. Namun, kenyataan yang ia hadapi justru sebaliknya. Rumah peninggalan kakeknya bukan sekadar tempat berlindung, melainkan gerbang menuju dunia lain yang penuh teka-teki dan ancaman mematikan.
Jika teror-teror ini terus berdatangan setiap hari, bagaimana nasib Tiara kedepannya? Bagaimana jika suatu saat nanti makhluk-makhluk itu melukai istrinya saat ia tidak ada di sisi wanita itu? Ketakutan akan masa depan yang tidak pasti mencengkeram erat relung hatinya, membuat Theo merasa begitu kecil dan tak berdaya di hadapan misteri warisan leluhurnya sendiri.
Dari atas tempat tidur, Tiara mengerjap pelan menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya kamar yang temaram. Ia mendapati sisi ranjang di sebelah kirinya kosong.
Saat ia memalingkan wajah ke sudut kamar, terlihat suaminya duduk termangu di sebuah kursi kayu, menatap kosong ke arah luar jendela dengan pundak yang tampak begitu berat menanggung beban pikiran.
Tiara bangkit perlahan, merapikan piyamanya yang sedikit kusut. Meskipun sisa-sisa rasa takut akibat teror penampakan kuntilanak semalam masih mencengkeram dadanya—mengingat ini adalah pengalaman pertamanya melihat makhluk gaib secara langsung—ia tahu suaminya memikul beban yang jauh lebih besar di pundaknya.
Dengan langkah pelan, Tiara mendekati Theo. Ia melingkarkan kedua tangannya dari belakang, memeluk pundak sang suami dengan penuh kelembutan, lalu menyandarkan kepalanya di punggung Theo.
"Mas..." panggil Tiara dengan suara serak khas bangun tidur. "Kenapa lagi? Melamunin apa, hih?"
Theo terkesiap kecil. Ia menoleh ke belakang, mendapati senyuman tulus meski tampak lelah di wajah istrinya. Theo meraih tangan Tiara yang melingkar di pundaknya, lalu menggenggamnya erat.
"Sayang... kamu sudah bangun?" ucap Theo lirih, sorot matanya menyiratkan rasa bersalah sekaligus kecemasan yang mendalam. "Aku cuma... memikirkan kejadian semalam. Asal kamu tau sayang, rumah ini bukan lah rumah biasa seperti rumah lain. Aku minta maaf sebelumnya kalau aku tidak menceritakan rumah ini kepadamu."
Theo menunduk, menghela napas berat. "Aku takut, sayang. Semalam itu baru permulaan, masih akan banyak lagi hal hal yang entah seperti apa yang kelak akan kita hadapi. Bagaimana kalau makhluk-makhluk itu melukai kamu saat aku nanti pergi ke Jakarta? Jujur, aku mulai meragukan keputusanku sendiri. Apakah benar keputusan kita pindah ke rumah ini adalah pilihan yang tepat?"
Mendengar keraguan yang begitu kentara dalam suara suaminya, Tiara tidak lantas ikut merasa takut atau menyalahkan keadaan. Sebaliknya, wanita berusia 22 tahun itu justru berputar ke hadapan Theo, berlutut kecil di hadapan kursi suaminya, lalu menangkup kedua pipi Theo dengan lembut. Ia menatap lurus ke dalam mata suaminya, menyalurkan ketenangan.
"Mas Theo... dengarkan aku," ucap Tiara dengan nada bicara yang tegas namun sarat akan kelembutan. "Aku memang takut. Semalam, itu pertama kalinya dalam hidupku melihat hal mengerikan seperti itu, dan jantungku rasanya mau copot. Tapi... aku tidak pernah menyesal mengikuti langkah kaki kamu ke sini."
Theo tertegun, menatap lekat sang istri.
"Keputusan kita tinggal di rumah ini bukan sebuah kesalahan, Mas," lanjut Tiara sambil tersenyum menenangkan, ibu jarinya mengusap lembut pipi suaminya yang basah oleh keringat dingin sisa subuh tadi. "Almarhum Kakung dan Uti pasti punya alasan kenapa rumah ini begitu berharga dan harus dijaga. Kita di sini bukan untuk lari, tapi untuk melanjutkan amanah. Soal teror semalam... kita hadapi sama-sama. Kalaupun nanti kamu harus ke Jakarta, aku akan tetap di sini bersama Uti, saling menjaga. Kamu tidak sendirian, Mas. Ada aku, ada Uti, dan ada Allah yang selalu melindungi kita."
Kata-kata tulus yang meluncur dari bibir Tiara bagaikan angin sejuk yang memadamkan bara kecemasan di dada Theo. Rasa hangat perlahan menjalar, meruntuhkan separuh beban ketakutan yang sejak semalam menghimpit napasnya.
Theo menatap istrinya dengan pandangan berkaca-kaca, terharu mendapati wanita yang dicintainya ternyata memiliki keteguhan hati yang luar biasa, bahkan jauh lebih kuat dari dugaannya. Theo lantas menarik Tiara ke dalam dekapan hangatnya, memeluk erat tubuh istrinya seolah menyatukan jiwa mereka di tengah misteri besar yang masih menyelimuti rumah warisan sang kakek.
.
.
Setelah percakapan yang mengalirkan ketenangan dan menguatkan batin mereka, ketegangan yang sempat menyelimuti kamar perlahan mencair. Theo dan Tiara sepakat untuk segera mengakhiri lamunan pagi itu dan bersiap menyambut hari baru.
Keduanya beranjak dari kamar, membersihkan diri, lalu mengenakan pakaian muslim yang rapi untuk menunaikan ibadah Subuh. Langkah kaki mereka menyusuri koridor lantai dua yang kini terasa lebih hangat, berkat keyakinan baru yang disatukan oleh cinta dan doa.
Begitu tiba di lantai bawah, setibanya di ruang tamu berdesain Eropa klasik, mereka mendapati Bu Sri sudah duduk sendiri di atas sofa ruang tamu. Wanita paruh baya itu tampak tenang dengan balutan mukena putih yang sudah tersusun rapi di tubuhnya, seolah sudah sejak lama menanti cucu dan cucu menantunya untuk bersiap bersama.
"Alhamdulillah, kalian sudah siap. Uti kira masih mau istirahat sebentar," sapa Bu Sri ramah sambil tersenyum menyambut kehadiran Theo dan Tiara.
"Sudah siap, Uti," jawab Theo tersenyum tipis, merangkul pelan pundak istrinya.
Tanpa membuang waktu lebih lama, ketiganya pun melangkah bersama-sama keluar rumah. Pintu utama dibuka, membiarkan udara pagi subuh yang segar namun menusuk kulit menyapa wajah mereka. Bersama-sama, mereka menyusuri jalanan desa yang masih diselimuti kabut tipis menuju ke masjid desa untuk menunaikan salat Subuh berjamaah, mencari perlindungan dan keberkahan di tengah hari yang baru saja dimulai.
Matahari pagi kini telah naik sepenuhnya, menunjukkan pukul 07.00 WIB. Setelah menunaikan salat Subuh ....
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???
🤨🤨🤨🤨🤨