Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Transmigrasi: Ketua Geng, Jiwa HRD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Transmigrasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nyvara

Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

~​Jumat sore~

Bel pulang sekolah telah berbunyi, namun ruang sekretariat OSIS dipenuhi oleh perayaan. Reyhan, Siska, dan anggota OSIS lainnya memesan beberapa loyang piza dan minuman ringan menggunakan dana patungan. ​Di sudut ruangan, Dion, Rindi, Tono, dan Bono sedang melahap piza tersebut dengan rakus. Ini adalah pertama kalinya mereka diundang ke acara "resmi" sekolah dan makan bersama anak-anak OSIS tanpa ada pandangan merendahkan atau permusuhan.

​Bella berdiri di depan papan tulis Gantt Chart yang kini seluruhnya telah diberi tanda centang hijau. Ia mengetuk papan tulis itu dengan ujung spidol, meminta perhatian seluruh ruangan. Suasana seketika hening, anak OSIS maupun mantan preman sama-sama memberikan penghormatan penuh pada sang Project Manager.

​"Mari kita mulai sesi Post-Mortem Meeting (Evaluasi Pasca-Proyek)," buka Bella dengan suara jernihnya yang khas. "Berdasarkan rilis informal dari Kepala Sekolah, target kita tercapai 100%. Institusi ini diproyeksikan menerima Akreditasi A. Sebagai pimpinan proyek, saya mengapresiasi kinerja kalian. Kalian bekerja dalam tekanan tenggat waktu yang brutal, namun tidak ada satu pun deadline yang meleset."

​Siska tersenyum lebar, mengangkat gelas sodanya. "Ini semua berkat sistem pendelegasianmu, Bella. Aku nggak pernah ngerasa kerja se-efisien ini."

​"Sistem hanyalah alat, Siska. Eksekutornya lah yang menentukan keberhasilan," koreksi Bella, sebelum pandangannya beralih ke empat anggota Unit Manajemen Krisis yang sedang duduk rapi.

​"Dan untuk tim internal saya," kata Bella, berjalan mendekati Dion dan kawan-kawan. Ia mengeluarkan empat amplop cokelat berlogo perusahaan ayahnya dari dalam tas kulitnya.

​"Dalam dunia bisnis, kinerja yang melampaui target (Exceed Expectations) wajib diganjar dengan Performance Bonus (Bonus Kinerja) tambahan, di luar bonus bulanan standar kita. Ini adalah pembagian 'dividen' dari keuntungan efisiensi anggaran yang kita peroleh bulan ini."

​Bella meletakkan amplop tersebut di depan masing-masing anggotanya, nominalnya tidak main-main. Rindi membuka amplopnya sedikit dan matanya nyaris melompat keluar melihat lembaran uang berwarna merah muda di dalamnya, hatinya langsung berbunga-bunga.

​"B-Bos... ini... ini beneran buat kita?" suara Tono bergetar. "Tapi kan kita cuma modalin tenaga buat ngangkat kardus sama ngelubangin kertas?"

​Bella menatap Tono tepat di matanya. "Logistik dan Pengarsipan adalah tulang punggung dari kelancaran audit, Tono. Jangan pernah meremehkan Job Description-mu sendiri, kalian telah berkontribusi memberikan nilai tambah (Value Added) yang masif bagi institusi ini. Kalian bukan lagi beban, kalian adalah aset (Human Capital). Bawa pulang uang itu, berikan sebagian kepada ibu kalian di rumah."

​Dion menatap amplopnya tanpa membukanya. Hatinya terasa penuh. Selama ini, ia hidup dari uang hasil memalak atau subsidi buta dari Bella versi lama. Uang itu selalu terasa kotor dan habis tak tersisa, namun uang di depannya saat ini adalah uang hasil bonus kinerja yang diakui secara profesional. Hal ini terasa memiliki bobot yang berbeda, terdapat martabat di dalam amplop tersebut.

​"Makasih, Bos," kata Dion pelan, namun penuh makna. "Gue... kami nggak bakal ngecewain sistem ini."

​"Saya tahu kalian tidak akan melakukannya," jawab Bella. Ia merapikan dokumennya dan mematikan laptop-nya. "Nikmati sisa hari Jumat kalian. Pulihkan fisik dan mental kalian (Re-charge) di akhir pekan. Hari Senin, kita kembali ke operasional normal."

​Saat Bella melangkah keluar dari ruang OSIS, koridor sekolah terasa berbeda. Ia melihat ekosistem sekolah ini perlahan berubah, klub-klub ekskul mulai sibuk menyusun proposal kegiatan yang kompetitif, guru-guru memiliki sistem kerja yang lebih jelas. Dan gengnya tidak lagi menjadi parasit, melainkan tim keamanan operasional sekolah yang dihormati secara diam-diam. Pengaruh kepemimpinan manajerial Bella telah mengakar kuat di SMA Garuda. Namun, kesuksesan yang terlalu terang selalu menarik perhatian predator di dalam kegelapan.

​Sementara SMA Garuda sedang merayakan era kebangkitan kedisiplinan barunya, sebuah manuver gelap sedang disusun sekitar tiga kilometer dari sana, tepatnya di sebuah arena biliar bawah tanah yang menjadi markas utama Geng Serigala. ​Ruangan itu dipenuhi asap rokok dan dentingan bola biliar. Leo, sang Ketua Geng Serigala, berdiri di ujung meja hijau, memegang tongkat biliar dengan satu tangan. Matanya yang tajam mengunci bola angka 8.

​Toni, wakilnya, berjalan menghampiri Leo dengan wajah kusut dan rahang mengeras.

​"Leo," panggil Toni, suaranya dipenuhi frustrasi. "Laporan dari anak-anak intel kita di SMA Garuda. Akreditasi sekolah mereka dapat A. Si Bella dan anak-anak Bone Breakerz sekarang malah jadi anak emas Kepala Sekolah, mereka dilindungi penuh sama guru-guru. Reputasi kita di tongkrongan luar hancur gara-gara kita nggak berani nyentuh mereka sebulan ini!"

​Leo tidak segera menjawab. Tak! Tongkatnya menyodok bola putih dengan akurasi mematikan, memasukkan bola hitam bernomor 8 ke lubang sudut. ​Leo kemudian menegakkan tubuhnya, mengoleskan kapur biru ke ujung tongkatnya. "Mereka bukan lagi berandal jalanan, Toni. Gadis itu, Bella... dia tidak bermain dengan hukum jalanan. Dia menggunakan kekuatan birokrasi dan otoritas. Jika kita menyerang mereka di dalam sekolah, kita yang akan hancur oleh polisi dan sistem."

​"Terus kita biarin aja?!" potong Toni emosi. "Kita diem aja ngelihat geng musuh bebuyutan kita berubah jadi OSIS elite dan ngeremehin kita?!"

​"Aku tidak bilang kita diam," Leo tersenyum tipis—senyuman predator yang sangat kalkulatif. "Jika musuh berlindung di balik benteng birokrasi, maka kita harus memancing mereka keluar dari benteng tersebut. Kita harus membuat mereka datang kepada kita dengan kemauan mereka sendiri."

​"Gimana caranya?"

​Leo mengambil sebuah amplop hitam pekat dari dalam saku jaket kulitnya. Di atas amplop itu, terdapat stempel lilin merah berlogo serigala mengaum, sebuah simbol tantangan resmi dalam dunia bawah tanah antarsekolah.

​"Ini adalah undangan," kata Leo pelan, menyerahkan amplop itu kepada Toni. "Undangan penyelesaian sengketa wilayah. Kirimkan ini ke pos keamanan sekolah mereka hari Senin pagi, tujukan langsung kepada Bella Anastasia."

​"Isinya apa?" Toni mengerutkan kening.

​"Sebuah tawaran yang tidak bisa ditolak oleh seorang pemimpin yang memiliki ego," jelas Leo. Matanya memancarkan kecerdasan licik yang jarang dimiliki preman biasa. "Jika Bella benar-benar menganggap dirinya sebagai 'CEO' dari kelompoknya, maka aku menantangnya untuk melakukan diskusi 'Merger dan Akuisisi' (M&A) di wilayah netral yaitu Gudang Terbengkalai Pelabuhan. Jika dia menang, Geng Serigala akan tunduk padanya dan berhenti mengganggu Garuda selamanya."

​Toni membelalakkan matanya. "Hah?! Lo mau nyerahin geng kita ke cewek itu?!"

​"Tentu saja tidak, bodoh," Leo mendengus. "Itu hanya umpan (Bait). Di dunia bisnis yang dia agung-agungkan, itu disebut sebagai jebakan Hostile Takeover (Pengambilalihan Paksa). Saat dia dan pengawalnya yang hanya berjumlah empat orang itu datang ke pelabuhan, kita akan mengepung mereka dengan tiga puluh orang. Tanpa perlindungan Kepala Sekolah, tanpa CCTV, tanpa guru BK, mereka itu tidak lebih dari sekadar daging segar di kandang serigala."

​Senyum sadis perlahan merekah di wajah Toni. "Gila... Lo emang jenius, Bos. Gue bakal pastikan surat ini sampai ke tangan ratu sombong itu hari Senin besok."

~​Senin pagi, pukul 06:30 WIB~

​Bella baru saja duduk di mejanya di kelas 11 IPS 2 dan membuka planner hariannya ketika Dion masuk dengan langkah tergesa-gesa, wajah Kepala Keamanan Internal itu tegang maksimal.

​"Lapor, Bos," kata Dion dengan suara rendah, memastikan tidak ada siswa lain yang mendengar. Ia meletakkan sebuah amplop hitam bersegel lilin merah di atas meja Bella. "Dari Geng Serigala. Titipan lewat satpam depan. Gue udah scan amplopnya, nggak ada bubuk beracun atau benda tajam. Murni dokumen fisik."

​Bella menatap amplop hitam itu tanpa ekspresi. Ia mengambil pembuka surat dari tempat pensilnya, memotong segel lilin merah itu dengan rapi tanpa merobek kertas amplop, lalu menarik selembar surat berwarna perkamen. ​Ia membaca isi surat tersebut dengan cepat, mata Sarah Paramitha dengan mudah menerjemahkan bahasa ancaman jalanan itu ke dalam bahasa bisnis.

​"Undangan penyelesaian sengketa wilayah," gumam Bella. Ia meletakkan surat itu di meja, melipat tangannya. "Leo menantangku untuk berunding secara jantan di Pelabuhan Lama Jumat malam. Jika aku menang, dia menawarkan gencatan senjata permanen."

​"Bos, itu jebakan!" sergah Dion panik. "Gudang pelabuhan itu markas lapis kedua mereka! Mereka pasti udah nyiapin puluhan orang di sana buat ngeroyok kita! Jangan mau, Bos. Mending kita laporin surat ini ke polisi atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan!"

​Bella menggeleng perlahan. "Tidak, Dion. Laporan polisi hanya akan menunda masalah, bukan menyelesaikannya. Lagi pula Leo sudah menyadari kelemahan taktik kita. Jika kita menolak undangan ini, ia akan mulai menyerang infrastruktur sekolah secara acak tanpa meninggalkan jejak (Hit and Run), yang akan mengganggu stabilitas operasional kita sehari-hari."

​"Jadi... kita bakal datang ke sana, Bos? Berlima doang ngelawan tiga puluh orang bawa senjata?!" Dion nyaris menjambak rambutnya sendiri saking stresnya.

​Bella menatap ke luar jendela kelas, melihat ke arah langit pagi yang cerah. Otak manajerialnya yang telah terasah oleh ratusan sengketa serikat pekerja dan negosiasi krisis di kehidupan sebelumnya mulai merangkai algoritma strategi. Geng Serigala mengira mereka sedang mengundang seekor domba yang sombong ke dalam kandang mereka, mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang mengundang auditor paling brutal di dunia korporat untuk membedah perut mereka.

​"Kita akan menerima tantangan ini, Dion," ucap Bella, suaranya sangat tenang, namun memancarkan aura es yang membekukan jiwa siapa pun yang mendengarnya. "Ini bukan jebakan tawuran. Ini adalah Undangan Rapat Pemegang Saham Mayoritas Jalanan. Dan dalam rapat bisnis apa pun, aku tidak pernah datang tanpa membawa strategi Akuisisi Paksa (Hostile Takeover)."

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!