Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.
Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.
"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.
"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.
Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEKEJAMAN ALETA
"Tunjukkan identitasmu! Berani sekali penyusup masuk ke wilayah terlarang istana-"
Belum sempat prajurit itu menyelesaikan kalimatnya, Aleta sudah melesat maju secepat kilat.
BHUK
"Terlalu banyak bicara," ucap Aleta dingin.
Satu tendangan keras mendarat di rahang prajurit itu, hingga terpental menabrak dinding dan langsung pingsan seketika tanpa sempat mengeluarkan teriakan.
Aleta menangkap tubuh prajurit yang nyaris ambruk itu, lalu menyeretnya pelan ke balik semak-semak agar tidak terlihat orang lain.
"Satu selesai, sisa ribuan lagi di dalam, waktu bermain yang sangat menyenangkan," bisik Aleta dingin, mencabut belati dari pahanya dan berjalan menuju pintu utama aula istana dengan langkah anggun namun mematikan.
Di tempat lain, Liam memacu kencang kuda nya hingga tiba di gerbang luar istana dengan napas tersengal-sengal, pria itu langsung melompat turun dari kudanya, mengabaikan rasa lelah di sekujur tubuhnya.
"Sial, semoga aku belum terlambat," desis Liam cemas, menghunus pedang panjangnya dan bersiap menerobos gerbang istana seorang diri demi menyelamatkan istri gilanya itu.
Langkah kaki Aleta begitu ringan, dua orang pengawal yang berdiri di depan pintu besar kamar Raja Salova sama sekali tidak menyadari kehadiran maut yang sedang mendekat.
"Malam ini dingin sekali, ya?" bisik pengawal pertama sambil menguap lebar.
"Udah, jangan banyak ngeluh, jaga pintu yang bener, kalau masih sayang nyawa," ucap temannya memperingatkan.
Syuttt
JLEP
JLEP
Belum sempat pengawal itu menutup mulutnya, dua kilatan belati tajam melesat menembus kegelapan dan langsung menancap tepat di leher kedua pengawal tersebut tanpa sempat mengeluarkan suara erangan sedikit pun.
Aleta muncul dari balik pilar, melangkah santai menghampiri dua mayat yang hampir ambruk itu lalu mencabut belatinya dengan gerakan bersih.
"Gaya bicara kalian kurang elit untuk seorang pengawal raja," cibir Aleta pelan sambil membersihkan noda darah di belatinya menggunakan ujung kain bajunya.
Tanpa membuang waktu, Aleta mendorong pintu kamar Raja Salova hingga terbuka lebar, memperlihatkan Raja Salova yang sedang mondar-mandir sendirian di dekat jendela, sambil merencanakan strategi balas dendam.
BRAKK
Raja Salova sontak menoleh kaget ke arah pintu, mengerutkan keningnya karena melihat sosok asing berpakaian serba hitam berdiri di hadapannya.
"Siapa kamu?! Berani sekali masuk ke ruanganku tanpa diundang?!" bentak Raja Salova murka, langsung meraih pedang milik nya.
Aleta menutup pintu dengan rapat menggunakan sebelah kakinya, lalu menyunggingkan senyum miring yang membuat bulu kuduk Raja Salova mendadak merinding seketika.
"Halo, Raja tua, kenalkan, aku istri dari Jendral Liam yang akan menjadi malaikat maut mu," ucap Aleta tersenyum manis.
Raja Salova terbelalak lebar, matanya menatap tajam sosok wanita di depannya dengan rasa tidak percaya.
"Jadi... kau wanita gila yang sudah membunuh semua prajurit ku?!" teriak Raja Salova emosi, menghunus pedangnya tinggi-tinggi.
Aleta tertawa kecil, melangkah maju perlahan dengan tangan memainkan belati berlumuran darah di jari telunjuknya.
"Prajurit mu? Ah, maksudmu segerombolan sampah yang kemarin dikirim ke Volis? Sayang sekali, mereka kurang ajar, jadi terpaksa suamiku kirim balik dalam bentuk karung isi kepala," jawab Aleta santai, memiringkan kepalanya mengejek.
"Kurang ajar! Akan aku habisi kau sekarang juga, jalang sialan!" maki Raja Salova menerjang maju menebaskan pedangnya dengan tenaga penuh ke arah leher Aleta.
Aleta hanya diam berdiri di tempatnya, menunggu tebasan itu hampir mendekat sebelum akhirnya dia meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang sangat cepat.
BRAKKK
Tebasan Raja Salova meleset jauh, membuat pria paruh baya itu kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke depan.
"Gerakanmu terlalu lambat pria tua," ejek Aleta tepat di samping telinga Raja Salova.
Sebelum Raja Salova sempat berbalik, Aleta langsung menghantamkan sikutnya ke arah tulang belakang raja tersebut.
BHUK
"Aaakkkkhhh!"
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Jerit Raja Salova tertahan, sambil terbatuk-batuk darah, tubuh gemuknya tersungkur jatuh, dengan darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
Aleta berjalan mendekat, lalu menginjak punggung Raja Salova dengan sepatu bot hitamnya tanpa ampun, membuat sang raja menjerit kesakitan karena sesak napas.
KRAKKKK
"AAAAAKKKKKKHHHHHHH!"
"A-ampun... jangan bunuh aku..." rintih Raja Salova terbata-bata, mencengkeram lantai marmer dengan tangan gemetar ketakutan.
Aleta berjongkok perlahan di samping Raja Salova, lalu menepuk-nepuk pipi raja tua itu dengan bilah belatinya yang dingin.
"Ampun? Cih! Kemana keberanian mu, seperti kemarin waktu kamu ingin merampas kebun keluarga Volis?" bisik Aleta tepat di depan wajah Raja Salova, matanya menatap tajam penuh nafsu membunuh.
BHUK
BRAKK
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Aleta menendang Raja Salova, membuat pria tua itu terbatuk hebat, mengeluarkan darah segar.
"T-tolong... ampunilah aku... harta... harta apa pun yang kau mau akan kuberikan..." rintih Raja Salova dengan suara serak.
Aleta mendengus sinis, perlahan dia menarik kakinya lalu mencengkeram rambut putih Raja Salova dengan kasar, memaksa kepala raja tua itu mendongak menghadap ke arahnya.
"Harta? Memangnya aku kurang mampu sampai harus mengemis harta pasikakek bau tanah seperti mu?" maki Aleta dingin, matanya menatap tajam penuh jijik.
PLAK
Satu tamparan keras mendarat di pipi Raja Salova hingga wajah pria itu tertoleh ke samping dan beberapa giginya copot berdarah.
"Ukh... s-sialan..." geram Raja Salova menahan sakit.
Aleta terkekeh pelan, membuat sekujur tubuh Raja Salova merinding ketakutan.
"Nah, sekarang mari kita mulai acara utamanya, seperti nya akan sangat bagus kalau kepala mu ku pajang di meja makan kediaman Volis, tapi kira-kira bagusnya dipasang di sebelah mana, ya?" bisik Aleta tepat di telinga Raja Salova, suaranya terdengar seperti bisikan maut dari neraka.
Sebelum Raja Salova sempat menjawab atau berteriak minta tolong, Aleta dengan gerakan kilat menancapkan belati kecilnya tepat di pergelangan tangan kiri raja tersebut.
Jleb
"ARGHHHHHHH!"
Jeritan Raja Salova memenuhi ruangan luas itu, darah segar langsung memuncrat membasahi lantai.
"Itu hadiah pertama untuk tangan kotor mu yang suka merampas hak milik orang lain," ucap Aleta, tersenyum miring, tanpa rasa kasihan sedikit pun.
Ariana bukan lah orang baik yang akan diam saat kelurga nya di usik, walaupun dirinya hanya jiwa asing yang terbangun di tubuh Aleta, tapi baginya, apa yang sudah menjadi milik nya, tidak akan dia biarkan orang lain menyentuh nya sedikit pun, sekalipun orang itu seorang penguasa kerajaan.
Raja Salova menangis meraung-raung kesakitan, dalam hati nya dia sedikit menyesal, telah berurusan dengan wanita di depan nya itu.
"Sejak kapan gadis ini, sekejam ini, bukan kah dia hanya gadis tidak berguna yang dibuang oleh orang tua nya," batin Raja Salova, tangan kanannya mencengkeram lantai dengan gemetar sementara tangan kirinya terus mengeluarkan darah dari luka tusuk Aleta.
"Iblis... kau benar-benar iblis..." teriak Raja Salova, dengan wajah memerah padam.
Aleta membungkuk, mendekatkan wajahnya dengan senyuman lebar tanpa rasa kasihan sedikit pun.