Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:496
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Dua hari berlalu dalam misi penyamaran yang melelahkan. Bagi Evangeline, setiap detik di dalam Blackwood Manor adalah latihan menahan diri. Ia bergerak laksana bayangan, tugasnya menyapu lantai marmer, merapikan perak, dan menundukkan kepala setiap kali pengawal pribadi Dominic yang bersenjata melintas.

Malam yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pesta Lelang Perdagangan Verona, sebuah ajang tahunan tempat faksi-faksi elit dunia bawah dan pengusaha berpengaruh berkumpul digelar di aula utama kediaman Blackwood.

Lantai dasar manor disulap menjadi ruang pameran megah. Chandelier kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan yang memantul di atas busana sutra, berlian, dan jas-jas mahal para tamu undangan.

Musik klasik mengalun lembut dari sudut ruangan, menutupi tawar-menawar ilegal rute kapal kargo dan pencucian uang yang terjadi di antara denting gelas sampanye.

Di tengah keramaian itu, Eva bergerak cekatan membawa nampan berisi gelas-gelas kristal. Seragam pelayannya yang rapi membuatnya membaur sempurna di antara belasan staf pelayan lainnya.

Namun di balik pandangan matanya yang selalu menunduk, Eva sedang mencatat pergerakan pengamanan.

Malam ini adalah kesempatan emasnya. Sebagian besar penjaga terfokus pada pengamanan aula utama untuk melindungi para tamu VIP. Jalur menuju lantai tiga, wilayah pribadi Dominic sedikit mengendor.

Eva melirik ke arah balkon lantai dua. Di sana, Dominic Blackwood berdiri. Pria itu tampak sangat berwibawa sekaligus mengintimidasi dalam balutan tuxedo kustom berwarna hitam pekat.

Sepasang matanya yang tajam mengawasi aula seperti seorang raja yang memantau wilayah kekuasaannya dari atas. Di sampingnya berdiri dua orang pengawal yang tak pernah menjauh selangkah pun.

Eva mengalihkan pandangan saat Dominic memutar arah tatapannya. Saatnya bergerak.

Mengatur langkah dengan sangat alami, Eva membelokkan jalurnya menuju lorong dapur belakang. Ia meletakkan nampan kosong di atas meja persiapan, lalu menyelinap ke dalam lorong servis yang remang-remang.

Di dalam lorong itu, Eva meloloskan pisau serat karbon dari bawah sol sepatu botnya dengan gerakan secepat kilat. Ia mendekati panel kontrol lift servis, memasukkan alat peretas kecil berukuran kartu yang pernah diberikan Silas ke dalam celah pemindai kartu akses.

Lampu indikator panel berkedip merah tiga kali, lalu berubah menjadi hijau tenang.

Pintu lift terbuka tanpa suara. Eva melangkah masuk, menekan tombol menuju lantai tiga, dan membiarkan kotak besi itu membawanya naik menuju jantung kediaman sang bos mafia.

Lantai tiga Blackwood Manor terasa seperti dunia yang sepenuhnya berbeda.

Jika lantai dasar dipenuhi kehangatan lampu keemasan dan hiruk-pikuk pesta, lantai tiga justru tenggelam dalam kesunyian yang dingin dan mencekam.

Karpet tebal berwarna biru tua meredam setiap jejak langkah. Dinding-dinding dilapisi panel kayu jati gelap, dihiasi lampu temaram yang memproyeksikan bayangan panjang di sepanjang lorong.

Eva keluar dari lift, langsung menurunkan detak jantungnya hingga batas minimum. Mata hazelnya memindai sudut plafon. Dua kamera infra-merah berputar secara berkala.

Dengan gerakan cepat Eva menempelkan tubuhnya pada dinding, memanfaatkan titik buta sensor gerak saat lensa kamera berputar ke arah berlawanan. Ia meluncur dari satu bayangan pilar ke pilar lainnya tanpa menimbulkan getaran sekecil apa pun di udara.

Tujuannya adalah ruang kerja utama Dominic, sebuah ruangan berkunci ganda di ujung koridor.

Eva berhenti di depan pintu jati ganda berukir lambang keluarga Blackwood. Ia merogoh saku apronnya, mengeluarkan dua kawat pemetik kunci mikro berlapis baja tebal. Tangannya yang stabil bekerja dengan lihai.

Klik. Klik.

Mekanisme kuno pintu terbuka dalam waktu kurang dari lima detik. Eva mendorong pintu pelan, menyelinap masuk, dan menguncinya kembali dari dalam.

Ruang kerja Dominic sangat luas, beraroma tembakau mahal, kertas tua, dan parfum mahal. Sebuah meja kerja mahoni raksasa mendominasi tengah ruangan, di belakangnya terdapat jendela kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan pemandangan malam kota Verona Heights yang dibasahi hujan.

Eva tidak membuang waktu. Ia melangkah cepat menuju lemari arsip baja yang tertanam di dalam dinding di balik lukisan besar. Dengan ketelitian seorang Ghost Rose, ia memeriksa seluk-beluk kunci kombinasi lemari tersebut.

"Empat digit. Berdasarkan tanggal penting..." bisik Eva pada dirinya sendiri.

Ia mengingat informasi dari berkas Silas tentang tanggal restrukturisasi Blackwood Syndicate oleh almarhum ayah Dominic.

1-9-0-4.

Klak.

Pintu lemari besi itu terbuka pelan.

Di dalamnya tersusun puluhan map tebal berlabel tahun. Eva dengan cepat meraba dokumen-dokumen era awal pembentukan divisi eksekutor. Tangannya berhenti pada sebuah map bersampul merah pudar bertuliskan, Divisi Eksekusi Khusus - 2012.

Mata Eva menyempit. Tahun 2012 adalah tahun ketika ibunya, Clara Cross, dibunuh di rumah kumuh St. Jude.

Eva membuka map itu dengan jari yang mendadak terasa dingin. Di lembar pertama, terlampir kertas kerja dengan kop berstempel lambang Serpent Rose, logo ular melilit mawar dengan lima duri. Logo yang persis sama dengan yang ada pada belati pembunuh ibunya.

"Ini dia," jerit batin Eva. Dendam yang terpendam selama empat belas tahun meletup-letup di dadanya.

Ia membaca daftar nama eksekutor yang bertugas pada tahun tersebut. Namun saat Eva hendak membalik halaman berikutnya untuk mencari nama target eksekusi wilayah St. Jude, telinganya yang terlatih menangkap sebuah getaran halus dari luar ruangan.

Suara langkah kaki.

Langkah kaki yang berat, teratur, dan bergerak cepat menuju pintu ruang kerja.

Eva membeku. Pengawal biasa tidak akan melangkah dengan irama seperti itu. Itu adalah langkah kaki Dominic Blackwood.

"Bagaimana bisa dia naik ke atas begitu cepat?" batin Eva panik.

Eva menutupi kembali lemari arsip dengan cepat, memutar kunci kombinasi ke posisi semula, dan mengembalikan lukisan dinding ke posisi awal. Tidak ada waktu untuk kembali ke lift servis atau bersembunyi di balik gorden jendela, ruangan itu terlalu terbuka.

Pintu jati ganda mulai berderit saat gagangnya diputar dari luar.

Dalam waktu seakan kurang dari satu detik, Eva melompat tanpa suara ke balik lemari buku raksasa di sudut ruangan, menarik pisau serat karbon dari balik gaunnya, dan menyatu sepenuhnya dengan bayangan gelap di sudut plafon.

Pintu terbuka.

Dominic Blackwood melangkah masuk. Pria itu tidak menyalakan lampu utama, hanya membiarkan cahaya temaram dari koridor menerangi sebagian ruangan. Tuxedo hitamnya tampak sedikit terkibas, seolah ia baru saja menyelesaikan urusan mendadak di bawah.

Namun Dominic tidak langsung berjalan ke mejanya. Ia berhenti tepat di ambang pintu.

Sepasang mata kelamnya menyapu sekeliling ruangan yang sunyi. Insting seorang predator kawakan memberitahunya bahwa ada sesuatu yang berubah. Aroma udara di ruangan itu, ada jejak aroma parfum murah yang tipis, aroma sabun lavender yang dipakai oleh para staf pelayan domestik.

Dominic memicingkan matanya. Tangannya perlahan meraba bagian dalam jasnya, menggenggam gagang pistol otomatis yang selalu ia bawa.

"Aku tahu kau ada di dalam," suara Dominic bergaung rendah, dingin, dan penuh ancaman yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

Ruangan itu tetap hening.

Dominic melangkah pelan menuju tengah ruangan. Setiap gerakannya penuh perhitungan, "Keluar secara sukarela, atau aku akan memastikan tubuhmu keluar dari ruangan ini dengan keadaan tak utuh."

Di atas lemari buku, Eva menahan napasnya. Detak jantungnya sengaja ia kunci agar tak menimbulkan getaran udara. Matanya menatap tepat ke arah urat leher Dominic yang terbuka di bawah cahaya temaram.

Jarak lima meter. Jika aku melompat sekarang, aku punya satu detik sebelum dia sempat menarik pelatuk senjatanya.

Ini adalah kesempatannya. Pria yang memimpin organisasi pembantai ibunya berdiri tepat di bawahnya. Dendam empat belas tahun mendesak jari-jari Eva untuk mengepalkan pisau serat karbonnya lebih erat.

Eva mengambil keputusan dalam sekejap mata.

Dengan dorongan kaki yang senyap, Eva meluncur turun dari atas lemari buku.

Bagaikan seekor burung pemangsa yang menyambar dari kegelapan, Eva terbang di udara dengan bilah pisau serat karbon terarah lurus ke pembuluh darah leher Dominic.

Namun Dominic bukanlah sasaran empuk. Sensor bahaya di kepalanya berdering hebat. Tanpa melihat ke atas, pria itu berguling secara refleks ke samping kanan, menghindari sabetan udara kosong dari pisau Eva.

Ujung pisau Eva hanya sempat mengoyak kerah kemeja mahal Dominic, melepaskan dua kancing atasnya hingga terlempar ke lantai marmer.

Eva mendarat dengan sempurna dalam posisi berlutut satu kaki, menyapu lantai dan langsung berbalik dalam posisi tempur. Matanya yang dingin berkilat di balik kegelapan.

Dominic yang baru saja bangkit dari gulingannya menatap sang penyusup. Ketika matanya menangkap sosok berseragam pelayan abu-abu dengan apron putih, gadis pelayan yang ia interogasi di galeri seni dua hari lalu, matanya menyempit keras.

"Kau..." bisik Dominic, rasa terkejut melintasi wajah tampannya selama sepersekian detik sebelum digantikan oleh kemarahan berdarah dingin. "Pelayan polos dari distrik luar."

Eva tidak memberi respon verbal. Di dunia pembunuh bayaran, kata-kata adalah buang-buang waktu.

Eva meluncur maju kembali, melancarkan kombinasi serangan jarak dekat yang mematikan. Pisau serat karbonnya mengincar mata, leher, dan pergelangan tangan Dominic.

Dominic terpaksa mundur dua langkah. Pria itu terpana oleh kecepatan dan teknik pembunuh di depannya. Ini bukan gerakan mata-mata amatir, ini adalah gaya bertarung dari divisi eksekutor paling elit.

Zrashh!

Dominic menangkis sabetan pisau Eva menggunakan pelindung lengan jas tebalnya, memutar tubuhnya, dan melepaskan tendangan lurus yang sangat kuat ke arah dada Eva.

Eva mengantisipasi serangan itu. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menahan benturan. Rasa sakit menjalar ke lengannya saat kekuatan dorongan Dominic membuatnya terlempar mundur dua meter, tumit sepatunya menggores lantai kayu hingga berdecit.

Dominic menggunakan celah sepersekian detik itu untuk menarik pistolnya dari balik jas. Moncong senjata berkaliber sembilan milimeter itu kini terarah tepat ke dahi Eva.

"Gerak satu senti lagi," ancam Dominic, napasnya sedikit memburu namun suaranya sangat stabil, "dan kepala cantikanmu ini akan bolong."

Eva berdiri tegap. Ia tidak mencoba lari, tidak pula menurunkan pisaunya. Tubuhnya yang ramping berdiri dalam keseimbangan sempurna, sepasang mata hazelnya menatap lurus ke dalam mata kelam Dominic tanpa ada setitik pun rasa takut.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Dominic merasa terpukau sekaligus terancam oleh seorang wanita. Keberanian di mata gadis pelayan ini bukan sekadar nekat.

"Siapa yang mengirimmu?" tanyak Dominic dingin, jarinya menempel erat pada pelatuk pistol. "Faksi mana yang berani menyelundupkan seorang pembunuh papan atas ke dalam rumahku?"

Eva menyunggingkan senyum tipis, senyum yang sarat akan kebencian mendalam.

"Nama organisasimu tidak sepenting darah yang kalian tumpahkan empat belas tahun lalu, Blackwood," suara Eva terdengar rendah, memotong kesunyian malam. "Aku tidak dikirim oleh siapa pun. Aku datang untuk menagih utang nyawa ibuku."

Kening Dominic berkerut halus. "Utang nyawa?"

Sebelum Dominic sempat mencerna arti kata-kata itu, pintu ruang kerja mendadak didobrak dari luar.

Bam!

Empat pengawal pribadi bersenjata lengkap menerobos masuk dengan senapan serbu terangkat. Mereka dengan cepat mengepung Eva dari segala penjuru, merah merah dari bidik sinar laser menempel di seluruh tubuh Eva.

"Tuan Dominic! Anda tidak apa-apa?!" teriak kepala pengawal, bersiap menarik pelatuk ke arah Eva.

"Tahan tembakan!" perintah Dominic tegas, tangannya terangkat menahan para pengawalnya.

Dominic tetap menatap Eva, memandang pisau serat karbon yang masih berada di genggaman wanita itu. Kecurigaannya kini terbukti, tetapi alasan di balik serangan ini ternyata jauh lebih rumit dari sekadar persaingan bisnis mafia.

"Lucu sekali," gumam Dominic pelan, melangkah mendekati Eva hingga moncong pistolnya menempel tepat di tengah dahi wanita itu. "Kau menyusup ke rumahku, berpura-pura menjadi pelayan lemah, hanya untuk mati di ruang kerjaku."

Eva membalas tatapan itu tanpa mengedip. "Bunuh aku sekarang, atau aku akan kembali dan menggorok lehermu saat kau tidur."

Dominic memiringkan kepalanya sedikit, sebuah senyuman kejam dan berbahaya terukir di bibirnya. "Oh, aku tidak akan membunuhmu secepat itu, Pelayan. Di Blackwood Manor, kami punya cara khusus untuk membuat burung penyanyi membocorkan seluruh rahasianya sebelum kami membuang bangkainya."

Dominic berpaling ke arah kepala pengawalnya. "Bawa dia ke vault bawah tanah. Ikat dia dengan rantai baja. Jangan biarkan dia mati sampai aku sendiri yang turun untuk menginterogasinya."

"Siap, Tuan!"

Dua pengawal langsung maju, memukul pergelangan tangan Eva hingga pisaunya terlepas ke lantai, lalu mencengkeram kedua tangan Eva ke belakang dan membelenggunya dengan borgol yang tebal.

Eva tidak melawan pertarungan yang sudah kalah jumlah itu. Saat diseret keluar dari ruang kerja, matanya tetap terkunci pada Dominic Blackwood.

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!