Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Udara Lembah Tungku Penempaan terasa menyengat hidung, dipenuhi kepulan jelaga hitam dan uap belerang bawah tanah yang membakar kerongkongan.

Dentang palu tempa yang memukul baja meteorit bergema bersahut-sahutan di sepanjang tebing bebatuan. Ratusan budak bertelanjang dada dengan punggung berlumur keringat dan bekas cambukan terus bergerak di depan puluhan tungku api raksasa.

Namun suara derak roda dan langkah kaki berirama dari mulut lembah seketika memecah kegaduhan tersebut.

Empat murid dalam elit berjubah perak melangkah tegap, memanggul tandu kayu cendana berukir naga berlapis emas murni. Di samping tandu, Song Ming berjalan mengawal dengan dada yang masih dibalut perban kain dan tangan memegang kipas bambu.

Dentang palu di seluruh lembah mereda satu per satu hingga menyisakan keheningan total.

Ratusan budak penempa membelalak kaget. Mereka belum pernah melihat murid dalam elit—apalagi Tuan Muda Song sendiri—mengawal tandu mewah menuruni jurang arang yang kotor ini.

Tandu emas itu berhenti tepat di depan pos pengawas utama.

Gu Ran melangkah turun dengan gerakan santai. Jubah sutra putih panjangnya berkibar lembut, tampak sangat kontras dengan tanah arang hitam di bawah sepatunya. Rambut putihnya terikat rapi dengan pita kain ungu, sementara kulit wajahnya terlihat bersih segar tanpa sisa jelaga.

Mandor Wu yang sedang duduk di kursi kayu pos pengawas seketika tersentak bangun.

Wajah pria gempal itu masih lebam bengkak dengan empat gigi depan yang ompong akibat tamparan angin Leluhur tempo hari. Tangannya yang memegang cambuk kulit berpilin kawat tembaga mendadak kaku di udara.

Mata Mandor Wu menatap pemuda berambut putih di hadapannya.

Ingatan saat pemuda itu terikat di tiang eksekusi Pelataran Batu Putih berkelindan liar dengan pemandangan Leluhur yang bersujud di depannya.

DEG!

Jantung Mandor Wu berdegup kencang bagai dihantam palu sepuluh kati. Seluruh persendian lututnya melemas drastis.

Cambuk kawat tembaga di tangannya terlepas, jatuh berdenting di atas lantai batu bara.

BRUK!

Mandor Wu menjatuhkan tubuhnya ke tanah berdebu, bersujud mencium arang hitam dengan tubuh gemetar tak terkendali.

“T-Tuan Muda Gu… Tamu Agung Leluhur…” Suara Mandor Wu tercekat parau dan melengking tinggi, bergetar menahan ketakutan yang meremukkan nyalinya.

Di celah celana abu-abunya, cairan hangat merembes keluar membasahi tanah kapur, menyebarkan bau pesing yang menyengat di antara debu belerang. Sang mandor yang dulu paling bengis kini mengompol di depan ratusan budak yang dulu ia cambuki.

Gu Ran bahkan tidak melirik pria gemuk yang bersujud di tanah itu.

Langkah kaki pemuda berambut putih itu terus berayun santai, melintasi jajaran tungku api menuju tungku nomor tujuh di sudut tebing.

Di sana, seorang remaja kurus berusia lima belas tahun berdiri mematung di samping paron tempa. Sebuah rantai besi tebal melilit lehernya yang dekil, menguncinya pada tiang batu tungku agar tidak bisa melarikan diri dari uap panas.

Kedua tangan kurus Xiao Zhu masih memegang penjepit besi panjang. Matanya yang bulat memandang Gu Ran dengan tatapan tak percaya dan air mata yang mulai menggenang di pelupuknya.

“Gu… Gu Ge…?” bisik Xiao Zhu dengan suara serak menahan tangis.

Gu Ran berhenti tepat di depan remaja itu. Ia menatap bekas luka bakar di lengan Xiao Zhu, lalu mengulurkan dua jarinya ke arah rantai besi di leher temannya.

Hawa murni dari Tingkat 3 Pemurnian Qi mendesing tipis di ujung kuku Gu Ran.

TRANG!

Dua jari Gu Ran menjentik simpul rantai besi. Hantaman tenaga dalam meretakkan besi baja tebal itu seketika, membuatnya putus berkeping-keping dan jatuh berhamburan ke tumpukan abu bara.

Xiao Zhu meraba lehernya yang mendadak ringan. Tubuhnya bergetar hebat sebelum akhirnya jatuh berlutut memeluk kaki Gu Ran sambil terisak pelan.

“Mulai hari ini, kau bukan budak penempa lagi,” ujar Gu Ran datar sambil menepuk pundak kurus Xiao Zhu. “Ikut aku ke Paviliun Awan Mengambang. Tugasmu mengurus logistik kamarku.”

Xiao Zhu mengusap air matanya dengan lengan baju yang kotor, mengangguk berkali-kali dengan kepala menunduk hormat.

“Hamba… hamba bersumpah setia pada Gu Ge!” isak Xiao Zhu tulus.

Gu Ran membalikkan badannya perlahan, menatap kembali ke arah pos pengawas tempat Mandor Wu masih bersujud gemetar di genangan air kencingnya sendiri.

Song Ming melangkah maju setengah langkah di samping Gu Ran, bersiap menunggu perintah dengan wajah kaku.

Gu Ran melirik ke arah paron tempa tungku nomor tujuh. Di atas paron batu hitam itu, sebatang balok besi meteorit sepanjang satu lengan masih membara merah menyala, mengepulkan gelombang panas yang mendidihkan udara di sekitarnya.

“Mandor Wu,” panggil Gu Ran dengan nada santai khas orang mengantuk.

Mandor Wu mengangkat kepalanya dengan wajah berlumur lumpur arang dan air mata. “H-hamba, Tuan Muda Gu… mohon ampuni nyawa anjing hamba…”

Gu Ran menunjuk balok besi merah membara di atas paron dengan ujung kipas bambunya.

“Tungku nomor tujuh tidak boleh berhenti menyala,” kata Gu Ran tenang. “Kau suka melihat orang memegang besi tempaan. Sekarang giliranmu berdiri di sana dan pegang balok besi panas itu dengan kedua tanganmu, tanpa sarung tangan pelindung.”

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!