Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Dulu Pemulung Kini Raja Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Pagi yang cerah menyinari gudang tua berukuran besar di kawasan industri utara Jakarta.

Raka berdiri di tengah ruangan kosong itu sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.

Hari ini adalah hari ketiga sesuai janjinya dengan Karta di dunia kuno.

"Semoga bapak tua itu beneran dapet seratus ginseng kayak janjinya," gumam Raka penuh harap.

Kalau sampai gagal, wajah Raka mau ditaruh di mana saat bertemu Sasa besok pagi?

Raka mengecek kembali persediaan di dalam penyimpanan sistemnya melalui layar biru transparan.

[Kapasitas Penyimpanan: 10 Meter Kubik. Terisi: 0.5 Meter Kubik]

Garam, micin, korek api, dan pisau lipat masih tersimpan aman di dalam ruang gaib tersebut.

Ia juga sengaja memakai setelan jaket kulit hitamnya agar terlihat berwibawa seperti dewa api sungguhan.

Raka merogoh saku jaketnya lalu menggenggam gagang pintu kuningan berukir naga itu erat-erat.

"Buka gerbang dunia."

Sring.

Udara di tengah gudang mendadak meliuk terdistorsi membentuk celah cahaya keemasan yang menyilaukan mata.

Raka melangkah masuk tanpa ragu menembus gerbang magis tersebut meninggalkan dunia modern di belakangnya.

Wush.

Hembusan angin hutan yang sangat dingin langsung menyambut wajah Raka.

Ia mendarat mulus di jalan setapak yang dipenuhi dedaunan kering tepat di depan goa persembunyian Karta.

Suasana hutan pagi ini terasa sangat sepi dan sedikit mencekam tidak seperti biasanya.

Tidak ada suara kicauan burung sama sekali, hanya terdengar suara angin bergesekan dengan ranting pohon.

Krak.

Raka menginjak ranting patah saat berjalan mendekati mulut goa yang tertutup tanaman merambat.

"Karta? Lin? Aku sudah datang menagih janji," panggil Raka dengan suara berat yang dibuat-buat.

Hening.

Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam goa yang gelap itu.

Raka mengerutkan dahinya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres di sini.

Ia menyibakkan tanaman merambat yang menutupi pintu masuk lalu melangkah masuk ke dalam goa.

Bau anyir darah langsung menusuk hidungnya membuat insting jalanannya bereaksi seketika.

"Hei, ada orang di dalam?" tanya Raka sedikit berteriak menaikkan kewaspadaannya.

Srek srek.

Terdengar suara gesekan kain dari sudut paling gelap di ujung goa tersebut.

Raka merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan korek api gas merah andalannya.

Cetek.

Api kecil menyala menerangi sedikit bagian dalam goa yang lembab itu.

Cahaya api itu memperlihatkan sesosok tubuh kecil yang meringkuk gemetar memeluk lututnya sendiri.

"T-Tuan Dewa Api?" panggil sebuah suara serak yang penuh dengan isak tangis.

Raka langsung berjalan cepat mendekat dan berjongkok di depan sosok tersebut.

Ternyata itu adalah Lin, gadis remaja putri Karta yang kini kondisinya sangat berantakan.

Pakaian kasar gadis itu robek di beberapa bagian dan wajahnya dipenuhi noda tanah bercampur air mata.

"Lin? Ada apa denganmu? Di mana ayahmu?" tanya Raka beruntun melihat kondisi mengenaskan gadis itu.

Lin langsung menubruk kaki Raka dan menangis sejadi-jadinya meluapkan semua ketakutannya.

"Ayah dibawa pergi, Tuan Dewa! Ayah ditangkap oleh orang-orang jahat dari desa kami!" jerit Lin histeris.

Raka menepuk pundak gadis itu pelan mencoba menenangkannya agar bisa bercerita dengan jelas.

"Tenang dulu, tarik nafas pelan-pelan dan ceritakan semuanya padaku dari awal."

Lin berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal meski air matanya terus mengalir deras.

"Dua hari terakhir kami berhasil mengumpulkan lebih dari seratus batang ginseng liar sesuai pesanan Anda."

"Ayah menyimpannya di dalam karung besar dan kami berencana menunggunya di goa ini."

Mendengar kata seratus batang ginseng terkumpul, mata Raka langsung berbinar cerah.

"Lalu apa masalahnya? Kenapa ayahmu malah ditangkap orang desa?" kejar Raka tidak sabar.

"Kemarin sore tiga pemburu yang Anda usir waktu itu kembali lagi membawa kepala desa dan puluhan pemuda bersenjata."

Lin menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil meremas ujung bajunya yang robek.

"Mereka menemukan goa ini dan memaksa ayah menyerahkan semua ginseng yang sudah kami kumpulkan."

Raka menggeram pelan menahan amarah yang mulai mendidih di ubun-ubunnya.

Seratus batang ginseng itu harganya miliaran rupiah dan berani-beraninya orang primitif ini merampok barang miliknya.

"Kenapa ayahmu tidak melawan atau berlari saja menghindari mereka?" tanya Raka mencoba berpikir logis.

"Ayah sudah mencoba melawan menggunakan sisa bubuk kristal suci dari Anda untuk menakuti mereka."

Lin mengusap air matanya yang terus menetes membasahi pipinya yang kotor.

"Tapi kepala desa membawa dukun ilmu hitam yang mengatakan kalau bubuk suci itu cuma garam laut biasa."

"Dukun itu memukul kepala ayah sampai berdarah lalu mereka menyeret ayah kembali ke desa."

Raka menghela nafas panjang dan memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa pusing.

Garam dapur seharga lima ribu perak di minimarket ternyata ketahuan belangnya oleh dukun desa.

Tentu saja dukun itu pernah mencicipi garam laut jadi dia tahu rasanya meski warnanya berbeda.

"Lalu bagaimana kau bisa lolos dari mereka dan bersembunyi di sini sendirian?" selidik Raka.

"Ayah mendorong saya ke semak belukar berduri saat mereka sedang sibuk mengikat tangannya."

"Ayah menyuruh saya bersembunyi dan menunggu kedatangan Tuan Dewa di goa ini apa pun yang terjadi."

Lin kembali meneteskan air mata mengingat pengorbanan ayahnya yang rela dipukuli demi menyelamatkannya.

"Mereka bilang akan membakar ayah hidup-hidup di alun-alun desa siang ini karena dianggap memuja iblis asing."

Brak.

Raka meninju dinding goa batu itu dengan kepalan tangannya hingga kulitnya sedikit lecet.

"Membakar ayahmu hidup-hidup? Cuma gara-gara dia mengumpulkan rumput liar dan makan garam bersih?" maki Raka kesal.

Hukum di zaman kuno ini benar-benar barbar dan tidak masuk akal sama sekali di mata Raka.

"Tuan Dewa Api, hamba mohon selamatkan nyawa ayah hamba dari tiang pembakaran itu."

Lin kembali bersujud di depan Raka sampai dahinya menyentuh lantai goa yang kotor.

"Hamba rela menjadi budak pencuci kaki Anda seumur hidup asalkan ayah bisa selamat."

Raka menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar untuk menjernihkan pikirannya.

Ini bukan cuma soal menyelamatkan nyawa bapak tua malang bernama Karta itu.

Ini adalah urusan perut dan dompet Raka karena seratus ginseng miliaran rupiah miliknya dirampas paksa.

Raka pantang pulang ke bumi dengan tangan kosong apalagi setelah dia berjanji dengan Sasa.

"Bangunlah Lin, kau tidak perlu jadi budakku atau siapapun di dunia ini," ucap Raka menarik lengan Lin pelan.

Raka membantu gadis remaja itu berdiri tegak lalu membersihkan sisa debu di pundaknya.

"Aku akan datang ke desamu sekarang juga dan mengambil kembali apa yang menjadi hakku."

Mata Lin langsung melebar kaget mendengar keputusan dewa pujaannya tersebut.

"Tapi Tuan Dewa, kepala desa punya puluhan pemuda yang memegang parang besi dan tombak tajam."

"Mereka tidak akan takut pada percikan api kecil dari kotak ajaib Anda itu lagi."

Raka menyeringai tipis mendengarkan kekhawatiran gadis polos di depannya itu.

Mereka pikir Raka cuma modal korek gas seribuan untuk menakut-nakuti orang bodoh.

1
Astiana 💕
🤣🤣Astaga, aku ngakak di bagian ini
kiyoe: hehehe 🙏👍
total 1 replies
Was pray
gak punya harta hidup sengsara karena sulit untuk makan, setelah kaya hidupnya gak semakin nyaman tapi semakin runyam, kamu terlalu mengumbar kekayaannya didepan publik Raka apa gunanya punya harta banyak tapi hidup selalu was was ? langkah awalmu di pelelangan gingseng dengan memunculkan identitas sebagai pemilik gingseng adalah kesalahan besar mu, sehingga kamu jadi incaran para mafia konglomerat,sifat Sik pamer adalah bumerang
Was pray
kuat dan pintar itu syarat utama sukses Raka. kaya aja gak cukup, otot dan otak bersinergi akan menghasilkan manusia tangguh
Was pray
satu keteledoran Raka lagi, membawa karung gingseng di depan publik
Was pray
aku kasih like kalau Raka udah cerdas gak blo'on lagi
Was pray
makanya belajar cerdas Raka, jangan miskin ganda , miskin harta dan miskin ilmu. harta mu akan musnah sia2 kalau kamu terlalu polos, kamu jadi ATM berjalan bagi orang yg rakus seperti sasa
Was pray
menang goblog si Raka ini, ngapain seratus gingseng langsung dikeluarkan bersamaan!? kalau langsung banyak ya kamu gak bisa main harga.... ah dasar jiwa miskin ya tetap miskin.... otaknya juga miskin
Was pray
kamu dibodohi dan diperalat Sasa gak nyadar kah Raka? berpikir mu terlalu pendek
Was pray
sasa lebih kejam dari preman pasar, dada mafia kelas kakap yg berkedok pengusaha kalau raka tetap polos tentang dunia mafia ya bisa mati jadi rempeyek...
Rifqy Channel
kok aku makin gak suka ya sama sasa itu selalu saja dipantau terus mana lagi disogok tuh 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!