Indonesia
NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Kilatan cahaya laser biru terang yang ditembakkan secara serentak dari barisan meriam pengepungan pasukan White-Death menghantam dinding es terowongan di sisi kanan Vanguard, memercikkan serpihan kristal tajam bagai ribuan belati yang menghujani atap gerbong. Suara ledakan beruntun itu memekakkan telinga, menciptakan gelombang kejut termal yang membuat suhu udara di dalam kabin mendadak melonjak panas sebelum kembali dingin menusuk tulang.

Di ruang kemudi, atmosfer berubah menjadi medan perang mekanik yang sesungguhnya.

"Mereka memotong jalur dari sektor atas!" teriak Leo, suaranya hampir tenggelam di bawah deru reaktor yang meraung-raung melampaui batas toleransi pabrikannya.

Pemuda berambut biru itu berdiri dengan seluruh tumpuan berat badannya menekan tuas kemudi utama. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol keluar, kulitnya basah oleh peluh yang bercampur dengan noda oli hitam. Layar monitor status mesin di hadapannya menyala merah terang, menandakan suhu inti pembakaran telah mencapai tingkat kritis.

Namun, Leo menolak untuk mengurangi tekanan. Dengan rahang yang terkatup rapat, ia memutar katup injeksi bahan bakar plasma hingga ke tingkat maksimum, memaksa Vanguard meluncur bagai anak panah yang terlepas dari busurnya di atas rel es yang licin dan berliku.

"Tahan terus, Leo! Jangan biarkan moncong kereta mereka menyalip sisi lambung kita!" seru Soju dari posisinya di anjungan samping palka terbuka.

Gadis berambut kuning cerah itu berdiri tegak menantang terpaan angin badai bawah tanah yang menderu kencang. Jubah mantelnya berkibar liar di udara. Di tangan kanannya, busur balistik canggih miliknya berdengung dalam frekuensi tinggi, memancarkan pendaran energi sonik berwarna kebiruan.

Soju menyipitkan mata kirinya, memperhitungkan kecepatan angin, sudut kemiringan rel, serta getaran hebat dari lokomotif militer musuh yang terus merangsek mendekat dari jalur sejajar di sebelah kiri mereka. Kereta lapis baja milik pasukan elit White-Death tampak begitu mengintimidasi, dilengkapi roda bergerigi tajam yang dirancang khusus untuk mencengkeram es abadi.

Whoosh! Clang!

Soju melepaskan anak panah pertamanya. Proyektil berkecepatan tinggi itu melesat membelah badai salju dan menancap telak pada poros roda gigi depan kereta musuh. Seketika itu juga, muatan sonik di ujung anak panah meledak dalam frekuensi kejut yang menghancurkan bantalan mekanik musuh. Kereta militer itu sempat tersentak hebat, percikan api menyembur liar dari bagian bawah gerbong mereka, membuat laju pengejaran mereka melambat beberapa detik.

"Rasakan itu, bajingan es!" teriak Soju, sudut bibirnya menyunggingkan senyongan kemenangan yang penuh percaya diri. Ia kembali menarik tali busurnya, meluncurkan rentetan anak panah penembus perisai secara bergantian, menghujani titik-titik vital rel musuh dengan akurasi jarak jauh yang luar biasa sempurna.

Di dalam kabin utama, di tengah kepulan asap tipis sisa pembakaran mesin dan dentuman gemuruh benturan logam, suasana mendadak diwarnai oleh tawa renyah yang terasa begitu ganjil namun hidup.

Gavin tertawa terbahak-bahak. Pemuda berkacamata tebal itu duduk bersila di depan kursi terminal sekundernya, kedua tangannya bergerak liar mengetik kode pemintas sinyal, sementara matanya berbinar-binar penuh kepuasan liar yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya.

"Ha-ha-ha! Luar biasa! Ini benar-benar gila!" seru Gavin di sela-sela tawanya, wajahnya merona kemerahan karena luapan adrenalin murni. Ia menoleh ke arah Leo dan Soju secara bergantian. "Selama bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang arsip korporasi, aku hanya meretas data dari balik layar yang aman, bersembunyi di balik dinding terminal! Tapi berada di sini... merasakan getaran baja beradu dengan kecepatan ekstrem ini... belum pernah dalam hidupku aku merasakan hal yang seseru ini! Ini terasa begitu hidup!"

Tawa Gavin menggema, mencerminkan kebebasan mutlak yang baru saja ia temukan di atas rel kereta maut tersebut.

Namun, di sudut ruangan, di balik keremangan cahaya panel instrumen yang berkedip-kedip, Ren berdiri diam mengamati pemuda itu.

Pandangan mata Ren menerawang jauh, menatap ekspresi wajah Gavin yang sedang tertawa lepas dengan senyuman lebar tanpa beban. Ada kilatan emosi yang rumit dan sulit diartikan melintas di dalam manik mata perak sang kapten. Sorot mata itu sarat akan keheningan yang dalam, menyembunyikan badai kenangan masa lalu yang perlahan-lahan terkoyak ke permukaan.

Melihat cara Gavin tertawa, cara pemuda itu mengekspresikan kegembiraan yang begitu jujur di tengah ancaman maut, seketika membuat Ren teringat pada sosok adiknya di masa lalu—Lily.

Bayangan samar seorang gadis berambut perak sebahu dengan senyuman hangat yang serupa melintas jelas di dalam kepala Ren. Adiknya yang ceria, yang selalu tertawa lepas bahkan di saat-saat paling sulit sekalipun sebelum dunia direnggut oleh kebekuan dan tragedi pembantaian yang dilakukan oleh orang-orang berseragam Aether. Rasa sakit yang tumpul mendadak merayap naik dari dalam dadanya, menghantam dinding hatinya dengan keheningan yang menyesakkan.

Ren menundukkan pandangannya perlahan. Di tangan kanannya, sebuah piring kecil berisi sisa sepotong kue sus buatan Yuna masih ia genggam. Tekstur kue yang lembut dan manis itu kontras dengan kekejaman dunia es di luar sana.

Ren menatap kue sus di tangannya lamat-lamat. Ia memperhatikan taburan gula halus di atas permukaannya yang mulai meleleh terkena suhu hangat tubuhnya, seakan-akan kue sederhana itu adalah satu-satunya garis penghubung yang tersisa antara dirinya dan sisa-sisa kemanusiaannya yang hampir membeku.

Untuk beberapa detik, waktu di dalam kepala Ren seolah berhenti berputar. Suara deru mesin kereta, tembakan anak panah Soju, dan tawa Gavin melebur menjadi latar belakang yang sunyi.

Dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh kehati-hatian, Ren mengangkat potongan kue sus itu, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya dalam keheningan yang panjang, merasakan manisnya krim vanila berpadu dengan kepahitan kenangan yang mengendap di dalam batinnya.

"Ren..." panggil Yuna pelan dari arah meja dapur, menyadari perubahan atmosfer yang mendadak sunyi di sekitar sang kapten.

Namun, Ren tidak merespons panggilan itu. Ia menelan kunyahannya, lalu kembali menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke depan melalui jendela kaca lokomotif yang berembun. Pendaran cahaya biru dari The Core Engine di dadanya mendadak berdenyut dengan intensitas tinggi, memancarkan gelombang energi yang menyilaukan mata.

Di layar terminal utama, Gavin yang tadinya tertawa riang mendadak menghentikan tawanya. Wajah pemuda itu memucat seketika, matanya membelalak lebar menatap titik radar yang muncul tepat di hadapan jalur rel lokomotif mereka.

"Kapten... Leo...!" teriak Gavin dengan suara tercekat, kepanikan luar biasa kembali merenggut ruang udara di dalam kabin. "Kereta elit White-Death tidak lagi mengejar dari belakang! Mereka... mereka telah melompat melewati jalur rel layang atas, dan kini menjatuhkan diri tepat di atas atap gerbong kita untuk menghentikan laju Vanguard secara paksa!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!