Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:626
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30. Jalan Pulang dan Pintu Gunung

..."Guru memberiku izin untuk pergi, dan itu berarti guru percaya bahwa aku sudah cukup besar untuk memilih jalanku sendiri."...

Perjalanan dari ibu kota ke Gunung Emei memakan waktu delapan hari dan delapan malam, delapan hari di mana Jing yue duduk di atas kereta kayu yang rodanya berderit di jalan berbatu, memeluk gulungan kuning dari Kaisar dan buku besar dari Sungai Min di pangkuannya seperti memeluk dua anak yang tidak boleh terjatuh, dan setiap kali kereta berhenti di penginapan dia tidak tidur nyenyak karena dia terus memikirkan apakah guru masih hidup, apakah lonceng pagi masih dibunyikan, dan apakah kabut di puncak masih setebal dulu ketika dia terakhir kali turun dengan perintah.

Di hari kedelapan, ketika jalan mulai menanjak dan udara menjadi dingin dan tipis, dia melihat dari kejauhan atap biru kuil Emei yang muncul di antara awan seperti garis yang sudah dia hafal sejak kecil, dan jantungnya berdetak lebih cepat bukan karena lelah, tapi karena takut, takut bahwa dia pulang sebagai orang yang berbeda dari murid yang pergi.

Gerombolan murid yang menyambut di gerbang gunung berlari turun ketika melihat kereta itu, dan mereka langsung mengenali Jing yue meskipun wajahnya lebih kurus, kulitnya lebih gelap karena matahari, dan tangannya penuh kapalan yang tidak akan hilang meskipun digosok seratus kali, dan mereka berteriak "Kakak Jingyue pulang" sambil memeluknya tanpa peduli bahwa bajunya bau asap dan lumpur.

Tetua Ketiga keluar dari aula utama dengan tongkatnya dan mata yang berkaca-kaca, dan tanpa banyak bicara dia hanya menarik Jing yue ke dalam pelukan dan berkata bahwa dia sudah membaca laporan, sudah mendengar cerita dari utusan, dan bahwa seluruh gunung bangga, tapi bangga tidak berarti tidak marah karena Jing yue terlalu kurus dan terlalu tua untuk usianya.

Malam itu tidak ada upacara, tidak ada jamuan, hanya ada semangkuk sup hangat di dapur dan tempat tidur di kamar kecil yang sudah tidak dia tempati selama tiga puluh enam hari, dan ketika dia berbaring di atas kasur bambu itu dia menangis pelan karena untuk pertama kalinya dalam sebulan dia tidur tanpa mendengar suara air atau suara orang meminta tolong.

Keesokan paginya, Jing yue bangun sebelum lonceng, mencuci muka dengan air dingin dari sumur, memakai jubah bersih yang sudah disiapkan, dan berjalan ke aula utama dengan langkah yang pelan karena dia tahu bahwa setelah ini dia harus menghadap guru besar, orang yang mengangkatnya sejak kecil dan yang suratnya menyuruh dia turun ke Sungai Min.

Guru Besar duduk di atas tikar di ruang belakang aula, punggungnya membungkuk, rambutnya sudah sepenuhnya putih, dan di depannya ada meja kecil dengan teh yang mengepul dan buku-buku tua yang sudah menguning, dan ketika Jing yue masuk dan berlutut, tidak ada kata selama beberapa saat, hanya ada suara angin yang masuk dari jendela dan suara teh yang dituang.

"Angkat kepalamu," kata Guru Besar akhirnya, dan ketika Jing yue mengangkat wajah, guru itu menatapnya lama, dari atas sampai bawah, seakan menghitung setiap luka dan setiap garis di wajahnya, lalu guru itu berkata bahwa dia sudah mendengar semuanya, tentang banjir pertama, kedua, dan ketiga, tentang rumah panggung, tentang perahu, dan tentang surat terakhir yang menyuruh pulang.

Jing yue tidak langsung bicara, dia mengeluarkan gulungan kuning dari Kaisar dan buku besar dari Sungai Min, meletakkannya di lantai, lalu dia bersujud tiga kali dan berkata bahwa dia kembali untuk melapor, untuk menerima hukuman jika ada yang salah, dan untuk meminta izin.

"Hukuman apa?" tanya Guru Besar sambil meneguk teh.

"Hukuman karena aku tidak bisa menyelesaikan tugas dalam waktu yang diperintahkan," jawab Jing yue, "karena aku membuat warga tergantung padaku, karena aku berjanji akan kembali."

Guru Besar tertawa pelan, suara yang sudah jarang terdengar, lalu dia berkata bahwa tugas seorang murid bukan hanya menyelesaikan apa yang diperintahkan, tapi juga menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan, dan kalau Sungai Min belum selesai maka pulang hanya untuk pergi lagi adalah hal yang benar.

Jing yue terkejut, karena dia sudah menyiapkan seribu alasan, seribu kata untuk membujuk, tapi yang dia dapat adalah anggukan.

Guru Besar lalu bertanya, "Kau mau kembali sebagai apa? Sebagai utusan istana? Sebagai murid Emei? Atau sebagai Jing yue?"

Pertanyaan itu membuat Jing yue terdiam, karena selama ini dia selalu bergerak atas nama sekte, atas nama perintah, tapi sekarang dia harus memilih nama untuk dirinya sendiri, dan setelah berpikir lama dia menjawab bahwa dia ingin kembali sebagai Jing yue, sebagai orang yang memilih tinggal, bukan karena surat, tapi karena ada anak-anak yang memanggilnya kakak dan ada nenek yang menggenggam tangannya.

Guru Besar mengangguk, mengambil kuas, dan menulis sesuatu di atas kertas tipis, lalu dia meniupnya dan menyerahkannya kepada Jing yue.

"Kertas ini adalah izin bebas," kata guru itu, "selama satu tahun kau bukan murid yang diperintah, kau bukan utusan istana, kau hanya Jing yue yang pergi membantu, dan setelah satu tahun kau harus kembali ke sini, karena gunung ini juga rumahmu."

Jing yue menerima kertas itu dengan dua tangan dan menangis, bukan karena sedih, tapi karena lega, karena untuk pertama kalinya dia diberi kebebasan untuk memilih dan tetap dianggap sebagai bagian dari keluarga.

Tiga hari berikutnya dia habiskan di gunung untuk mengajar murid-murid yang lebih muda tentang apa yang dia pelajari di Sungai Min, dia menunjukkan cara membuat simpul yang kuat, cara membaca arah air, cara mengobati luka dengan daun, dan dia bercerita tentang rumah panggung dan perahu agar anak-anak tahu bahwa dunia di luar gunung tidak selalu indah.

Di malam terakhir sebelum berangkat, seluruh sekte berkumpul di lapangan, menyalakan api unggun besar, dan Tetua Kedua berkata bahwa ini pertama kalinya Emei mengirim murid bukan untuk bertarung, tapi untuk membangun, dan itu membuat mereka semua bangga.

Jing yue berdiri di tengah, dan dia berkata bahwa dia membawa pulang kehormatan, tapi dia juga membawa pulang tanggung jawab, dan bahwa kehormatan tanpa tanggung jawab adalah kosong.

Pagi keberangkatan, kabut turun tebal seperti selimut, dan guru besar mengantarnya sampai ke gerbang, memberikan sebuah sapu bambu kecil dan berkata bahwa ini adalah senjata terbaiknya, bukan pedang, karena dengan sapu dia membersihkan lumpur, membersihkan rumah, dan membersihkan hati orang.

Jing yue membungkuk dalam-dalam, lalu dia berjalan turun, tidak menoleh, karena dia tahu kalau menoleh dia akan ragu.

Perjalanan kembali ke Sungai Min memakan waktu sepuluh hari, dan kali ini dia tidak sendiri, dia membawa dua murid muda yang meminta ikut, membawa dua karung bibit sayur, membawa beberapa gulung buku, dan membawa surat dari guru untuk pejabat kabupaten agar mereka membantu Emei tanpa bertanya.

Ketika dia sampai di Majia, yang menyambut bukanlah lonceng darurat, melainkan suara anak-anak yang berlari di atas jembatan bambu dan berteriak "Kak Jing yue kembali", dan Nenek Sun keluar dari rumah panggung dengan langkah cepat meskipun kakinya sakit dan langsung memeluknya sambil menangis.

Paman Chen menunjuk ke arah deretan rumah baru dan berkata bahwa mereka sudah menyelesaikan dua puluh rumah, dan buku besar itu sudah dibaca oleh tiga orang yang sekarang bisa mengajari yang lain.

Jing yue berjalan keliling desa, menyentuh setiap tiang, memeriksa setiap ikatan, dan di setiap tempat dia melihat bahwa orang-orang sudah mulai hidup bukan karena menunggu, tapi karena tahu cara.

Malam itu, dia tidur di balai, bukan di tenda, dan sebelum tidur dia menulis di bukunya bahwa hari ini dia pulang ke gunung, dan hari ini dia kembali ke sungai, dan bahwa hidupnya kini punya dua rumah.

Dia juga menulis bahwa guru berkata bahwa seorang murid sejati adalah orang yang tahu kapan harus pergi dan kapan harus tinggal, dan bahwa hari ini dia akhirnya mengerti arti kalimat itu.

Di luar, hujan turun pelan, tapi tidak ada yang lari, karena semua orang tahu bahwa atap di atas kepala mereka kuat, dan di bawah balai, perahu-perahu terikat rapi menunggu jika air naik lagi.

Jing yue menutup mata dengan senyum, karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia tidak merasa terombang-ambing antara perintah dan hati, karena kali ini keduanya berjalan ke arah yang sama.

Dan di atas gunung yang jauh, lonceng Emei berbunyi sekali, seperti mengantar, seperti memberkati, seperti berkata "pergilah, dan kembalilah ketika waktunya tiba".

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!