Sebelum transmigrasi, Bella adalah mimpi buruk SMA Garuda Bangsa. Ketua geng. Tukang bolos. Suka membuat keributan. Nilai nyaris tidak tertolong.
Setelah transmigrasi?
Ia datang ke sekolah tepat waktu, memakai seragam rapi, membawa agenda, dan mengadakan rapat sebelum pelajaran dimulai.
Teman-temannya mengira Bella sudah bertobat.
Mereka salah.
Bella yang lama ingin menguasai gengnya. Bella yang sekarang ingin mengelolanya.
Karena jiwa yang menempati tubuh itu adalah Sarah, mantan manajer HRD yang bahkan setelah mati pun masih berpikir tentang SOP, KPI, evaluasi, dan restrukturisasi.
Kini, geng paling berandalan di sekolah punya masalah baru.
Ketua mereka bukan lagi preman.
Ketua mereka adalah HRD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Bella memberi isyarat agar keempat anak buahnya mendekat dan membentuk setengah lingkaran, ia berdiri di tengah layaknya seorang komandan lapangan.
"Nama 'Bone Breakerz' mulai hari ini resmi dilikuidasi," Bella membuka pengumuman pertamanya, memicu helaan napas terkejut dari anggotanya. "Nama itu kekanak-kanakan, tidak profesional, dan mengundang publisitas negatif dari aparat sekolah. Mulai sekarang, entitas kita tidak memiliki nama jalanan. Kita beroperasi di bawah radar. Kita adalah Unit Manajemen Krisis."
"Unit... apa, Bos? Gue lidahnya keseleo denger bahasa lo dari tadi," Rindi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Intinya, kita bukan lagi preman. Kita adalah elit pengamanan," terjemah Bella, mencoba menyederhanakan bahasa korporatnya ke dalam bahasa yang bisa diproses oleh otak mereka. "Selanjutnya, saya akan mendistribusikan Job Description atau uraian tugas baru kalian."
Bella menunjuk Dion. "Dion. Mulai hari ini jabatanmu adalah Head of Internal Security (Kepala Keamanan Internal). Tugas utamamu bukan lagi memprovokasi tawuran, melainkan observasi dan intelijen. Kamu bertanggung jawab memastikan tidak ada geng dari sekolah lain yang menginfiltrasi teritori kita. Jika ada konflik, kamu wajib melaporkan situasi (sitrep) kepadaku terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan fisik. Tidak ada eksekusi tanpa persetujuan manajemen. Paham?"
Dion mendengus, merasa ego laki-lakinya sedikit tergores karena wewenangnya dibatasi, namun peran "Kepala Keamanan dan Intelijen" terdengar jauh lebih keren di telinganya daripada sekadar "Tukang Pukul".
"Oke. Gue paham, Bos. Kalau ada anak luar yang cari gara-gara, gue lapor lo dulu."
"Tepat," Bella mengangguk, lalu beralih ke Rindi. "Rindi, jabatanmu adalah Financial Controller (Pengendali Keuangan). Mulai hari ini, praktik pungutan liar atau pemalakan terhadap siswa lain dihapuskan secara total. Zero tolerance."
"HAH?!" Rindi memekik. "Terus pemasukan kita dari mana, Bos? Kas kita udah kering!"
"Pemasukan operasional akan murni berasal dari kantong saya, dengan sistem reimbursement (penggantian dana). Jika kalian butuh dana untuk operasional yang sah, ajukan proposal anggaran kepadaku. Rindi, tugasmu adalah mencatat setiap pengeluaran kas kita di sebuah buku besar. Jika ada selisih satu perak pun dari uang yang kuberikan dengan laporanmu, aku akan melakukan audit forensik dan kamu akan menerima surat terminasi."
Rindi menelan ludah, bosnya dulu tidak pernah peduli ke mana uangnya pergi. Sekarang, bosnya meminta pembukuan layaknya akuntan pajak. "S-siap, Bos. Nggak ada malak lagi, catat pengeluaran. Siap."
Bella kemudian beralih ke Tono dan Bono. "Tono, Budi, kalian berdua akan menjadi staf observasi lapangan. Tugas kalian adalah memetakan pergerakan guru, mengetahui titik-titik buta (blind spot) CCTV sekolah, dan melaporkan dinamika sosial siswa lain. Kalian adalah mata dan telingaku."
Tono dan Bono mengangguk antusias. Setidaknya tugas ini terdengar seperti di film-film mata-mata, bukan sekadar menjadi pesuruh yang disuruh membelikan rokok.
Teeng! Teeng! Teeng!
Bel sekolah berbunyi nyaring, memecah ketegangan di area parkir tersebut, suara peringatan melalui pengeras suara menginstruksikan seluruh siswa untuk segera berkumpul di lapangan untuk upacara bendera hari Senin. Biasanya, pada titik ini, Dion akan memberi isyarat kepada geng untuk melompati tembok belakang dan pergi ke warung. Ia secara refleks melihat ke arah tembok, lalu melihat ke arah Bella, menunggu instruksi.
"Oke, Bos. Jadi, rute pelarian kita hari ini lewat tembok kantin atau tembok perpus?" tanya Dion.
Bella menutup buku catatannya dengan bunyi tamparan yang pelan namun tegas, ia menatap keempat anak buahnya dengan pandangan yang membuat darah mereka membeku.
"Siapa yang bilang kita akan melarikan diri?" tanya Bella dingin. "KPI (Key Performance Indicator) utama kita minggu ini adalah memulihkan citra publik kita di mata manajemen sekolah. Dan langkah pertama dari kampanye Public Relations tersebut adalah kehadiran."
Bella merapikan kerah seragamnya, lalu menunjuk ke arah lapangan utama sekolah.
"Rapatkan barisan, kita akan mengikuti upacara bendera pagi ini hingga selesai. Dan jika saya melihat ada satu saja dari kalian yang tidak tertib, barisan tidak lurus, atau membuat suara berisik selama pembina upacara berpidato..." Bella memicingkan matanya, mengunci tatapan mereka satu per satu. "...saya akan memastikan kalian menerima SP-2 sebelum jam istirahat pertama."
Dion, Rindi, Tono, dan Bono memucat. Mengikuti upacara bendera dengan tertib adalah hal yang lebih menakutkan bagi mereka daripada melawan Geng Serigala. Namun, di bawah tatapan diktator baru mereka, tak satu pun dari mereka berani membantah.
"S-siap, Bos!"
"Bagus, morning briefing selesai. Bubar jalan dan bergerak ke lapangan, sekarang!" perintah Bella.
Saat keempat anggota geng itu berjalan beriringan menuju lapangan dengan langkah gontai bagai narapidana yang menuju tiang gantungan, Sarah Paramitha tersenyum tipis di dalam tubuh Bella. Fase restrukturisasi pertama berjalan sesuai rencana. Ia telah menanamkan hierarki, SOP, dan rasa takut yang terukur.
"Budaya organisasi sedang dibentuk," gumam Bella pada dirinya sendiri, sebelum melangkah tegap menyusul pasukannya menuju lapangan upacara. "Saatnya melakukan audit internal terhadap sistem sekolah ini."