Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Di Balik Jeruji Ketidakadilan
"Tidak... aku tidak melakukannya!" suaraku pecah, namun kata-kataku seakan tak berarti di hadapan mereka. Dua orang polisi itu tetap berdiri tegak, tak bergeming sedikit pun.
Arga mengeratkan genggaman tanganku, menatap para petugas itu dengan tatapan tajam yang membara. "Kalian dengar dia mengaku tidak bersalah. Dan aku — suaminya — bersaksi bahwa sepanjang waktu kejadian itu berlangsung, dia ada di sini, bersamaku. Tak mungkin dia ada di lokasi kejadian."
"Kami mengerti perasaan Anda, Tuan," ucap salah satu petugas dengan nada datar. "Namun bukti yang ada cukup kuat untuk membawa Nyonya ke kantor polisi guna pemeriksaan lebih lanjut. Jika dia benar tidak bersalah, kebenaran akan terungkap nanti."
Mereka melangkah maju. Arga mencoba menahan, namun aku menarik pelan lengannya.
"Biarkan, Arga..." bisikku lemah, matanya berkaca-kaca. "Kalau aku melawan, justru makin terlihat seolah aku bersalah. Percayalah padaku... dan percayalah pada kebenaran."
Arga menatapku tak rela, napasnya memburu. "Tapi aku tak bisa membiarkanmu pergi begitu saja ke tempat yang asing dan berbahaya..."
"Aku akan baik-baik saja. Dan kau janjikan padaku — cari tahu siapa yang sebenarnya di balik semua ini. Laras... dia yang merancang semuanya."
Aku melepaskan genggamannya perlahan, lalu membiarkan petugas itu membimbingku keluar rumah. Angin malam yang dingin menerpa wajahku, namun kedinginan yang kurasakan jauh lebih dalam dari itu — rasanya seakan seluruh dunia telah berbalik arah, dan aku sendirian di tengah badai yang tak kunjung usai.
Perjalanan ke kantor polisi terasa memakan waktu selamanya. Aku duduk diam di kursi belakang mobil, menatap ke luar jendela, melihat bayang-bayang lampu jalan yang melintas cepat, bagaikan potongan-potongan mimpi yang hancur. Semua kebahagiaan yang baru saja kurasakan, kini sirna begitu saja, digantikan oleh tuduhan yang keji dan tak masuk akal.
Sesampainya di sana, aku diinterogasi berjam-jam. Mereka bertanya hal yang sama berulang-ulang — di mana aku berada, dengan siapa, apa yang kulakukan saat kejadian itu terjadi. Aku menjawab sejujurnya, namun setiap jawabanku seakan tak pernah cukup bagi mereka. Saksi mata yang menyebut melihatku di lokasi, barang bukti yang atas namaku... semuanya terencana dengan sangat rapi, seakan Laras telah mempersiapkan ini sejak lama.
Di sisi lain, Arga tak diam saja. Segera setelah aku dibawa pergi, ia menghubungi pengacara terbaiknya, lalu bergegas menyusul ke kantor polisi. Wajahnya tampak kuyu namun matanya tetap menyala penuh tekad. Ia takkan membiarkan aku hancur begitu saja.
"Jangan khawatir, Freya," bisiknya saat akhirnya ia diizinkan menemuiku sebentar di ruang tunggu. Ia mendekap wajahku di kedua telapak tangannya, menatapku lekat-lekat. "Aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk menyelidiki setiap detail kejadian itu. Laras terlalu cerdik, tapi dia pasti meninggalkan jejak. Tidak ada rencana yang sempurna — dan aku akan menemukannya. Aku berjanji, tak lama lagi kau akan bebas, dan namamu akan bersih kembali."
"Terima kasih, Arga..." ucapku lirih, air mata akhirnya jatuh membasahi pipi. "Maaf... aku menyusahkanmu lagi."
"Jangan pernah minta maaf untuk hal yang bukan kesalahanmu. Kita bersama, ingat? Dalam suka maupun duka, dalam damai maupun badai. Dan badai ini... kita akan lewati bersama."
Ia mengecup keningku lama, seakan mengisi kekuatan ke dalam diriku, sebelum akhirnya harus berpisah. Malam itu, aku tidur di sel tahanan sementara — sempit, dingin, dan sepi. Namun anehnya, aku tak merasa benar-benar sendirian. Setiap kali rasa putus asa mulai mendekat, kata-kata Arga kembali bergema di kepalaku, memberiku kekuatan untuk tetap bertahan.
Laras mungkin berhasil menuduhku, mungkin berhasil memisahkan kami untuk sesaat — tapi ia salah satu hal penting. Cinta dan kepercayaan yang tumbuh di antara kami bukanlah sesuatu yang bisa ia hancurkan begitu saja dengan kebohongan. Dan aku tahu... Arga takkan berhenti sampai ia menemukan kebenaran.
Lanjut ke Bab 17? 🔥 Arga mulai menyelidiki jejak Laras! Rahasia besar perlahan terungkap, dan siapa sangka ada pihak lain yang juga terlibat dalam rencana jahat ini! Mau dilanjutkan? 😱