Indonesia
NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Yang Tidak Bisa Ia Pahami

Belvina tidak langsung menjawab. Tatapannya bertahan sesaat, lalu perlahan bergeser. Bukan menghindar. Lebih seperti… kehilangan minat.

Matanya jatuh pada meja makan di depan mereka. Beragam hidangan tersaji rapi. Mewah. Hangat. Aromanya naik perlahan, memenuhi udara.

Perutnya bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat menahan. Ia menelan ludah halus.

"Astaga… ini semua dimakan orang tiap hari?"

Ekspresinya tetap terjaga.

Namun sorot matanya berubah sepersekian detik, cukup untuk seseorang yang memerhatikan dengan serius bisa menangkapnya.

Dan Alden, tidak melewatkan itu. Tatapannya turun mengikuti arah pandang Belvina. Ke makanan. Lalu kembali ke wajahnya. Keningnya berkerut tipis.

Aneh.

Baru saja wanita itu bicara seperti tidak peduli apa pun. Sekarang, terlihat… tertarik?

Kontras itu terlalu jelas.

Dan justru itu, yang membuat Alden semakin sulit mengalihkan perhatian.

Belvina menarik napas kecil. Tenang. Ia sekarang bukan Dina. Ia Belvina.

Perlahan, ia mengambil sendok. Mencicipi satu suapan. Lalu, diam. Rasanya langsung memenuhi mulutnya.

Dalam kepalanya, satu kata muncul jelas: "Gila. Enak banget."

Namun wajahnya tetap datar. Ia menelan, mengambil suapan berikutnya. Lalu berikutnya lagi.

Masih berusaha tenang. Masih berusaha terlihat biasa. Meski kecepatannya… sedikit meningkat tanpa ia sadari.

Di seberangnya, Alden memerhatikannya tanpa suara. Tanpa ekspresi jelas. Namun matanya tajam.

“Lapar?” ucapnya tiba-tiba.

Nada suaranya ringan, tapi jelas… menyindir.

“Atau capek berakting seharian?”

Sendok Belvina berhenti sepersekian detik. Ia meliriknya sekilas. Tatapan datar. Tanpa tersinggung. Tanpa reaksi berlebihan.

Lalu—

Ia kembali makan. Seolah-olah komentar itu… tidak layak ditanggapi.

"Menganggu sekali," gerutunya dalam hati.

Alden menyandarkan punggungnya, mengamati lebih serius.

Cara makannya rapi, tapi tidak lagi dibuat-buat. Tidak ada gerakan elegan berlebihan yang biasanya selalu ditampilkan.

Yang ada justru, efisien. Fokus. Seperti seseorang yang benar-benar menikmati makanan.

Alisnya berkerut tipis. "Aneh."

-

Setelah makan malam, Belvina langsung beranjak dari kursinya.

Tanpa menunggu. Tanpa menoleh. Ia berjalan meninggalkan meja makan. Langkahnya tenang. Tegas. Mantap.

Para pelayan diam-diam menatapnya.

Alden juga. Alis pria itu sedikit berkerut.

"Kenapa cara jalannya terasa berbeda?"

Biasanya, Belvina berjalan seperti model di atas catwalk. Terlalu dibuat-buat. Terlalu sadar diri.

Namun sekarang?

Tidak ada gaya berlebihan. Tidak ada usaha menarik perhatian. Hanya langkah lurus… tanpa ragu. Dan justru karena itu, ia terlihat lebih elegan.

Belvina masuk ke kamar. Pintu tertutup di belakangnya. Matanya langsung menyapu seisi ruangan.

Luas. Mewah. Terlalu rapi.

"Jadi ini kamarnya…"

Potongan-potongan ingatan Belvina yang asli mulai kembali. Seperti puzzle yang perlahan tersusun.

Letak lemari. Kamar mandi. Meja rias. Tempat-tempat yang tadi terasa asing, kini mulai terasa… dikenali.

Ia melangkah ke depan cermin. Berhenti. Menatap dirinya sendiri. Wajah itu, indah. Kulit mulus. Fitur sempurna. Tubuh proporsional.

Tidak ada yang kurang.

"Astaga..ini beneran wajahku sekarang?"

Ia menatap cermin tak berkedip. Tangannya terangkat mengusap dan menepuk pipinya sendiri. Memastikan ini bukan mimpi.

"Ini bukan mimpi. Aaa... Ya Tuhan.... Ini benar-benar cantik," pekiknya tak kuasa menahan bahagia.

Tapi, tatapannya turun. Ke pakaian. Lalu ke riasan wajahnya. Ia mengembuskan napas kasar.

“Terlalu berusaha…”

Makeup tebal. Pakaian mencolok. Semua terlalu… memaksa.

Bukannya terlihat anggun, justru seperti seseorang yang memohon untuk diperhatikan.

"Aku yakin wajahnya akan jauh lebih cantik jika gak pakai make-up kayak badut gini."

Ia masuk ke kamar mandi.

Air hangat memenuhi bathtub. Tubuhnya tenggelam perlahan. Otot-ototnya yang tegang mulai mengendur. Matanya terpejam sesaat.

“Enak sekali jadi orang kaya…” gumamnya pelan.

“Kamar mandi ini saja… empat kali lebih besar dari kontrakanku.”

Sudut bibirnya naik tipis. Ironis.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan rambut basah dan bathrobe membalut tubuhnya.

Ia membuka lemari. Dan mendengus.

Deretan lingerie tergantung rapi di dalamnya. Tipis. Transparan. Nyaris tidak menutup apa-apa.

“Astaga…”

Ia meraih salah satunya. Mengangkatnya sedikit.

“Ini baju atau… saringan tahu?”

Ia menatapnya dengan ekspresi campuran antara tidak percaya dan geli, bahkan sedikit...jijik.

“Memalukan sekali…” gumamnya, lalu mengembalikannya.

Ia menyapu isi lemari dengan tatapan kritis. Gaun-gaun mewah. Warna mencolok. Potongan berani.

“Glamor semua…” Ia menghela napas panjang. “Sepertinya aku harus beli pakaian baru.”

Akhirnya, ia memilih satu gaun tidur yang paling “normal”.

Memakainya, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih ponsel. Layarnya menyala.

“Kita lihat…” gumamnya pelan. “Berapa saldo rekeningnya.”

Beberapa detik tanpa suara. Lalu, matanya membesar.

“Ini… bercanda?”

Angka di layar itu, tidak masuk akal. Jauh. Terlalu jauh dari dunia yang ia kenal. Bahkan dalam mimpinya pun… tidak pernah membayangkan angka sebesar itu.

Napasnya tertahan. Tangannya sedikit gemetar.

“Ini… semua milikku sekarang?”

Lalu—

“Aku kaya.”

Kalimat itu keluar lebih pelan. Seolah ia sendiri masih mengujinya.

Detik berikutnya—

“Aku kaya!”

Tangannya langsung naik, memegang kedua pipinya. Kakinya menghentak pelan ke lantai, sekali… dua kali… lalu semakin cepat, seperti anak kecil yang tidak bisa menahan kegirangan.

“Gila…”

Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Berusaha menenangkan diri, tapi sudut bibirnya sudah terlanjur terangkat.

Matanya kembali ke layar. Angka itu masih di sana. Tidak hilang. Tidak berubah.

Bukan mimpi.

Senyumnya melebar, kali ini tanpa ditahan.

“Kalau ini mimpi…” gumamnya lirih, “jangan bangunin aku.”

***

Sementara itu di kamar sebelah. Alden berdiri di depan cermin kamarnya. Rambutnya masih sedikit basah. Kemeja sudah diganti dengan piyama rapi. Namun pikirannya, tidak setenang penampilannya.

"Dia berubah."

Alisnya berkerut tipis.

"Trik baru?"

Sudut bibirnya terangkat samar.

“Main tarik ulur…” gumamnya pelan.

Masuk akal. Belvina bukan tipe yang menyerah. Kalau cara lama gagal, tentu dia akan mencoba cara lain.

Namun, tatapannya sedikit menggelap.

"Kalau ini akting… terlalu rapi."

Beberapa detik terasa sunyi.

Lalu ia berbalik. Langkahnya mantap saat keluar dari kamar. Tujuannya jelas.

BRAK—

Pintu kamar Belvina terbuka tanpa ketukan.

Belvina yang sedang duduk di tepi ranjang langsung tersentak. Kepalanya menoleh cepat.

Tatapannya tajam.

“Jangan masuk kamar orang sembarangan,” ucapnya dingin. “Ketuk dulu sebelum masuk.”

Alden berdiri di ambang pintu. Tidak bergerak. Tidak juga meminta maaf. Namun matanya, mengunci wanita di depannya.

Satu detik. Dua detik.

Biasanya, begitu ia muncul di pintu itu, Belvina akan langsung tersenyum lebar.

Buru-buru bangkit. Menghampiri. Seolah kehadirannya adalah hal paling dinantikan di dunia.

Tapi sekarang?

Tidak ada senyum. Tidak ada langkah mendekat. Tidak ada… apa pun. Yang ada-- Suara dingin. Tatapan tajam. Dan itu, jauh lebih mengganggu.

Alden melangkah masuk. Perlahan. Pintu di belakangnya tertutup.

Klik.

 

...✨“Perubahan paling berbahaya bukan yang terlihat… tapi yang tidak bisa dijelaskan.”...

...“Ketika perhatian berhenti, barulah rasa penasaran dimulai.”...

...“Kemiskinan mengajarkan bertahan. Kekayaan… menguji siapa kita sebenarnya.”...

...“Yang tidak bisa dibaca selalu lebih mengganggu daripada yang terang-terangan menentang.”✨...

.

To be continued

1
mimief
wah... selesai juga
nice ending
beautiful story
koh berkata...
cinta tanpa obsesi akan membuat cinta hanya seperti punya cangkangnya saja
dia akan mudah berpaling dan pergi
tapi obsesi tanpa cinta itu hanya menunjukkan sebenarnya kau hanya ingin memilikinya karena memuaskan ego mu.
tidak akan ada yg menolong mu kecuali dirimu sendiri yg menolong mu
ga perlu menahan seseorang yg tak mau bertahan bukan.
itu sebabnya...sebelum meminta orang lain mengulurkan tangannya untukmu. berjuanglah untuk mu sendiri.
walaupun ending yg indah
tapi...poor buat real belvina,dia pergi karena sudah menyerah sama keadaan 😔
mimief
awas bel
nanti dia cari diluar
kalau dia ga kenyang di rumah
tapi ga mungkin si..dulu aja se absurd dulu aja ga pernah sama yg lain.
tapi orang juga punya batas bel
mimief
obsesi yg ga ketulungan yg ada membawamu kedalam sebuah keterpurukan terdalam
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹
mimief
kasian bangett kamu bel
belvina yg dulu dan telah mati🥹🥹
mimief
wkwkwkwkwkwk
mang... perempuan ga tau malu
mesti dihajar tu harga diri nya
tapi mang udah di gade ya,tu harga diri
pas ngejar laki orang🤣🤣
mimief
😍😍😍🫰🫰🫰
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
mimief
kalau menurut ku Thor
kepercayaan itu bagaikan membangun istana pasir..
tergantung kau menjaganya ,kalau ombak datang kau bisa menghalanginya.
karena sekali saja ombak itu menghantam dan menghancurkan istana itu.
akan penuh upaya dan effort untuk membangun kembali.
kalaupun bisa tentunya bentuk nya sudah tidak akan sama
mimief
see...lu liat kan Al
terkadang kita ga perlu usaha banyak untuk menyakiti seseorang
hanya cukup membuat dan mengabaikan lalu akan berkembang dengan sendirinya.
rumor kadang lebih menyeramkan drpada kenyataan 😔🥹
mimief
senang... sekarang Alden tau siapa rumahnya
mimief
cuma utang budi ,istri hampir ilang
mang laki laki bodoh
untung bodohnya ga lama"🫣🤣
mimief
ya.. kepercayaan itu bagaikan gelas kristal
yg kalau pecah susah lagi kembali nya
walaupun dikumpulkan dan di panaskan kembali
tetap cahaya dan Bentuknya ga akan sama
mimief
harapan itu sangat menakutkan Thor?
itu sebabnya bisa memberikan sesuatu yg kita ga punya sebelum nya🥹🥹
mimief
modus dia bel🤨🤣
mimief
terlalu biasa melihat nya ada disamping kita,sampe kita lupa
kl dia juga bisa milih pergi
mimief
terkadang... penulis hanya memperlihatkan chapter yg ingin dilihat sang protagonis.
banyak hidden chapter yg kita ga tau.
haaaahhh
mimief
kau tidak mencintai ku
KA hanya ta mau harga diri mu Ter usik
mimief
wkwkwkwkw
got you bad girl 🫣🤣🤣
mimief
seorang tamu ga akan bisa masuk kedalam rumah kalau yg punya nya ga membukakan pintu. dan kau Alden,kau yg membukakan pintu itu untuknya. masalah kesalahpahaman sebenarnya harusnya sudah kau antisipasi
tapi kau membiarkan dan membuat makin buruk
itu kesalahan mu
mimief
karena tubuhnya masih punya Belivina asli
JD dia ga bisa nolak🤣🤣
kasiaaaaan 🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!