Indonesia
NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Kebohongan yang Rapuh

"Tato? Tunggu dulu, Scar... sejak kapan aku memiliki guratan tanda tato di leherku?!"

Elisa panik setengah mati. Memorinya yang samar-samar mendadak berputar pada kepingan insiden penculikan gila oleh para makhluk abadi yang baru saja ia alami sepanjang hari ini.

Dengan napas yang memburu cemas, ia mulai menggosok-gosok tanda emas berbentuk kelelawar itu secara paksa menggunakan ibu jarinya hingga permukaan kulit lehernya memerah.

Ia sangat berharap tanda sakral itu tak lebih dari sekadar stiker mainan murah milik salah satu adik kecil pantinya, yang tidak sengaja menempel di kulit lehernya saat mereka berpelukan erat di area lobi tadi.

"Sudahlah, El. Tindakanmu itu hanya akan berakhir sia-sia belaka. Kau hanya akan membuat permukaan kulit leher mulusmu memerah lecet," ucap Scarlett Pendragon seraya mengulurkan tangannya, mengambil sebuah botol cairan foundation baru dari atas meja rias marmer.

"Aku akan membantu menutupinya menggunakan kosmetik ini jika kau memang mengizinkannya."

Elisa tidak memberikan jawaban verbal. Seluruh kesadaran manusianya masih tampak teramat syok dan linglung, menatap pantulan cermin besar dengan batin yang berkecamuk hebat.

Scarlett kemudian beralih, menggerakkan sisir kayu untuk merapikan dan mengepang helaian rambut bergelombang cokelat milik Elisa dengan teramat lembut.

Jauh di dalam lubuk batinnya, sang putri bangsawan Pegasus sebenarnya mengetahui dengan sangat pasti apa arti esensi dari tanda bercahaya tersebut.

Itu adalah tanda kepemilikan mutlak (Blood Mate Mark) milik Jonah Salvatore, kakak kembar dari Josiah sekaligus sepupu kandung Scarlett sendiri.

Beberapa saat yang lalu, ketika ketiga sepupu kembarnya berkumpul di halaman belakang kediaman Pendragon, Jonah sendiri yang mendeklarasikan secara blak-blakan bahwa ia telah menancapkan taringnya, menghisap darah Elisa, dan mengukir tanda abadi tersebut di vena leher sang gadis.

Namun, Scarlett sama sekali tidak menyangka bahwa saat ini Elisa justru sama sekali tidak mengingat kronologi insiden traumatis tersebut.

Apakah kapasitas memori manusia Elisa memang teramat pelupa, ataukah salah satu dari ketiga sepupu vampirnya itu telah merapalkan mantra sihir penghapus ingatan tingkat tinggi?

Satu hal yang pasti dalam analisis Scarlett: mulai detik ini, posisi keselamatan hidup Elisa tidak akan pernah aman lagi dari incaran klan Salvatore.

"Dengar baik-baik kalimatku ini, El," ucap Scarlett dengan nada suara pelan yang teramat serius di dekat telinga Elisa. "Jika ke depan kau melihat ada tiga pemuda rupawan yang memiliki wajah kembar identik mencoba berjalan mendekatimu di kota, segera berbalik dan menjauhlah sejauh mungkin. Jangan pernah sekali-kali membiarkan dirimu dekat, berinteraksi, atau mengenal mereka lebih dalam. Oke?"

"Pemuda kembar?"

Elisa mengernyitkan dahinya, mencoba memanggil sisa ingatan di kepalanya.

"Maksudmu... ketiga monster vampir gila yang sempat mengepungku tadi pagi?"

Scarlett seketika tersentak hebat mendengar respons tersebut. Saraf jemari tangannya yang sedang mengepang rambut spontan terlepas begitu saja, dan tubuhnya hampir saja terjungkal ke belakang karena didera rasa terkejut yang luar biasa masif.

"Kau... kau ternyata masih mengingat eksistensi keberadaan mereka, El?!"

"Tentu saja aku masih mengingat bahwa mereka ada," aku Elisa seraya mengangkat kedua tangannya, memijat pelipis kepalanya yang mendadak kembali didera rasa pening.

"Tetapi anehnya, aku sama sekali tidak mampu mengingat siapa nama asli mereka ataupun detail-detail rincian kejadian yang sudah berlalu di antara kami. Aku memang sering mendadak pikun dan menderita sakit kepala hebat, Scar. Ingatanku belakangan ini tidak terlalu baik, apalagi setelah aku terpaksa mengeluarkan gelombang kekuatan hipnotis memoriku pada mereka tadi. Tepat setelah sihir itu keluar, aku langsung melupakan segalanya."

"Jadi... kau benar-benar memiliki bakat kekuatan hipnotis pikiran?"

Scarlett memutar paksa tubuh Elisa agar posisi mereka bisa saling berhadapan satu sama lain. Sorot sepasang manik mata ungunya memancarkan kilat rasa ketidakpercayaan yang teramat besar.

Elisa menganggukkan kepalanya dengan lemah. "Iya. Tetapi anehnya, kekuatanku sama sekali tidak memberikan pengaruh atau efek linglung apa pun pada otak mereka. Justru sebaliknya, aku malah merasakan ada sebaris keanehan yang terjadi pada reaksi biologis tubuhku sendiri."

Ia menyentuh permukaan dadanya, mencoba merasakan ritme detak jantungnya yang berdegup lambat. "Aku mendadak merasa seluruh staminaku menjadi sangat segar dan pulih sepenuhnya, seolah-olah jiwanya baru saja terlahir kembali ke setelan pabrik. Namun, efek samping fatalnya... aku justru yang bertransformasi menjadi lupa ingatan. Padahal biasanya, di masa lalu, justru orang-orang fana yang kuhipnotis yang akan berakhir linglung dan melupakan total siapa diriku."

****

"Elisa, kau tadi pergi ke mana saja?! Aku benar-benar didera rasa khawatir yang luar biasa karena tidak menemukan keberadaan fisikmu di mana pun di dalam rumah. Bahkan, aku sudah mencari tanda-tanda keberadaanmu ke setiap sudut ruangan," tanya Cedric Valerius dengan nada suara bariton yang tidak lagi mampu menyembunyikan gelombang kepanikan batinnya.

Pria berambut pirang keemasan bermata hijau zamrud itu berdiri tegak tepat di ambang pintu masuk restoran mewah miliknya. memposisikan bodi tegapnya di sana demi menunggu kedatangan sang gadis pelayan cuci piring.

Elisa tersentak hebat di tempatnya berdiri, refleks meremas pelan pinggiran kain gaun berwarna navy berpotongan anggun yang melekat di tubuhnya—sepotong gaun baru pemberian Scarlett Pendragon yang terasa teramat nyaman di kulitnya.

"Oh, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksopananku, Tuan Cedric. Tadi aku tidak sempat berpamitan secara langsung dengan Anda dan memilih langsung bergegas pergi menuju ke kompleks panti asuhan baruku. Aku... aku merasa agak bosan jika harus terus-menerus berdiam diri sendirian di dalam rumah pribadi Anda, Tuan. Untuk itu, aku segera melangkahkan kakiku pergi karena aku tidak mau membuat Ibu Iris didera rasa cemas."

Rentetan kalimat itu meluncur dengan teramat lancar dari belahan bibirnya, sebuah untaian kebohongan fana yang terpaksa Elisa susun dengan rapi demi melindungi batasan kewarasan manusianya sendiri.

Ia tidak akan pernah mungkin memiliki keberanian untuk menceritakan kelancangan nekatnya yang telah menerobos masuk ke dalam bilik lemari kayu antik di area dapur mewah milik Cedric, hingga berakhir salah terdampar masuk ke dimensi kuno Alfheim.

Ia teramat takut jika Cedric akan menganggapnya telah gila atau menderita halusinasi ekstrem.

Namun, di dalam kepalanya sendiri, badai pertanyaan rahasia justru sedang berkecamuk hebat tanpa henti.

Bagaimana mungkin ada sebuah panorama dimensi hutan belantara kuno penuh sihir yang bersembunyi di balik perabotan lemari dapur milik seorang manusia fana biasa sepertinya?

Cedric menghela napas panjang yang sarat akan kepasrahan, mencoba sekuat tenaga meredam gejolak sihir energi Elf Hutan di dalam dadanya yang sempat berguncang tidak stabil akibat kepanikan.

"Syukurlah jika kondisimu aman kalau begitu. Padahal hari ini aku sudah memberikanmu hari libur khusus, El. Tetapi kenapa kau justru malah keras kepala masuk bekerja dan memaksakan kondisi fisikmu? Lihat, cobaan buruk apa lagi yang baru saja menimpa sepasang kakimu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!