Indonesia
NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Seharga Warisan

Pernikahan Kontrak Seharga Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Identitas Tersembunyi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rey 18

Demi menyelamatkan seluruh aset perusahaan peninggalan almarhum ayahnya, Maya diwajibkan oleh surat wasiat kakeknya untuk menyerahkan Buku Nikah sebelum batas waktu jam lima sore. Ketika mantan tunangannya berkhianat akibat suap dari sang paman dan waktu tersisa kurang dari satu jam, Maya nekat menarik seorang pria berkaus oblong lusuh di tepi jalan untuk diajak menikah kontrak di KUA dengan imbalan lima ratus juta rupiah.
​Maya mengira suami barunya, Arka, hanyalah seorang buruh serabutan miskin. Namun, setiap kali pamannya berusaha menjatuhkan Maya, skema jahat itu selalu hancur secara beruntun lewat bantuan misterius. Maya tidak pernah menyadari bahwa pria sederhana yang tinggal di rumahnya itu adalah Arka Nusantara, CEO penguasa konsorsium bisnis terbesar di kota ini yang sengaja menyamar demi melindunginya dari balik layar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan di Tengah Gelap

​Malam makin melarut. Gerimis tipis mengguyur jalanan kota, memantulkan pendar lampu jalan di atas aspal yang basah. Sedan putih yang dikendarai Arka melaju tenang membelah kesunyian menuju kawasan perumahan tempat kontrakan mereka berada.

​Di kursi penumpang, Maya tertidur pulas. Kepalanya bersandar rileks ke samping, sementara jas tuxedo milik Arka masih menyelimuti tubuhnya. Beban berat dan tekanan emosional sepanjang hari membuat wanita itu tertidur sangat lelap.

​Arka melirik ke arah Maya melalui kaca spion dalam. Matanya yang tadinya memancarkan kehangatan seketika berubah menjadi sangat dingin tatkala pandangannya beralih ke kaca spion samping.

​Dua buah mobil jeep hitam tanpa pelat nomor telah menguntit mereka sejak keluar dari area pusat kota. Jaraknya dijaga sangat presisi—teknik pembuntuan profesional khas pasukan terlatih.

​‘Organisasi Serigala Hitam,’ batin Arka mengenali pola pergerakan musuh di belakangnya. ‘Surya Wijaya benar-benar sudah tidak sabar ingin mati.’

​Arka sengaja tidak mengambil jalur utama menuju rumah kontrakan. Ia memutar kemudi, mengarahkan mobilnya menuju jalan lingkar luar yang sepi dan dikelilingi oleh area pergudangan tua yang terbengkalai. Arka tidak ingin ketenangan Maya atau area pemukiman warga terganggu oleh pertempuran malam ini.

​Tepat saat sedan putih memasuki jalan lingkar luar yang gelap gulita, dua jeep hitam di belakang mendadak meraung kencang.

​Vrooam!

​Satu jeep meluncur menyalip dari sisi kanan dan membanting setir kencang untuk melintang di tengah jalan, sementara jeep lainnya mengunci rapat jalur belakang. Sedan putih milik Arka terperangkap sepenuhnya di tengah jalanan sepi.

​Suara rem berdecit kencang membuat Maya tersentak kaget dari tidurnya.

​"Ar... Arka? Ada apa?!" tanya Maya panik, memegang sabuk pengamalnya seraya memandang sekeliling yang gelap gulita.

​"Tetap di dalam mobil dan kunci semua pintu, Maya," jawab Arka dengan suara yang sangat tenang dan dalam. Tidak ada sedikit pun rasa takut dalam nada bicaranya.

​"Arka! Mereka siapa?!" jerit Maya tatkala melihat delapan pria bersetelan hitam keluar dari kedua jeep tersebut. Masing-masing memegang pipa besi, parang bergerigi, dan dua di antaranya mengokang pistol berperedam suara.

​"Cuma tamu tak diundang yang salah jalan," sahut Arka pelan. Ia melepas sabuk pengamalnya, lalu menoleh menatap Maya. "Jangan keluar dari mobil apa pun yang terjadi. Percaya padaku."

​Sebelum Maya sempat menahan posisinya, Arka sudah membuka pintu dan melangkah keluar ke tengah gerimis malam. Ia menutup pintu sedan rapat-rapat dan menguncinya dari luar secara otomatis.

​Seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka garatan di wajahnya—pemimpin regu pembunuh Serigala Hitam—melangkah maju seraya memainkan pisau komando di jarinya.

​"Arka," panggil pria berbekas luka itu dengan suara serak menakutkan. "Ada orang yang membayar mahal untuk nyawamu malam ini. Kalau kamu menyerah tanpa melawan, kami janji akan membunuhmu dengan cepat tanpa menyentuh wanitamu."

​Arka berdiri tegak di tengah gerimis. Kemeja putihnya yang digulung hingga siku perlahan basah oleh titik-titik air hujan. Wajahnya tetap datar bagaikan patung es, namun aura pembunuh yang amat pekat mendadak meluap dari tubuhnya—aura Dewa Perang yang telah membantai ribuan musuh di medan tempur.

​Para pembunuh bayaran itu seketika merasa udara di sekeliling mereka mendadak menjadi sangat berat dan menyesakkan napas. Bekas luka di tubuh pria pimpinan regu itu bahkan mendadak ngilu secara refleks.

​"Kalian diberi dua pilihan," kata Arka dengan suara dingin yang menusuk hingga ke tulang. "Beri tahu siapa yang menyuruh kalian dan tinggalkan senjata kalian... atau tetap di sini selamanya."

​Pria berbekas luka itu terperanjat, namun rasa gengsinya mengalahkan insting bahayanya.

​"Sombong sekali kamu, keparat! Habisi dia!" bentak sang pimpinan regu.

​Tiga pembunuh bayaran langsung menerjang maju secara bersamaan. Dua orang mengayunkan parang bergerigi ke arah leher dan dada Arka, sementara satu orang menyasar kakinya dengan pipa besi.

​Wusss!

​Pergerakan Arka bagaikan bayangan musang di malam hari. Ia menggeser tubuhnya hanya beberapa milimeter, membuat tebasan parang meleset menghantam udara kosong.

​Sebelum pembunuh pertama sempat menarik kembali parangnya, jemari Arka sudah menyambar pergelangan tangan musuh, memutarnya 180 derajat dengan satu gerakan kilat.

​Klek! Kraak!

​Suara patahan tulang pergelangan terdengar begitu renyah di tengah gemericik hujan. Pembunuh pertama menjerit histeris sebelum tendangan lurus Arka menghantam dadanya hingga tubuhnya melayang lima meter dan menghantam kap jeep hitam.

​Pembunuh kedua yang mengayunkan pipa besi terpana. Belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, cengkeraman tangan Arka sudah mengunci lehernya dan menghempaskan kepalanya kencang ke atas kap mesin.

​Brak!

​Pria itu langsung pingsan seketika dengan darah mengucur dari dahinya.

​Seluruh pertarungan itu terjadi kurang dari lima detik!

​Dari dalam mobil, Maya membelalakkan matanya dengan napas tertahan. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak percaya pada pemandangan memukau sekaligus mengerikan yang terjadi di depan matanya. Gerakan Arka bukan sekadar bela diri biasa—itu adalah seni membunuh paling efisien dan mematikan!

​Dua pembunuh bayaran yang memegang pistol panik. Mereka mengarahkan moncong berperedam suara itu lurus ke dada Arka.

​"Mati kamu!"

​Jep! Jep!

​Dua tembakan dilepaskan. Namun Arka sudah menyambar tubuh pembunuh ketiga yang merintih di tanah, menggunakannya sebagai tameng hidup dalam fraksi detik. Dua peluru menancap di dada pembunuh tersebut.

​Sebelum kedua penembak sempat mengokang kembali, Arka melempar tubuh tameng itu ke arah mereka, menutup jarak dalam sekali hentakan kaki.

​Brak! Bshhh!

​Dua pukulan jarak dekat menghantam ulu hati kedua penembak tersebut. Keduanya tumbang memuntahkan cairan lambung, terkapar tak berdaya di atas aspal basah.

​Kini, hanya tersisa sang pimpinan regu berbekas luka. Pria itu gemetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pisau komando di tangannya jatuh terlepas ke atas aspal.

​"Ka... kamu... siapa sebenarnya kamu?!" jerit pria itu dengan suara bergetar ketakutan. "Kamu bukan manusia biasa!"

​Arka melangkah mendekati pria tersebut. Setiap helak langkah kakinya di atas genangan air terdengar seperti lonceng kematian.

​Arka menyambar cengkeraman leher pria itu, mengangkat tubuhnya yang berbobot 90 kilogram hanya dengan satu tangan di udara.

​"Surya Wijaya yang menyuruh kalian, kan?" tanya Arka dingin.

​"I... iya! Tuan Surya Wijaya dari Megah Pratama Group!" aku pria itu panik setengah mati. "Ampuni nyawaku! Kami cuma menerima pesanan!"

​Arka menatap pria itu dengan tatapan tanpa ampun.

​"Sampaikan pesan ini pada Surya Wijaya," bisik Arka tepat di telinga pria tersebut. "Permainan anak kecilnya sudah berakhir. Mulai besok... aku yang akan menjemput nyawanya."

​Arka melempar tubuh pria itu hingga tersungkur di tanah. Pria berbekas luka itu merangkak cepat masuk ke dalam jeep, menancap gas kencang-kencang bersama sisa pasukannya yang masih bisa bergerak, melarikan diri bagaikan anjing terbantai.

​Jalanan kembali hening. Hujan gerimis perlahan mereda.

​Arka mengibas sisa air hujan di kemejanya, memungut jasnya yang jatuh, lalu melangkah kembali menuju mobil sedan putih. Ia membuka pintu dan duduk kembali di kursi pengemudi.

​Maya menatap Arka dengan tubuh yang masih sedikit gemetar. Matanya penuh dengan kombinasi rasa syok, takjub, dan kebingungan yang sangat besar.

​"Arka..." suara Maya bergetar pelan. "Kamu... dari mana kamu belajar cara bertarung seperti itu?"

​Arka menoleh ke arah Maya, mengulas kembali senyum tipisnya yang hangat—seolah aura membunuh mematikan beberapa detik lalu tidak pernah ada.

​"Dulu saat jadi pengawal elite Nusantara Group," jawab Arka tenang sambil menyalakan mesin mobil, "bertahan hidup adalah makanan sehari-hari, Maya. Ayo kita pulang, harimu sudah sangat panjang."

​Maya menatap profil samping suaminya yang kembali tampak tenang. Di dalam hatinya, Maya sadar sepenuhnya: Arka bukan sekadar pelindung Wibowo Group... pria ini adalah badai yang siap menghancurkan siapa saja yang berani menyentuhnya.

1
Jamayah Tambi
Lanjut Athur,Dian ambil peluang atas nama darah dan keluarga,sombingvtan tau diri.Umur masih setahun jagung
Jamayah Tambi
Hah,kata dah tamat tp ceritanya bersambung
Jamayah Tambi
Takut kau yg terbunuh Pak Surya Wijaya.Tak masuk di akal sihat dan waras ku bila pulak Arka dan Mayavtinggal di kontrakan.Sebelum tu kan tinggal dirumah peninggalan ayah Maya..
Jamayah Tambi
Dah Arka sendiri yg pimpinan tertinggi Nusantara Group
Jamayah Tambi
Kau hentan je Rian tu.Belagak sangat.
Jamayah Tambi
Arka cepat terus terang .Maya sangat penasaran tu
Jamayah Tambi
Cepat cari tau,agar tidak penasaran terus Maya
Jamayah Tambi
Kalau ketahuan nanti kau jgn marah Maya.Kau yg menawarkan penikahan pada Arka masa itu.Jgn pula kau anggap penipu.Tidak ada untungnya bagi Arka..Kamu yg beruntung Maya,dapat harta karun
Jamayah Tambi
Maya,main saja ikut aturan Arka,nanti tau kok rahsianya
Jamayah Tambi
Rasain.Nak sangat ambil harta anak yatim kan.
Jamayah Tambi
Bola nak sampai pejabat notaris,kok masih di KUA
Jamayah Tambi
Gila, demi harta warisan.Siapa juga mau seluruh harta warisa ayah dan datuknya jatuhbke tangan pamannya dan sepupunya yg serakah itu.Bukan nak tolong anak yatim puatu
itu.
Wawan
Clue yang menarik .... Nyimak ✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!