Indonesia
NovelToon NovelToon
Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti

Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.

Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.

Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.

Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.

"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Grand Ballroom hotel termewah di Mexico disulap menjadi sebuah istana megah bernuansa putih dan emas. Ribuan tangkai mawar putih langka yang diimpor langsung dari Eropa memenuhi setiap sudut ruangan, membiaskan aroma harum yang memabukkan. Ratusan tamu VIP mulai dari pejabat tinggi, konglomerat mancanegara, hingga kolega bisnis internasional hadir untuk menyaksikan pernikahan paling fenomenal tahun ini.

Di depan altar yang dihiasi lengkungan kristal, Kenzo berdiri tegap. Ia tampak sangat tampan dan berwibawa dalam balutan tuxedo hitam kustom dengan aksen perak di dada. Tatapan matanya yang biasanya dingin kini memancarkan binar ketegangan dan kerinduan yang amat dalam saat pintu ganda balai riung perlahan terbuka.

Lagu pernikahan mengalun lembut.

Clara melangkah masuk menelusuri karpet merah, digandeng oleh ibunya. Gaun pengantin berwarna putih gading dengan ekor panjang bertatahkan ribuan kristal Swarovski membungkus tubuh cantiknya dengan sempurna. Di balik mahkota mutiara yang melingkar di kepalanya, wajah Clara memancarkan kecantikan yang luar biasa murni, bukan lagi gadis pucat yang terkurung dalam ketakutan, melainkan seorang ratu yang siap bertakhta di samping sang raja.

Saat tangan Clara diserahkan ke dalam genggaman Kenzo, pria itu mencengkeram jemari Clara dengan erat dan hangat.

"Kau adalah wanita paling cantik di dunia malam ini, Dear,"

bisik Kenzo dengan suara berat yang sarat akan kekaguman mutlak.

Clara mendongak, menyunggingkan senyum tulus yang memikat.

"Dan kau adalah milikku sepenuhnya sekarang, Kenzo."

Di hadapan janji suci dan penghulu, Kenzo mengikrarkan sumpahnya dengan suara lantang dan mantap. Tidak ada ragu, tidak ada keraguan. Saat Kenzo menyematkan cincin berlian langka ke jari manis Clara, dan Clara membalasnya, sorak bertepuk tangan riuh memenuhi ruangan.

Kenzo menarik pinggang Clara mendekat, menundukkan wajahnya, dan mendaratkan ciuman pernikahan mereka yang hangat, dalam, dan penuh rasa kepemilikan di hadapan ribuan pasang mata. Clara memejamkan mata, membalas ciuman itu dengan kepasrahan dan cinta yang telah membakar habis sisa rasa sakit masa lalu mereka.

...***...

Malam harinya.

Penthouse pribadi Kenzo yang terletak di lantai tertinggi menara eksklusif menyambut mereka dalam keheningan yang romantis. Rangkaian kelopak bunga mawar merah ditaburkan menelusuri lorong marmer menuju kamar utama, diiringi pendaran lilin-lilin aromaterapi yang menenangkan.

Kenzo memboyong Clara ke dalam kamar utama dalam pelukannya. Pintu kayu tebal terkunci otomatis dari dalam, memutus mereka seutuhnya dari dunia luar.

Kenzo perlahan menurunkan tubuh Clara di tepi ranjang yang dilapisi seprai sutra merah hati. Pria itu melepas jas mewahnya, melemparkannya sembarangan ke lantai, lalu berlutut di hadapan Clara. Dengan jemari tegapnya yang lembut, Kenzo melepas sepatu hak tinggi Clara satu per satu, mengelus pergelangan kaki gadis itu dengan lembut.

"Apakah kau lelah, My Wife?"

bisik Kenzo parau, menatap mata Clara dengan pendar gairah yang membara di balik kegelapan malam.

Sebutan 'istriku' yang keluar dari bibir Kenzo membuat jantung Clara berdesir liar. Rasa canggung yang sempat ada menguap digantikan oleh gelombang hangat yang menguasai dadanya.

"Sedikit... tapi aku bahagia, Kenzo,"

balas Clara jujur, jemarinya terulur mengusap rahang tegas Kenzo.

Kenzo berdiri, melangkah mendekati punggung Clara. Dengan perlahan dan berhati-hati, jemari Kenzo menarik ikatan tali gaun pengantin Clara, membiarkan kain mewah itu meluncur turun dan mengekspos kulit mulus Clara yang meremang di bawah temaram lampu kamar.

Kenzo menunduk, mendaratkan kecupan-kecupan hangat di bahu dan leher Clara, membuat napas gadis itu mendadak tertahan.

"Malam ini... tidak ada obat, tidak ada rasa takut, dan tidak ada ancaman,"

bisik Kenzo dengan suara parau yang sangat posesif di ceruk leher Clara.

"Hanya ada aku dan kau, Clara. Menyerahkan seluruh jiwamu padaku, sebagaimana aku telah berlutut menyerahkan seluruh hidupku padamu."

Kenzo membalikkan tubuh Clara, merebahkan gadis itu perlahan ke atas kasur tebal. Di bawah kungkungan tubuh tegap Kenzo, Clara menatap mata gelap pria yang kini telah resmi menjadi suaminya. Tidak ada lagi predator kejam di matanya, yang ada hanyalah seorang pria yang sangat mencintai dan memujanya.

Saat bibir mereka menyatu kembali, keintiman malam itu terasa begitu berbeda. Ciuman Kenzo terasa sangat dalam, lembut, namun dipenuhi kerinduan yang membakar. Clara merengkuh leher Kenzo, menarik pria itu makin merapat, membiarkan rasa cinta yang dulu ia anggap beracun kini menjelma menjadi candu terindah dalam hidupnya.

Sentuhan demi sentuhan jemari Kenzo di atas kulitnya mengirimkan getaran kenikmatan yang memabukkan. Setiap desahan manis yang lolos dari bibir Clara dibalas oleh Kenzo dengan bisikan-bisikan janji kepemilikan abadi yang mengunci seluruh jalan napasnya.

Di bawah naungan malam yang syahdu, mereka menyatu sepenuhnya, bukan lagi sebagai pemburu dan mangsa, melainkan sebagai dua jiwa yang telah melewati neraka untuk menemukan surga dalam pelukan satu sama lain.

Kenzo mencengkeram pinggang Clara makin erat, mengangkat tubuh gadis itu sedikit lebih tinggi untuk memastikan tidak ada sedikit pun celah yang memisahkan kulit mereka. Gesekan lembut dan kehangatan yang menjalar dari setiap sentuhan Kenzo membuat Clara membusungkan dadanya, melengkungkan punggungnya pasrah seraya memanggil nama Kenzo berulang kali di antara desah napasnya yang patah-patah.

Pria itu merunduk, menyesap air mata kebahagiaan yang menetes di sudut mata Clara, lalu kembali melumat bibir manis istrinya dengan ritme yang makin menuntut, makin dalam, dan tak terbendung.

"Kau milikku, Clara... selamanya hanya milikku," bisik Kenzo parau di atas kulit dada Clara yang memerah hangat.

"Aku milikmu, Kenzo..."

balas Clara histeris di tengah puncaknya, meremas otot bahu Kenzo hingga membiru seraya menyerahkan sisa kendali jiwanya pada kenikmatan membakar yang menyatukan mereka malam itu.

Ketika gelombang gairah dan penyatuan itu akhirnya mencapai puncaknya, Kenzo merengkuh tubuh Clara yang gemetar lelah ke dalam dada bidangnya. Mereka terbaring dalam keheningan yang syahdu, mendengarkan deru napas masing-masing yang perlahan menyatu dengan detik jam di dinding.

Clara memejamkan matanya rapat-rapat, merasai usapan lembut jemari Kenzo yang tak berhenti membelai rambutnya hingga ia tertidur lelap.

Sinar matahari pagi yang hangat menerobos tirai tipis penthouse, membiaskan pendar keemasan di atas ranjang yang berantakan.

Clara terbangun dengan perasaan sangat damai. Satu lengan kekar Kenzo melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuh telanjangnya tetap menempel tanpa jarak di dada bidang pria itu.

Clara menyandarkan kepalanya di dada Kenzo, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur. Jemari Clara yang mengenakan cincin pernikahan melingkar mengelus dada bidang Kenzo yang dipenuhi kehangatan.

Kenzo perlahan membuka matanya saat merasakan pergerakan Clara. Pria itu menyunggingkan senyum miring yang tampan, menundukkan kepala dan mendaratkan kecupan mesra di bibir Clara yang sedikit bengkak.

"Selamat pagi, Nyonya Kenzo,"

bisik Kenzo dengan suara parau khas bangun tidur, mengacak lembut rambut terurai Clara.

Clara tertawa pelan, sebuah tawa lepas yang sangat renyah dan penuh kebahagiaan.

"Selamat pagi, Suamiku."

Kenzo menarik selimut tebal untuk membungkus tubuh mereka berdua, mencium dahi Clara dengan kehangatan yang amat tulus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!