Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 : Hampir di Culik
Sementara itu, jauh di Desa Sekar Sari...
Malam semakin larut. Setelah percakapannya dengan Ibu Ratna, Winarsih akhirnya masuk ke kamar kecil yang menjadi tempatnya beristirahat.
Ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi bahunya yang masih terasa nyeri akibat dorongan Sulastri tadi.
Winarsih mengusapnya perlahan. "Semoga besok sudah tidak sakit lagi."
Namun rasa sakit di bahunya bukanlah satu-satunya hal yang memenuhi pikirannya. Ucapan Sulastri terus terngiang di kepalanya.
Kemarin kamu mengkhianati anak saya dan sekarang kamu dekat dengan dokter muda itu.
Winarsih menundukkan kepala. "Aku tidak pernah mengkhianati Mas Benni..." Air matanya kembali menggenang.
Ia tidak pernah menyangka setelah perceraian mereka, dirinya masih harus menghadapi tuduhan yang sama. Padahal selama ini ia hanya berusaha menjalani hidup dengan tenang.
Kemudian pikirannya beralih kepada Arga. Winarsih teringat pesan yang dititipkan dokter itu kepada Juragan Warso agar dirinya tidak pulang sendirian selama Arga berada di kota.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Dokter Arga..." Ia segera menggeleng dan menepuk pelan pipinya sendiri. "Kenapa aku malah memikirkan dia?"
Winarsih tersenyum malu.
Namun senyum itu perlahan menghilang ketika ia teringat bahwa Arga sedang berada di kota. Ia tidak tahu bahwa pria itu juga sedang memikirkan dirinya.
Di ruang tengah rumah Ibu Ratna...
Ibu Ratna masih duduk sambil melipat beberapa pakaian. Sesekali ia melirik ke arah kamar Winarsih.
Wajah wanita paruh baya itu tampak prihatin. "Kasihan sekali anak itu."
Ia sudah melihat sendiri bagaimana Sulastri memperlakukan Winarsih. Bukan hanya kasar, tetapi juga berusaha mengusirnya dari tempat tinggalnya.
Ibu Ratna menghela napas. "Semoga Winarsih kuat."
***
Keesokan Paginya...
Winarsih sudah bersiap sejak pagi. Ia mengenakan pakaian kerjanya dan membawa tas kecil di bahunya. Setelah berpamitan kepada Ibu Ratna, ia berjalan keluar menuju halaman.
Tak lama kemudian, suara motor terdengar dari depan rumah.
Brum... brum...
Rudi menghentikan motornya tepat di depan pagar. "Pagi, Mbak Winarsih."
"Pagi, Mas Rudi."
Winarsih segera mengenakan helm. "Maaf merepotkan, Mas."
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Saya hanya menjalankan pesan Dokter Arga."
Winarsih tersenyum kecil. "Terima kasih."
Ia kemudian naik ke jok belakang. Motor pun mulai melaju meninggalkan rumah Ibu Ratna. Awalnya perjalanan berlangsung seperti biasa. Namun setelah beberapa menit, Rudi mulai mengurangi kecepatan.
Winarsih yang duduk di belakang memperhatikan keadaan sekitar. "Mas Rudi?"
"Iya, Mbak?"
"Kenapa berhenti?"
Rudi tidak langsung menjawab. Di depan mereka, tiga orang pria berdiri melintang di tengah jalan. Ketiganya mengenakan jaket gelap dan penutup kepala yang menutupi sebagian besar wajahnya.
Salah satu dari mereka mengangkat tangan. "Berhenti!"
Rudi langsung menarik rem.
Chhiiit!
Motor berhenti mendadak.
Tubuh Winarsih hampir saja menabrak punggung Rudi. "Ada apa, Mas?"
Rudi tidak menjawab. Matanya terus mengamati ketiga pria tersebut.
Jantung Winarsih mulai berdegup kencang. "Siapa mereka?"
Rudi mulai turun dari motor. "Jangan turun, Mbak."
Ia berdiri di depan Winarsih seolah berusaha melindunginya.
Salah seorang pria melangkah mendekat.b"Kami hanya ingin membawa wanita itu."
Winarsih langsung membeku. "Membawa saya?"
Pria tersebut mengangguk. "Iya."
Rudi menggeleng tegas. "Kalau ada urusan, bicara baik-baik. Jangan menghalangi jalan seperti ini."
Pria itu tidak menjawab, ia justru melangkah semakin dekat.
Rudi mundur setengah langkah. "Jangan mendekat."
Namun tiba-tiba pria lain bergerak dari sisi kiri. Tangannya langsung meraih lengan Winarsih.
"Mas Rudi!" Winarsih menjerit.
Rudi segera berbalik. "Lepaskan dia!"
Rudi mencoba menarik tangan pria tersebut, namun sebuah pukulan keras menghantam bahunya.
Bugh!
"Aduh!" Rudi terhuyung beberapa langkah.
"Mas Rudi!" Winarsih semakin panik.
Ia mencoba melepaskan tangannya. "Lepaskan saya!"
Pria itu justru menariknya lebih kuat. "Ayo!"
Winarsih meronta. "Tidak!"
Ia berusaha mencengkeram tangan pria tersebut, tetapi tenaganya tidak sebanding.
Rudi kembali mencoba maju. "Jangan sentuh dia!"
Namun satu pria lain menghadangnya.
Bugh!
Sebuah pukulan kembali mengenai Rudi, tubuhnya jatuh berlutut di pinggir jalan.
Winarsih menjerit ketakutan. "Mas Rudi!"
Pria yang memegang tangannya menarik Winarsih menuju sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari sana.
Pintu belakang mobil sudah terbuka.
Winarsih melihat ke dalam, sekujur tubuhnya terasa dingin. "Jangan!" Ia mencengkeram tiang pintu mobil. "Tolong!"
Pria itu berusaha menariknya.
"Lepaskan!" Winarsih menjerit sekuat tenaga. "TOLONG!"
Namun jalanan masih terlalu sepi, tidak ada siapa pun yang terlihat.
Rudi memaksa bangkit. "WINARSIH!"bIa berlari tertatih menuju mereka. "Jangan bawa dia!"
Namun sebelum berhasil mendekat, terdengar suara teriakan dari arah rumah-rumah warga.
"Heh!"
"Siapa kalian?!"
"Berhenti!"
Beberapa warga berlari keluar dari rumah.
Sebagian membawa kayu, sementara beberapa pria dewasa bahkan membawa parang yang biasa mereka gunakan untuk bekerja di kebun.
Melihat warga berdatangan, ketiga pria itu langsung berhenti.
Pria yang memegang Winarsih menoleh. "Gawat..."
Jumlah warga semakin banyak.
"Ada apa ini?!"
"Kenapa ada orang mau membawa Winarsih?!"
"Jangan biarkan mereka pergi!"
Winarsih masih berada di dekat pintu mobil. Tubuhnya gemetar hebat. Ia mencoba mundur, namun pria tersebut masih mencengkeram lengannya.
"Lepaskan dia!"
Salah seorang warga maju, parangnya masih berada di tangannya. "Kalau kalian tidak ingin mati, jangan berani-beraninya membawa orang dari kampung kami!"
Pria yang memegang Winarsih akhirnya melepaskan tangannya. Winarsih langsung mundur. Namun karena terlalu panik, kakinya tersandung batu.
"Aah!"
Tubuhnya hampir jatuh. Rudi segera berlari dan menangkap tubuhnya.
"Mbak!"
Winarsih memegang lengan Rudi erat. "Mas... mereka..."
"Mbak jangan takut, saya disini." Rudi berdiri di depan Winarsih.
Namun keadaan justru semakin menegangkan. Para pria bertopeng itu saling berpandangan. Salah satu dari mereka membuka pintu mobil lebih lebar.
Warga semakin maju. "Jangan macam-macam!"
"Pergi dari sini!"
"Kalau tidak, kami panggil kepala desa!"
Pria itu akhirnya mundur. "Masuk!"
Tiga pria tersebut segera berlari menuju mobil. Mesin langsung dinyalakan.
Brummm!
Mobil melesat meninggalkan jalan desa, debu beterbangan.
Para warga masih berdiri di tempat, sebagian menggenggam erat senjata mereka. Winarsih sendiri masih gemetar, wajahnya pucat.
Salah seorang warga menghampirinya. "Nak, kamu tidak apa-apa?"
Winarsih menggeleng pelan. "Saya... saya takut..."
Rudi yang bahunya masih terasa sakit menatap ke arah mobil yang sudah menghilang. "Mereka jelas bukan orang biasa."
Salah seorang warga mengangguk. "Benar. Mereka sengaja menunggu sejak pagi."
Warga lain menatap Winarsih dengan khawatir. "Siapa yang ingin mencelakai kamu?"
Winarsih tidak mampu menjawab, ia hanya memegang lengannya sendiri. Pikirannya dipenuhi satu pertanyaan.
Siapa yang mengirim mereka?
Namun dari kejauhan, tanpa seorang pun menyadari...
Sebuah motor berhenti di ujung jalan. Pria bertopi hitam yang selama ini mengawasi Winarsih duduk di atasnya. Ia menatap kerumunan warga, lalu mengangkat ponselnya.
"Rencana pertama gagal."
Ia mengetik sebuah pesan.
Winarsih hampir berhasil dibawa, tetapi warga datang dan menggagalkannya.
Pesan terkirim.
Pria itu tersenyum tipis. "Sepertinya harus memakai cara lain." Ia kemudian memutar gas motornya dan menghilang dari jalan desa.