Indonesia
NovelToon NovelToon
The Path To Godhood

The Path To Godhood

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi
Popularitas:399
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?

Ikuti perjalanannya yang memegangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melangkah

...----------------...

Nona Xie tertegun sejenak. Ia menatap Meng Chahua dalam diam, sepasang matanya menyiratkan perenungan mendalam. Tak lama, pandangannya kembali tertuju pada kerumunan kunang-kunang dan tangkai persik yang memancarkan pendar merah itu.

"Nona Meng, apa kau menyadari sesuatu?"

Melihat Meng Chahua sebelumnya menolak permintaannya, jelas ada sesuatu yang ia sembunyikan, atau mungkin ia sedang merasakan kejanggalan di tempat ini. Xuan Han yang berdiri di dekat mereka pun ikut bertanya-tanya; apakah Meng Chahua tahu ada bahaya mengintai di depan sana sehingga ia memilih diam?

Keduanya menunggu jawaban. Namun, alih-alih merespons, dalam hitungan satu tarikan napas, Meng Chahua sudah berdiri tepat di samping Nona Xie. Melihat pergerakan itu, Xuan Han bergegas berlari mendekat.

Dari jarak ini, Meng Chahua bisa melihat tangkai persik itu lebih jelas. Permukaannya memang memancarkan cahaya merah dan aura darah.

Ia mengamati kunang-kunang tersebut; makhluk-makhluk itu jelas bukan serangga biasa dan kemungkinan besar akan bertindak sangat agresif jika ada yang berani menyentuh tangkai persik itu.

"Aku tidak tahu," jawabnya. "Tapi, sepertinya memang tak pernah mudah mengambil artefak dari tempat seperti ini, terlebih ini adalah peninggalan Tuan Putri."

Nona Xie terdiam, mencerna ucapan tersebut. Tatapannya beralih pada Xuan Han yang baru saja tiba dengan napas tersengal. Ingatannya mundur ke saat mereka sepakat menjelajahi gua ini.

Di matanya, Meng Chahua adalah sosok yang paling sulit ditebak; dingin, pasif, dan tampak selalu diselimuti keraguan atas setiap keputusannya. Sepanjang perjalanan, hanya gadis itu yang terlihat penuh pertimbangan.

Nona Xie teringat pada insiden terbukanya gerbang dan bagaimana pemuda itu melangkah melewati rintangan kotak untuk menyeberang. Ia melirik Meng Chahua dengan rasa penasaran. "Meng, sepertinya kau membawa pemuda yang unik."

"Sepertinya begitu," balas Meng Chahua datar.

Nona Xie mengalihkan pandangannya kembali ke tangkai persik. "Apa pemuda ini bisa mendapatkannya?"

Meng Chahua menggeleng samar. Tidak jelas apakah gerakan itu bentuk keraguan atau penolakan. Namun, dari raut wajahnya, Meng Chahua tampaknya sudah merencanakan sesuatu.

Nona Xie hanya diam mengamati, masih belum bisa memutuskan apakah ia harus bersyukur karena selamat dari ancaman kunang-kunang tadi atau justru harus lebih waspada.

Setelah Xuan Han mengatur napasnya, Meng Chahua melangkah maju beberapa langkah lalu berhenti. Ia mendongak menatap pusaran kunang-kunang itu, dan berkata dengan nada tenang, "Xuan Han, kemarilah."

...----------------...

"Aku? Untuk apa lagi?" Xuan Han mengangkat alis.

Ingatannya langsung tertuju pada rasa sakit yang menyengat seperti tersambar petir saat tangannya menghantam gerbang sebelumnya. Ia tentu tidak mau terluka lagi. Mendengar panggilan itu, jari-jarinya mendadak terasa kesemutan, dan tanpa sadar ia menyembunyikan tangannya ke belakang punggung.

Ia juga belum lupa bagaimana darahnya dihisap habis-habisan hingga pintu akhirnya terbuka.

Apakah ada hubungannya antara Tuan Putri dan dirinya? Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalunya? Pertanyaan itu berputar di kepalanya. Sayang sekali, ingatannya masih kosong. Terdorong oleh keengganan, Xuan Han perlahan mengambil langkah mundur.

Melihat gelagat itu, Nona Xie terdiam, sementara Meng Chahua hanya melirik tajam.

Wusss!

Dalam sekejap, embusan angin dingin menyapu. Xuan Han membeku, matanya terbelalak lebar. Sebuah pedang panjang telah terhunus, ujung bilahnya menempel tepat di bawah dagunya, nyaris menggores kulit leher. Satu pergerakan kecil saja sudah cukup untuk mencabut nyawanya.

Ia menelan ludah dengan susah payah, ekspresi wajahnya berubah kesal. Menatap tajam ke arah Meng Chahua, ia berseru tertahan, "Nona Meng, apa lagi yang kau inginkan?!"

Meng Chahua menyarungkan kembali pedangnya dengan gerakan luwes. "Kau hanya perlu berjalan maju."

"Bagaimana jika aku tidak mau?"

"Kau akan mati."

"Dan jika aku mau?"

"Aku akan berusaha menjagamu."

"Hanya berjalan?"

Meng Chahua mengangguk.

Xuan Han mengalihkan pandangannya pada ratusan kunang-kunang dan benda yang bersemayam di tengahnya. Ia menghela napas panjang, menyerah. "Baiklah, baiklah. Nona Meng, tolong pastikan aku tetap hidup."

Ia baru saja hendak melangkah, tapi tiba-tiba berhenti dan menoleh pada Nona Xie. Merogoh bagian dalam pakaiannya, mengeluarkan sebuah tusuk rambut. "Nona Xie, apa kau mengenali benda ini?"

Nona Xie menatap tusuk rambut di tangan Xuan Han sesaat, lalu menjawab tenang. "Tentu saja. Jika seorang murid istana berhasil naik tingkat menjadi murid batin, mereka akan memiliki benda itu. Bagaimana bisa ada padamu?"

"Aku menemukannya," jawab Xuan Han. "Hanya itu? Tidak ada makna lain?"

"Tidak ada."

Tampaknya ada beberapa hal yang tak diketahui oleh Nona Xie, padahal Xuan Han berharap banyak dari informasi tusuk rambut ini. Ia sebenarnya juga ingin menanyakan tentang kalimat cinta yang diingatnnya, tetapi ia merasa malu.

Dengan sebelah tangan mencengkeram erat gagang pedangnya, Xuan Han mulai melangkah maju. Matanya tak lepas dari ratusan kunang-kunang yang bergerak pelan di udara.

Ia terus mengamati ritme mereka.

Ia terpaksa berhenti ketika formasi kunang-kunang itu mendadak kacau, diiringi suara dengungan yang mengeras. Jika makhluk-makhluk itu berubah agresif, nasibnya bisa berakhir seperti Wang Hao. Sekalipun Meng Chahua berjanji akan menolongnya, jauh di lubuk hati, pemuda itu sama sekali tidak memercayainya.

Menatap gerombolan serangga bercahaya itu, Xuan Han kembali menelan ludah. Ia mematung sejenak, baru berani kembali mengayunkan kaki setelah merasa aman.

Sialnya, kakinya tak sengaja menginjak sebuah batu. Terdengar sedikit gesekan yang memicu gejolak pada para kunang-kunang. Lingkaran cahaya yang mereka bentuk sempat pecah berantakan, membuat jantung Xuan Han berdegup kencang, sebelum akhirnya mereka perlahan terlihat lebih tenang dan kembali ke formasi semula.

Pemuda itu memaksakan diri terus berjalan hingga akhirnya berdiri tepat di bawah tangkai persik tersebut. Ia mendongak dengan kewaspadaan penuh. Sorot matanya menajam. Suara dengungan kini memenuhi telinganya.

Dilihat dari dekat, makhluk-makhluk itu memancarkan keindahan lewat cahaya biru di bagian ekor mereka. Begitu pula dengan tangkai bunga persik yang bersinar merah, menebarkan aroma wangi.

Merasa kehadiran orang asing, kumpulan kunang-kunang itu mulai bereaksi. Insting Xuan Han meneriakinya untuk mundur, namun tepat di saat ia hendak menarik kaki, sebilah pedang melesat dan menancap tepat di belakangnya. Jika ia mundur, ia akan terbunuh.

Keringat dingin bermunculan. Xuan Han memilih diam mematung. Dalam sekejap, lautan kunang-kunang itu melesat dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

Xuan Han tak berani bergerak sama sekali, menanti dengan tegang apa yang akan terjadi selanjutnya. Meng Chahua memang tidak bisa dipercaya, tapi sekarang ia sadar bahwa dirinya pun tak bisa diandalkan juga.

1
Pena Quality
saling support
Budiarsa: Terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!