Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Namun hanya suara monoton heart monitor yang membalas rintihannya: bip... bip... bip...
Tiba-tiba, seorang perawat bagian administrasi berjalan cepat menghampiri Ranti sambil membawa map merah.
"Nyonya Ranti?" sapa perawat itu tegas. "Mohon maaf, biaya uang muka untuk operasi Tuan Andi harus dibayarkan dalam waktu satu jam ke depan. Jika belum ada pembayaran, kami tidak bisa menjadwalkan ruang operasi utama."
Ranti berbalik dengan wajah pucat. "S-satu jam? Tapi suami saya belum siuman! Semua kartu kredit dan rekening kami mendadak diblokir!"
"Kami memahami situasi Anda, Nyonya. Tapi ini prosedur rumah sakit," balas perawat itu tanpa ekspresi. "Tanpa jaminan biaya atau persetujuan dari pihak penyokong dana, dokter bedah tidak bisa mengambil risiko."
"Penyokong dana?" Ranti menyambar kata-kata itu dengan penuh harapan. "Maksud Mbak apa?! Ada orang lain yang menangani akun suami saya?!"
Perawat itu melihat catatan di folder administrasi. "Di sistem kami, seluruh aset dan tanggungan atas nama Tuan Andi Gunawan telah dialihkan ke bawah pengawasan Konsorsium Yayasan Alisya. Jika Anda butuh bantuan biaya, Anda harus mengajukan permohonan langsung kepada pimpinan yayasan tersebut."
Yayasan Alisya.
Nama itu menghantam dada Ranti seperti godam berat. Alisya. Nama anak yang selalu ia ejek, anak dari wanita yang paling ia benci.
"N-nggak mungkin..." Ranti mundur beberapa langkah, dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas. "Jadi... wanita itu benar-benar..."
Sosok yang dipatuhi Pengacara Hendra, sosok yang menghancurkan usaha suaminya, sosok yang memotong jari Andi hingga cacat, dan pemilik dari Yayasan Alisya yang kini menggenggam nasib hidup-mati suaminya... adalah orang yang sama.
Alya. Wanita yang dulu ia injak-injak, kini malah menjadi pemegang hidup Andi.
Di sudut koridor, Raya memeluk lututnya di atas kursi tunggu, tertidur lelah karena lapar dan ketakutan.
Akhirnya Andi pun dioperasi, uang yang ia dapatkan adalah hasil pinjaman dari rekannya yang tersisa, meski harus memohon dan menelan sisa-sisa harga dirinya.
Setelah beberapa jam berjuang di meja bedah, Andi pun dipindahkan ke ruang steril.
Perlahan-lahan matanya terbuka. pandangannya kabur, menyesuaikan dengan kilatan cahaya lampu yang menyengat.
"Aku... Aku ada di mana?" tanya Andi kebingungan melihat ruangan serba putih dengan aroma karbol yang menyengat hidung.
Ranti yang duduk terkulai di kursi samping ranjang langsung menegakkan tubuhnya. Wajahnya sembab, matanya merah karena terus menangis sepanjang malam.
"Andi! Kamu sudah sadar?!" seru Ranti histeris, langsung menggenggam jemari tangan kanan suaminya yang masih bebas dari perban.
Andi meringis kesakitan. Begitu rasa kebas dari obat bius mulai mengikis, rasa nyeri luar biasa menjalar dari tangan kiri yang dibebat gips tebal, serta kaki kanannya yang terasa berat dan ganjil.
"T-tanganku... Kakiku kenapa rasanya aneh, Ranti?" bisik Andi dengan suara parau dan bibir kering pecah-pecah.
Ranti membeku. Air matanya kembali menetes deras tanpa bisa ditahan. "Andi... maafkan aku... Tangan kirimu patah, dan... dua jari kaki kananmu harus dipotong..."
DEG.
Ingatan malam mengerikan itu seketika menghantam kepala Andi bak pukulan godam.
Bayangan gudang tua, desingan peluru, serta sosok Alya yang berdiri anggun dengan tatapan mata bak malaikat pencabut nyawa berputar hebat di benaknya.
"A-Alya..." cicit Andi gemetar hebat.
Tubuhnya melemah di atas kasur, napasnya memburu panik hingga grafik di heart monitor dengan cepat. "Alya yang buat semua ini, Ranti! Dia iblis! Jangan dekat-dekat sama dia!"