Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Takhta Sang Naga
Tiga hari setelah penyerahan Stempel Kepala Keluarga, sebuah pertemuan rahasia tingkat tinggi diadakan di Aula Leluhur Keluarga Ye.
Aula yang biasanya hanya dibuka setahun sekali itu kini dipenuhi oleh puluhan tetua, pemegang saham utama, dan jenderal faksi militer yang berafiliasi dengan Keluarga Ye. Suasana sangat hening, dipenuhi rasa hormat dan ketakutan yang bercampur aduk.
Di ujung ruangan, di atas kursi kayu eboni raksasa berukir naga sembilan cakar, duduk Ye Chen.
Meski wajahnya masih sedikit pucat dan ia hanya mengenakan setelan jas hitam sederhana tanpa atribut kemewahan, aura tiraninya menekan seluruh ruangan hingga tak ada yang berani menatap langsung ke matanya. Di sebelah kanan kursinya, berdiri Su Yuhan dengan postur anggun seorang Permaisuri. Di sebelah kiri, Master Tang Zhenhai berdiri tegap layaknya penjaga gerbang neraka.
Kakek Ye Tianlong duduk di kursi kehormatan di bawah panggung, tersenyum puas melihat cucunya akhirnya mengambil tempat yang seharusnya.
"Mulai hari ini," suara Ye Chen menggema memantul di dinding batu aula, tenang namun memiliki bobot absolut. "Tidak ada lagi faksi Utara, faksi Selatan, atau faksi Zhao di dalam keluarga ini. Hanya ada satu komando: komandoku."
Seluruh tetua serentak berlutut dengan satu kaki. "Kami bersumpah setia pada Kepala Keluarga yang baru!"
Ye Chen mengangguk pelan. "Kondisi fisikku saat ini membutuhkan pemulihan tertutup. Oleh karena itu, selama masa pertapaanku (seklusi), seluruh operasional bisnis dan keputusan finansial Keluarga Ye akan diserahkan sepenuhnya kepada istriku, Su Yuhan."
Mendengar itu, beberapa tetua konservatif saling lirik, merasa ragu menyerahkan kekaisaran bisnis triliunan yuan kepada seorang wanita muda dari provinsi.
Seorang tetua berjanggut putih memberanikan diri untuk bersuara, "T-Tuan Kepala Keluarga... Nyonya Su memang cakap, namun mengelola konglomerasi skala nasional sangat berbeda dengan perusahaan kosmetik di—"
"Aku tidak meminta pendapatmu, Tetua Kedua," potong Ye Chen dingin. Matanya menyipit, menatap langsung ke arah tetua itu hingga sang pria tua menggigil dan langsung menundukkan kepala. "Ini adalah dekrit, bukan diskusi. Jika ada yang meragukan keputusan istriku di masa depan, Master Tang dari Istana Naga akan secara pribadi 'berdiskusi' dengan kalian. Paham?"
"Paham! Kami mengerti, Tuan Kepala Keluarga!" seru para tetua serempak, keringat dingin membasahi punggung mereka.
Yuhan menatap Ye Chen dari samping. Hatinya bergetar hangat. Ye Chen tidak hanya memberinya kekuasaan, tetapi juga membangun fondasi otoritas yang tak tertembus untuknya di Ibu Kota.
"Rapat selesai. Bubar," perintah Ye Chen.
Setelah aula kosong, Yuhan memijat pelan bahu Ye Chen. "Kau terlalu keras pada mereka. Aku bisa membuktikan kemampuanku perlahan-lahan."
"Kita tidak punya waktu untuk 'perlahan-lahan', Yuhan," Ye Chen menepuk tangan istrinya. "Grup Kosmetik Su dan aset Keluarga Ye harus segera dilebur menjadi satu benteng finansial yang tak terkalahkan. Jika Kuil Bayangan Hitam mulai bergerak, mereka tidak hanya akan menyerang secara fisik, tapi juga berusaha menghancurkan kita dari segala arah."
Ye Chen berdiri perlahan, merasakan meridian di dadanya berdenyut perih. "Kakek, apakah pintunya sudah siap?"
Kakek Ye Tianlong mengangguk. Ia berjalan menuju sebuah altar batu di belakang kursi Kepala Keluarga, lalu menempelkan Stempel Giok Naga ke sebuah cekungan tersembunyi.
Grumble...
Lantai batu di belakang altar perlahan terbuka, menampilkan sebuah tangga melingkar yang menukik tajam ke dalam kegelapan bawah tanah. Hawa spiritual yang sangat purba dan pekat langsung berhembus keluar, membuat udara di aula itu terasa segar layaknya embun pegunungan.
"Ini adalah Gua Nadi Naga," ucap Kakek Ye serius. "Tempat di mana energi bumi Ibu Kota bermuara. Hanya Kepala Keluarga yang sah yang boleh memasukinya. Tetua Agung dulu pernah bermeditasi di sini selama sepuluh tahun."
Ye Chen menatap ke bawah sana. Ia bisa merasakan panggilan dari energi bumi itu. Warisan Tabib Naga di dalam darahnya beresonansi kuat.
"Yuhan, aku akan berada di bawah sana mungkin selama sebulan, atau lebih. Sampai meridianku benar-benar pulih dan aku menembus Alam Ilahi," Ye Chen menatap istrinya lekat-lekat. "Berjanjilah padaku, jangan pernah meninggalkan kediaman utama tanpa Master Tang."
Yuhan merapikan kerah jas Ye Chen, lalu berjinjit mengecup bibirnya singkat. "Fokuslah pada penyembuhanmu. Saat kau keluar nanti, kau akan melihat sebuah kekaisaran bisnis yang belum pernah dilihat dunia."
Ye Chen tersenyum, berbalik, dan melangkah turun ke dalam kegelapan Gua Nadi Naga. Pintu batu itu tertutup perlahan di atasnya, mengisolasi Sang Naga dari dunia luar.
Sementara itu, ribuan kilometer dari Ibu Kota Jingcheng.
Di jantung Pegunungan Utara yang tertutup es abadi, badai salju mengamuk tanpa henti, merobek apa pun yang berani melintasi wilayah tersebut. Di puncak tertinggi yang tersembunyi dari satelit modern, berdiri sebuah kuil raksasa berbahan batu obsidian hitam pekat.
Kuil Bayangan Hitam.
Di dalam aula utama kuil yang remang-remang, hanya diterangi oleh obor berapi biru, udara terasa begitu dingin hingga mampu membekukan aliran darah dalam hitungan detik.
Tiba-tiba, suara retakan keras memecah keheningan.
KRAK! KRAK! KRAK!
Di atas altar pemujaan, tiga dari puluhan Batu Jiwa (Soul Jades) berwarna merah darah—yang menyimpan secercah nyawa dari para petinggi kuil—retak dan hancur menjadi debu dalam waktu yang nyaris bersamaan.
Di depan altar tersebut, duduk bersila sesosok pria berbalut jubah hitam pekat. Wajahnya tersembunyi di balik topeng perunggu berbentuk wajah iblis yang menangis. Ia adalah sang Raja Bayangan (Shadow King), penguasa mutlak Kuil Bayangan Hitam, sosok yang telah mencapai tingkat Alam Ilahi Puncak puluhan tahun silam.
Melihat debu Batu Jiwa itu, aura mematikan yang tak terlukiskan meledak dari tubuh sang Raja Bayangan.
WUSSS!
Api biru di seluruh obor aula seketika padam, namun ruangan itu tetap menyala oleh Qi gelap yang memancar dari tubuhnya.
"Iblis Tanah... Iblis Angin... Iblis Gu... musnah di Ibu Kota," suara Raja Bayangan terdengar seperti gesekan dua bilah pedang berkarat, sangat menyayat telinga. "Zhao Xinlan, wanita jalang itu mengatakan misinya sangat mudah. Ternyata dia mengirim jenderal-jenderalku ke dalam mulut naga."
Dari balik pilar-pilar raksasa, belasan bayangan melesat keluar dan berlutut di belakang Raja Bayangan. Mereka adalah para eksekutor Kuil tingkat Master Puncak hingga Alam Ilahi awal.
"Yang Mulia Raja Bayangan," ucap salah satu bayangan dengan nada penuh kebencian. "Intelijen kami di Jingcheng baru saja mengirimkan laporan. Tiga Raja Iblis dibunuh oleh pemuda bernama Ye Chen, Pewaris Utama Keluarga Ye yang baru. Dia memusnahkan mereka sendirian!"
"Sendirian?" Mata Raja Bayangan menyipit di balik topengnya. "Seorang pemuda usia dua puluhan membunuh tiga Alam Ilahi sekaligus? Mustahil, kecuali dia menggunakan teknik terlarang yang membakar jiwanya sendiri."
Raja Bayangan berdiri. Posturnya sangat tinggi dan kurus, namun bayangannya yang memantul di lantai tampak seperti monster raksasa bertanduk.
"Yang Mulia, izinkan kami pergi ke Ibu Kota malam ini juga! Kami akan meratakan Kediaman Ye dan memenggal kepala Ye Chen untuk membalaskan dendam rekan-rekan kami!" seru salah satu eksekutor dengan fanatik.
"Bodoh!" Raja Bayangan mengibaskan lengan jubahnya. Sebuah gelombang Qi gelap menghantam eksekutor itu hingga terpelanting muntah darah.
"Ibu Kota dijaga oleh monster tua, Tetua Agung Keluarga Ye. Jika bukan karena perjanjian genjatan senjata seratus tahun lalu, aku sudah meratakan tempat itu. Selama Ye Chen bersembunyi di dalam pelukan kakek-kakek buta itu, kita tidak bisa menyerang Kediaman Ye secara terbuka."
Raja Bayangan berjalan perlahan menuruni tangga altar.
"Jika pemuda itu membunuh tiga Iblis menggunakan teknik terlarang, saat ini dia pasti sedang dalam kondisi sekarat atau cacat. Dia akan mencoba mencari cara untuk menyembuhkan dirinya. Pantau seluruh pergerakan Keluarga Ye. Pantau setiap pembelian herbal medis tingkat dewa di seluruh daratan Tiongkok dan pasar gelap internasional."
Raja Bayangan menengadah, menatap atap kuil yang gelap.
"Selain itu, aku mendengar dia sangat menyayangi istrinya, Su Yuhan. Wanita itu kini mengendalikan seluruh aliran dana mereka, bukan?"
"Benar, Yang Mulia."
"Bagus," Raja Bayangan terkekeh sinis. "Kirim Tujuh Bilah Hantu ke provinsi-provinsi di sekitar Ibu Kota. Hancurkan rantai pasokan Grup Su. Teror distributor mereka. Paksa wanita itu keluar dari perlindungan Ibu Kota untuk mengurus bisnisnya. Begitu dia keluar dari jangkauan Tetua Agung..."
Raja Bayangan mengepalkan tangannya hingga udara di sekitarnya meledak hancur.
"...tangkap dia hidup-hidup. Kita akan menggunakan istri tercintanya sebagai umpan untuk memancing Sang Naga keluar dari sarangnya, tepat ke dalam ladang pembantaian kita."
Kembali ke Ibu Kota Jingcheng.
Jauh di bawah tanah, di kedalaman Gua Nadi Naga.
Ye Chen duduk bersila di tengah sebuah danau bawah tanah yang tidak berisi air, melainkan kabut emas cair yang sangat murni. Itu adalah manifestasi fisik dari Nadi Naga—akumulasi energi bumi yang telah terbentuk selama ribuan tahun.
Kemeja putih Ye Chen telah terbuka, memperlihatkan perban yang membalut luka-lukanya. Kulitnya memerah akibat suhu energi yang mendidih.
Ia menarik napas dalam-dalam.
"Seni Tabib Naga: Menelan Langit dan Membelah Bumi!"
SWOOOSH!
Kabut emas di danau itu seketika berputar ganas, membentuk pusaran tornado kecil yang berpusat langsung pada Ye Chen. Energi spiritual murni dalam jumlah masif merangsek masuk melalui jutaan pori-pori kulitnya, mengalir deras ke dalam meridiannya yang robek dan terbakar.
Rasa sakitnya ribuan kali lipat lebih menyiksa daripada saat meridian itu hancur. Tubuh Ye Chen kejang pelan, urat-urat nadi di leher dan dahinya menonjol keluar. Ia sedang melebur kembali tulang dan dagingnya menggunakan api energi bumi!
Sakit ini... tidak ada artinya, batin Ye Chen dengan tekad baja. Aku harus menjadi lebih kuat. Alam fana tidak akan mampu melindunginya.