Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantu Aku, Yud!"
Yudha sedang sibuk mengotak-atik desain undangan virtual untuk acaranya nanti. Tak semua karyawan ia undang, tamunya sangat selektif, hanya sekitar lima puluh orang. Yudha sengaja lebih banyak mengundang para eksekutif perusahaan, jajaran staf inti dari beberapa divisi, serta tim yang berada di bawah kepemimpinannya langsung.
Setelah selesai membuat draf, ia mengirimkannya kepada Kanaya. Yudha ingin istrinya itu ikut andil dan memilih desain mana yang paling disukainya.
Tok tok tok
Yudha spontan menoleh ke arah pintu begitu mendengar ketukan dari luar. Sosok Ayumi melangkah masuk sambil mendekap arsip di dadanya.
"Ada apa, Yum?" tanya Yudha, langsung mengalihkan fokus.
"Ini ada proposal dari tim marketing, expo akhir tahun nanti, Pak," ujar Ayumi seraya menyerahkan dokumen tersebut kepada Yudha.
"Oke, nanti saya cek lagi." Yudha menerima dokumen itu, membolak-baliknya sekilas, lalu meletakkannya di meja kerja. "Kamu boleh kembali ke mejamu," lanjutnya kemudian dengan nada formal.
"Umm... maaf, Pak. Apa saya ada salah?" Ayumi memberanikan diri untuk bertanya. Sejak Yudha kembali dari cuti, sikap pria itu berubah total. Ayumi didera rasa khawatir jika ada kelalaian yang ia perbuat hingga membuat Yudha terkesan menjaga jarak dengannya.
Yudha mengerutkan kening, menatap Ayumi lurus-lurus.
"Memang kamu buat salah apa?" tanya Yudha, berpura-pura tidak paham. Padahal, ia tahu betul ke mana arah pertanyaan Ayumi.
"Pak Yudha biasanya banyak bercanda. Sekarang... terasa beda," sahut Ayumi, suaranya mencicit pelan.
"Oh, soal itu..." Yudha mengulum senyum tipis, menyembunyikan pergulatan batinnya. "Nanti kamu juga akan tahu sendiri. Yang pasti, sekarang saya tidak bisa seperti dulu lagi."
Jawaban itu bukannya menenangkan, malah membuat Ayumi semakin penasaran. Alih-alih mendapatkan kejelasan, ia justru disuguhi teka-teki baru.
"Ya sudah, kamu kembali dulu ke mejamu." Karena Ayumi masih bergeming di tempatnya, Yudha kembali memberi isyarat halus agar wanita itu segera meninggalkan ruangannya.
"Oh, i-iya, Pak. Permisi..." Ayumi berbalik, melangkah keluar dari ruang kerja Yudha dengan bahu yang merosot kecewa.
Yudha menatap punggung Ayumi hingga bayangan wanita itu menghilang di balik pintu.
"Maaf, Yum. Semoga kamu mendapatkan pria yang benar-benar mencintaimu," bisik Yudha sambil mengembuskan napas panjang.
Sejujurnya, ada rasa bersalah yang mengganjal di dadanya. Dulu, ia seolah memberikan harapan palsu pada Ayumi. Jika saja Yogi tidak kabur dan meninggalkan Kanaya, Yudha mungkin masih akan terus mengejar Ayumi. Namun, takdir menjungkirbalikkan segalanya. Walau pernikahan ini berawal dari keterpaksaan, Kanaya kini adalah istri sahnya.
Ddrrtt... Ddrrtt...
Ponsel di atas meja bergetar nyaring. Dengan gerakan cepat, Yudha meraih benda pipih itu. Sudut bibirnya sempat terangkat, mengira Kanaya yang menghubunginya. Namun, kening Yudha seketika berkerut dalam saat melihat nama yang tertera di layar: Yogi.
Sejak terakhir kali ia menghubungi kakaknya sehari sebelum pernikahan, pria itu bak ditelan bumi. Ponselnya baru aktif sekarang.
"Halo?" sapa Yudha, langsung mendengus kasar.
"Yud, apa kabar?" Suara Yogi mengalun santai di seberang telepon.
"Baik. Mas sendiri gimana? Tiba-tiba hilang tanpa kabar, bikin Papa sama Mama jantungan, dan sukses bikin malu keluarga," semprot Yudha, langsung menumpahkan seluruh unek-unek yang dipendamnya. Kakaknya inilah sumber dari segala kekacauan ini.
"Aku 'kan sudah bilang kalau Wulan kecelakaan," Yogi berkilah, mencoba membela diri.
"Oke, sekarang Mas mau apa?" Walau Yudha tidak menyesal telah menyelamatkan harga diri keluarga dengan menikahi Kanaya, tindakan pengecut kakaknya tetap tidak bisa ia toleransi.
"Aku butuh bantuanmu, Yud," ucap Yogi agak ragu.
"Hmph... bantuan apa lagi? Aku sudah menikahi calon pengantinmu, Mas. Apa itu masih kurang?" Kalimat Yudha telak menyindir.
"Maaf kalau aku jadi menyusahkanmu. Tapi, kalau kamu memang nggak kuat dengan pernikahan itu, sebaiknya kamu cerai saja. Kanaya itu orangnya nggak macam-macam, dia pasti mengerti posisimu," ujar Yogi, memberikan saran yang begitu enteng. Menyuruh adiknya bercerai seolah pernikahan adalah permainan yang bisa ditinggalkan begitu saja, persis seperti yang ia lakukan pada Kanaya.
Yudha terkekeh sinis. "Mas benar, Kanaya memang bukan wanita yang banyak tingkah. Tapi aku heran, kenapa pria sepertimu malah tega meninggalkannya? Aku harap Mas nggak menyesal suatu saat nanti. Dan soal cerai, itu urusanku. Yang pasti, aku nggak akan melakukan hal picik dan pengecut seperti yang Mas lakukan!" tegas Yudha, menolak mentah-mentah saran sang kakak.
"Sekarang, apa lagi yang Mas mau?" tanya Yudha tanpa basa-basi.
""Besok masa cutiku sudah habis. Aku harus masuk kantor, tapi semua pakaian kerjaku masih di rumah. Situasinya belum kondusif kalau aku harus pulang sekarang. Kamu bisa bantu aku? Tolong bawakan pakaian kerja, sepatu, sama laptopku." Yogi memaparkan daftar kebutuhannya tanpa rasa bersalah.
"Kenapa Mas nggak datang sendiri ke rumah dan ambil barang-barangmu?" Yudha menolak keras untuk menjadi kaki tangan Yogi kali ini. Sikap Yogi justru semakin menegaskan betapa pengecutnya pria itu.
"Aku 'kan sudah bilang, Yud, saat ini bukan waktu yang tepat untuk aku kembali ke rumah!" Yogi meninggikan nada suaranya, mengulang kalimat yang tadi dirasanya diabaikan oleh sang adik.
"Maaf, Mas. Kali ini aku nggak bisa bantu. Kalau aku nekat mengeluarkan barang-barangmu dari rumah, Papa pasti akan mengamuk dan menganggapku melindungi tindakanmu." Yudha sudah bulat dengan keputusannya. Ia tidak sudi lagi menjadi pion dalam permainan egois Yogi.
"Lalu Mas harus minta bantuan siapa lagi, Yud?" Suara Yogi kini terdengar mulai putus asa mendapati penolakan keras dari adiknya.
"Mereka sudah bekerja dengan sangat baik, jangan seret mereka ke dalam masalahmu hanya karena Mas ingin lari dari tanggung jawab," potong Yudha tajam,
❤️❤️❤️
Bersambung...
apa harus melihat perbedaan usia di saat menikah ya
mau Naya lebih tua dari Yudha apa hak kamu,,toh mereka serasi ko,,
julid amat loh
seolah olah Kanaya yang salah padahal pihak keluarga Yogi dan Yudha yang bikin masalah.
besoknya anggap angin lalu. siapa tau jodoh sebenarnya udah deket
terima nasib aja ayy,positif thinking aja kalau Yudha bukan jodohmu. jangan coba2 buat nikung ya,..