Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. DIPERMAINKAN
Malam kembali merayap di atas langit ibu kota Valdoria, menyelimuti menara-menara istana dan gang-gang sempit distrik perdagangan dengan kegelapan yang pekat. Di dalam kamarnya di Kediaman Duke Dravenhart, Virelia berdiri di depan cermin besar, mengenakan jubah hitam panjang bertudung.
Setelah memastikan para pelayan telah tertidur lelap dan pengawas di koridor luar tidak mencurigainya, Virelia membuka kait jendela. Dengan gerakan gesit bagaikan bayangan, ia melompat keluar, mendarat mulus di dahan pohon ek, dan melesat menembus tembok pembatas puri menuju jantung kota.
Namun, malam ini ada yang berbeda.
Belum sempat Virelia melompat melewati atap rumah warga ketiga, telinganya yang tajam menangkap suara gesekan kain dan desisan napas yang teramat pelan di belakangnya.
SREKK!
KLAK!
Virelia menyipitkan matanya di balik tudung jubah. Sebagai ketua pembunuh bayaran, instingnya langsung berteriak. Ia tidak sendirian. Ada seseorang yang mengikutinya, seseorang dengan kemampuan penyusupan tingkat tinggi yang menjaga jarak aman sepuluh meter di belakangnya.
Mata-mata Raja Lucien? batin Virelia menegang.
Pikiran itu langsung melintas di kepalanya. Raja tiran itu terkenal memiliki jaringan bayangan istana yang kerap mengawasi para bangsawan mencurigakan. Jika para penguntit ini adalah suruhan sang Raja, berarti kedoknya sebagai Raven atau gerak-geriknya menuju markas Black Dawn hampir terbongkar.
Virelia harus segera melenyapkan atau mengecoh mereka sebelum mereka menemukan lokasi bar The Rusty Anchor.
Di atas bubungan genting tua, dua orang anggota unit bayangan elit Kael yang ditugaskan tanpa sepengetahuan Virelia, kini berjongkok tersembunyi di balik cerobong asap. Keduanya mengenakan pakaian serba hitam dan saling berbisik dengan tegang.
"Pertahankan jarak. Yang Duchess bergerak sangat cepat. Jangan sampai beliau menyadari keberadaan kita. Perintah Duke mutlak: lindungi beliau dari ancaman luar, tapi jangan tunjukkan diri," bisik salah satu pasukan elit itu dengan sangat pelan.
"Dimengerti, Kapten. Sungguh luar biasa ... bagaimana bisa seorang wanita yang siang hari berteriak pada bunga, dan malam hari bergerak seperti pembunuh bayaran profesional?" balas Bayangan Dua.
"Fokus! Jangan mengomentari keunikan istri atasan!" kata sang Kapten.
Tepat saat si Kapten selesai berbicara, mereka menoleh ke depan.
Eh? Kosong?
Di atas bubungan genting seberang, sosok berjubung hitam yang sedari tadi mereka ikuti mendadak lenyap tanpa bekas. Tidak ada suara angin, tidak ada getaran genting.
"Sial! Ke mana dia?!" ucap salah satunya panik, melompat maju ke genting sebelah bersama rekannya.
Tiba-tiba, suara tepukan tangan pelan terdengar tepat di belakang telinga mereka.
"Pencarian yang bagus, Anjing-anjing Istana. Tapi sayang, ekor kalian terlalu panjang untuk ukuran mata-mata istana." Sebuah suara wanita yang dingin, tajam, dan penuh ancaman terdengar sangat dekat.
Dua orang pasukan elit itu terperanjat kaget setengah mati. Jantung mereka serasa copot. Dengan gerakan refleks, keduanya berbalik cepat dan menghunus belati mereka ke udara.
Di hadapan mereka, berdiri Virelia dengan tangan bersidekap dada, menyeringai dingin di balik tudung jubah.
"K-Kau! Sejak kapan kau menyadari keberadaan kami?!" cicit salah satu pasukan elit, matanya membelalak lebar.
Virelia mendengus meremehkan. "Sejak menit pertama aku keluar dari puri, Bodoh. Kalian pikir bayaran suruhan Raja Lucien bisa mengecoh Raven?"
Kedua ksatria elit itu saling berpandangan dengan wajah bingung.
Suruhan Raja? batin mereka kebingungan karena mereka sebenarnya adalah pasukan bayaran pribadi Duke Kael.
Namun, demi menjaga kerahasiaan misi dan identitas atasan mereka, mereka memilih diam dan tidak membantah.
"Cih, diam ya? Berarti tebakanku benar. Raja kalian semakin menyebalkan saja. Tidak berhenti mengirim anjingnya untuk memburu semua bangsawan yang tidak mau tunduk padanya," geram Virelia, menyipitkan mata penuh permusuhan.
Sebelum kedua ksatria itu sempat merespons atau menjelaskan kesalahpahaman tersebut, Virelia menyeringai usil. Ia ingin memberi pelajaran kepada para penguntit suruhan istana. Tiba-tiba, ia melemparkan dua buah bom asap ke lantai genting.
BUM!
Kepulan asap tebal berwarna putih langsung meledak, menutupi pandangan kedua ksatria tersebut.
"Argh! Asap apa ini?!" batuk salah satu pasukan elit seraya mengibas-ngibaskan tangannya di udara.
Ketika asap itu perlahan buyar beberapa detik kemudian, sosok Virelia sudah benar-benar lenyap dari hadapan mereka.
"Kejar! Jangan sampai target kita lolos!" perintah sang Kapten panik, langsung berlari melompati genting demi genting, disusul oleh yang lain di belakangnya.
Aksi kejar-kejaran kucing-kucingan itu berlanjut hingga ke labirin jalan sempit di distrik hiburan ibu kota.
Area ini terkenal remang-remang, penuh dengan kedai minum murahan, lampu lampion merah, dan lorong-lorong sempit yang saling bersilangan.
Virelia sengaja berlari meliuk-liuk di antara kerumunan warga, merasa jengkel karena mengira Raja Lucien mulai memata-matai Duke Kael.
Namun, di sebuah sudut tikungan yang cukup gelap dan sepi, keseruan itu mendadak berubah menjadi bencana komedi yang luar biasa.
Dua pasukan elit yang berlari kencang tanpa melihat arah belokan tiba-tiba menubrak seseorang dengan sangat keras.
BRUK!
"Aduh! Tulang pinggangku copot!" sebuah suara melengking tinggi, nyaring, dan penuh drama terdengar menggema di lorong sempit itu.
Kedua ksatria bayangan itu jatuh tersungkur ke tanah. Mereka mendongak untuk melihat siapa yang mereka tabrak.
Di hadapan mereka, berdiri seorang banci alias pria berpenampilan wanita bertubuh gempal, mengenakan gaun malam berenda merah mencolok, wig keriting berwarna hijau terang, dan riasan wajah tebal yang luntur terkena keringat. Namanya adalah Mami Lulu, penguasa tidak resmi lorong distrik hiburan tersebut.
Di samping Mami Lulu, berdiri tiga orang teman segenrenya; pria-pria berbadan kekar berbalut gaun malam ketat yang sedang memegang kipas bulu besar.
Salah satu pasukan menelan ludah gugup. "Aduh, maafkan kami, Nyonya. Kami sedang terburu-buru mengejar orang-"
Mami Lulu melotot tajam, pinggangnya berkacak pinggang dengan gaya dramatis. Wig hijaunya bergetar hebat karena marah.
"Target kepalamu peyang! Berani-beraninya kalian menabrak ratu malam distrik ini tanpa mengucapkan salam, lalu kalian bilang sedang mengejar orang?!" bentak Mami Lulu dengan suara menggelegar, mencengkeram kerah baju Bayangan Satu.
Mereka mulai memucat ketika harus menghadapi makhluk-makhluk anomali ini.
"Hei, ganteng! Kalian pikir karena kalian berbadan kekar dan pakai baju serba hitam seperti setan malang, kalian bisa sembarangan menubrak tubuh seksi kami?!" seru Mami Lulu.
"B-Bukan begitu maksud kami!" elak sang Kapten panik, mencoba berdiri.
Namun terlambat. Mami Lulu sudah terlanjur naik pitam karena merasa kecantikannya dihina di depan umum.
"Anak-anak! Tangkap dua pria kurang ajar ini! Mereka harus membayar denda ganti rugi jasmani dan batin karena sudah merusak riasan wajahku!" titah Mami Lulu histeris sambil melambaikan kipas bulunya.
"Siap!" teriakan melengking dari gerombolan Mami Lulu membahana di seluruh lorong sempit.
Para pasukan yang notabene adalah ksatria elit perbatasan kerajaan yang biasa membantai monster, untuk pertama kalinya dalam hidup mereka mengalami ketakutan yang sesungguhnya.
"Lariiiiii!" teriak salah satu histeris, melupakan harga diri militer mereka.
Kedua ksatria bayangan itu langsung berbalik badan dan lari terbirit-birit sekencang mungkin, dikejar oleh Mami Lulu dan geng bancinya yang berlari sambil mengangkat gaun malam mereka tinggi-tinggi sambil membawa tas tangan dan sandal jepit sebagai senjata lempar.
“Jangan lari, kalian para berondong nakal! Sini kalian!” teriak Mami Lulu mengejar dengan kecepatan penuh yang mengagumkan.
Tidak jauh dari tempat kejadian, di atas dahan pohon yang rimbun di dekat lorong tersebut, Virelia berdiri bersandar sambil menutup mulutnya rapat-rapat, menahan diri agar tidak tertawa terbahak-bahak hingga jatuh dari dahan.
Gadis menyaksikan bagaimana dua mata-mata suruhan Raja Lucien itu lari kocar-kacir dikejar sekelompok banci jalanan dengan ekspresi wajah pucat pasi ketakutan.
"Hahaha! Ya ampun, kualitas mata-mata Raja Lucien ternyata sangat menyedihkan. Pasukan bayangan macam apa yang berakhir dikejar-kejar banci malam?!" ucap Virelia di balik tudung, air matanya hampir keluar karena menahan tawa yang begitu hebat.
Merasa puas karena telah memermalukan para pengikut raja tersebut, Virelia akhirnya memutar arah, melesat pergi menuju bar The Rusty Anchor untuk memimpin pertemuan rahasia kelompok Black Dawn.
Sementara di kejauhan, suara teriakan amukan Mami Lulu masih terdengar menggema di malam sunyi ibu kota:
“Tangkap mereka! Jangan biarkan mereka lolos!”
"Tolong kami!"
Berakhir dengan komedi dramatis yang tidak pernah dibayangkan oleh Kesatria manapun.
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣