Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pewaris

Takdir Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.

Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.

Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2.

“Maaf, Saudara Elang. Posisi itu sudah diberikan kepada kandidat lain.”

Genggaman tangan Elang pada ponsel mengerat saat kalimat itu masuk ke pendengarannya. Tubuhnya yang sebelumnya duduk di kursi panjang halte seketika berdiri.

“Tapi saya bisa menjelaskan alasan saya tidak datang saat penandatanganan kontrak, Pak.”

“Saya mengerti. Namun, kami sudah mencoba menghubungi Anda beberapa kali dan tidak menerima konfirmasi sampai batas waktu yang ditentukan.”

Elang memejamkan mata sesaat. Ia tahu pegawai bagian personalia itu tidak melakukan kesalahan. Perusahaan memiliki aturan, mereka tidak mungkin menahan satu posisi hanya karena seorang kandidat tidak datang.

“Apakah tidak ada kemungkinan untuk proses ulang?” tanya Elang penuh harap.

“Untuk posisi yang sama, tidak. Tapi Anda boleh melamar kembali jika ada lowongan berikutnya,” jawabnya sopan.

Elang menelan kecewa yang memenuhi dadanya sebelum menjawab, “Baik. Terima kasih sudah memberikan penjelasan.”

“Terima kasih kembali. Semoga sukses.”

Elang berdiri diam di bawah terik mentari dengan tangan turun perlahan setelah sambungan telepon terputus. Harapan mendapatkan kesempatan seketika musnah begitu saja.

Dua bulan, empat tahap seleksi, dan semua berakhir hanya karena sebuah amplop disembunyikan selama beberapa hari.

Ia tertawa hambar. “Bagus.”

Tin!

"Elang!"

Suara klakson pendek motor disusul sebuah seruan terdengar dari beberapa meter di belakang membuat Elang refleks menoleh dan mendapati seorang pemuda berkaus hitam duduk di atas sepeda motor dengan satu tangan terangkat.

Elang tersenyum samar, memasukkan ponsel ke saku celana, lalu menghampiri pemuda itu setelah menyampirkan kembali ransel yang sebelumnya ia letakkan di kursi ke bahunya.

Raka, sosok yang menjadi sahabatnya sejak masih di sekolah dasar sekaligus satu-satunya orang yang tahu bagaimana perlakuan sang ayah terhadapnya.

“Naik." ujar Raka seraya menyodorkan helm cadangan pada sahabatnya.

Elang menatap sahabatnya selama beberapa saat, turun ke helm yang disodorkan padanya sebelum menerimanya.

"Terima kasih."

.

.

Mereka tiba di sebuah rumah sederhana yang menjadi tempat tinggal Raka. Rumah itu tidak lebih besar dari rumah Elang. Hanya ada dua kamar, dapur, dan ruang tamu yang tak seberapa luas diisi dengan satu sofa panjang, satu sofa single dan meja rendah berbahan kayu.

Begitu Elang masuk, ia segera menjatuhkan tubuhnya di sofa, lalu mengedarkan pandangan. "Sepi sekali. Di mana orang tuamu?"

"Keluar kota." jawab Raka sembari meletakkan kunci sepeda motornya di meja, kemudian berjalan menuju dapur. "Mungkin akan kembali dalam tiga minggu atau lebih."

Elang mengangguk pelan sebagai tanggapan, sesaat kemudian Raka kembali dengan segelas air di tangan.

"Sekarang katakan." ujar Raka meletakkan gelas di tangannya ke meja. "Kali ini alasan apa yang membuatmu sampai ingin menginap di rumahku?"

Raka memperhatikan sahabatnya selama beberapa saat. Dahinya berkerut tipis melihat memar samar di pipi sahabatnya.

“Bertengkar dengan ayahmu lagi?" tebak Raka.

Elang mengangguk pelan, meneguk air yang Raka suguhkan, lalu mengembuskan napas pelan.

"Alasan?" Raka bertanya.

Elang menarik napas panjang sebelum menceritakan apa yang terjadi beberapa saat sebelum mereka bertemu. Tentang surat yang ayahnya sembunyikan, ia yang memilih pergi sementara untuk menenangkan diri setelah diusir, dan jawaban yang ia terima dari perusahaan setelah ia bertanya ulang.

"Serius ayahmu melakukan itu?" tanya Raka tak habis pikir begitu Elang selesai bercerita.

Elang tidak memberikan jawaban. Jemarinya menyentuh bibir gelas, menggoyangnya pelan hingga membuat air di dalamnya bergolak pelan. Tidak tahu harus memberikan jawaban apa, ia sendiri bahkan tidak tahu mengapa ayahnya bersikap demikian.

"Kau ingin tahu apa yang ada di kepalaku saat ini, Elang?" ucap Raka memutus keheningan yang sempat menyelimuti.

Pandangan Elang beralih pada sahabatnya, menunggu apa yang akan sahabatnya ucapkan.

“Ayahmu sangat keterlaluan, jika aku tidak ingat dia adalah ayahmu, aku sudah menghajarnya.” Raka menyandarkan punggungnya ke sofa. “Sejak dulu aku heran," lanjutnya "Orang tua biasanya marah kalau anaknya malas. Ayahmu justru marah setiap kali kau mendapat sesuatu.”

Kilasan saat mereka berusia tujuh tahun tiba-tiba melintas di pelupuk mata Raka. Saat itu, Elang mendapatkan nilai nyaris sempurna di setiap mata pelajaran. Tetapi jawaban Bram saat itu sangat di luar dugaan. Kenapa tidak sempurna?

Elang tidak menanggapi, ia kembali menatap gelas di tangannya. Ia juga memikirkan hal yang sama. Awalnya ia menganggap begitulah cara sang ayah mendidiknya. Kemudian ia berpikir ayahnya akan kecewa jika ia tidak tumbuh sesuai keinginan.

Namun, seiring bertambahnya usia, alasan itu terasa semakin tidak masuk akal. Ayahnya bukan sekadar tidak mendukungnya. Pria itu seperti sengaja memastikan ia tidak pernah meraih kesuksesan yang didambakan semua orang.

"Tapi kenapa?"

“Aku juga tidak tahu,” ucap Elang akhirnya.

Raka mengembuskan napas panjang. "Lalu, ibumu bagaimana?"

"Ibu tahu aku di sini. Aku akan pulang sesekali untuk menemui ibuku," jawab Elang.

Raka berdiri dengan gerakan tiba-tiba setelah mendengar jawaban sahabatnya, mengambil laptop dari lemari tak jauh dari posisi mereka, dan meletakannya di meja.

“Kalau begitu, untuk sementara lupakan ayahmu.” Raka membuka laptop. “Cari kerja.”

Alis Elang terangkat. “Sekarang?”

“Kontrak kerja tidak akan jatuh dari langit jika kau hanya melamun seperti sekarang,” jawab Raka.

Elang terkekeh. “Motivator sekali.”

Elang mendekat, beberapa situs pencarian kerja dibuka. Satu per satu lowongan diperiksa. Mulai dari analis operasional, asisten proyek,supervisor lapangan, dan staf pengadaan. Ia kembali mengirimkan lamaran ke beberapa perusahaan tanpa terlalu memikirkan besar kecilnya nama perusahaan mereka.

Dua jam berlalu berlalu dalam keheningan. Fokus keduanya pada layar laptop teralihkan saat getar ponsel Elang menyela. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana, dan mendapati nama 'Ibu' tertera pada layar.

“Iya, Bu.” sambut Elang begitu ponsel sudah menempel di telinga.

"Sudah makan?"

Pertanyaan pertama itu membuat sudut bibir Elang terangkat. “Sudah.”

Gerakan tangan Raka saat akan menggigit roti terhenti, lalu menoleh ke arah sahabatnya. “Bohong,” ucapnya lirih.

Elang mengabaikannya.

"Sudah di rumah Raka?" tanya Radinka.

“Iya.”

Hening menyelimuti setelah Elang memberikan jawaban. Suara isak samar masuk ke pendengarannya pada detik berikutnya.

"Maafkan ibu."

Elang menggeleng meski ia tahu ibunya tidak mungkin melihat. "Jangan minta maaf, Ibu. Ibu tidak salah."

"Tapi, seharusnya Ibu-"

"Ibu," Elang berbicara sebelum ibunya menyelesaikan kalimatnya. "Jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak ingin Ayah dan Ibu bertengkar lagi karenaku."

“Elang—”

“Aku baik-baik saja, Ibu,” sahut Elang cepat.

Ada jeda singkat yang terasa begitu panjang setelah Elang sekali lagi memotong ucapan ibunya, sampai suara helaan napas panjang terdengar dari ponsel di telinganya.

"Jika kamu butuh uang, bilang pada Ibu," ucap Radinka akhirnya.

“Aku masih punya,” jawab Elang.

"Jangan gengsi pada ibumu sendiri," ucap Radinka lagi

Elang tersenyum tipis, ia tidak bisa menyanggah jika kasih sayang ibunya selama ini selalu menghangatkan hatinya.

“Iya.”

"Besok, pulanglah sebentar. Ibu buatkan makanan kesukaanmu," ujar Radinka.

“Baiklah."

Setelah beberapa pesan untuk menjaga diri, sambungan berakhir. Elang masih menggenggam ponsel, pandangannya menerawang dengan satu rencana dalam benaknya: mencari pekerjaan dengan mendatangi perusahaan langsung.

. . .

. . . .

To be continued...

1
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
eh, like pertama?
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: /Facepalm/
total 6 replies
Patrick Khan
aku ingin kasih tau q ini anakmu pak damar😁😁😁
Zhu Yun💫
langsung saja minta tes DNA biar terbongkar, Lang /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Yang bener kalau dinikahkan baru dia akan punya rasa tanggung jawab pak Raksa... kalau cuma dijodohkan doang nanti dia bisa jawab gini sama calonnya kalau lagi berantem 'Kita itu baru tunangan, jadi kamu gak usah ngatur-ngatur aku.' Nah beda kalau udah nikah dan rasa tanggung jawab itu pasti bakal ada 'Kamu adalah Istriku, tanggung jawabku' 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
〈⎳ FT. Zira: asiap kaka/Joyful/
total 1 replies
Muft Smoker
persis seperti anak mu si ravian😏😏
〈⎳ FT. Zira: bener🤣
total 3 replies
Zhu Yun💫
Aku hafalinnya Tresna.. Tresna... Tresna aja ... biar gampang lah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Patrick Khan
perjodohan..emang sopo yg mw ambek ravian 🤣🤣🤣lakik modelan gitu
Patrick Khan: 😁😁😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Zhu Yun💫
Karena yang manis kan kamu, Lang /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira: devinisi cwe gombalin cwo yak/Facepalm/
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mulai maju nih si keira
〈⎳ FT. Zira: sebelum direbut orang kak🤣🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
rame yah di novel ini
〈⎳ FT. Zira: banyak tokohnya🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aturannya selidiki dulu elang diam2. pura2 aja dl ga tau apa2
〈⎳ FT. Zira: udah gedek duluan dia kak,gak mau drama🤭
total 1 replies
Muft Smoker
org luar menurut mu ,,
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
〈⎳ FT. Zira: 🤣/Facepalm/
total 3 replies
Muft Smoker
waah si bram udh jdi kambing guling niih ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁🫰🫰
total 8 replies
Muft Smoker
krn ravian emnk bukan anak ny pak damar ,, pak gatra ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Muft Smoker
waaaah actor Dunia lgi berbicara ,, 😒😒😒
〈⎳ FT. Zira: aduh/Facepalm/
total 3 replies
Zhu Yun💫
Beneran ulah Bram atau ada orang lain lagi dibelakangnya /CoolGuy/
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
sudah kudugong👏
Patrick Khan
lanjut
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
vote mumpung inget
〈⎳ FT. Zira: tengkyuuu miii/Kiss//Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!