"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.
Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."
Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.
Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Di Ujung Lelah
Aura menyeret langkah kakinya yang terasa begitu berat menyusuri gang sempit menuju rumah kontrakannya. Sesampainya di depan pintu, ia memutar kunci dengan sisa tenaga yang ada, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan mungil yang sunyi itu.
Sensasi dingin dari lantai semen langsung menyapa telapak kakinya. Aura melepas sepatu kerjanya, lalu meletakkan ransel hitam besarnya di sudut ruangan begitu saja. Rasa lelah yang menumpuk dari pekerjaan kantor, tekanan dari rasa cemburu Lyona, hingga beban pikiran soal tugas absurd dari sang CEO benar-benar menguras seluruh energinya hari ini.
"Satu jam saja... rebahan sebentar saja..." gumam Aura lirih.
Gadis itu bahkan belum sempat mengganti kemeja kerjanya. Ia meratapi tubuhnya yang lesu di atas kasur busa tipis, menarik selimut hingga ke dada, dan memejamkan mata untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
Namun, rasa lelah yang luar biasa ternyata menang. Hawa dingin malam dan keheningan kamar membuat Aura ketiduran dengan sangat lelap. Ia terlelap begitu dalam, melewati jam makan malam, melewati riuh suara kendaraan di luar, dan yang paling krusial—sepenuhnya melupakan janji serta tugas khusus mencuci jas mahal milik Arsenio Pratama.
Sementara itu, di sudut ruangan, jas hitam mewah bernilai puluhan juta itu masih terlipat rapi di dalam ransel kainnya yang tergeletak di lantai, sama sekali tak tersentuh air maupun sabun hingga larut malam.
Aura mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa amat berat. Suasana kamar kontrakannya gelap gulita, hanya diterangi pendar samar lampu jalan dari celah ventilasi. Tenggorokannya terasa sangat kering dan gatal, memaksanya untuk mendudukkan diri di tepi kasur sambil memegangi lehernya yang haus.
Dengan tubuh yang masih lemas, ia meraih ponselnya di atas meja kecil untuk melihat jam.
00:00
Aura meneguk ludahnya yang terasa pahit. Angka digital di layar ponselnya seolah menjadi hantaman keras yang langsung membuyarkan sisa rasa kantuknya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam!
Mata Aura seketika membelalak lebar. Pandangannya langsung tertuju pada ransel hitam besar yang tergeletak pasrah di sudut ruangan dekat lemari.
"Astaga! Jas Pak Arsen!" pekik Aura tertahan, memegang kepalanya dengan kedua tangan yang mulai gemetar.
Ia tertidur lelap sejak jam enam sore dan belum menyentuh jas itu sama sekali. Janjinya untuk mencuci dan mengeringkan jas mahal milik sang CEO agar bisa dipakai besok pagi pukul delapan benar-benar buyar. Jangankan kering, jas berwol tebal itu bahkan belum terkena tetesan air sedikit pun!
Dengan panik, Aura melompat dari kasur dan meraba sakelar lampu. Cahaya putih terang langsung memenuhi ruangan. Ia menyambar ranselnya, menarik reletingnya dengan cepat, lalu mengeluarkan jas hitam tebal yang masih terlipat rapi di dalamnya.
"Aduh, gimana ini? Mencuci jas tebal jam dua belas malam?" bisik Aura panik setengah mati, membayangkan wajah dingin Arsen yang bisa saja langsung memecatnya besok pagi jika ia gagal menjalankan tugas sederhana tersebut.
Aura melempar jas mahal itu kembali ke atas kasur dengan napas terengah-engah. Rasa panik yang sempat membakar pikirannya perlahan surut, digantikan oleh gelombang kelelahan yang jauh lebih besar. Matanya masih terasa berat, dan badannya pegal-pegal seperti baru saja dihantam beban berat.
"Ah... biarin aja deh, aku capek banget!" seru Aura frustrasi seraya menepuk jidatnya sendiri.
Gadis itu mendengus kesal. Logika sehatnya mulai mengambil alih. Untuk apa ia menyiksa diri mencuci jas tebal di tengah malam buta tanpa pengering khusus? Mau dicuci jam berapa pun, jas wol tebal itu tidak mungkin kering bersih dalam waktu enam jam ke depan. Kalaupun ia paksakan cuci sekarang, besok pagi jas itu cuma akan jadi kain basah yang bau apek.
"Lagian, mana ada aturan kerja yang mewajibkan staf analisis data mencuci pakaian pribadi CEO?" gumam Aura membela diri. "Kalau besok Pak Arsen mau marah atau potong gaji, ya terserah! Yang penting aku tidak mati berdiri karena kurang tidur."
Dengan langkah bersungut-sungut, Aura berjalan ke dapur kecilnya, meneguk segelas air dingin untuk membasahi tenggorokannya yang kering, lalu mematikan kembali lampu kamar.
Ia merayap naik ke atas kasur, menarik selimut tinggi-tinggi hingga menutupi bahunya, dan membiarkan jas mewah seharga puluhan juta milik Arsenio Pratama tergeletak pasrah di ujung tempat tidurnya. Tanpa butuh waktu lama, Aura kembali terlelap dalam tidur nyenyaknya, sepenuhnya bersiap menghadapi badai kemarahan sang bos besar di kantor besok pagi.