Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:495
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Pekerjaan Pertama di Kota

Pukul enam pagi. Cahaya matahari terbit menembus celah-celah kaca depan kantor ruko Katering Barokah, membiaskan pendar keemasan di atas meja kerja yang kini dipenuhi tumpukan berkas penawaran resmi.

Intan Saputri duduk tegak di balik meja, mengenakan kemeja putih berkerah rapi yang dibalut blazer hitam minimalis.

Di hadapannya, Pak Budi dan Mbak Maya sedang memeriksa draft dokumen kerja sama katering harian yang baru saja diselesaikan Intan.

"Kamu yakin bisa menangani negosiasi ini sendirian, Intan?"

Tanya Pak Budi, mengusap dagunya dengan raut khawatir sekaligus kagum.

"Ini proyek katering terbesar yang pernah kita jajaki."

"Proyek Mall & Apartemen Pandawa di Zona Empat butuh pasokan tiga ratus porsi per hari selama tiga bulan ke depan."

"Kalau kesepakatan ini berhasil, usaha katering kita naik kelas."

"Saya sangat yakin, Pak."

Jawab Intan mantap. Suaranya terdengar jernih, tenang, dan tanpa sedikit pun ketakutan.

"Saya sudah mempelajari seluruh kalkulasi harga bahan baku, margin keuntungan, hingga skema termin pembayaran."

"Saya jamin pihak konsultan pengadaan mereka tidak akan punya alasan untuk menolak penawaran kita."

Maya yang menyandarkan tubuhnya di tepi jendela hanya tersenyum tipis. Ia tahu betul, kepercayaan diri Intan bukan sekadar ambisi bisnis biasa.

Pekerjaan pertama di kota ini adalah batu loncatan yang telah dirancang secara presisi—sebuah penyamaran sempurna untuk mendekati target utama mereka: Ardiansyah Putra.

"Pegang ini."

Ujar Maya sambil menyodorkan sebuah stempel perusahaan dan Map merah tebal bertuliskan Proposal Penawaran Katering Proyek Pandawa.

"Inilah pekerjaan resmimu yang pertama di kota besar ini, Intan."

"Bukan lagi sekadar membantu dapur atau merekap nota kusam, tapi sebagai Perwakilan Pemasaran Katering Barokah."

Intan menerima map merah itu. Jemarinya meremas tepi map dengan erat. Pekerjaan pertama di kota. Kata-kata itu berdegup indah di dalam dadanya.

Dua minggu lalu, orang-orang di desanya mengejeknya sebagai gadis tak berguna yang hanya bisa mengurung diri di rumah.

Namun hari ini, di jantung kota yang liar, ia memegang kendali atas penawaran bisnis bernilai puluhan juta rupiah—sekaligus memegang perangkap untuk menyeret penipunya menuju kehancuran.

"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak Budi, Mbak Maya."

"Saya berangkat sekarang."

Pamit Intan seraya berdiri.

Ia mencangklong tas selempang kulit hitamnya, melangkah keluar ruko menuju mobil operasional katering yang diparkir di depan.

Pagi itu, Intan tidak lagi menumpang angkutan umum atau mobil bak terbuka yang berdebu.

Pak Budi menugaskannya menggunakan mobil van katering yang bersih, memberikan bobot kredibilitas yang makin memperkuat penampilannya.

Perjalanan menuju Zona Empat memakan waktu tiga puluh menit. Di sepanjang jalan, Intan menatap bayangan dirinya di kaca spion mobil.

Wajahnya dipoles riasan tipis yang mempertegas ketegasan matanya.

Ketika van katering berhenti di depan gerbang utama proyek Megaproyek Mall & Apartemen Pandawa, kemegahan lokasi itu langsung menyapa pandangannya.

Derek-derek raksasa (tower cranes) menjulang tinggi ke langit, ratusan pekerja lalu lalang dengan rompi keselamatan, dan deretan mobil sedan mahal terparkir rapi di depan gedung direksi sementara.

Intan melangkah turun dari van. Sepatu tumit rendahnya mengetuk permukaan aspal dengan irama yang mantap.

Ia berjalan melewati pos pemeriksaan keamanan, mengunggah kartu identitas pengunjung bisnis, lalu menuju kantor direksi pengadaan barang.

Setiap pasang mata pekerja proyek yang melintas memandangnya dengan rasa hormat—tak ada lagi siulan godaan atau lirikan meremehkan seperti yang biasa didapatkan staf lapangan serabutan.

Penampilan barunya telah memberinya perisai profesionalisme yang kokoh.

"Permisi, saya Intan Saputri dari Katering Barokah."

"Saya ada janji temu dengan bagian Konsultan Pengadaan Mandiri untuk penyerahan proposal katering."

Ujar Intan pada resepsionis kantor direksi dengan nada suara yang hangat namun terukur.

Resepsionis wanita itu tersenyum sopan.

"Oh, betul, Mbak Intan."

"Pak Ardiansyah sudah menunggu di ruang rapat kecil di lantai dua. Silakan langsung naik."

Pak Ardiansyah.

Mendengar nama itu diucapkan secara kasual di dunia nyata membuat darah Intan berdesir panas.

Namun, bukannya panik, Intan justru menghembuskan napas pelan untuk memusatkan pikirannya.

Sesuai ajaran Maya, ia menekan seluruh emosi pribadi ke dasar hatinya yang paling dingin.

Ia menaiki anak tangga kayu menuju lantai dua. Di ujung koridor, sebuah pintu kaca es bertuliskan Ruang Rapat B tampak terbuka sedikit.

Intan mengetuk pintu pelan.

*Tok, tok*

"Masuk"

Terdengar suara pria bernada berat dan percaya diri dari dalam ruangan. Suara yang sama persis dengan pria yang dulu membuainya lewat pesan suara di ponsel.

Intan mendorong pintu kaca itu dan melangkah masuk.

Di balik meja rapat kayu berukuran sedang, duduk seorang pria berkemeja biru muda yang digulung hingga ke siku.

Pria itu sedang menyesap kopi dari cangkir kertas sambil memeriksa beberapa berkas. Saat mendengar langkah kaki Intan, pria itu mendongak.

Ardiansyah Putra—pria yang menggunakan nama alias Rian—menatap Intan yang berdiri di ambang pintu.

Untuk sekejap, tak ada percakapan di antara mereka. Intan memperhatikan setiap inci wajah pria itu: garis alisnya, cara duduknya yang angkuh, dan bekas luka titik di dekat daun telinga kirinya.

Semuanya cocok seratus persen dengan data perburuan yang dikumpulkannya bersama Maya.

Namun, seperti yang diprediksi Maya, Ardiansyah sama sekali tidak mengenali Intan.

Di mata pria itu, wanita ber-blazer hitam yang berdiri anggun di hadapannya adalah seorang eksekutif pemasaran muda yang independen dari kota—bukan gadis desa pemalu berkulit kusam yang pernah ia tipu dua juta rupiah lewat foto profil media sosial.

"Selamat pagi, Pak Ardiansyah."

Sela Intan, mengukir senyuman bisnis yang sangat memesona dan dingin.

Ia melangkah mendekat, mengulurkan tangannya secara profesional.

"Saya Intan Saputri, perwakilan dari Katering Barokah."

"Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk janji temu hari ini."

Ardiansyah berdiri, menjabat tangan Intan dengan genggaman erat khas pria kantoran yang ingin menunjukkan dominasi.

"Selamat pagi, Mbak Intan."

"Silakan duduk."

"Saya sangat bersemangat melihat penawaran dari Katering Barokah."

Genggaman tangan itu... rasa hangat yang dulu membodohinya kini terasa seperti sentuhan seorang musuh yang tak sadar lehernya sedang diintai.

Intan menarik tangannya kembali dengan sangat sopan, lalu duduk di kursi berhadapan dengan Ardiansyah.

Intan membuka map merah tebalnya, mengeluarkan lembar-lembar proposal yang dicetak sempurna.

"Tugas pertama saya di kota ini adalah memastikan proyek sebesar Mall Pandawa mendapatkan pelayanan katering terbaik, Pak Ardiansyah."

Ujar Intan, menatap lurus mata pria itu tanpa ada kedipan keraguan.

"Kami siap memberikan skema pembayaran yang sangat fleksibel... khusus untuk kemitraan yang dipimpin oleh Anda."

Ardiansyah tersenyum lebar, tergiur oleh tawaran manis dan penampilan meyakinkan wanita di hadapannya.

Pria penipu itu tidak pernah menyadari, bahwa pekerjaan pertama Intan di kota ini bukanlah sekadar menjual porsi makanan, melainkan menyusun tali jerat yang siap menutup pergerakannya rapat-rapat.

Perangkap telah resmi dibentangkan.

*

*

*

Jangan lupa like, komen dan subscribe 😇

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!