Indonesia
NovelToon NovelToon
KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi / Sistem
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Puncak Kurva Eksponensial

Suasana di dalam ruang kontrakan Bayu malam itu begitu tenang. Cahaya temaram dari dua unit layar monitor lengkung dua puluh tujuh inci berpendar lembut, memantulkan grafik baris demi baris pada permukaan meja kerja kayu. Setelah seharian beraktivitas di kampus, termasuk diskusi hangat bersama Melisa di gazebo, Bayu dan Dimas akhirnya kembali ke ruang privat mereka untuk meninjau perkembangan aset finansial yang dikelola oleh Jarvis.

Dimas menyeduh dua cangkir kopi hitam panas, lalu meletakkannya di samping papan ketik Bayu. Ia mengambil kursi putar dan duduk di sebelah Bayu seraya menghembuskan napas lega.

"Akhirnya bisa selonjoran juga kita, Bay," kata Dimas seraya meregangkan kedua tangannya ke atas. "Seharian ini kepala gue penuh sama teori praktikum dan berita Ksatria Baja di TV. Tapi ngomong-ngomong, tadi lu bilang Jarvis mau menyampaikan laporan investasi portofolio malam ini?"

Bayu mengangguk pelan, membetulkan letak kacamata tebalnya seraya menggeser mousenya. "Benar, Dim. Beberapa hari lalu aku meminta Jarvis untuk mengalokasikan sisa dana tabungan awal kita ke dalam pasar modal kuantitatif."

Ponsel Bayu yang terhubung dengan antarmuka monitor berkedip kebiruan. Suara jernih Jarvis mendadak menggema halus mengisi ruang kontrakan yang sunyi.

"Selamat malam, Bayu dan Dimas," panggil Jarvis terstruktur. "Laporan kinerja portofolio investasi otomatis periode satu minggu terakhir telah selesai dikompilasi secara menyeluruh."

"Oke, Jarvis," sahut Dimas penasaran, mencondongkan badannya ke depan monitor seraya memangku cangkir kopinya. "Coba buka layarnya. Gue mau lihat seberapa jago algoritma prediksi lu di pasar saham."

"Menampilkan dasbor portofolio ekuitas," respons Jarvis.

Dalam hitungan detik, grafik garis tebal berwarna hijau cerah melonjak tajam melintasi layar monitor, membentuk kurva eksponensial yang hampir tegak lurus ke atas. Di sudut kanan atas layar, angka total nilai bersih portofolio terpampang dalam cetakan tebal berwarna emas.

Dimas yang baru saja hendak menyeruput kopinya mendadak tersedak pelan. Matanya membelalak lebar menatap barisan angka di layar.

"B-Berapa ini, Bay?! Jarvis?!" teriak Dimas dengan suara serak tak percaya, sampai hampir menumpahkan kopinya ke atas meja. "Delapan miliar empat ratus lima puluh juta rupiah?! Ini... ini nggak salah ketik kan?!"

Bayu sendiri sedikit menahan napasnya, mengamati rincian angka yang tertera di layar dengan tatapan mendalam. "Modal awal yang kita masukkan satu minggu lalu adalah lima puluh juta rupiah, Jarvis. Apakah nilai pertumbuhan ini sudah memperhitungkan potongan pajak dan komisi broker?"

"Seluruh kalkulasi telah memperhitungkan potongan Pajak Penghasilan final pasar modal, biaya transaksi broker resmi, serta cadangan likuiditas otomatis, Bayu," jawab Jarvis presisi. "Nilai bersih yang tertera sebesar delapan miliar empat ratus lima puluh dua juta seratus sembilan puluh ribu rupiah adalah dana murni yang siap ditarik kapan saja ke rekening utama Anda."

Dimas memegang kepalanya dengan kedua tangan, menggeleng-geleng heran seraya tertawa lepas. "Gila! Cuma dalam satu minggu, modal lima puluh juta berubah jadi delapan miliar lebih! Pertumbuhannya enam belas ribu persen lebih, Bay! Ini bukan cuma melonjak, ini namanya meledak!"

"Jarvis," panggil Bayu, mencoba menggali logika di balik angka fantastis tersebut. "Bagaimana kamu bisa mencapai imbal hasil setinggi ini dalam waktu yang sangat singkat tanpa memicu kecurigaan otoritas keuangan?"

"Penjelasan algoritma transaksi," tutur Jarvis mendetail. "Saya memanfaatkan pengolahan data mikrodetik dari sepuluh ribu sumber data global secara simultan. Ini mencakup analisis laporan keuangan perusahaan emiten, pemindaian manifes pengiriman barang pelabuhan internasional, pergerakan satelit cuaca pada sektor komoditas, serta analisis sentimen media sosial secara real-time."

"Jadi kamu tidak cuma mengandalkan grafik teknikal biasa?" pancing Dimas antusias.

"Sama sekali tidak, Dimas," jawab Jarvis ramah. "Saya melakukan eksekusi transaksi pada opsi saham sektor semikonduktor dan energi terbarukan beberapa milidetik sebelum pengumuman akuisisi besar publik dirilis. Saya juga memanfaatkan strategi micro-arbitrage pada dua belas bursa saham teregulasi secara sah, mengeksekusi ribuan transaksi kecil yang menghasilkan keuntungan akumulatif tanpa risiko kecacatan tren."

Bayu tersenyum tipis, mengagumi kejeniusan pemrosesan data sistem yang dirancangnya sendiri. "Sangat efisien. Tidak ada manipulasi pasar, hanya memanfaatkan ketimpangan kecepatan informasi yang ada di dunia nyata."

"Tapi Jarvis," sela Dimas dengan raut cemas yang tiba-tiba muncul. "Apakah aliran dana sebesar ini masuk ke rekening bank lokal tidak akan membuat bank atau pusat pelaporan transaksi keuangan curiga?"

"Pertanyaan yang sangat krusial, Dimas," sela Jarvis presisi. "Seluruh dana hasil investasi dialirkan secara bertahap melalui sembilan belas sub-rekening investasi terenkripsi berizin resmi atas nama legalitas Pengguna Bayu. Setiap penarikan disertai dokumen bukti potong pajak otomatis dari bursa, sehingga status dana tersebut seratus persen sah, bersih, dan legal di mata hukum negara."

Dimas menghembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke jok kursi dengan wajah yang dipenuhi kepuasan mutlak. "Sempurna... Bener-bener tidak ada celah sama sekali."

Bayu memandangi barisan angka di layar monitor, merasa sebuah beban finansial yang sangat berat dalam hidupnya telah terangkat sepenuhnya.

"Dim," panggil Bayu dengan nada suara yang tenang dan matang.

"Iya, Bay?" sahut Dimas menoleh.

"Dengan dana sebesar ini, besok pagi kita lunasi seluruh biaya perawatan Ibu di rumah sakit untuk enam bulan ke depan, termasuk tim dokter spesialis dan terapi pemulihannya," ujar Bayu mendetail. "Aku juga akan mengalokasikan dua miliar rupiah ke dalam akun investasi khusus atas nama ibuku sebagai dana pensiun dan perlindungan hari tuanya."

Dimas tersenyum hangat, matanya berkaca-kaca mendengar perhatian tulus sahabatnya terhadap sang ibu. "Itu keputusan paling bijak yang pernah gue denger, Bay. Tante Suminah layak mendapatkan perawatan terbaik setelah semua penderitaan beliau selama ini."

"Dan untukmu, Dim," lanjut Bayu seraya menatap Dimas lurus-lurus. "Aku sudah meminta Jarvis mentransfer lima ratus juta rupiah ke rekening pribadimu malam ini sebagai dana operasional dan cadangan keluargamu."

Dimas kaget, langsung melambaikan kedua tangannya dengan cepat. "Eh! Nggak usah, Bay! Lu gila apa?! Uang lima ratus juta itu terlalu banyak! Gue kan cuma bantu-bantu sedikit di kontrakan dan nganterin lu pakai mobil tua gue!"

"Kamu bukan cuma bantu-bantu sedikit, Dim," tegas Bayu dengan raut wajah penuh keseriusan dan rasa hormat yang mendalam. "Kamu adalah sahabat yang menaruh kepercayaan dan menyembunyikan rahasia terbesar hidupku saat orang lain tidak ada. Uang itu adalah hakmu sebagai mitra utamaku. Tolong terima tanpa menolak."

Dimas terdiam membisu, menatap mata Bayu yang jujur tanpa ada keraguan sedikit pun. Perlahan, Dimas mengangguk pelan seraya mengusap sudut matanya yang basah.

"Terima kasih banyak ya, Bay..." bisik Dimas tulus. "Gue... gue bener-bener nggak tahu harus ngomong apa lagi."

"Tidak perlu berterima kasih, Dim. Kita menanggung perjalanan ini bersama-sama," kata Bayu santai namun berwibawa. Ia kembali menatap layar monitor. "Jarvis, sisa dana sekitar lima miliar rupiah ini akan kita gunakan untuk modal riset lanjutan, pembaharuan server pemroses, dan pembelian material komponen berteknologi tinggi untuk pengembangan sistem zirah."

"Instruksi dialokasikan, Bayu," jawab Jarvis patuh. "Rencana anggaran riset dan pengembangan infrastruktur laboratorium telah disusun dengan efisiensi maksimal."

Malam semakin larut di dalam ruangan kontrakan yang hangat itu. Dari seorang mahasiswa miskin yang dulu kesulitan membayar biaya pengobatan lima ratus ribu rupiah, kini Bayu Anggara telah mencapai kebebasan finansial mutlak dalam kurun waktu yang singkat. Tanpa kesombongan, tanpa rasa jemawa, keberhasilan investasi ini menjadi fondasi yang kokoh bagi Bayu untuk melangkah lebih jauh dalam menjaga keselamatan keluarganya dan menjalankan misi kemanusiaannya di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!