Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Hujan deras di luar penthouse berubah menjadi badai angin yang menghantam dinding kaca dengan gemuruh dahsyat. Di dalam ruang perawatan sementara lantai bawah, bau antiseptik yang tajam menyengat hidung, bercampur dengan aroma dingin hawa basemen.

Dokter Leo berlutut di samping dipan kayu kecil, memasangkan manset tensimeter ke lengan kiri Sienna yang pucat dan kurus. Wajah dokter pribadi keluarga Vance itu terlihat sangat panik. Garis-garis kecemasan tercetak jelas di dahinya saat ia mendengarkan stetoskop yang menempel di dada Sienna.

Tubuh Sienna bergetar hebat di bawah selimut tipis. Demamnya melesat hingga titik yang membahayakan jiwa, sementara napasnya terdengar amat pendek, patah-patah, dan berbunyi mengerek dari dalam dadanya. Bekas luka di lutut dan telapak tangannya yang terpapar air detergen pekat kini membengkak kemerahan, tanda infeksi sistemik yang mulai menyebar ke aliran darah.

Nico berdiri di dekat pintu yang terbuka, menyilangkan kedua tangannya di dada. Setelan jas kasmirnya sudah dilepas, menyisakan kemeja hitam yang tergulung kaku hingga siku. Sepasang mata kelabunya menatap dingin ke arah dipan, memaku lurus pada wajah Sienna yang tak berdaya.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Nico dengan suara serendah guruh. Tidak ada getaran emosi di dalam nadanya, hanya ketegasan kaku seorang pemilik yang menuntut laporan atas barang miliknya.

Dokter Leo melepaskan stetoskop dari telinganya dengan gerakan terburu-buru, melompat berdiri, dan memutar tubuhnya menghadap Nico dengan raut wajah sangat serius.

"Ini bukan lagi sekedar demam atau kelelahan fisik biasa, Tuan Nicolas," tegas Dokter Leo, suaranya meninggi hingga memotong deru angin di luar. "Infeksi pada luka goresannya telah merembes ke sistem pembuluh darah. Paru-parunya mulai terisi cairan akibat trauma tumpul di rusuk dan paparan hawa dingin yang ekstrim selama belasan jam. Tekanan darahnya merosot drastis ke angka delapan puluh per lima puluh."

Nico memicingkan matanya, rahangnya mengeras kaku. "Aku sudah menyuruhmu memberikan suntikan antibiotik dan vitamin dosis tinggi."

"Antibiotik melalui cairan IV sederhana di tempat sempit tanpa peralatan medis memadai seperti ini tidak akan membalikkannya, Tuan!" potong Dokter Leo tanpa rasa takut, menunjuk Sienna yang dadanya naik-turun secara tidak teratur. "Gadis ini berada di ambang kematian. Jika dia tidak segera dilarikan ke Unit Perawatan Intensif (ICU) di rumah sakit dalam waktu satu jam ke depan untuk mendapatkan penanganan ventilator dan sterilisasi darah, dia akan mengalami gagal organ total dan meninggal sebelum fajar."

Kata 'meninggal' bergema kaku di dalam ruangan sempit itu.

Matteo yang berdiri menjaga di koridor luar mengalihkan pandangannya seraya mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sementara dari sudut lorong yang remang, Arleen memperhatikan adegan itu dengan mata menyipit, menyembunyikan keterkejutan sekaligus harapan kejam agar Sienna benar-benar tewas malam ini.

Nico membeku di tempatnya. Sepasang mata kelabunya memancar kilatan kegelapan yang tak terjelaskan.

Mati?

Bagi Nico, kematian Sienna di atas dipan kusam basemen ini adalah sebuah kekalahan. Itu artinya putri dari pria yang telah menghancurkan hidupnya melarikan diri dari penderitaan secara mudah tanpa pernah membayar tuntas utang darah keluarganya.

"Tidak ada rumah sakit," desis Nico dingin, menolak kompromi. "Bawa peralatan ICU ke penthouse ini. Kau punya waktu tiga puluh menit."

"Itu mustahil, Tuan Nicolas!" seru Dokter Leo frustrasi, mengacak rambutnya yang rapi. "Peralatan dialisis dan pemantauan hemodinamik ketat tidak bisa dipindahkan begitu saja dalam hitungan menit di tengah badai seperti ini. Rumah Sakit Medika Vance memiliki fasilitas isolasi privat yang paling tertutup. Tidak ada wartawan atau pihak luar yang akan tahu jika kita memasukkannya lewat jalur darurat khusus malam ini."

Dokter Leo melangkah maju satu langkah, menatap Nico dengan ketegasan. "Jika Anda membiarkannya mati di sini karena menolak membawanya ke rumah sakit, Anda bukan sedang membalas dendam, Tuan. Anda hanya sedang membunuh seorang tahanan secara murahan."

Kalimat Dokter Leo menghantam dinding ego Nico bagaikan hantaman gada berat.

Nico memejamkan matanya rapat-rapat selama tiga detik. Di balik kegelapan pikirannya, kenangan akan wajah ibunya yang terbujur kaku di ruang otopsi bertabrakan hebat dengan wajah Sienna yang merangkak berdarah-darah di atas marmer basah pagi tadi.

Saat Nico membuka matanya kembali, aura di sekitarnya berubah menjadi kebekuan yang mematikan.

"Matteo!" perintah Nico pendek dan tegas.

"Siap, Tuan Nicolas!" sahut Matteo seraya melangkah masuk ke ruangan.

"Siapkan ambulans privat dari Rumah Sakit Medika Vance lewat jalur basemen bawah sekarang. Tutup seluruh akses kamera pengawas di koridor semua lantai. Jangan sampai ada satu orang pun di rumah sakit itu yang mengetahu identitas asli perempuan ini."

"Baik, Tuan!" Matteo berbalik dan berlari cepat menyusuri koridor untuk mengeksekusi perintah.

Nico melangkah mendekati dipan kayu. Tanpa ragu sedikit pun, pria bertubuh tinggi besar itu membungkuk, menyusupkan kedua tangannya yang kekar ke bawah punggung dan lutut Sienna, lalu mengangkat tubuh kurus yang membara oleh demam itu ke dalam pelukannya.

Tubuh Sienna terasa amat ringan, begitu rapuh hingga Nico sanggup merasakan setiap tulang rusuk gadis itu yang gemetar melalui kain seragamnya yang basah kusam. Kepala Sienna terkulai pasrah di dada Nico, napas panasnya yang memburu menerpa leher pria itu.

"Leo, ikut aku ke mobil," perintah Nico dingin seraya melangkah lebar keluar dari kamar penyimpanan linen tanpa sekali pun melirik ke arah Arleen yang berdiri terpaku di sudut lorong.

Pukul delapan lewat empat puluh lima menit malam.

Sebuah ambulans privat berwarna hitam tanpa logo rumah sakit meluncur kencang menembus lebatnya hujan di jalanan protokol ibu kota. Sirine darurat tidak dinyalakan demi menjaga kerahasiaan total pergerakan mereka.

Di dalam kabin belakang ambulans yang penuh dengan monitor detak jantung dan tabung oksigen, Dokter Leo sibuk memasangkan masker oksigen ke wajah Sienna seraya mengganti kantung cairan infus yang terus menetes cepat.

Nico duduk di kursi pendamping, memperhatikan setiap pergerakan monitor medis yang menunjukkan garis grafik detak jantung Sienna yang tidak stabil. Grafik warna hijau itu memancar naik-turun secara kacau, disertai bunyi bip yang berderik cepat dan lemah.

Bip... bip... bip...

Sienna terbaring tak sadarkan diri. Di balik masker bening yang mengembun oleh napas panasnya, bibir pucat gadis itu bergerak-gerak pelan, membisikkan sesuatu di tengah ketidaksadarannya.

Nico mencondongkan tubuhnya sedikit, mata kelabunya menajam saat mendengar bisikan halus yang keluar dari celah bibir Sienna.

"A-ayah dingin..." desis Sienna serak di antara ilusi demamnya. "Aku tidak bersalah Ayah..."

Nico mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Tangan kirinya yang terkepal di atas lutut bergetar pelan. Rasa benci yang dipeliharanya selama belasan tahun terasa terusik oleh kelemahan nyata yang terpapar di depan matanya. Gadis ini bukan monster dingin seperti ayahnya, gadis ini hanyalah jiwa hancur yang terus diinjak-injak hingga batas kemanusiaannya.

Namun bagi Nico, ampunan adalah rasa lemah yang tidak boleh ada di dalam kamusnya.

"Percepat laju mobilnya, Matteo," desis Nico pada intercom pengemudi.

"Siap, Tuan. Sepuluh menit lagi kita tiba di pintu darurat VIP."

Rumah Sakit Medika Vance, fasilitas medis paling canggih milik keluarga Vance tampak berdiri megah di bawah guyuran hujan. Seluruh area pintu masuk basemen VIP lantai bawah telah dikosongkan total oleh tim keamanan pribadi Nico.

Ambulans berhenti dengan hentakan keras.

Pintu belakang terdorong terbuka. Tim medis khusus yang dipimpin langsung oleh Dokter Leo bergerak cepat menarik stretcher keluar dari kabin. Sepuluh petugas keamanan berjas hitam membentuk barikade ketat, menghalangi pandangan siapa pun yang mungkin berada di sekitar koridor layanan.

Sienna didorong cepat menyusuri koridor steril berlantai putih yang mengkilap.

Lampu-lampu neon di langit-langit koridor memantul kaku saat stretcher itu melaju kencang menuju ruang ICU privat lantai tujuh. Suara roda yang beradu dengan lantai bergaung nyaring di tengah kesunyian malam.

Nico berjalan lebar di samping stretcher, langkah kakinya yang tegap tidak tertinggal satu inci pun. Matanya terus memaku pada wajah Sienna yang kian memucat bagaikan porselen yang retak.

Pintu ganda ruang penanganan kritis ICU berteks 'DILARANG MASUK' mendadak terbuka otomatis.

"Tuan Nicolas, Anda harus menunggu di luar," tegas Dokter Leo seraya menahan dada Nico di ambang pintu. "Ruangan ini harus dalam kondisi steril total untuk prosedur pembersihan paru-paru dan pemasangan kateter pembuluh darah utama."

Nico berhenti kaku di ambang pintu. Sepasang mata kelabunya menembus kaca transparan pintu ICU, menyaksikan bagaimana empat perawat dan dua dokter spesialis langsung mengerumuni tubuh Sienna, memasang berbagai selang medis dan kabel monitor ke tubuh gadis yang tak berdaya itu.

Pintu ganda ICU tertutup rapat dengan bunyi desis udara bertekanan tinggi, mengunci Nico di koridor luar yang dingin.

...****************...

Sementara itu, di lantai atas kediaman utama Vance di kawasan Menteng, Claudia Ophelia sedang berdiri di balkon kamar tidurnya seraya memegang segelas jus anggur segar.

Ponselnya yang diletakkan di atas meja rias mendadak bergetar panjang.

Claudia melangkah anggun, memotong ruangan lalu mengangkat panggilan tersebut tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin.

"Bicara, Arleen," ujar Claudia dingin.

Dari seberang telepon, suara Arleen terdengar amat tergesa-gesa dan berbisik ketakutan. "Nyonya Claudia, ada perkembangan darurat di penthouse."

Claudia mengerutkan dahinya, memegang gelasnya lebih erat. "Ada apa? Apakah gadis itu sudah mati?"

"Tidak, Nyonya. Kondisi gadis itu mendadak kritis akibat infeksi dan demam tinggi. Dokter Leo memaksakan agar dia dilarikan ke rumah sakit malam ini."

Claudia tersentak kecil, raut wajahnya yang anggun seketika berubah tegang. "Apa kau bilang?! Nicolas mengizinkannya dilarikan ke rumah sakit?"

"Benar, Nyonya. Tuan Nicolas sendiri yang mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya turun lewat ambulans privat ke Rumah Sakit Medika Vance sekitar dua puluh menit yang lalu."

Claudia mendesis murka, meremas gelas anggurnya hingga jemarinya memutih. Ini adalah perkembangan yang tidak masuk dalam perhitungannya. Jika Sienna dirawat di rumah sakit privat milik keluarga Vance, ada kemungkinan besar Dokter Leo akan melakukan pemeriksaan medis menyeluruh, termasuk mendeteksi jejak racun dan penyebab sebenarnya dari luka-luka infeksi serta manipulasi kesehatan yang telah direkayasa oleh Arleen selama ini.

Lebih buruk lagi, tindakan Nicolas yang rela membawa gadis itu ke rumah sakit menunjukkan adanya keretakan pada benteng kebencian murni yang selama ini dipelihara pria itu.

"Siapa saja yang ikut ke rumah sakit?" tanya Claudia dengan suara menusuk.

"Hanya Tuan Nicolas, Tuan Matteo, dan Dokter Leo, Nyonya. Seluruh akses di penthouse ditutup rapat oleh tim keamanan Tuan Nicolas."

Claudia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, matanya berkilat penuh dendam kejam. "Dengar baik-baik, Arleen. Kau harus menghapus seluruh jejak cairan kimia yang kau gunakan di teras tadi pagi. Jangan tinggalkan satu bukti pun di penthouse."

"Baik, Nyonya."

Claudia memutus sambungan telepon secara sepihak, membuang ponselnya ke atas kasur empuk. Ia segera menekan tombol intercom internal rumahnya.

"Liam!" panggil Claudia tegas.

Beberapa detik kemudian, Liam melangkah masuk ke kamar ibunya dengan wajah bingung. "Ada apa, Ibu? Ini sudah hampir larut malam."

"Nicolas baru saja membawa anak perempuan Sinclair itu ke Rumah Sakit Medika Vance dalam kondisi kritis," ujar Claudia cepat, suaranya dipenuhi intrik tajam.

Liam membelalakkan matanya, lalu tertawa sinis. "Apa? Saudara tiriku yang dingin itu membawa tawanan kesayangannya ke rumah sakit? Apakah dia sudah mulai lembek?"

"Jangan bodoh, Liam!" bentak Claudia keras, membuat tawa Liam terhenti seketika. "Ini ancaman bagi kita. Jika gadis itu sembuh atau jika Nicolas mulai menaruh rasa iba padanya, fokus Nicolas akan kembali utuh ke perusahaan atau bahkan dia akan mulai menyelidiki asal-usul luka gadis itu secara lebih mendalam!"

Liam mengerutkan dahinya. "Lalu apa yang harus kita lakukan?"

Claudia melangkah mendekati Liam, berbisik tepat di depan wajah anak kandungnya dengan nada racun yang amat mematikan.

"Hubungi kontak kita di bagian logistik rumah sakit Medika Vance malam ini juga," perintah Claudia kejam. "Pastikan obat-obatan yang disuntikkan ke dalam infus gadis itu tidak akan pernah membuatnya pulih sepenuhnya. Buat dia tetap berada di antara hidup dan mati... atau pastikan dia tidak pernah bangun lagi sebelum Nicolas menyelesaikan transaksi saham minggu depan."

Liam menyunggingkan senyum kejam yang selaras dengan ibunya. "Serahkan padaku, Ibu. Anak buahku akan mengatur agar dosis obatnya tertukar tanpa memicu kecurigaan Dokter Leo."

...****************...

Kembali ke koridor VIP lantai tujuh Rumah Sakit Medika Vance.

Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Kesunyian di lorong rumah sakit itu begitu memekakkan telinga, hanya diselingi oleh suara dengung halus pendingin udara dan bunyi detak jarum jam dinding.

Nico berdiri menyandarkan punggungnya ke dinding marmer putih di luar ruang ICU. Jasnya yang tergantung di lengan fisiknya tampak terkulai kaku. Wajahnya yang tampan terpapar lampu neon, memperlihatkan garis-garis ketegangan yang amat dalam di sekitar rahang dan matanya.

Matteo melangkah mendekat seraya membawa dua cangkir kopi hitam panas.

"Kopi Anda, Tuan Nicolas," ujar Matteo santun seraya menyodorkan cangkir kertas tersebut.

Nico tidak menerima cangkir itu. Ia bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari pintu kaca ICU yang masih tertutup rapat.

"Bagaimana situasi di luar?" tanya Nico kaku.

"Akses jalan menuju lantai tujuh telah diblokir total oleh tim kita, Tuan. Tidak ada personel medis luar yang diizinkan masuk tanpa izin tertulis dari Dokter Leo," lapor Matteo teliti. "Nyonya Claudia dan Tuan Liam juga belum menunjukkan pergerakan mencurigakan di area rumah sakit malam ini."

Nico mendengus dingin. "Claudia pasti sudah tahu. Wanita itu memiliki telinga di setiap sudut propertiku."

Sebelum Matteo sempat menyahut, pintu ganda ICU berdenting pelan dan terbuka.

Dokter Leo melangkah keluar dengan melepaskan masker medisnya. Wajah dokter muda itu tampak sangat lelah, keringat dingin membasahi pelipisnya meski ruangan berpemanas udara.

Nico menegakkan tubuhnya seketika, melangkah maju dua tindak. "Bagaimana kondisinya?"

Dokter Leo mendesah panjang, menatap Nico dengan raut wajah yang amat berat.

"Kondisi krisis pertamanya berhasil kita lewati, Tuan Nicolas," ujar Dokter Leo pelan. "Kami telah membersihkan racun detergen dari jaringan lukanya dan memasang alat bantu pernapasan untuk meredakan cairan di paru-parunya. Demamnya mulai turun ke angka tiga puluh delapan derajat."

Nico tidak menunjukkan kelegaannya secara terbuka, namun ketegangan di rahangnya tampak sedikit mengendur. "Artinya dia akan selamat?"

Dokter Leo menggelengkan kepalanya perlahan, membuat atmosfer di koridor itu kembali membeku.

"Jangan senang dulu, Tuan," kata Dokter Leo dengan nada serius. "Daya tahan tubuhnya sudah berada di titik nol akibat trauma fisik dan kelelahan kronis berturut-turut. Saat ini dia berada dalam kondisi koma medis. Empat puluh delapan jam ke depan adalah masa paling kritis. Jika sistem imunnya menolak obat atau jika terjadi komplikasi sekunder, dia tidak akan pernah bangun lagi."

Nico menatap Dokter Leo tanpa berkedip. "Aku tidak menerima kegagalan, Leo."

"Saya melakukan segalanya sebagai dokter, Tuan Nicolas," sahut Dokter Leo tegas. "Tapi tubuh manusia punya batasnya sendiri. Jika Anda ingin dia bertahan hidup, berhenti memperlakukannya seperti alat bernapas tanpa jiwa saat dia terbangun nanti."

Dokter Leo membungkuk kecil lalu memutar tubuhnya kembali ke dalam ruang steril untuk memantau indikator medis.

Nico berdiri sendirian di tengah koridor yang sepi.

Melalui kaca transparan pintu ICU, ia dapat melihat sosok Sienna yang terbaring kaku di atas tempat tidur. Berbagai selang transparan dan kabel pemantau menempel di tubuh kurusnya. Masker oksigen mengolesi separuh wajah pucatnya, memancarkan irama napas buatan yang amat lambat.

Nico melangkah mendekati kaca, menempelkan telapak tangannya yang besar ke atas permukaan kaca yang dingin. Sepasang mata kelabunya menatap lurus pada wajah Sienna yang tenggelam di dalam koma.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!