Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Udara malam di distrik mode Paris terasa begitu dingin, berhembus pelan membawa aroma basah sisa embun musim gugur yang menempel di sepanjang trotoar Rue de la Paix. Di balik gemerlap lampu sorot neon yang menerangi papan nama raksasa bertuliskan Azalea Label, gedung butik flagship internasional pertama di Eropa itu berdiri megah dengan arsitektur klasik bergaya Haussmann yang dipadukan dengan interior modern berbalut marmer putih dan aksen emas.

Malam ini adalah malam pembukaan resmi—acara puncak yang mempertemukan para elit mode Paris, kritikus fesyen papan atas, sosialita internasional, serta jajaran investor strategis Eropa. Di dalam aula utama yang dipenuhi alunan musik klasik gesekan biola, para tamu tampak menikmati gelas-gelas champagne berkualitas tinggi sambil mengagumi deretan gaun haute couture koleksi terbaru yang dipajang di balik etalase kaca khusus.

Keisha Azalea Pramesti berjalan anggun menyapa para tamu kehormatan. Ia mengenakan gaun malam mahakarya rancangannya sendiri—sebuah gaun panjang berwarna midnight black dengan sulaman benang perak berkilau yang membentuk pola rasi bintang, memancarkan aura keanggunan, kekuatan, dan kelas dunia yang membuat siapa pun di ruangan itu tidak bisa mengalihkan pandangan darinya. Di sampingnya, Alexander Ar-Rasyid berdiri tegak dalam balutan tuksedo hitam bespoke dari desainer Italia ternama. Wajah tampan dan sorot mata kelam sang CEO memancarkan wibawa dominan yang membuat para pesaing bisnis lokal merasa ciut hanya dengan melihat keberadaannya.

"Kau melihat ekspresi direktur utama L'Aura Fashion tadi?" bisik Keisha pelan sambil tersenyum manis ke arah seorang tamu, namun bibirnya bergerak tipis berbicara kepada suaminya. "Wajahnya hampir pucat pasi saat melihat angka pesanan pra-musim kita melampaui rekor penjualan butik utama mereka di Paris."

Alex menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang begitu menawan. Ia merapatkan rangkulannya di pinggang istrinya, mempererat kepemilikan mutlak di hadapan para publik figur yang memperhatikan mereka. "Itu karena mereka tidak pernah memperhitungkan kemampuan istriku. Kau baru saja mencuri seluruh perhatian industri mode Prancis hanya dalam waktu kurang dari dua jam, Keisha."

"Jangan terlalu memujiku, Tuan Ar-Rasyid," balas Keisha dengan binar mata jenaka. "Simpan pujianmu itu nanti saat kita sudah kembali ke penthouse."

Namun, di balik senyuman ramah dan kemegahan pesta pembukaan yang berjalan sempurna di lantai utama, suasana di ruang kendali keamanan privat di lantai bawah tanah gedung tersebut berada dalam tingkat siaga tertinggi.

Dua orang kepala pengawal pribadi Alexander yang didatangkan khusus dari Jakarta tampak berdiri di depan dinding monitor pengawas CCTV yang menampilkan puluhan sudut gambar di luar dan di sekitar gedung butik.

"Perhatikan sektor barat daya," suara berat salah satu kepala pengawal, Malik, memecah keheningan ruang kendali melalui alat komunikasi nirkabel di telinganya. "Ada tiga orang mencurigakan mengenakan mantel gelap berdiri di dekat gang belakang. Laporkan setiap gerakan mereka."

Di layar monitor utama, terlihat sesosok pria berjas kelabu tua dengan topi laken yang ditarik rendah menutupi wajah—Marc Laurent. Bersama dua orang anak buahnya, Marc berdiri di balik bayang-bayang sudut jalan, memegang sebuah perangkat kecil di tangannya.

"Mereka tidak berniat melakukan penyerangan fisik langsung," gumam Malik sambil menyipitkan mata, menganalisis situasi. "Ini sabotase sistem. Mereka mencoba meretas panel kontrol daya listrik utama gedung dari luar."

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Malik menekan tombol komunikasi langsung ke sambungan pribadi sang CEO.

Di lantai utama galeri, di tengah riuhnya percakapan para tamu elit, getaran pelan terasa dari ponsel pintar terenkripsi yang berada di dalam saku jas Alexander. Alex merogoh saku jasnya secara sembunyi-sembunyi, melihat layar kecil yang menampilkan pesan singkat bersandi darurat dari ruang pengamanan.

Sinyal peretasan terdeteksi di panel listrik eksternal sektor barat. Target: melumpuhkan sistem pencahayaan dan memicu kepanikan massa di tengah acara.

Manik mata kelam Alexander menyipit sesaat. Rahang tegasnya mengeras dalam hitungan detik. Meskipun ekspresi wajahnya tetap tenang di hadapan para tamu undangan, aura dingin yang mematikan langsung menguar dari tubuh pria itu.

Keisha, yang berdiri tepat di sampingnya, merasakan perubahan energi di sekitar suaminya. Ia menyentuh lengan Alex pelan, lalu berbisik, "Ada apa?"

Alex menunduk sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga istrinya. "Tikus-tikus tua suruhan Marc Laurent mencoba bermain-main dengan panel listrik kita di luar. Mereka ingin menciptakan kekacauan di tengah pesta ini."

Keisha tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang penuh percaya diri. "Rupanya Marc benar-benar kehabisan akal jika ia pikir sabotase murahan seperti itu bisa merusak malam besar kita."

"Biarkan tim keamanan kita melumpuhkan mereka di luar," ucap Alex tenang namun penuh ketegasan mutlak. "Tapi kita juga harus memberikan sedikit pelajaran kepada Tuan Laurent agar ia mengerti bahwa menginjakkan kaki di wilayah kekuasaan Ar-Rasyid adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya."

Alex memberikan instruksi singkat melalui sinyal tangan kepada dua pengawal pribadinya yang berdiri tidak jauh dari kerumunan tamu. Dalam hitungan detik, empat orang pengawal bertubuh tegap bergerak senyap meninggalkan aula utama menuju pintu keluar belakang.

Sementara itu, di luar gedung, di bawah naungan temaram lampu jalanan Paris yang dingin, Marc Laurent berdiri sambil menatap layar tablet kecil di tangannya. Senyuman sinis tersungging di bibir pria paruh bayanya itu saat ia melihat indikator peretasan pada panel listrik eksternal butik Azalea Label hampir mencapai seratus persen.

"Sebentar lagi... seluruh lampu galeri itu akan padam," bisik Marc kepada dua anak buahnya dengan nada penuh kemenangan yang keji. "Dan saat para sosialita kaya itu panik berhamburan keluar dalam kegelapan, kita hancurkan reputasi mereka di depan media."

Namun, sebelum jari Marc sempat menekan tombol eksekusi terakhir pada perangkat peretasannya, suara langkah kaki berat mendadak mendekat dari arah belakang, sangat cepat dan tanpa suara peringatan.

Bugh!

Sebelum Marc sempat berbalik, sebuah hantaman keras mendarat di bahu salah satu anak buahnya hingga pria berbadan besar tersungkur mencium aspal dingin. Anak buah kedua mencoba mencabut pisau lipat dari balik jaketnya, namun dalam sepersekian detik, tangan kekar Malik telah mencekal pergelangan tangannya, memutar lengan pria itu ke belakang hingga terdengar bunyi kertakan sendi yang disusul oleh jerihan kesakitan.

Marc membelalakkan matanya kaget. Ia mencoba melarikan diri berbalik arah, namun langkahnya langsung terhenti saat sesosok pria bertubuh tinggi besar dengan setelan tuksedo hitam berdiri menghalangi jalannya di ujung gang sempit tersebut.

Alexander Ar-Rasyid melangkah keluar dari bayang-bayang cahaya lampu jalan. Wajah tampannya tampak dingin tanpa ekspresi, bagaikan malaikat maut yang turun langsung dari kegelapan malam Paris.

Marc merosot mundur hingga punggungnya membentur dinding bata dingin gedung tua. Wajahnya sepucat mayat, keringat dingin bercucuran di pelipisnya saat ia menyadari siapa yang berdiri di hadapannya sekarang.

"M-Marc Laurent..." ucap Alex dengan suara bariton rendah yang menusuk langsung ke jantung. "Kau tahu, aku sudah memperingatkanmu sejak di Jakarta agar tidak pernah menunjukkan wajahmu lagi di hadapanku."

Marc mencoba tersenyum kecut, giginya bergemeletuk karena rasa takut yang luar biasa. "A-Alexander... kau tidak bisa berbuat semaunya di tanah Eropa! Hukum di sini—"

"Hukum?" potong Alex dengan nada dingin yang membekukan udara di sekitar mereka. Alex maju selangkah demi selangkah, menatap buronan itu dengan sorot mata predator yang siap merobek mangsanya. "Di wilayah mana pun di dunia ini, hukum tidak akan pernah melindungi seekor tikus busuk yang mencoba membakar rumahku."

Sebelum Marc sempat melarikan diri atau memohon ampun, Malik dan satu pengawal lainnya mencengkeram kedua lengan Marc dengan paksa, menyeret pria itu berlutut tepat di hadapan sang CEO.

Alex merendahkan sedikit tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Marc yang gemetar ketakutan. "Katakan pada bos besar kalian yang mendekam di penjara sana... bahwa permainan kekuasaan ini sudah berakhir. Dan jika ada satu orang saja dari sisa-sisa kalian yang berani mencoba mengganggu istriku atau perusahaanku lagi, aku pastikan kalian tidak akan pernah melihat matahari terbit keesokan harinya."

Marc hanya bisa mengangguk lemah, napasnya tersenggal-senggal di bawah tekanan psikologis yang luar biasa besar dari pria di hadapannya.

"Bawa dia ke ruang bawah tanah kedutaan besar dan serahkan pada interpol internasional," perintah Alex dingin tanpa sedikit pun rasa iba. "Pastikan dia mendekam di sel isolasi terdalam selamanya."

Setelah anak buahnya menyeret Marc pergi meninggalkan gang gelap tersebut, Alexander merapikan sedikit kerah jasnya. Ia menarik napas panjang, menenangkan emosinya dalam hitungan detik, lalu membalikkan badan melangkah kembali ke dalam gedung galeri.

Di dalam aula utama, alunan musik klasik masih mengalun lembut. Para tamu undangan sama sekali tidak menyadari drama menegangkan yang baru saja terjadi di luar gedung.

Begitu Alex melangkah masuk melalui pintu samping dan kembali bergabung di tengah ruangan, Keisha menyambutnya dengan senyuman manis penuh arti. Manik mata cokelat wanita itu menatap lurus ke mata suaminya, seolah mengerti persis apa yang baru saja diselesaikan oleh pria itu di luar sana.

"Semuanya sudah beres?" bisik Keisha lembut saat Alex merangkul pinggangnya kembali.

Alex menatap istrinya lekat-lekat, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hangat yang hanya ia tunjukkan kepada satu orang di dunia ini.

"Sangat beres, Nyonya Ar-Rasyid," jawab Alex pelan. "Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang tersisa. Malam ini, dan selamanya, kota ini sepenuhnya milik kita."

Mereka berdua mengangkat gelas champagne mereka, berdampingan di bawah ribuan lampu kristal gemerlap Paris, merayakan fajar baru dari sebuah kemenangan mutlak yang dibangun di atas kesetiaan, ketangguhan, dan cinta sejati yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh apa pun di dunia ini.

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!